15 Bahaya Pergaulan Bebas (Penyebab & Cara Mengatasinya)


Pergaulan bebas yang dikenal saat masa modern ini, ternyata menimbulkan berbagai masalah. Pengertian pergaulan bebas diambil dari kata Pergaulan (artinya proses interaksi antar individu atau individu dengan kelompok) dan Bebas (artinya terlepas dari aturan, kewajiban, norma agama, tuntutan dan pancasila).

Hal yang memicu seorang remaja melakukan pergaulan bebas yaitu tidak mendapatkan pendidikan yang benar, hingga kondisi keluarga yang tidak harmonis.

Bentuk Pergaulan Bebas
Photo credit: Pxhere.com

Webster (2010) mendefinisikan pergaulan bebas adalah interaksi sosial dan perilaku di luar norma masyarakat atau ‘bebas dari aturan’. (sumber)

Hasil dari pergaulan bebas yang merajalela di kalangan remaja, yaitu:
  • Terjerat dalam pesta hura-hura
  • Perilaku yang tidak baik
  • Selalu pulang malam
  • Tidak memiliki prestasi belajar di sekolah
  • Mabuk-mabukan
  • Menggunakan obat-obat terlarang (narkoba)
  • Mengganggu ketertiban umum
  • Menggunakan pakaian terbuka

Bahaya pergaulan bebas mungkin tidak langsung terasa, namun bahayanya dapat menghancurkan masa depan para remaja yang tenggelam di dalam dunia pergaulan bebas.

A. Bahaya Pergaulan Bebas

Umumnya pelaku pergaulan bebas di Indonesia ini merupakan para remaja yang masih labil. Pergaulan bebas mendatangkan bahaya dan efek negatif bagi orang yang melakukannya, baik itu dari segi sosial, pendidikan, agama dan kesehatan. Berikut di bawah ini berbagai bahaya pergaulan bebas:

1. Remaja Menjadi Malas belajar

Sebenarnya pada setiap orang terdapat sebuah penyakit yang kadang-muncul kadang-tidak, namanya yaitu malas. Dimana “penyakit malas” ini kemunculannya bisa setiap hari. Hanya saja, pada remaja yang sudah tenggelam dalam pergaulan bebas, memiliki penyakit malas yang sudah sangat parah.

Malas Belajar

Hal ini terbukti, para remaja yang hobi main seharian dan pulang pada malam hari, maka hampir dipastikan dirinya akan kesulitan untuk bisa terbiasa belajar di rumah, bahkan seringkali PR tidak dikerjakan.

Jika malas belajar maka prestasi di sekolah akan jeblok. Hal ini terus berdampak buruk pada kehidupan sehari-hari, hingga akhirnya kesulitan untuk memperoleh pekerjaan yang mapan saat dewsanya.

Selain itu, orang yang rajin belajar akan disukai oleh orang-orang atau teman, sebaliknya mereka yang malas belajar akan dipandang kurang baik oleh teman-temannya.

Masalah akan terus berlanjut, jika prestasi pendidikan di sekolah tidak membanggakan, maka dirinya akan mencari “kebanggaan” dengan cara berkumpul bersama komunitas yang tidak baik (seperti geng motor, anak punk, dll), yang sebenarnya itu bukanlah kebanggaan tapi justru semakin merusak dirinya dan masa depannya.

Intinya, mereka yang sudah terlalu “asyik” dan tenggelam di dalam dunia pergaulan bebas, maka akan enggan untuk belajar. Dari sinilah awal mula kehancuran.

Menurunnya Prestasi Akademik di Sekolah
Remaja yang terjerumus dalam dunia pergaulan bebas akan mengalami penurunan prestasi atau nilai akademik. Terlalu asyik dengan dunia pergaulan bebas menyebabkan dirinya melalaikan kewajibannya sebagai pelajar.

Bahkan lebih buruk lagi, remaja yang suka melakukan pergaulan bebas akan malas bersekolah. Selain itu banyak kita saksikan sendiri, tidak sedikit remaja yang putus sekolah karena hamil.

2. Hubungan Yang Renggang dengan Keluarga Maupun Masyarakat

Pelaku pergaulan bebas cenderung menjaga jarak dan enggan berkomunikasi dengan masyarakat sekitar, bahkan keluarganya sendiri.

Bukan tanpa alasan anak-anak yang tenggelam dalam pergaulan bebas memiliki hubungan yang tidak baik dengan masyarakat atau lingkungannya. Dimana pelaku pergaulan bebas menampilkan image yang kurang baik.

Seorang remaja yang baru pulang malam (misalnya dari Diskotik atau tempat semacamnya) dalam keadaan teler (mabuk minuman keras). Sadar atau tidak, si remaja telah mencoreng nama baik keluarganya.

Jika tetangga atau masyarakat melihat kelakuannya, pastilah mereka bakal mencapnya sebagai orang yang buruk. Hal ini otomatis akan membuat malu orang tuanya.

Masyarakat akan jengkel melihat kelakuan buruk para remaja yang tenggelam dalam pergaulan bebas.

3. Mental Menjadi Tidak Stabil

Pergaulan bebas bisa menyebabkan mental menjadi tidak stabil, dimana mereka mengalami masalah dalam hal pengontrolan emosi.

Orang Sedang Marah
Photo credit: Pixabay.com

Anak-anak muda yang tenggelam dalam pergaulan bebas umumnya memiliki lingkungan yang buruk. Hal ini menyebabkan timbulnya hal negatif seperti mudah tersinggung, mudah emosi pada hal yang sepele, tidak sabaran, selalu ingin melawan (bahkan hingga merusak), jiwanya sering gelisah, dan semcamnya.

4. Menjadi Kurang Percaya Diri

Mereka yang melakukan pergaulan bebas biasanya akan terjerembab di dalam lingkungan yang buruk, hal ini menyebabkan dirinya akan sulit untuk percaya diri ketika berada di lingkungan yang baik.

Terutama bagi yang pergaulan bebasnya sudah sampai tingkat parah, seperti melakukan seks bebas. Dampak dari melakukan hubungan seksual sebelum menikah (atau berganti-ganti pasangan seksual) adalah resiko penyakit HIV/AIDS.

Itu merupakan penyakit menular dan berbahaya, penderita HIV/AIDS secara fisik, mental, dan psikologis mengalami krisis kepercayaan diri terhadap keberadaan diri mereka di tengah-tengah masyarakat. Hal ini yang menyebabkan mereka lebih memilih hidup tertutup.

5. Melanggar Norma-Norma Masyarakat

Pergaulan bebas akan membuat remaja rentan untuk melanggar norma-norma masyarakat. Misalnya yaitu konsumsi minuman beralkohol dan obat-obatan terlarang.

Walaupun norma-norma tersebut tidak tertulis, tapi perbuatan yang tidak baik seperti itu telah melanggar etika kehormatan di dalam masyarakat. Dimana perbuatan tersebut dan yang semacamnya sudah dinilai meresahkan lingkungan.

6. Rentan Terserang Penyakit

Pergaulan bebas sangat dekat jaraknya dengan kehidupan foya-foya, dugem, konsumsi minuman keras, konsumsi obat-obatan terlarang, hingga sex bebas. Hal ini menyebabkan pelaku pergaulan bebas akan rentan untuk terserang penyakit, setidaknya penyakit ringan.

Penyakit ringan itu seperti flu, batuk, atau penyakit yang berkaitan dengan lemahnya daya tahan tubuh. Misalnya, orang yang sering dugem maka akan mempengaruhi daya tahan tubuh, hal itu karena dugem biasanya dilakukan dari malam hari sampai pagi hari.

7. Tingginya Kasus Aborsi

Kasus aborsi terjadi akibat dari pergaulan bebas berupa hubungan di luar nikah, hal ini tidak jarang terjadi pada remaja. Kehamilan yang tidak diinginkan pasca terjadinya hubungan intim menyebabkan banyaknya kasus aborsi.

Berkali-kali polisi mengungkap kasus abosi ini. Selain tindakan aborsi ini sangat merusak kehidupan sosial masyarakat, juga membahayakan kesehatan pelakunya berupa fertilitas (gangguan kesuburan), kanker rahim, pendarahan, cacat permanen, hingga resiko kematian.

8. Sakau

Sakau terjadi akibat seseorang telah ketergantungan mengkonsumsi obat-obtan terlarang, hal ini umumnya terjadi pada mereka yang memiliki kebiasaan pergaulan bebas.

Ilustrasi Sakau
Photo credit: Deviantart.com by dimazrisenmultimedia

Ketika sudah agak lama terputus dari kebiasaan mengonsumsi obat-obatan terlarang, maka munculah gejala sakau ini. Kondisi sakau menyebabkan tubuh cemas, gemetar, hingga kejang-kejang.

Sakau terjadi ketika keinginan untuk mengkonsumsi obat-obatan terlarang tidak terpenuhi, sehingga tidak jarang mereka yang dalam kondisi sakau melakukan pencurian agar bisa membeli obat-obatan terlarang.

9. Resiko HIV/AIDS

Penyakit mengerikan ini rentan dialami oleh mereka yang melakukan pergaulan bebas, dimana aktivitas hubungan intim dengan pasangan yang berbeda-beda meningkatkan resiko ini secara signifikan.

HIV/AIDS bisa sangat beresiko menjangkiti seseorang yang memiliki kebiasaan seks bebas dengan pasangan yang berbeda-beda. Penyakit ini berhubungan dengan fungsi sistem kekebalan tubuh penderitanya yang sangat lemah.

Sistem imun tubuh sangatlah penting, karena fungsinya untuk meyembuhkan diri dari penyakit.

10. Malas Untuk Beribadah

Kalau diperhatikan, para pemuda yang hidup di dalam dunia pergaulan bebas umumnya malas untuk melakukan ibadah kepada Allah, dan dirinya juga cenderung untuk melakukan perbuatan-perbuatan negatif.

Masjid
Photo credit: Pixabay.com

Hal ini karena mereka telah terpedaya untuk melakukan hal-hal yang negatif akibat pergaulan bebasnya, sehingga menjauhkannya dari banyak sekali kebaikan.

Seringkali mereka yang terjatuh dalam pergaulan bebas melakukan berbagai hal yang bertentangan dengan agama.

11. Munculnya Sikap Hedonisme

Pergaulan bebas juga bisa memunculkan sikap hedonisme, yaitu sikap yang sangat mementingkan kesenangan duniawi, hal ini juga berkaitan dengan jiwa yang malas melakukan ibadah untuk kehidupan akhir.

Orang yang sudah tergila-gila dengan kehidupan dunia, maka dirinya akan rentan untuk “menghalalkan” segala cara dalam mencapai keinginannya.

Mereka akan melakukan kajahatan untuk mendapatkan banyak uang, seperti mencuri, membegal, korupsi dan berbagai tindakan menjijikan lainnya.

12. Suka Foya-foya

Orang yang terjerumus ke dalam pergaulan bebas akan sulit untuk bisa menabung. Terutama untuk mereka yang suka pergi ke tempat dugem, konsumsi minuman beralkohol, dan semacamnya.

Selain itu, mereka yang melakukan hubungan dengan lawan jenis diluar pernikahan, akan cenderung untuk boros. Adapun jika sudah sampai tahap konsumsi obat-obatan terlarang, maka bukan saja membuat miskin, tapi juga menyebabkan kerusakan pada tubuh.

13. Melakukan Tindak Kriminalitas

Pelaku pergaulan bebas yang suka berfoya-foya, maka mereka seringkali melakukan apa saja agar bisa memenuhi kebiasaannya untuk berfoya-foya. Kehidupan buruk seperti mengkonsumsi minuman keras hingga narkoba, akan menguras harta benda yantg banyak.

Ilustrasi Kriminal
Photo credit: Freegreatpicture.com

Sehingga untuk memenuhi “foya-foyanya” tersebut mereka tega untuk melakukan berbagai tindak kejahatan.

14. Menjadi Korban Kekerasan Fisik

Mereka yang tenggelam dalam pergaulan bebas dan melakukan hubungan seks bebas, akan beresiko tinggi mengalami pelecehan seksual serta kekerasan fisik, terutama untuk para pemudi.

Hal ini telah terbukti, tidak jarang siaran berita di TV menginformasikan tentang peristiwa dibunuhnya seorang gadis oleh kekasihnya (pacarnya) sendiri. Hal ini menjadi peringtan bagi para orang tua untuk benar-benar memproteksi anak gadisnya agar tidak menjadi korban.

15. Munculnya Perselingkuhan

Hal ini muncul dalam kasus orang dewasa yang sudah menikah. Dimana walaupun seseorang telah dewasa dan telah menikah, ternyata juga bisa terjerumus ke dalam dunia pergaulan bebas.

Tak jarang, akibat pasangan yang masih suka melakukan pergaulan bebas, sehingga menyebabkan keretakan pada rumah tangga.

Pergaulan bebas memiliki kaitan dengan kasus perselingkukan, sehingga hal ini seringkali menjadi penyebab bercerainya suami dan istri.

B. Penyebab Pergaulan Bebas

1. Orang Tua yang Kurang Memperhatikan

Kondisi lingkungan keluarga sangat vital dalam pembentukan karakter seorang anak / remaja. Sebuah kesalahan fatal jika orang tua kurang peduli tentang aktivitas anak-anaknya setiap hari. Selain itu, suatu kesalahan juga jika orang tua terlalu berlebihan dan kaku dalam mendidik anak.

Kedua hal ini yang menyebabkan seorang anak terjerembab ke dalam pergaulan bebas. Ketika seorang anak sudah terjerembab ke dalam pergaulan bebas, kesalahan terbesarnya ada pada orang tuanya, selain juga karena faktor teman-temannya yang kurang baik.

Orang Tua Sibuk Sendiri
Photo credit: Mediabakery.com by Jamie Grill | Gettyimages.com 

Pekerjaan orang tua akan sangat mempengaruhi perkembangan psikologis seorang remaja. Orang tua yang terlalu sibuk untuk mencari uang di luar rumah sehingga kurang memperhatikan anaknya, menyebabkan masalah serius pada diri seorang anak (terutama remaja).

Kurangnya perhatian dari orang tuanya menyebabkan seorang remaja akan mencari sensasi di luar sana, yang perbuatannya akan cenderung menyimpang / tidak baik.

Secara teoritis, keutuhan keluarga berpengaruh besar terhadap faktor kenakalan remaja. Dimana anak-anak remaja yang nakal seringkali berasal dari keluarga yang tidak utuh. Entah itu orang tuanya bercerai, atau interaksi di dalam keluarga yang begitu hambar.

Selain itu, orang tua yang cenderung memikirkan pekerjaannya sehingga tidak memperhatikan anaknya, sehingga anak kurang mendapat perhatian yang menyebabkan diri sang anak akan cenderung bebas dalam melakukan hal apapun.

2. Faktor Lingkungan dan Teman-teman

Lingkungan manjadi faktor yang sangat mempengaruhi cara bergaul para remaja. Jika kondisi keluarga baik, namun kondisi lingkungan sekitar tidak kondusif atau tidak baik, maka sang remaja tetap beresiko besar untuk terjerumus ke dalam pergaulan bebas.

Apalagi jika diperhatikan, remaja zaman sekarang lebih sering untuk berkumpul dengan teman-temannya daripada keluarganya. Bahkan perkembangan dan pola pikir remaja zaman sekarang tidak lagi didominasi oleh pendidikan keluarga, namun lebih banyak dari pengaruh lingkungan.

3. Kondisi Mental yang Tidak Sehat

Kurangnya penddikan menyebabkan seorang remaja memiliki mental yang tidak sehat dan cara pandang yang salah. Dimana tidak jarang para remaja justru merasa bangga pada pergaulan bebas yang dilakukannya.

Padahal pergaulan bebas bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan, bahkan seharusnya dihindari. Hal ini karena mereka kurang mampu memahami hakikkat yang benar dan baik, disebabkan daya pemahaman yang lemah.

4. Kondisi Keluarga Yang Tidak Stabil (Broken Home)

Suasana di dalam keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikis dan tingkah laku seorang remaja. Jika kondisi orang tua tidak harmonis akan menyebabkan perkembangan psikis sang anak menjadi terganggu.

Broken Home
Photo credit: Fotolia.com

Hal inilah yang memicu seorang anak cenderung untuk mencari kesenangan di luar. Apalagi jika sang anak tidak merasakan kasih sayang dari orang tuanya.

Seringkali seorang anak selalu menolak untuk mendengar nasehat dari orang tuanya, disebabkan kesalahan orang tuanya sendiri. Dimana orang tua tidak memberikan pendidikan dan kasih sayang yang layak.

5. Kurang Berhati-hati Dalam Berteman

Jika ada pernyataan bahwa berteman “harus” dengan siapa saja, maka ini pernyataan yang salah bebas. Justru sesorang harus berteman dengan orang-orang yang baik dan yang membuatnya bisa lebih baik.

Hal itu karena teman sehari-hari akan sangat mempengaruhi, baik itu dari segi akhlak, cara bicara, cara berpikir, tingkat motivasi, dan banyak hal lainnya.

Tidak jarang, salah memilih teman bisa menjerumuskan seseorang ke dalam hal-hal yang buruk. Selain faktor keluarga,  faktor teman juga sangat menentukan kesuksesan seorang anak di masa depannya.

6. Minimnya Pemahaman Terhadap Dampak Pergaulan Bebas

Tidak adanya pemahaman yang benar tentang dampak negatif dari pergaulan bebas, apalagi dengan didukung rasa penasaran yang tinggi, hal ini menjadi pemicu yang sangat kuat terjerumusnya remaja dalam pergaulan bebas.

Pemicu lainnya yaitu terbukanya akses pada hal-hal yang buruk, seperti keberadaan internet yang bisa menjadi pisau bermata dua.

Jika digunakan dengan benar maka internet bisa memberikan manfaat yang sangat besar. Adapun jika salah dalam menggunakan internet seperti mengakses konten gambar dan film yang tidak pantas untuk dilihat, maka dapat merusak diri seorang remaja.

7. Berkembangnya Paham Sekularisme dan Liberalisme

Sekularisme adalah paham yang mengatakan bahwa kehidupan dan kegiatan dalam urusan dunia harus dipisahkan dari nilai-nilai Agama. Sehingga keberadaan Agama tidak lagi memiliki kedudukan yang tinggi dalam paham sekuarisme.

Liberalisme adalah paham yang mengatakan bahwa manusia bebas untuk memiliki pemikiran apapun, walaupun itu menyimpang jauh dari nilai-nila Agama.

Baik itu paham sekuler maupun paham liberalisme, kedua-duanya sangat merusak tatanan kehidupan beragama.

Hasil dari kedua paham tersebut, menyebabkan tingginya angka pergaulan bebas di kalangan anak muda. Dimana kontrol agama tidak lagi dianggap oleh mereka yang memiliki paham seperti itu.

8. Minimnya Kontrol Orang Tua

Pada zaman ini, peran dan fungsi keluarga telah mengalami pergeseran yang sangat jauh, disebabkan karena masing-masing anggota keluarga terlalu sibuk dengan tujuannya sendiri-sendiri.

Banyak keluarga di kota yang terlalu memikirkan tentang kebutuhan materi anak-anaknya, sehingga sangat kurang dalam memperhatikan kebutuhan rohani dan jiwa anak-anaknya.

Hal seperti inilah yang menyebabkan perkembangan jiwa seorang anak menjadi tidak seimbang. Ketika umur seorang anak semakin bertambah maka berbagai problematika pun semakin banyak, sementara komunikasi dan perhatian orang tua pada anak semakin sedikit.

9. Menurunnya Fungsi Kontrol dari Masyarakat

Lingkungan yang baik sangatlah penting, karena akan memberikan pengaruh baik terhadap perkembangan remaja. Yang menjadi masalah adalah fungsi kontrol yang dilakukan oleh masyarakat telah menghilang.

Hal ini terjadi akibat sikap kurang peduli dan egois, sehingga fungsi masyarakat dalam pembentukan mental generasi muda semakin pudar. Kepedulian pada generasi muda benar-benar hampir menghilang.

Selain itu, kerasnya pola hidup individu di perkotaan mengakibatkan tidak adanya komunikasi intensif antar tetangga dan masyarakat.

Apabila kondisi masyarakat sudah seperti ini, maka munculah berbagai kerusakan, terutama dilakukan oleh anak muda yang sedang dalam masa labil-labilnya.

10. Pemuda Tidak Menyadari Bahaya dari Seks Bebas dan Obat-obatan Terlarang

Penelitian menyebutkan bahwa terdapat banyak penyebab remaja melakukan perilaku seks bebas, salah satunya yaitu karena tontonan yang buruk. Data remaja yang melakukan hubungan seks bebas kian meningkat, dari 5% pada tahun 1990-an menjadi 20% di tahun 2000.

Ada suatu bahaya besar dari perilaku seks bebas yaitu penyakit menular seksual (sipilis, HIV/AIDS, dll). Di Amerika Serikat, setiap tahunnya ada sebanyak 3,7 juta kasus baru infeksi penyakit kelamin.

Say No To Drug

Dengan begitu, penting memberitahukan tentang bahaya pergaulan bebas (baik itu berupa seks bebas hingga penggunaan obat-obatan terlarang) pada para remaja.

11. Minimnya Sarana Pengembangan dan Aktivitas Remaja

Masa remaja dapat dikatakan masa yang sangat vital di dalam kehidupan seseorang, dimana saat seseorang remaja maka dirinya bukan lagi anak kecil, tapi belum juga dikatakan dewasa.

Masa remaja merupakan masa-masa labil, kondisi tersebut merupakan ekspresi dan dorongan perkembangan remaja. Namun, saat ini sangat sedikit yang memberi perhatian tentang kebutuhan remaja tersebut.

Para orang dewasa sangat kurang dalam upaya pembinaan remaja, dimana minim sekali sarana dan fasilitas untuk aktivitas para remaja, hal ini menyebabkan sebagian remaja memilih untuk masuk ke dalam dunia pergaulan bebas.

C. Cara Mengatasi Pergaulan Bebas

Dorong Remaja Untuk Memiliki Berbagai Aktivitas Positif

Tidak adanya aktivitas positif untuk mengisi waktu luang, menyebabkan para remaja mengisi waktu mereka dengan hal negatif seperti pergaulan bebas.

Sehingga salah satu cara efektif untuk mengantisipasi maraknya pergaulan bebas adalah dengan memberikan aktivitas positif dan bermanfaat kepada para remaja.

Misalnya dengan melibatkan anak muda dalam organisasi sosial, hal ini sangatlah bagus untuk memacu pekembangan remaja ke arah yang positif.

Ilustrasi Remaja Bermain Bulu Tangkis
Ilustrasi Remaja Bermain Bulu Tangkis | (Foto cr PBSI)

Selain itu, dorong remaja untuk menekuni hobinya, bahkan lebih bagus lagi jika mengembangkannya menjadi lahan bisnis yang menghasilkan profit.

Lalu buatlah acara-acara kreatifitas untuk anak-anak muda. Dengan berbagai strategi ini, maka diharapkan dapat secara efektif untuk mengarahkan para remaja untuk berbagai hal yang bermanfaat.

Jika Anda bingung, berikut berbagai aktivitas bermanfaat yang bisa ditawarkan pada remaja:

Olahraga
Olahraga sangat menyehatkan tubuh dan pikiran. Olahraga juga memicu produksi hormon endorfin yang membuat mereka lebih semangat dan dan percaya diri.

Anda bisa menawarkan anak untuk melakukan olahraga beregu seperti futsal, basket, voli dan banyak lainnya. Selain itu, untuk jenis olahraga perorangan juga bisa dilakukan bersama-sama, misalnya jogging, berenang, dan lainnya.

Keterampilan Tangan
Aktivitas ini juga bermanfaat untuk dilakukan, seperti menjahit, memasak, melukis, keterampilan bertukang seperti membuat meja sederhana, memperbaiki kendaraan, alat-alat elektronik rumah tangga, bercocok tanam, dan banyak lainnya.

Bela Diri
Ini juga hal yang penting, untuk menjaga keamanan diri (self defense), terutama untuk remaja putra, maka orang tua bisa mendaftarkan anak remaja mereka di kelas-kelas bela diri.

Kegiatan bela diri yang umumnya diajarkan seperti taekwondo, pencak silat, karate, dan lainnya. Remaja putri juga bisa dibekali dengan kemampuan bela diri, hal ini untuk menjaganya dari upaya pelecehan dari pihak lain.

Aktivitas Alam
Anda bisa mengajaknya untuk melakukan aktivitas di alam bebas sesekali, hal ini menjadi latihan sekaligus tantanglah bagi remaja agar bisa meninggalkan gadget, ponsel, laptop ataupun video games mereka.

Pergi ke tempat hijau atau alam bebas diharapkan membuat para remaja menyukai dan menghargai keindahan alam lebih dari bioskop dan mall.

Belajar Bahasa Asing
Mempelajari bahasa asing sangat bagus dilakukan saat masa remaja, hal itu karena remaja memiliki banyak waktu luang.

Dengan belajar bahasa asing, hal ini membuat seseorang dapat membuka pintu ke dunia luar. Menambah kemampuan yang dimiliki dengan cara belajar di luar negeri, hingga bekerja di luar negeri dengan gaji yang besar.

Selain yang disebutkan diatas, terdapat banyak sekali (puluhan hingga ratusan) aktivitas positif yang bisa dilakukan para remaja.

Intinya, hendaknya para remaja mengisi waktunya dengan aktivitas bermanfaat, apalagi sekarang ini terdapat banyak kursus offline atau online yang bisa diikuti. Tinggal dipilih bidang kursus apa yang disukainya.

Sosialisasikan Bahaya Pergaulan Bebas

Salah satu penyebab seorang remaja terjatuh ke dalam pergaulan bebas adalah karena dirinya kurang mengetahui tentang bahaya pergaulan bebas.

Salah satu kerusakan moral akibat pergaulan bebas adalah maraknya seks bebas. Dampak seks bebas ini bisa menyebabkan resiko penyakit kelamin yang mematikan. Hal ini harus diketahui oleh para remaja sehingga dirinya tidak tergoda dengan dunia pergaulan bebas.

Sebagai orang tua hendaknya mengumpulkan sebanyak-banyaknya informasi tentang bahaya pergaulan bebas.

Biasakan Membatasi Waktu di Luar Rumah

Terlalu lama berada di luar rumah dengan kegiatan-kegiatan yang kurang bermanfaat, akan membuka resiko seorang remaja terjatuh dalam pergaulan bebas.

Seorang remaja selain melakukan aktivitas di luar rumah, hendaknya juga berusaha membuat daftar-daftar kegiatan untuk dilakukan di rumah.

Dengan meredam kebiasaan terlalu sering di luar rumah, maka ini langkah yang sangat baik untuk mencegah remaja terjatuh kepada hal-hal yang buruk.

Sadarkan Remaja Untuk Memikirkan Tentang Masa Depannya

Sedikit sekali remaja yang memikirkan masa depannya. Seandainya pada masing-masing remaja menyadari tentang persiapan untuk masa depannya, maka dirinya tidak akan ikut “nimbrung” dengan yang namanya pergaulan bebas.

Buka pikiran remaja tentang hal-hal besar yang bisa dilakukannya, sehingga masa depannya akan sukses. Ada banyak hal besar dan penting yang bisa dilakukannya sekarang, sehingga remaja tidak lagi tertarik dengan dunia pergaulan bebas.

Menghindari Lingkungan yang Tidak Kondusif

Setelah keluarga, tempat anak bersosialisasi adalah lingkungan sekitar. Apabila anak berada di lingkungan yang positif maka dirinya akan cenderung menjadi baik. Dimana seseorang umumnya akan mencontoh lingkungan sekitarnya.

Adapun jika lingkungannya negatif, maka sang anak akan sangat rentan untuk meniru hal-hal yang tidak baik dari lingkungan sekitarnya.

Hal Lainnya Untuk Mengatasi Maraknya Pergaulan Bebas

Orang tua hendaknya bisa memberikan teladan yang baik untuk anak-anaknya. Jika orang tuanya baik, maka Insya Allah nantinya sang anak memiliki potensi yang besar untuk menjadi seorang yang baik.

Orang tua harus melakukan pendekatan sedemikian rupa kepada anak, sehingga anak tidak mudah terprovokasi oleh teman-temannya untuk terjerumus ke dalam hal-hal yang buruk.

Sejak dini, tanamkan pada anak keberanian untuk mengatakan tidak pada hal-hal yang kurang baik. Hal ini penting agar sang anak tidak terjerembab dalam ajakan teman-temannya yang buruk.

Dengan begitu juga, orang tua seharusnya memiliki waktu berkualitas untuk anaknya, sehingga bisa saling mengobrol atau sekedar berkumpul. Jadilah orang tua yang menjadi tempat curhat yang nyaman bagi anak-anaknya.

Jangan lupa untuk tetap mengawasi penggunaan media komunikasi seperti smartphone, gadget, televisi, dan lainnya.

Terakhir, kenalkan anak pada agama yang benar, dorong anak untuk mempunyai idola berupa orang-orang sholeh. Dekatkan anak pada Ustadz-Ustadz yang memiliki ilmu agama mumpuni, akhlak yang mulia, aqidah dan keimanan yang benar, pengamalan agama yang bagus, dan kelembutan hati.

Mudah-mudahan, nasehat dari para Ustadz yang seperti itu akan meresap ke dalam hati anak-anak Anda.

loading...


Tulisan Terkait: