Bagaimana Cara Mengajarkan Anak Sopan Santun?

Anak-Anak di Kelas
Anak-Anak. Photo credit: stock.adobe.com|contrastwerkstatt

Memiliki anak dengan kepribadian yang baik menjadi impian setiap orangtua, hanya saja kepintaran anak tak menjamin ia bisa punya kepribadian positif.

Sopan santun lahir dari budaya atau lingkungan yang menjunjung tinggi hal tersebut, itu artinya sopan santun menjadi sesuatu yang urgen untuk ditanamkan pada anak-anak semenjak kecil.

Cara Mengajarkan Anak Sopan Santun


Peranan orangtua adalah menanamkan perilaku sopan santun pada anak. Keluarga yang kondusif dan harmonis menjadi faktor utama keberhasilan perkembangan karakter anak yang positif.

Pastikan anak terlindungi dari paparan toksik, dan usahakan agar dia selalu dikelilingi orang-orang positif supaya tumbuh kembangnya optimal.

Pengenalan sopan santun wajib dimulai dari sekarang, dimana yang namanya pembentukan kepribadian dimulai saat anak masih polos-polosnya, sehingga tingkat keberhasilan-nya sangat besar.

Sekalipun dia masih 3 tahun, ini sebenarnya 'momen emas' dalam membentuk dan membimbing anak, khususnya mengenai adab atau perilakunya. Bimbing anak tentang caranya bersikap di meja makan, bersalaman, membiasakan ucapan ajaib ('terima kasih', 'tolong', 'maaf''), tidak berteriak di tempat umum, dll.

Jangan menunda-nunda buat membimbing perilaku anak, menunda-nunda sampai anak sudah agak besar adalah sebuah kesalahan, apalagi membebankan sepenuhnya pengajaran sopan santun pada guru.

Padahal perlu diketahui, umumnya sekolah lebih fokus pada pengajaran akademik ketimbang pendidikan karakter, kalaupun ada itu hanya dalam porsi sedikit.

Jadi hindari terlampau berharap kepada pihak sekolah dalam pendidikan karakter anak, justru orangtua sendiri yang harusnya berperan dan cekatan untuk menanamkan sopan santun pada anak, adapun sekolah hanya sekedar supporting.

Anda sangat ditekankan untuk hal ini semenjak anak masih kecil, karena menanamkan dan membentuk kepribadian butuh waktu dan proses yang panjang.


Role model positif. Anda sudah seharusnya bisa menampakan teladan yang bagus bagi anak. Nantinya anak bakal melihatnya, mencontohnya, serta menganggap serius tentang urgensi sopan santun ini.

Percuma Anda capek-capek menceramahi anak mengenai pentingnya berperilaku baik, tapi Anda ternyata menjadi role model buruk untuk anak.

Anak bakal cenderung mencontoh dari apa yang disaksikannya di depan mata, ketimbang mengikuti nasehat orangtua. Contohkan secara langsung sikap sopan santun, nantinya bakal lebih mengena di hati anak (untuk mempraktekan-nya juga). Sehingga edukasi anak secara praktek ketimbang sekedar teori.

Misalnya yang paling mendasar dan juga penting, kenalkan anak sedini mungkin dengan ucapan “terima kasih”, “tolong” dan “maaf”, ketiga kata itu menjadi dasar sopan santun dan akhlak mulia.

Bimbing anak mengucapkan kata “tolong” saat meminta bantuan, mengucapkan “terima kasih” setelah dibantu, dan ucapkan “maaf” apabila bersalah pada pihak lain.

Metode terampuh dalam membentuk kepribadian anak yang positif yaitu dengan mencontohkan langsung, dimana anak menyaksikannya berulang-ulang. Tatkala anak sering melihat orangtuanya mengatakan “terima kasih, tolong, maaf” sehingga anak pun bakal mengucapkannya juga.

Lebih lanjut, orangtua dapat mempraktekan perkataan baik lainnya, penting ajarkan anak sebelum remaja tentang caranya bilang permisi, cara menyampaikan salam, cara minta izin dan semacamnya.

Mempraktekan langsung di hadapan anak, nantinya ini jauh lebih efektif supaya anak bisa meresapi berbagai kebiasaan baik tersebut.


Pujian dan apresiasi. Tatkala anak berperilaku sopan santun, orangtua jangan malas untuk memberikan apresiasi. Memberikan pujian ataupun hadiah bakal bikin anak makin termotivasi menjaga perilaku positif. Juga anak bakal menyadari bahwa ketika dirinya berperilaku baik, maka itu bikin orangtuanya bahagia.

Sebaliknya, saat anak tak menunjukan sopan santun, lakukan teguran sehingga anak sadar akan kekeliruannya. Tegur dengan nada ucapan yang cenderung lembut, serta jangan menegur anak saat ada banyak orang (sebab bakal membuatnya malu). 

Jadilah orangtua yang adil, yaitu berikan reward tatkala anak mengerjakan hal positif, dan berikan hukuman tatkala anak berperilaku buruk. Orangtua tidak perlu berlebihan saat memberikan hadiah, sewajarnya saja karena yang penting anak menjadi merasa dihargai dan disayangi.

Konsisten (terus-menerus). Pengajaran sopan santun bukanlah hal instan, dimana perlu waktu dan proses panjang hingga anak mampu meresapi dan mempraktekannya. Jadi hindari terburu-buru untuk melihat hasilnya. Butuh pembiasaan supaya anak nantinya mempraktekan dengan baik. Dimana pembiasaan sesuatu yang bersifat jangka panjang.

Suatu waktu (walaupun sebelumnya sudah diajarkan) anak mungkin mengabaikan caranya bersopan santun, maka orangtua berperan selalu memonitor dan membimbing anak secara kontinyu. Apabila anak mengerjakan kekeliruan maka perlu diluruskan, jika tidak diluruskan menyebabkan anak bakal memandang kekeliruannya normal.

Saat melakukan koreksi ke anak, utamakan cara lembut karena akan lebih mengena di hati anak. Anak juga mengimitasi cara bersikap orangtuanya sendiri. Hindari menegur anak secara keras, kasar apalagi memaki. Sikap kasar yang diterima anak akan berpengaruh buruk pada kesehatan mentalnya.

Sopan santun merupakan rasa kepekaan pada perasaan orang lain, sehingga menjadi sulit mengajarkan sopan santun apabila psikis, perasaan dan emosi anak tersakiti (serta terganggu kestabilannya).

Sikap sopan santun sangatlah dibutuhkan bagi anak nantinya saat berinteraksi di lingkungannya. Sehingga sopan santun menjadi bekal istimewa untuk anak, supaya bisa sukses dalam bidang akademik, kehidupan sosialnya dll.


Perhatian dan kasih sayang. Memberikan perhatian dan kasih sayang bakal mendekatkan 'batin' orangtua dan anak. Tak jarang anak berperilaku buruk demi cari perhatian orangtuanya, sehingga anak berperilaku buruk biasanya karena kurang mendapatkan rasa kasih sayang sejak kecil.

Dengan begitu, orangtua hendaknya memanfaatkan momen kebersamaan dengan anak sebaik mungkin. Pastikan orang tua dan anak rutin berinteraksi setiap hari, jalankan komunikasi yang sehat dan berkualitas, serta buat anak merasa diperhatikan.

Lebih lanjut, biasakan untuk menunjukan rasa sayang, supaya anak bahagia dan nyaman pada keberadaan orangtuanya.

Mengajarkan sopan santun sejak dini. Sopan santun sudah dapat dikenalkan pada anak 3 tahun, di umur segitu anak mulai bisa menangkap dan juga menerka perasaan orang lain. Sehingga ajarkan ucapan sederhana tapi sangat penting yaitu “tolong”, “terima kasih” dan “maaf”.

Tapi namanya anak kecil tentu butuh waktu, jadi jangan bosan untuk mengingatkannya. Juga ajarkan sikap di meja makan, ini biasanya mulai dapat diajarkan saat anak berusia 4 tahun, selalu ingatkan dia supaya duduk tenang.

Jika akan sudah agak besar, edukasi anak supaya jangan mengomentari fisik atau kekurangan orang lain, bilang ke anak bahwa itu bisa melukai hati orang lain. Beberapa hal lainnya yang dapat diajarkan pada anak:
  1. Etika bertamu.
  2. Tidak mengejek atau menertawakan seseorang.
  3. Mengajarkan anak untuk tidak berbicara sambil teriak.
  4. Mengajarkan anak kata-kata yang baik, dan melarang anak dari mengucapkan kata-kata yang buruk.
  5. Dll.

Anak-anak pada dasarnya mampu belajar dari berbagai hal yang terjadi di sekitarnya. Hanya saja, orangtua tetap harus berperan aktif mengajarkan perilaku dan kesopanan pada anak.


Adapun tatkala anak berada di fase remaja, kondisi menjadi lebih kompleks sebab anak mulai melebarkan pergaulannya di masyarakat. Orangtua harus menjadi pendengar yang baik untuk anak remaja-nya. Dimana sebelum mengajarkan sopan santun, kedekatan hubungan orangtua dan anak remajanya wajib dibangun terlebih dahulu.

Orangtua perlu menyadari apa saja konten-konten di internet yang dikonsumsi anak remajanya, lindungi anak dan jangan malas untuk mengedukasi anak agar menghindari konten yang merusak. Konten yang merusak bisa saja berasal dari video, game, tulisan, gambar dll.

Jangan cuek dengan apa yang dikonsumsi anak di smartphone-nya, konten negatif di internet menjadi ‘racun’ yang menyebabkan buruknya sopan santun para remaja.

Juga, pastikan komunikasi antara orangtua dan anak rutin terjalin, alhasil orangtua dapat mengetahui kondisi anak remajanya secara akurat.

Orangtua harus punya waktu kebersamaan yang cukup dengan anak remajanya, hanya saja kehidupan modern yang hiruk pikuk menyebabkan orangtua hanya memiliki satu atau dua jam buat anak, bahkan ada orangtua yang tak berinteraksi sama sekali dengan anak-anaknya (ini musibah besar).

Selain itu, orangtua perlu memperhatikan sikapnya terhadap anak. Apabila anak merasa tidak dihargai, jangan harap anak peduli pada ucapan (nasehat) orangtuanya.

Kehidupan yang modern dan hiruk-pikuk seperti saat ini, juga seringkali membuat orangtua menunjukan tata-krama yang buruk terhadap anak.

Dimana karena sering terburu-buru dalam segala hal, menyebabkan orangtua sering berinteraksi dengan anak secara asal-asalan, seperti tidak melakukan kontak mata saat berbicara, bahkan lebih buruk lagi tidak menyapa anak. Anak melihat dan mencontoh orangtuanya selaku panutannya.

Para ahli menjelaskan bahwa hal seperti ini (orangtua terlalu sibuk bekerja) menyebabkan munculnya fakta yang amat mengerikan, yaitu: “Orangtua terus memberi, dan anak-anak mereka menjadi lebih kasar dan lebih menuntut”.

Alhasil, sebuah kesalahan jika orangtua hanya memenuhi kebutuhan materi, tanpa memenuhi kebutuhan anak terhadap rasa kasih sayang. Jika anak merasa kurang mendapatkan rasa kasih sayang, maka jangan harap ia mau belajar tentang sopan santun.

Alihkan anak dari gadget atau game. Usahakan hindari dia seharian 'bercengkrama' dengan gadget, alihkan anak ke kegiatan lain yang lebih melibatkan aktivitas fisik, atau setidaknya anak tidak lagi terus-terusan menatap layar gadget.

Bermain gadget atau game secara berlebihan menimbulkan efek buruk seperti gampang emosi, frustasi dan kesulitan dalam mengatur perilaku. Hal ini bakal menghambat anak dalam belajar sopan santun.

Para ahli mengungkapkan anak-anak yang kecanduan game akan lebih sering menyela dan melawan perkataan orangtua, jiwanya lebih rapuh dan rentan frustrasi. Itu karena otak anak telah terjerat pada kepuasan instan.

Untuk mengubah anak menjadi lebih sopan santun, maka tidak dapat terjadi dalam semalam. Mengubah kebiasaan butuh waktu, jadi jangan terburu-buru dengan memaksa anak.




Baca Juga:

Tidak ada komentar: