9 Cara Mengatasi Perilaku Anak yang Menyimpang

Orangtua tentu ingin anak-anaknya memiliki perilaku yang positif/baik, tapi seringkali harapan tidak sesuai dengan kenyataan. Ada banyak penyebab anak bisa memiliki kepribadian yang buruk, baik itu faktor dari dalam maupun luar.

Faktor faktor yang menyebabkan terjadinya perilaku menyimpang pada anak yaitu parenting yang buruk, anak kurang mendapat perhatian dari orangtuanya, lingkungan sosial yang negatif, teman sekolah yang buruk, anak mengalami trauma psikis, dll.

Anak-Anak
Photo credit: www.stcharlescollege.co.za

Cara Mengatasi Perilaku Anak yang Menyimpang


1. Quality Time Bersama Anak

Untuk mengatasi perilaku anak yang menyimpang, maka hal pertama pastikan anak memperoleh quality time yang cukup bersama orangtuanya. Orangtua harus menyediakan waktu bersama anak, sekalipun pekerjaan padat tapi seharusnya utamakan anak.

Miliki waktu berkualitas bersama anak dengan melakukan berbagai kegiatan bersama yang seru dan menyenangkan, atau minimal mengobrol dengan anak. Mengajak anak mengobrol harus rutin (dilakukan setiap hari) agar hubungan orangtua dan anak tetap dekat.

Isi obrolan bisa berupa membahas hal-hal yang menjadi kegiatan anak di sekolah, atau bisa juga bertukar cerita, termasuk jika anak sedang curhat maka dengarkan baik-baik dan hargai ucapan anak.


2. Berikan Anak Kegiatan

Terkadang orangtua tidak peduli dengan aktivitas harian anak, seringkali anak memiliki waktu kosong dan itu digunakannya untuk hal-hal negatif. Seharusnya orangtua peka dan perhatian, jika anak tidak memiliki kegiatan positif maka kemungkinan dia bakal melakukan hal-hal negatif.

Cara mengatasi perilaku anak yang menyimpang yaitu dengan menyibukan anak dengan kegiatan-kegiatan positif. Apalagi perilaku menyimpang seringkali disebabkan oleh lingkungan pergaulan yang buruk.

Jika anak sudah disibukan dengan kegiatan positif, ini akan mengurangi frekuensi anak terpapar lingkungan pergaulan yang buruk. Orangtua perlu pintar-pintar mencarikan kegiatan untuk anak, misalnya jika anak hobi basket maka masukan ke klub basket dan seterusnya.

Dengan disibukan pada beberapa kegiatan positif, hal ini efektif membuat anak lebih terlindungi dan terhindari dari perilaku-perilaku menyimpang.

3. Perhatian Terhadap Aktivitas Sekolah Anak

Hati-hati jika orangtua tidak perhatian terhadap aktivitas sekolah anak karena berdampak buruk terhadap psikologis anak. Anak akan merasakan bahwa orangtuanya terbiasa cuek dengan aktivitas sekolahnya, sehingga anak pun juga menjadi tidak peduli dengan sekolahnya. Jika sudah begini, anak sangat rentan terjatuh ke dalam perilaku menyimpang dan pergaulan bebas.

Anak-anak yang terjatuh ke dalam pergaulan bebas dengan perilaku yang menyimpang, biasanya sulit dinasehati karena selama ini anak merasa tidak diperhatikan oleh orangtuanya.

Nah, adapun jika orangtua dari awal perhatian terhadap aktivitas sekolah anak, hal ini akan membuat anak lebih serius untuk menjalani pembelajaran di sekolah.

Selain itu orangtua perlu rutin berkomunikasi dengan guru dan pihak sekolah, sehingga akan diperoleh informasi penting tentang kondisi dan perkembangan anak di sekolah. Orangtua juga biasanya akan mendapatkan masukan-masukan dari pihak sekolah tentang cara menjaga lingkungan pergaulan anak yang sehat.


4. Hindari Sering Memarahi Anak

Terkadang anak mengalami penyimpangan perilaku justru karena kesalahan orangtuanya sendiri. Misalnya orangtua sering memarahi anak, hal ini akan membuat anak sakit hati lalu melakukan bentuk penyimpangan. 

Anak yang sering dimarahi akan beresiko tinggi terjatuh ke pergaulan yang buruk, ditambah lagi anak merasa dendam pada orangtuanya. Cara mengatasi perilaku buruk anak yaitu utamakan kelembutan dalam berinteraksi.

Anak yang sering dimarahi biasanya akan mengembangkan sifat keras kepala, egois dan keras kepala. Sifat-sifat negatif tersebut berkembang karena anak secara alami berupaya mempertahankan diri, anak juga menjadi trauma karena perasaannya yang sering disakiti.

Jangan suka memarahi anak karena justru memicu perilaku menyimpang dalam diri anak. Selain itu hargai keberadaan anak dan hargai setiap perkataan anak.

5. Edukasi Anak

Cara mengatasi perilaku anak yang menyimpang yaitu dengan mengedukasinya. Bahkan seharusnya anak sejak dini sudah dikenalkan dengan aturan-aturan dasar, sehingga anak mampu menyadari bahwa dia tidak bisa hidup seenaknya, dimana terdapat nilai-nilai dan aturan yang harus ditaati.

Namanya anak-anak tentunya belum mampu berpikir secara matang sehingga perlu diarahkan. Peran orangtua sangat penting dalam mengajarkan anak tentang perilaku yang bisa diterima dan yang tidak. Ini adalah hak anak untuk mendapatkan edukasi dari orangtuanya. Jika bukan orangtuanya yang memberikan edukasi, maka siapa lagi?

6. Komunikasi Dua Arah

Komunikasi dua arah antara orangtua dan anak sangatlah penting. Hanya saja, yang banyak terjadi justru orangtua ingin didengarkan tetapi tidak mau mendengarkan. Gaya parenting seperti ini bisa menyebabkan masalah besar nantinya.

Jika orangtua hanya mau didengarkan dan tidak mau mendengar, sehingga anak tidak punya ruang berbicara yang cukup. Hal ini akan membuat hubungan orangtua-anak renggang, dan anak bakal rentan untuk bergabung dengan lingkungan buruk sebagai bentuk pelarian.

Komunikasi dua arah sangat penting agar anak merasa dihargai keberadaannya di keluarga, sehingga mencegah anak bergabung ke lingkungan-lingkungan yang buruk dengan berbagai bentuk perilaku menyimpang.


7. Tanamkan Skill

Orangtua memiliki kewajiban untuk menggali bakat anak, usahakan anak untuk memiliki skill (keterampilan) sehingga anak bakal tersibukan dengannya. Jika anak memiliki keterampilan, maka anak bakal sibuk untuk mengasah keterampilannya. Anak sibuk dengan hal-hal positif sehingga menghindarinya dari perilaku menyimpang.

8. Teladan yang Baik

Perilaku anak tergantung orang tuanya, sehingga orangtua harus bisa menjadi teladan yang baik. Jika orangtua tidak bisa memberikan contoh yang baik, maka pantas saja anak memiliki perilaku buruk dan menyimpang.

Perilaku anak cerminan orang tua, perilaku ataupun sifat orangtua akan turun pada buah hatinya. Kemungkinan sangat besar bahwa anak bakal mencontoh orangtuanya dan melihatnya sebagai role model. Bahkan anak umur 2 tahun telah bisa mencontoh orangtuanya, setiap sikap dan gerakan orangtuanya akan direkam oleh buah hatinya yang berumur 2 tahun.

Dengan bertambahnya umur anak, bakal ada banyak hal yang diduplikat anak dari orangtuanya seperti cara berbicara, nada bicara, cara merespon, cara bersopan santun dan banyak lainnya. Sebenarnya anak sangat membutuhkan teladan untuk bisa dicontoh, jangan sampai anak menjadikan orang-orang buruk di luar sana sebagai teladan.

9. Perbaiki Respon Terhadap Anak

Orangtua seringkali tidak bisa menahan diri saat mendapati perilaku anak yang menyimpang, sebelum meluruskan anak maka seharusnya orangtua bisa mengontrol diri sendiri. Lalu barulah mencari momen-momen yang tepat untuk meluruskan anak. Jangan sampai orangtua menasehati anak dalam kondisi emosi.

Orangtua suka terburu-buru menghakimi anak saat dia keliru, bahkan terlalu cepat menyalahkan anak padahal belum mengetahui duduk perkaranya. Orangtua melakukan hal-hal yang kurang bijak terhadap anak, dan ini bisa berakibat sangat buruk.

Orangtua seharusnya bisa menjadi pendengar yang baik untuk anak, itu pun tanpa perlu menghakimi anak saat dia salah. Setiap anak memiliki perasaan ingin dimengerti dan dihargai keberadaannya, jadi sangat ironis jika orangtua menjadikan anak sebagai bahan omelan.

Selain itu miliki waktu untuk berbicara dari hati ke hati dengan anak, cari waktu yang tepat untuk memberi tahu anak tentang batasan-batasan. Dengan mewujudkan aturan bersama sehingga anak mulai belajar berkomitmen, dan hal ini sangat bagus untuk perkembangannya. Cara seperti ini jauh lebih baik daripada marah-marah ke anak.




Baca Juga: