Biografi Sultan Baabullah (1528-1583), Pahlawan Nasional dari Ternate

Sultan Baabullah (1528-1583) menjadi pemimpin Kesultanan Ternate pada 1570-1583. Beliau menjadi pemimpin Kesultanan Ternate yang paling dikenang oleh orang-orang setelahnya, hal itu disebabkan keberaniannya dalam menantang penjajah Portugis. Masa jaya Kesultanan Ternate yaitu di masa kepemimpinan-nya.

Di masanya, wilayah Kesultanan Ternate meliputi Sulawesi, Kepulauan Maluku dan pulau-pulau sekitarnya. Adapun pengaruh Kesultanan Ternate mencapai banyak wilayah di Nusantara.

Sultan Baabullah
Gambar: Sultan Baabullah

Biografi Sultan Baabullah


Baabullah lahir pada tahun 1528. Ia putra dari Sultan Khairun. Namanya saat masih anak-anak adalah Kaicili Baab. Beliau sejak kecil memperoleh pengajaran keislaman dari ulama secara intens.

Kesultanan Ternate punya perhatian besar terhadap perkembangan dan ilmu agama Islam. Saat remaja, Kaicili Baab tumbuh menjadi seorang yang ksatria dan pemberani, berkali-kali ia bergabung ke dalam barisan pasukan Ternate dan memimpin berbagai ekspansi Ternate ke sejumlah wilayah di Sulawesi.

Kaicili Baab sering menemani ayahnya kemana-mana, bahkan termasuk saat ayahnya diasingkan sementara waktu. Beliau sangat dekat dengan ayahnya, bahkan saat masih muda sudah mendapatkan kepercayaan dari ayahnya untuk berkontribusi besar dalam pengelolaan negara.


Ia pernah mendampingi ayahnya saat prosesi penandatanganan kesepakatan (MoU) dengan Portugis tahun 1560. Lokasi Ternate kala itu menjadi jantung perniagaan yang dilewati banyak kapal dagang dunia.

Hanya saja Portugis sering meminta tuntutan pada Kesultanan Ternate, keberadaan Portugis membuat Kesultanan Ternate tidak bisa berbuat banyak, dimana Portugis memiliki militer dan persenjataan lebih unggul.

Kesultanan Ternate lebih memilih jalur damai dengan pihak Portugis. Hanya saja semakin berjalannya waktu, kelakuan Portugis mulai semena-mena dan menjadi tidak disukai oleh penduduk setempat. Tapi apa daya, Sultan Khairun tidak bisa berbuat banyak dan berusaha tetap menjaga hubungan damai.

Perseteruan antara pihak Ternate dan Portugis mulai terjadi pada tahun 1560-an, diawali dengan masyarakat di Ambon yang memohon perlindungan dan sokongan kepada Sultan Khairun karena para pendatang dari Eropa mulai berulah.

Para pendatang dari Eropa tersebut punya misi mengkristenkan wilayah Ambon yang secara umum beragama Islam. Sultan Khairun mengirim armada perang di bawah pimpinan Kaicili Baab untuk mengepung lokasi tersebut pada 1563.

Posisi Portugis adalah membela para misionaris Eropa tersebut karena Portugis tidak mau dakwah Islamiyah tersebar ke banyak wilayah. Penyebaran agama Islam yang masif akan membuat orang-orang (rakyat) menjadi sangat loyal terhadap Kesultanan.

Selain itu jiwa rakyat akan bersatu di atas keimanan agama Islam sehingga sulit bagi Portugis untuk memecah belahnya. Portugis tahu persis, kesuksesan dakwah Islamiyah akan menggoyahkan posisinya di Nusantara.

Selain itu Portugis pun berusaha untuk menyebarkan agama Katolik di beberapa wilayah. Walaupun terjadi pasang surut dalam hubungannya, Ternate dan Portugis berusaha untuk tetap menjaga hubungan damai. 

Pada sebuah kejadian di tahun 1569, Portugis melakukan ekspedisi ke wilayah Filipina, pihak Ternate diminta ikut serta, maka Kaicili Baab berangkat dengan armadanya. Akan tetapi Kaicili Baab mengubah arah pasukannya di tengah penjelajahan untuk melakukan misi lain.

Kaicili Baab memisahkan diri dari kampanye serangan tersebut, dampaknya upaya invasi Portugis tersebut tidak memiliki kekuatan yang memadai dan berakibat pada kandasnya upaya Portugis.

Sultan Khairun secara diam-diam sangat bahagia dengan kandasnya upaya Portugis tersebut, karena jangan sampai Portugis mempunyai daerah yang luas di Nusantara.

Kesultanan Ternate hanya karena terpaksa saja mau bermuka manis pada tingkah laku Portugis selama ini. Bahkan Kaicili Baab seringkali tidak tahan dan menginginkan kontrontasi dengan Portugis, sehingga dia sering menasehati ayahnya agar jangan berlemah lembut terhadap Portugis.

Sultan Khairun berusaha untuk meningkatkan kekuatan militer, pengaruh dan ekonomi Kesultanan Ternate. Dengan berjalannya waktu posisi Kesultanan Ternate semakin kuat terhadap wilayah-wilayah sekitarnya, tentunya pihak Portugis tidak akan tinggal diam.

Selain itu, posisi Kesultanan Ternate menguasai jalur laut, sehingga pihak Ternate bisa saja menutup arus pengiriman bahan pokok dan barang-barang penting lain dari sebuah wilayah ke wilayah Portugis. 

Terjadi ketegangan antara Ternate dan Portugis, pada 1570 pihak Portugis berusaha mengadakan perbaikan diplomatik dengan Ternate, tapi sayang tidak menemui titik temu sehingga tidak berhasil meredakan tensi tinggi antar kedua belah pihak.

Portugis akhirnya melakukan tindakan licik dan memalukan, pihak Portugis mengundang Sultan Khairun untuk kembali bernegoisasi dan Portugis pun telah memberikan jaminan keamanan. Akan tetapi Portugis berkhianat dengan membunuh Sultan dan utusan dari Ternate, itu artinya Portugis telah melanggar kode etik Internasional yang berlaku saat itu.

Kode etik hubungan Internasional saat itu yaitu para utusan atau duta besar yang datang harus dihormati dan dijamin keamanannya sehingga tidak boleh ditumpahkan darahnya.


Jasad Sultan Khairun Jamil berhasil ditemukan dan diangkat dari lautan dalam kondisi mengenaskan, dimana terdapat banyak luka tusukan di jasad Sultan Khairun. Dirinya tidak menyangka undangan perdamaian tersebut adalah jebakan semata.

Para pemuka Kesultanan Ternate bersepakat untuk mengangkat Pangeran Kaicili Baab menjadi Sultan. Segera disiapkan serangan besar-besaran ke wilayah-wilayah Portugis, serta diminta bantuan ke para penguasa di Makassar, Jawa hingga Sumatera.

Sultan Khairun merupakan masalah besar bagi Portugis dalam bidang perdagangan maupun penyebaran agama. Portugis menganggap Sultan Khairun sebagai orang yang bisa menghambat keinginan Portugis memonopoli perdagangan. Akhirnya Portugis mengambil keputusan untuk melenyapkan Sultan Khairun sehingga Ternate tidak lagi memiliki pemimpin hebat, demikian anggapan Portugis.

Pada kenyataannya penerusnya yaitu Sultan Baabullah memiliki kemampuan kepemimpinan yang sangat baik dan juga lebih berani. Bahkan kebijakan pertama Sultan Baabullah adalah menyatakan perang terhadap Portugis. 

Sultan mengirimkan pesan diplomatik kepada pihak Portugis di Lisbon, meminta agar Portugis menghentikan kampanye militer ke area-area di timur Nusantara. Jika syarat itu dipatuhi maka relasi Ternate dan Portugis kembali pulih. Tentu saja Portugis tidak mau, tawaran Sultan ditolak mentah-mentah.

Perjuangan Sultan Baabullah


Kelakuan Portugis yang membunuh Sultan Khairun secara licik tentunya membuat marah rakyat Ternate serta raja-raja di timur Nusantara. Para petinggi Ternate bersepakat mengangkat Kaicili Baab sebagai suksesor-nya.

Perkumpulan tersebut juga mengubah arah kebijakan Kesultanan Ternate yang awalnya bersikap lembek dalam menghadapi tingkah laku buruk Portugis, menjadi lebih berani untuk berkonfrontasi melawan penjajah Portugis.

Para petinggi Kesultanan berikrar untuk tidak takut terhadap Portugis, selain itu Sultan Baabullah punya ambisi besar yaitu berperang melawan Portugis untuk mengamankan dakwah Islamiyah di timur nusantara karena Portugis terus merecokinya. Sultan juga berazam untuk coba menghentikan pengaruh buruk Portugis di kawasan.

Bahkan kalau bisa, Sultan punya keinginan mengusir penjajah Portugis dari kawasan. Benar saja, setelah naik tahta, Sultan Baabullah menyatakan perang terhadap Portugis. Akan tetapi Sultan melihat bahwa militer Portugis sangat kuat sehingga perlu adanya tindakan khusus agar Kesultanan Ternate bisa mengimbangi kekuatan Portugis.

Sultan ingin hubungan Ternate dan Tidore menjadi erat, sehingga beliau mempersunting saudari Raja Tidore. Sultan juga meminta beberapa raja di Maluku untuk berhenti berseteru atau berselisih, dan fokus untuk melawan dominasi Portugis.

Sultan meminta agar kerajaan-kerajaan di sekitar mau membantu melawan Portugis, selain itu juga meminta bantuan kepada sejumlah penguasa daerah di sekitar Maluku.


Sultan Baabullah sangat menginginkan agar pihak yang telah berkhianat dan membunuh Sultan Khairun dihukum atas perbuatannya. Pertempuran besar pun akhirnya pecah, tidak butuh waktu lama pasukan Kesultanan Ternate berhasil menembus pertahanan benteng-benteng Portugis.

Disebutkan bahwa perang yang dikobarkan Sultan melibatkan ribuan armada kapal tempur beserta ratusan ribu prajurit.

Benteng yang belum dapat ditaklukan adalah benteng São João Baptista (Pemimpin para penghianat yaitu Lopes de Mesquita berada di benteng tersebut), itu adalah pertahanan terakhir Portugis.

Akhirnya diputuskan mengisolasi benteng tersebut, sehingga mereka yang terdapat di dalam benteng terblokade dengan dunia luar, khususnya pasokan dari luar bakal terhalang masuk.

Benteng São João Baptista
Benteng São João Baptista

Sultan Baabullah yang langsung mengkomando pasukan untuk mengurung habis benteng tersebut, Sultan tidak mengizinkan suplai makanan dari luar bisa lewat kecuali hanya sedikit.

Kebijakan Sultan lainnya yaitu memperbolehkan orang-orang Ternate bertemu dengan penduduk di dalam benteng, itu karena tidak sedikit orang-orang berdarah Ternate punya koneksi famili dengan orang-orang Portugis. Perkawinan antara pribumi dan orang Portugis hal yang umum saat itu.

Bersamaan dengan pengepungan, Sultan Baabullah juga mengirim pasukan ke beberapa daerah. Pada 1571 armada Ternate menyerang Ambon. Banyak penaklukan yang dilakukan dengan berhasil menguasai beberapa wilayah.

Reruntuhan Benteng São João Baptista Saat Ini
Reruntuhan Benteng São João Baptista Saat Ini

Pasukan Portugis mati-matian untuk bisa mempertahankan bentengnya, disamping itu pihak Portugis sudah kehilangan jalur perdagangan cengkeh yang sebelumnya dikuasai. Beberapa bala bantuan pasukan Portugis adalah para pribumi yang masuk ke agama Katolik.

Tugas para pribumi katolik itu adalah menghalau gempuran pasukan Kesultanan Ternate di Pulau Buru, tapi pasukan katolik pribumi tersebut berhasil dikalahkan oleh pasukan Kesultanan Ternate.

Pada 1575 sudah banyak wilayah-wilayah Portugis di Maluku yang berhasil dikuasai kembali oleh Kesultanan Ternate, beberapa suku-suku kecil yang pro kepada Portugis posisinya semakin terjepit. 

Dengan begitu posisi Kesultanan semakin kuat dan mendominasi, hanya saja benteng São João Baptista belum dapat ditembus dan masih dikepung.

Pengepungan berlangsung sangat lama, sehingga orang-orang Portugis di dalam benteng benar-benar semakin terjepit karena persediaan makanan yang semakin habis.

Sultan Baabullah menawarkan pihak Portugis untuk menyerah dan bersepakat memberikan jaminan keamanan serta kapal transportasi sekaligus bekal (bahan pangan) untuk menuju Ambon.

Adapun penduduk benteng yang pribumi boleh untuk tetap tinggal dengan syarat tunduk dan tidak memberontak terhadap Kesultanan Ternate.


Pihak Portugis menyetujui tawaran dari Sultan Baabullah, sehingga orang-orang Portugis keluar dari benteng dan angkat kaki dari Ternate.

Sultan menepati janjinya untuk memberikan jaminan keamanan dan memfasilitasi perjalanan orang-orang Portugis ke Ambon. Bahkan Sultan masih memperbolehkan orang-orang Portugis menginjakan kakinya kembali di tanah Ternate untuk berdagang cengkeh.

Portugis telah berkhianat dan membunuh Ayahnya, tentunya Sultan Baabullah sangat pantas untuk murka kepada Portugis, akan tetapi saat beliau berhasil mengalahkan Portugis, beliau tidak melakukan pembantaian terhadap orang-orang Portugis. Bahkan sebuah kapal Portugis diizinkan masuk membawa orang-orang Portugis yang masih tersisa di Ternate.

Setelah berhasil mengambil alih benteng tersebut, Sultan Baabullah menjadikannya sebagai benteng pertahanan sekalian pusat pemerintahan, mungkin karena posisinya yang lebih strategis. Sultan juga merenovasinya sehingga benteng tersebut memiliki pertahanan yang lebih kuat dibanding sebelumnya.

Salah satu hal yang dipuji dari Sultan Baabullah adalah bersikap tenang dengan tidak terburu-buru membuat sebuah keputusan, hal ini terlihat saat pasukan Sultan mengepung benteng musuh. Dimana Sultan tidak terburu-buru mengambil keputusan menyerbu, dipilih opsi mengepung benteng.

Keputusan brilian ini diambil karena Sultan berpikir bahwa banyak orang-orang Ternate yang telah menikah dengan orang-orang Portugis di dalam benteng, sehingga sebagian orang di dalam benteng merupakan keturunan dari orang-orang Ternate sendiri. Sultan benar-benar sangat mempertimbangkan mereka. Pertimbangan lain Sultan yaitu mengenai persenjataan pasukan Portugis yang lebih maju.

Pasukan Portugis yang ada di dalam benteng jumlahnya tidak lebih dari 1000 pasukan, adapun pasukan Sultan yang sedang mengepung benteng berjumlah puluhan ribu. Pasukan Ternate memang jumlahnya jauh lebih banyak tapi persenjataan Portugis lebih canggih. Sehingga tindakan terbaik adalah mengisolasi benteng, pasokan makanan cuma sedikit yang diizinkan masuk, yang dengan begitu efektif menurunkan fisik dan moral musuh.

Pengepungan berlangsung selama lima tahun, yang setelah itu Portugis menyerah pada Desember 1575. Dengan begitu benteng terakhir Portugis di Ternate berhasil dikalahkan tanpa perlu banyak-banyak melakukan pertumpahan darah. Setelah pasukan Portugis dikalahkan maka perdagangan bebas kembali bisa dibuka.

Kapal-kapal dagang dari Melaka diperbolehkan berlabuh dan melakukan perdagangan di Ternate atas izin dari Sultan Baabullah. Selain itu Sultan memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab terhadap arus perdagangan di kawasan, termasuk memastikan perdagangan dengan orang-orang Eropa berjalan baik, akan tetapi Sultan menghapus hak spesial orang Eropa.

Relasi dengan Kerajaan Inggris

Pada 3 November 1579, Sultan mengizinkan lawatan kenegaraan dari utusan Kerajaan Inggris. Sultan menerima dengan baik utusan dari Kerajaan Inggris tersebut, Sultan setuju untuk menjalin hubungan dengan pihak Inggris, bahkan meminta Inggris membantu Kesultanan Ternate dalam menangkal pengaruh Portugis.

Inggris menolak permintaan Sultan, maka pihak Ternate menolak permohonan hak dagang spesial bagi Kerajaan Inggris. Disebutkan bahwa terjadi perdebatan antara Sultan dan pihak Inggris, tatkala utusan Inggris menolak kebijakan pajak perdagangan yang telah ditentukan, penolakan tersebut membuat Sultan murka.

Akhirnya setelah negoisasi yang alot, kedua pihak menemui titik terang tatkala Inggris memutuskan untuk berkomitmen mengirimkan dukungan berupa alat-alat militer untuk Ternate. Setelah itu utusan Inggris bertolak dari Ternate pada 9 November 1579.


Politik Luar Negeri Sultan Baabullah

Sultan Baabullah tidak hanya sibuk mengurusi kebijakan dalam negeri, tapi juga aktif melakukan politik luar negeri, dan berusaha membangun persekutuan yang kokoh dengan kerajaan-kerajaan lainnya. Catatan sejarah menyebutkan bahwa Kesultanan Ternate berstrategi untuk membangun relasi dengan banyak wilayah. 

Masyarakat yang ada di wilayah pantai utara Jawa merupakan pendukung setia Kesultanan Ternate, hubungan kedua belah pihak sangat dekat. Pada 1580 Sultan melakukan operasi militer secara langsung bersama pasukannya menuju beberapa lokasi di Sulawesi.

Sultan berkunjung ke wilayah Makassar dan mengadakan negoisasi politik dengan raja Gowa, sehingga terjadi persekutuan antara dua kerajaan.

Sebagai tanda persahabatan, Sultan mengirimkan bantuan untuk proyek penyempurnaan Benteng di pantai timur Gowa. Militer Ternate juga sukses menundukan beberapa wilayah di bagian selatan Sulawesi.

Kesultanan Ternate mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Sultan Baabullah. Di awal kekuasannya, Sultan pernah mengadakan operasi militer ke wilayah Buru, Seram dan Ambon. Operasi militer tahun 1580 juga berjalan sukses, beberapa wilayah di Sulawesi berhasil ditaklukkan.

Beberapa siasat Sultan menjadikan Kesultanan Ternate punya pengaruh luas, selain kesuksesan dalam strategi peperangan, dilakukan juga strategi interferensi dan politik perkawinan.

Bahkan karisma Kesultanan Ternate ini menjangkau wilayah Kepulauan Banda yang merupakan wilayah produsen pala terbesar, dan Solor yang merupakan pintu utama perniagaan cendana di Timor.

Pengaruh Ternate (entah pengaruhnya besar atau tidak) juga mencapai Mindanao, Raja Ampat, Bima dan lainnya. Selain itu ada beberapa wilayah yang menyatakan ketundukan-nya.

Di bawah kepemimpinannya, Kesultanan Ternate memiliki wilayah luas dan pengaruhnya besar. Pada masa tersebut, Kesultanan Ternate adalah wilayah yang paling sejahtera jika dibandingkan wilayah-wilayah di kawasan sekitar.

Sultan Baabullah memiliki armada dengan ratusan ribu tentara yang tersebar dari Sulawesi hingga Papua.

Selama ini Kerajaan Majapahit dengan duet tokohnya yang terkenal yaitu Hayam Wuruk dan Gadjah Mada boleh-boleh saja disebut penguasa tersukses karena menguasai sebagian besar wilayah Nusantara.

Tapi setelah era Majapahit, tidak ada lagi kerajaan di Jawa yang punya kedigdayaan sebesar itu, adapun di timur nusantara berdiri Kesultanan Ternate yang begitu disegani di Nusantara dan Dunia pada abad ke-16.

Dialah Sultan Baabullah yang membungkam kesombongan orang-orang Portugis, selain itu beliau punya jasa besar terhadap tersebarnya Islam di timur Nusantara, khususnya di wilayah-wilayah sekitar Kesultanan Ternate.

Berkat perjuangan Sultan Baabullah, Portugis gagal menjadikan timur Nusantara menjadi mayoritas Katolik. Sebaliknya, Sultan bekerja keras agar dakwah Islamiyah bisa tersebar cepat di timur Nusantara.

Banyak kerajaan yang bernaung di bawah panji-panji Kesultanan Ternate, selain itu banyak wilayah yang menyatakan loyalitas maupun bergabung dengan Kesultanan Ternate. Bahkan Sultan punya perwakilan yang ditempatkan di Sumatera, Jawa hingga Papua.

Khusus di Papua, banyak wilayah yang berhasil dirangkul Sultan Baabullah. Hal yang menakjubkan, wilayah yang ditaklukan Kesultanan Ternate hingga mencapai Kepulauan Marshall di kawasan Mikronesia dan Mindanao di Filipina.

Walaupun wilayah Kesultanan Ternate terlampau luas, tapi Sultan Baabullah tetap membuka pintu untuk bangsa Eropa, bahkan keinginan Sultan untuk merangkul semua bangsa seperti Eropa, Arab, China, Turki dan lainnya.

Dalam kepemimpinan-nya, Sultan Baabullah berpegang teguh untuk menjalankan keinginan ayahnya untuk menjalin hubungan erat dengan negeri-negeri Muslim yang ada di dunia.

Sekitar tahun 1570 terjadi perlawanan besar-besaran wilayah jajahan Portugis, dimana Kesultanan Turki Usmani memberikan dukungan besar untuk negeri-negeri Muslim yang ditindas bangsa Eropa.

Melihat negeri-negeri Muslim di banyak wilayah di dunia kompak untuk melakukan perjuangan, Sultan pun semakin semangat untuk bangkit melawan Portugis. Catatan sejarah menyebutkan adanya relasi erat antara Ternate dan tokoh-tokoh Muslim dari Aceh, Melayu bahkan Mekkah.

Dikalahkan-nya Portugis sehingga terbukanya lagi arus perniagaan, yang menghidupkan rute perniagaan klasik yang menautkan negeri-negeri di Asia. Penyebaran Islam berjalan sangat pesat pada masa kepemimpinan Sultan Baabullah.

Pada Juli 1583 Sultan Baabullah wafat. Sampai kini tidak diketahui dengan jelas penyebab kematiannya Sultan, para ahli sejarah masih memperdebatkannya, tapi yang pasti Sultan Baabullah adalah pemimpin terbesar Ternate. Penerusnya adalah putranya Said Barakati (memimpin pada 1583-1606).

Sultan Said menjadi suksesor dalam perjuangan menangkal agresivitas Portugis di timur Nusantara, hingga beberapa kali terjadi pertempuran.

Sultan Baabullah merupakan tokoh besar yang sangat berjasa dalam membenamkan dominasi Portugis yang lebih superior dalam hal teknologi dan senjata.

Beliau membangun strategi kemaritiman yang sangat rapih dan terstruktur. Sehingga sangat pantas jika beliau disebutkan sebagai sosok yang menginspirasi kemaritiman Bangsa Indonesia.




Baca Juga: