Anak Jadi Korban Body Shaming, Ini Cara Mengatasinya

Setiap orangtua tentu ingin anak-anaknya dapat tumbuh dengan perasaan aman dan bahagia, jika kehidupan anak tidak bahagia maka proses tumbuh kembangnya akan terhambat, sehingga kebahagiaan dan rasa aman sangatlah dibutuhkan anak.

Body Shaming
Photo credit: istockphoto.com|Brycia James

Maraknya body shaming mengakibatkan banyak anak di Indonesia tidak tumbuh dengan perasaan bahagia, sehingga para orangtua sudah seharusnya berperan aktif mendampingi anak. Anak (khususnya saat memasuki usia remaja) bisa saja berpotensi mengalami body shaming dari teman-teman sebayanya.

Dampak body shaming dapat menyakiti jiwa anak, seperti sebutan si gendut, si kurus, si cebol, si kecap dll. Sebutan-sebutan seperti itu umum terjadi di pergaulan sehari-hari anak usia SD maupun remaja. Jenis bully yang mengomentari keadaan fisik secara negatif dapat menyakiti anak dan juga membuat anak tidak percaya diri.


Orangtua perlu aktif mendampingi anak dalam menghadapi situasi tersebut. Orangtua juga perlu berhati-hati dalam bertutur kata (sekalipun tanpa maksud buruk) dalam mengomentari kondisi bentuk tubuh, misalnya mengatakan kepada anak “Baju ini sudah tidak muat karena kamu bertambah gemuk”.

Hindari perkataan-perkataan yang tidak perlu di rumah karena dikhawatirkan tanpa disadari melukai perasaan anak. Pastikan juga anak merasa aman, nyaman dan bahagia saat di rumah, ketika anak mengalami body shaming di sekolahnya, maka suasana rumah yang kondusif sangatlah penting sebagai tempatnya bernaung.

Orangtua harus bisa menjadi tempat curhat terbaik untuk anak. Anak (khsusunya usia remaja) biasanya memiliki banyak sekali problematika di dalam proses tumbuh kembangnya sehingga sangat membutuhkan tempat untuk mencurahkan isi hatinya. Anak mungkin akan mengadu mengenai kondisi bentuk tubuhnya dan persoalan lainnya, disinilah orangtua harus dapat memberikan motivasi agar anak tetap semangat dalam menjalani kehidupan dan aktivitasnya sehari-hari.

Seperti disinggung sebelumnya, hindari mengatakan hal-hal yang tidak perlu, ini termasuk orangtua mengomentari bentuk tubuhnya sendiri, misalnya mengatakan:
“Duh Mama kok gemukan ya sekarang”
"Mama kok terlihat gemuk kalau memakai baju ini."
"Mama tidak mau makan ini karena takut gemuk."
“Duh hidung Mama kok pesek banget ya.”
Dan banyak contoh lainnya.

Anak mendengarkan dan belajar tentang kehidupan dari orangtuanya. Sebuah penelitian menemukan bahwa anak-anak yang berpikir bahwa orangtua mereka tidak bahagia dengan tubuh mereka, lebih cenderung tidak puas dengan keadaan tubuh mereka sendiri.

Dengan begitu, jika orangtua tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya sendiri, maka nantinya anak pun bakal cenderung tidak percaya diri juga dengan kondisi dirinya sendiri. Orangtua seharusnya menunjukan kepercayaan diri sehingga anak juga meniru hal positif yang dilakukan orangtuanya.


Jangan jadikan penampilan sebagai fokus utama di kehidupan, ajarkan anak tentang hal ini, sehingga hindari sering berbicara tentang penampilan tubuh (apalagi mengenai bentuk tubuh orang lain), dengan begitu anak akan belajar bahwa ada hal-hal yang lebih penting untuk dibahas dan dipikirkan daripada sekedar penampilan atau bentuk tubuh.

Buatlah fokus anak teralihkan ke hal-hal yang lebih penting, misalnya ajari anak bahwa sifat-sifat yang baik itu lebih penting. Demikian juga saat Anda memuji seseorang di depan anak, maka pujilah tentang seberapa baik atau murah hati orang tersebut (bukan memuji penampilan atau bentuk tubuhnya).

Hal ini akan membuat anak lebih fokus untuk menggapai sifat-sifat yang baik ketimbang fokus memikirkan bentuk tubuhnya. Anak bisa menjadi percaya diri dengan memiliki sifat-sifat baik, rasa percaya dirinya juga membuat anak lebih tahan banting saat mengalami body shaming di luar.

Biasakan memberikan apresiasi dan pujian dalam sehari-hari. Menjadi orangtua adalah tanggung jawab yang besar, selain memenuhi kebutuhan fisik anak, orangtua juga wajib memenuhi kebutuhan batin anak, jadi orangtua jangan malas memberikan pujian dan apresiasi kepada anak.

Biasakan untuk memberikan pujian yang tulus saat anak melakukan hal-hal yang baik, boleh-boleh saja memuji anak dengan sebutan cantik atau tampan, tapi akan sangat membantu jika Anda memperluas jangkauan pujian.

Misalnya memuji karakter ataupun prestasi anak, hal ini akan memberikan pemahaman bagi anak bahwa ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar penampilan. Selain itu, saat anak telah berusaha dalam mengerjakan sesuatu (sekalipun hasilnya belum memuaskan) maka orangtua tetap harus memberikan apresiasi atas usaha anak.

Bilang ke anak: “Kamu telah berusaha keras, Bunda sangat bangga.”

Dengan memberikan pujian dan apresiasi kepada anak, maka hal ini membuat anak merasa diperhatikan, disayangi dan diharapkan keberadaannya. Hal ini perlu dilakukan sejak dini, sehingga membuat anak tumbuh dengan rasa percaya diri yang bagus.

Rasa percaya diri sangat penting agar anak mampu bertahan dalam pergaulan sosial di luar, selain itu anak juga menjadi tahan banting saat mengalami body shaming dari teman-teman sebayanya.


Beritahu anak bahwa setiap orang itu unik. Beritahu anak bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, setiap orang memiliki perbedaan dan keunikannya masing-masing. Hal seperti ini harus diberitahukan kepada anak, sehingga nantinya anak menyadari dan tidak berkecil hati saat memiliki perbedaan tertentu dengan teman-temannya.

Selain itu ajarkan anak untuk menerima orang yang mungkin terlihat berbeda, berikan anak pemahaman bahwa berbeda tidaklah buruk. Ajarkan anak untuk menerima dan memaklumi perbedaan, hal ini secara tidak langsung juga mengajari anak untuk bisa berpikiran terbuka (open minded).

Biasakan pola hidup sehat. Orangtua perlu aktif mengajarkan pola hidup sehat kepada anak sejak dini, biasakan konsumsi makanan bergizi seimbang dan rutin berolahraga. Jika anak bertanya mengapa harus rajin berolahraga, maka jawablah hal itu untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh.

Tubuh yang ideal akan terbentuk dengan rutinitas olahraga dan penerapan pola hidup sehat. Akan tetapi, jangan bilang ke anak bahwa tujuan utama olahraga untuk membentuk tubuh ideal karena membuat anak merasa terbebani, serta anak nantinya punya pikiran tidak puas dengan bentuk tubuhnya sekarang.

Lakukan jenis olahraga yang sederhana seperti mengendarai sepeda, jogging, mengajak anak berkebun dll. Mengajak anak berkebun dapat menjadi bentuk olahraga, aktivitas bercocok tanam adalah latihan angkat beban ringan yang dapat membentuk otot-otot utama anak. Dimana saat berkebun, nantinya anak mengangkat, menggali dan berjongkok, itu merupakan gerakan-gerakan dasar untuk melatih otot-otot motorik kasar.

Ada banyak bentuk olahraga, yang penting pastikan anak aktif untuk menggerakan tubuhnya. Anda bisa mengajak anak ke taman atau gelanggang olahraga, seperti Gelora Bung Karno yang merupakan ruang komunal tempat berolahraga dan juga bersosialisi. Anda juga harus bisa jadi panutan, dimana orangtua adalah teladan bagi anak sehingga harus memberikan contoh hidup sehat dan aktif. 

Jika Anda melakukan kebiasaan positif maka anak akan mencontohnya, demikian sebaliknya. Tentukan juga hari olahraga keluarga, ajak anak untuk mendiskusikan waktu olahraga bersama keluarga. Beri anak kesempatan berbicara dan mengemukakan pendapatnya. Dengan menyertakan anak ikut ambil bagian dalam membuat sebuah keputusan, akan menjadikan anak lebih termotivasi.

Ahli kesehatan terlah menjelaskan bahwa salah satu pilar hidup sehat adalah rajin olahraga. Ajak anak makan makanan sehat dan melakukan aktivitas fisik setiap hari, ini hendaknya dilakukan sejak dini. Anak yang rutin berolahraga akan mendapatkan banyak sekali manfaat seperti:
  1. Bentuk tubuh yang lebih ideal.
  2. Jantung dan paru-paru yang kuat dan sehat.
  3. Membentuk tulang yang kuat.
  4. Menjadi lebih fleksibel dan aktif.
  5. Meningkatkan rasa percaya diri.
  6. Suasana hati (mood) yang lebih baik dan stabil.
  7. Dll.

Selain itu, usahakan mendorong anak untuk rutin mengonsumsi buah dan sayur, lalu sebisa mungkin kurangi konsumsi junk food serta asupan tinggi gula dan lemak.


Peran Aktif Orangtua Sangat Diperlukan Saat Anak Menerima Body Shaming

Mengolok-olok teman karena fisiknya sering dianggap sebagai candaan, padahal ini termasuk verbal bullying yang menyebabkan korbannya kehilangan rasa percaya diri. Korban body shaming awalnya akan meyakini tubuhnya tidak 'sempurna', jika terus-menerus mendengar ejekan tersebut, ia akan menganggap kondisi fisiknya (yang menjadi bahan ejekan tersebut) sebagai suatu aib yang harus segera disingkirkan.

Hal itulah yang membuat korban body shaming merasa tidak percaya diri dan tidak merasakan kenyamanan dalam hidupnya. Selain itu timbul rasa kekecewaan terhadap bentuk tubuh sendiri, yang akibatnya korban body shaming menjadi tidak/kurang mencintai dirinya sendiri.

Sebagai orang tua, hal yang perlu dilakukan saat anak menjadi korban body shaming yaitu mendengarkan keluhannya. Saat Anda mengetahui anak Anda disakiti, tentu rasanya ingin membalas si pelaku, tapi hendaknya Anda sebisa mungkin bersikap tenang walaupun anak datang mengadu sambil menangis tersedu-sedu. Anda harus mampu menguasai diri sendiri terlebih dahulu.

Biarkan anak meluapkan emosi dan kesedihannya hingga puas, biarkan anak mengadu dan bercerita tentang kondisi yang dialaminya hingga akhirnya anak merasa puas dan tenang kembali. Sebelum mulai menyelesaikan permasalahan, pastikan Anda dan anak Anda sudah dalam kondisi tenang dan sama-sama bisa menguasai diri.

Berikan anak pertanyaan jika kondisinya sudah tenang, dengan begitu anak akan dapat bercerita dengan baik, berikan perhatian penuh dan rasa empati terhadap cerita anak.


Orangtua tidak perlu menyangkal, dimana kekeliruan yang sering dilakukan orang tua seperti mengatakan “Enggak kok, kamu enggak gendut, enggak pendek..”.

Respons semacam ini kurang tepat, tidak efektif untuk menyelesaikan masalah, serta terkesan lari dari masalah. Lebih baik mengajarkan anak untuk menerima kondisi tubuhnya sendiri, katakan apa adanya, lalu mendorong anak untuk percaya diri dengan kondisi dirinya. Katakan pada anak bahwa setiap orang itu UNIK.

Bilang ke anak bahwa ia tidak perlu mendambakan bentuk fisik yang lain, katakan juga bahwa Anda mencintainya apa adanya. Perkataan-perkataan semacam ini akan memberikan motivasi dalam jiwa anak serta menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Orangtua berperan aktif memberikan dukungan. Saat anak mengalami body shaming, bisa saja kejadian itu membuat rasa percaya diri anak sedang berada di titik terendah. Jadi berikan anak dukungan bahwa keberadaannya sangatlah berharga, jelaskan juga bahwa setiap orang diciptakan berbeda-beda dan setiap orang istimewa.

Ajarkan hal ini sehingga membuat anak lebih tahan banting saat mengalami bullying, dan mengatakan setiap orang istimewa juga akan mencegah anak jadi pelaku bullying, serta bisa menghormati pihak lain. Katakan juga pada anak bahwa tindakan dan prilaku yang baik jauh lebih penting ketimbang penampilan.

Orangtua juga perlu mengajari anak cara menghadapi pelaku bullying. Bilang ke anak tidak perlu membalas mengejek karena akan membuat palaku bullying semakin menjadi-jadi tindakannya. Jika si pelaku sering membullying, maka ajarkan anak sikap tegas untuk mengatakan bahwa ia tidak suka dan merasa terganggu.

Jika body shaming sudah mengarah pada level psychological attack, maka ini bisa berdampak buruk terhadap psikologi atau kejiwaan anak, dalam situasi seperti ini orangtua perlu bertindak lebih jauh seperti melapor kepada pihak sekolah, serta melakukan pembicaraan baik-baik dengan pihak dari orangtua pelaku.




Tulisan Terkait: