Sejarah Pangeran Diponegoro (1785-1855), Perang Jawa Melawan Belanda

Pangeran Diponegoro (1785-1855)
- Lahir: Yogyakarta, 11 November 1785.
- Wafat: Makassar, 8 Januari 1855 (pada umur 69 tahun).

Pangeran Diponegoro disebutkan juga memiliki nama lain yaitu Pangeran Harya Dipanegara, seorang pahlawan nasional yang telah mati-matian berjuang dalam usaha memenangkan Perang Jawa (Perang Diponegoro) pada 1825-1830 melawan pemerintah Hindia Belanda.

Gambar Pangeran Diponegoro
Gambar: Lukisan Pangeran Diponegoro

Sejarah Pangeran Diponegoro


Berkat usaha keras di sepanjang hidupnya, maka sangat pantas jika banyak kota besar di Indonesia yang mempunyai nama Jalan Pangeran Diponegoro. Bahkan di zaman Presiden Soekarno pada 8 Januari 1955, untuk mengingat perjuangan heroiknya maka diadakan acara besar peringatan 100 tahun wafatnya Pangeran Diponegoro.

Itu artinya, sang pangeran adalah seorang yang sangat dihormati dan dimuliakan dari masa ke masa. Pangeran Diponegoro dinyatakan secara resmi dalam catatan negara sebagai pahlawan nasional pada 6 November 1973 melalui Keppres No 87/TK/1973.

Bahkan pada 21 Juni 2013, UNESCO membuat keputusan bahwa Babad Diponegoro merupakan salah satu Warisan Ingatan Dunia. Apa itu Babad Diponegoro? itu adalah naskah kuno yang ditulis atau merupakan karya Pangeran Diponegoro sendiri, itu ditulisnya saat dibuang Belanda ke Manado pada 1832-1833.

Itu artinya, karya sang pangeran diciptakan disaat masa-masa pengasingan. Babad Diponegoro berisi kisah-kisah kehidupan Pangeran Diponegoro.

Diponegoro lahir dari ibu bernama R.A. Mangkarawati, dan ayahnya bernama Gusti Raden Mas Suraja, yang saat naik tahta bergelar Hamengkubuwana III. Pangeran Diponegoro diketahui sebagai seseorang yang cerdik sejak masih muda, dan berpengetahuan luas dalam hal umum maupun ilmu keislaman.

Ketimbang hidup bersenang-senang di keraton, Pangeran Diponegoro lebih memilih menuntut dan mengambil disiplin-disiplin ilmu agama, diceritakan juga bahwa sang pangeran seringkali berbaur dengan rakyat biasa.


Pangeran Diponegoro Muda

Diponegoro di masa muda dikenal dengan nama Raden Mas Antawirya dan setelah dewasa lebih dikenal dengan Pangeran Diponegoro. Sebuah tradisi yang sudah turun-temurun di keraton, bahwa Diponegoro sebagai anak pertama raja, maka dirinya yang paling berhak suatu saat nanti menjadi seorang raja di tanah jawa.

Walaupun Pangeran Diponegoro seorang bangsawan besar, akan tetapi masa kanak-kanak dan remajanya sering dihabiskan di luar istana, keberadaannya sangat dicintai oleh Ratu Ageng yang dikenal agamis. Ratu Ageng adalah istri dari Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Bahkan Ratu Ageng mengasuh Pangeran Diponegoro dan memberikan pendidikan yang baik. Diponegoro sejak muda dikenal sebagai seseorang dengan karakter yang menonjol dan spesial, dirinya mudah bergaul, berjiwa rendah hati, dicintai berbagai kalangan, serta dekat dengan para ulama.

Pangeran Diponegoro adalah tokoh bangsawan yang rendah hati kepada rakyatnya. Banyak sejarawan menyebutkan tentang kelaziman dan keseharian Pangeran Diponegoro yang ternyata berbeda dengan para bangsawan muda pada umumnya, Pangeran Diponegoro tidak membiasakan dirinya berlama-lama berada di istana.

Setelah dewasa, Pangeran Diponegoro menjadi pewaris tahta kekuasaan Hamengkubuwono III, dengan begitu ia punya peran vital dalam mengurus kebijakan dan perpolitikan di keraton yang dipimpin ayahnya itu.

Pangeran Diponegoro mulai bekerja mengurusi perpolitikan Keraton Kasultanan Yogyakarta sejak masa pemerintahan Hamengkubuwono III.

Hanya saja disebabkan sang pangeran sejak kecil sudah terbiasa dan sudah sering tinggal di luar istana, dimana sering melihat dan bergaul dengan rakyat jelata, sehingga Pangeran Diponegoro tahu persis bagaimana penderitaan rakyat akibat kezholiman karena aturan yang dibuat seenak jidat oleh pemerintah kolonial belanda maupun keraton kasultanan yogyakarta.

Keraton maupun Belanda berkolaborasi dalam melahirkan prinsip-prinsip besaran pajak yang mencekik rakyat dan berbagai kezholiman lainnya. Oleh karena itu Pangeran Diponegoro menilai pihak Keraton maupun Belanda harus bertanggung jawab terhadap penderitaan rakyat.

Karena hal inilah menjadikan sang pangeran murka terhadap kelakuan Belanda, dan dia juga berambisi untuk merombak kebijakan-kebijakan Keraton agar tidak mendzolimi rakyat dan tidak berpihak kepada Belanda.

Tekad kuat yang dimiliki sang pangeran bukan lain karena kebiasaannya yang sering bertemu dan memperhatikan kondisi rakyat, bahkan hingga lapisan bawah, sehingga sang pangeran bisa merasakan dan memahami penderitaan rakyat.

Selama ini pihak Keraton lebih memilih tunduk dan menuruti kemauan Belanda ketimbang harus berperang melawan Belanda. Pihak Belanda juga kerap mencaplok wilayah kekuasaan Keraton, padahal pihak Keraton dan Belanda seringkali melakukan kerja sama.

Jika kepada para pembesar atau penjabat keraton saja Belanda berani kurang ajar dan seenaknya, maka bagaimana lagi sikap Belanda kepada rakyat biasa nusantara yang saat itu umumnya miskin, mereka ditindas dengan tanpa ampun dan belas kasih oleh Belanda.

Situasi Keraton mengalami degradasi integritas disebabkan berbagai strategi efektif dari pihak Belanda. Dimana pihak Belanda dengan mengeluarkan seluruh tenaga, pikiran dan harta yang banyak, berusaha untuk terus memasukan racun-racun pemikiran yang merusak masyarakat dan generasi pemuda di wilayah kekuasaan Keraton, Belanda berusaha membuat Keraton selalu dalam situasi tidak kondusif sehingga mudah ditundukan.

Diponegoro kecil dikirim ke Tegalrejo untuk diasuh neneknya, yaitu Ratu Ageng yang agamis. Di tempat tersebut, yang menjadikan sang pangeran pewaris tahta tersebut terbiasa bergaul dengan para petani dan masyarakat di sekitarnya, selain itu juga sering duduk bersama-sama dengan para penuntut ilmu agama di sebuah pesantren yang masih disekitaran lokasi tersebut.

Hanya saja, sang pangeran menutupi identitas aslinya saat bergaul dengan rakyat biasa dan saat menuntut ilmu agama Islam.

Dari hasil didikan luar biasanya ini, dimana sang pangeran sering berada bersama orang-orang hebat, bijak dan beberapa ulama. Maka beliau setelah dewasa, terjadilah hal luar biasa yang menjadi 'cerita emas' dan tidak akan pernah dilupakan, Diponegoro menolak gelar untuk menjadi penerus raja, lalu dengan besar hati memberikannya kepada adiknya, yaitu R.M Ambyah.

Hal itu apalagi karena Pangeran Diponegoro tidak mau tunduk terhadap kesewenangan Belanda. Adapun kondisi saat itu, sikap Keraton begitu lembek pada pemerintah Belanda, bahkan banyak pejabat elite Keraton yang tunduk dan bersekutu dengan Belanda.


Meletusnya Perang Diponegoro (1825-1830)

Sebagai pribadi yang sejak muda dibesarkan dengan adat dan norma jawa, sang pangeran murka dengan bangsa Belanda yang sering melanggar norma-norma di jawa, disamping juga sang pangeran sangat murka terhadap kelakuan pemerintah kolonial yang banyak menyengsarakan rakyat jawa.

Juga kehidupan Diponegoro sejak kecil dekat dengan para ulama, sehingga kehidupan sehari-hari sang pangeran dihiasi dengan aturan-aturan syariat Islam, maka tak jarang di masa kini sang pangeran dikenang sebagai seorang pemimpin yang memiliki kedalaman ilmu agama. Beliau punya perhatian yang besar terhadap ilmu dan aturan agama.

Motivasi perjuangan Pangeran Diponegoro bukan hanya karena mengenai tanah, kejayaan dan ingin membebaskan rakyat dari cengkraman Belanda, apalagi ada cerita hoax yang menyebutkan kemarahan sang pangeran semata-mata karena Belanda menggusur kuburan keluarga keraton. Faktor kuburan sebenarnya hanyalah salah satu pemicu.

Ada sebuah cita-cita mulia dari sang pangeran untuk menegakan Tauhid serta syariat Allah dan Rasul-Nya di tanah jawa, itu sesuatu yang ditakutkan dan diwanti-wanti oleh Belanda.

Belanda berusaha melakukan pembodohan ilmu agama terhadap rakyat jawa, banyak upaya yang dilakukan belanda dan tidak sedikit modal yang harus dikeluarkan.

Sebab saat itu sedang tersebar dakwah tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ke seluruh penjuru dunia Islam, dakwah tersebut menyebabkan orang-orang Islam yang sedang dijajah bangsa eropa bangkit dan melakukan perlawanan.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah seorang ulama yang berusaha membangkitkan kembali dakwah tauhid dalam masyarakat dan cara beragama sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. 

Keberadaan dakwah tauhid tersebut sangat memukul telak para penjajah eropa, karena menyebabkan kaum muslimin bangkit dan punya semangat keislaman berkali-kali lipat untuk berjuang melawan penjajah eropa. Kaum muslimin menjadi bangkit kembali dan semangat kepada ilmu-ilmu agama. 

Ketika pondasi keislaman sudah kuat di hati-hati kaum muslimin, menjadikan kaum muslimin memiliki izzah (harga diri), serta menolak untuk dijajah dan direndahkan.

Khususnya Imperialis Inggris yang menjajah banyak negeri kaum muslimin yang merasa sangat khawatir terhadap penyebaran dakwah tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Kaum muslimin akan bangkit saat berpegang teguh pada Tauhid dan syariat Islam. Sedangkan para penjajah ingin melemahkan kaum muslimin, dengan cara menjauhkan mereka dari ajaran Islam yang benar.

Dakwah tauhid juga menyebar ke Libya, yang menyebabkan kaum muslimin bangkit melawan penjajah Italia. Demikian juga di nusantara, dakwah tauhid menyebar ke Jawa dan Sumatera, sehingga timbulah perlawanan oleh orang-orang Sumatera yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol dan perlawanan oleh orang-orang Jawa yang dipimpin Pangeran Diponogero.

Pangeran Diponegoro yang sejak kecil sungguh-sungguh mendalami agama Islam memimpin peperangan melawan penjajah Belanda dengan semangat perjuangan di jalan Allah.


Momen awal meletusnya peperangan adalah pengrusakan makam bangsawan karena Belanda ingin membuat jalan. Itu hanya pemicu peperangan, faktor utama peperangan karena dari dulu Pangeran Diponegoro memang sudah sempit hatinya dengan kesewenangan Belanda.

Melihat bahwa Belanda harus bertanggung jawab dan seharusnya diusir karena sudah sangat menyengsarakan rakyat. Selain itu sang pangeran punya harapan yang kuat untuk bisa menegakan tauhid dan syariat Islam.

Keputusan besar Pangeran Diponegoro untuk berani menghadapi Belanda mendapatkan dukungan dari rakyat. Sang pangeran mendapatkan masukan dari pamannya yaitu GPH Mangkubumi untuk memilih lokasi markas militer di Gua Selarong.

Diceritakan bahwa Pangeran Diponogero merupakan seorang yang bermental baja dan berkemauan kuat. Kharisma-nya yang begitu memukau memberikan efek yang sangat besar di hati orang-orang, menjadikan lokasi perjuangan tersebar di puluhan kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kharisma sang pangeran membuat banyak pihak mau bergabung, termasuk banyak para pemuka besar yang memiliki banyak pengikut dan pengaruh besar, menyatakan diri untuk bergabung dengan Pangeran Diponegoro. Diantaranya yaitu Kiai Mojo dan SISKS Pakubuwono VI.

Selain itu, Pangeran Diponegoro memiliki putra yang punya pengaruh besar yaitu Ki Sodewa, yang begitu loyal untuk mendukung dan membela sang pemimpin perang Jawa.

Pasukan Diponegoro dijadikan menjadi sejumlah batalyon, yang diantaranya bernama batalyon Turkiya dan Arkiya. Pangeran Diponegoro bersama para panglimanya berdiskusi mengenai persiapan dan nantinya kondisi peperangan yang akan dijalani, sehingga diputuskan dijalankan strategi perang gerilya.

Itu artinya para pasukan Jawa yang secara senjata (atau teknologi) lebih lemah bakal sering berpindah-pindah dengan mobilitas yang tinggi. Sehingga pasukan tidak hanya berdiam di satu tempat karena rentan untuk disergap dan dikepung oleh pasukan Belanda yang senjatanya jauh lebih canggih. Mobilitas tinggi diharapkan akan menyulitkan pihak Belanda.

Pusat pertahanan pernah berlokasi di Plered, yang dibangun dengan persiapan matang sehingga memiliki pertahanan yang sulit ditembus, tanggung jawab utama daerah ini diberikan kepada Kerta Pengalasan.

Sistem atau strategi pertahanan yang dikembangkan begitu matang di Plered, mengakibatkan kandasnya invasi besar-besaran yang begitu gencar dilakukan oleh pihak kolonial pada 9 Juni 1826.

Saat pasukan kolonial bergerak mundur dari Daksa yang mengarah ke wilayah Yogyakarta, pasukan Diponegoro secara tiba-tiba menerabas dan menghabisi banyak sekali pasukan kolonial.

Pada Oktober 1826, pasukan Diponegoro menyerang pasukan Hindia Belanda di Gawok dan memperoleh hasil positif. Pada 17 November 1826, pasukan dikirim menuju Pengasih (sebelah barat Yogyakarta) dengan tujuan memberikan pukulan kuat ke pasukan kolonial.

Pasukan kolonial menyerang Sambirata, tapi Diponegoro dapat meloloskan diri. Disebabkan pertempuran yang begitu alot dan panjang, sehingga disepakatilah oleh kedua belah pihak untuk gencatan senjata pada 10 Oktober 1827. Kemudian juga dilakukan perundingan, tapi tiada memberikan hasil.

Karena rakyat Jawa begitu mendukung perjuangan, sehingga Pangeran Diponegoro bisa dengan sangat gampang untuk memindahkan pusat komando. Pasukan kolonial terus memburu sang pangeran tapi tidak menemukan hasil.

Pasukan kolonial menghadapi masalah besar yaitu wabah penyakit berbahaya yang bisa menyebabkan kematian, diantaranya malaria. Hal ini berdampak pada kesehatan fisik maupun mental pasukan kolonial yang menurun.

Belanda lagi-lagi mengadakan gencatan senjata, tapi disaat yang sama pihak Belanda menyebarkan mata-mata, provokator dan berita palsu di beberapa daerah, tujuannya untuk merusak persatuan perjuangan rakyat Jawa.

Perang Diponegoro berlangsung panjang sehingga dirasakan sangat berat untuk kedua belah pihak, pertempuran pecah di banyak desa dan kota. Secara umum jalannya pertempuran sengit sekalipun pihak kolonial memiliki senjata yang jauh lebih canggih. Akibat pertempuran yang begitu sengit, menyebabkan perang berlangsung lama dan alot.

Dalam perang ini, taktik hit and run menjadi hal yang berkali-kali dilakukan. Perang Diponegoro merupakan pelopor awal dari bentuk perang modern yang melakukan banyak taktik peperangan, termasuk taktik perang urat saraf (psy war).

Disamping itu, baik pihak Diponogero dan Belanda mengirimkan banyak mata-mata untuk berusaha mencari celah dan kelemahan di pihak musuh.

Belanda belum juga berhasil menagkap Perang Diponegoro, bermacam-macam upaya terus dilancarkan, bahkan jika itu harus berkhianat. Dan tidak lupa, Belanda melakukan sayembara besar-besaran untuk menangkap Pangeran Diponegoro, apapun kondisinya.

Belanda melakukan revolusi strategi saat Gubernur Jenderal De Kock diberikan jabatan sebagai pemimpin tertinggi pasukan Belanda di tahun 1827. Dilancarkan strategi untuk menghambat mobilitas pasukan Diponegoro.

Salah satunya dilakukan taktik Benteng Stelsel, yaitu sumber daya Belanda dikerahkan untuk membuat benteng-benteng yang dilengkapi kawat berduri setelah pasukan kolonial berhasil menduduki wilayah yang sebelumnya berada di bawah kontrol pasukan Diponegoro. Hal ini efektif untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro.

Faktor kelelahan dan kesulitan biaya membuat perjuangan pasukan Pangeran Diponegoro yang awalnya begitu luar biasa karena mampu mengimbangi kekuatan Belanda, kemudian mulai melemah.

Bahkan Kiai Mojo ditangkap Belanda pada 12 Oktober 1828 dan Sentot Prawirodirdjo ditangkap 4 hari kemudian, menyebabkan kekuatan pasukan pejuang Jawa mulai keropos, hal ini terjadi sejak akhir tahun 1828.

Pangeran Diponegoro akhirnya melakukan negosiasi guna memutuskan yang terbaik untuk kedua belah pihak, dan pertemuan dilakukan beberapa kali. Hingga akhirnya pada 28 Maret 1830, Jenderal De Kock melakukan penghiatan dengan memerintahkan bawahannya menyiapkan pasukan untuk menangkap Pangeran Diponegoro. 

Sang Pangeran bersedia menyerahkan diri, tapi meminta agar sisa anggota pejuang dibebaskan. Diceritakan bahwa setelah minum teh dan menemui para pejuang-nya yang setia, sang Pangeran lalu beranjak keluar untuk ditangkap.

Pangeran Diponegoro dibawa oleh Belanda ke kota Batavia (Jakarta) pada 5 April 1830, sampai di Batavia pada 11 April 1830. Lalu beliau diasingkan dan sampai di Manado pada 3 Mei 1830, ditahan di Benteng Amsterdam.

Tahun 1834 dipindahkan ke Makassar hingga beliau wafat di Benteng Rotterdam pada 8 Januari 1855, sekitar jam tujuh pagi.

Pangeran Diponegoro adalah sosok pahlawan yang begitu spesial, dimana dengan mudahnya beliau merelakan mahkota yang sudah di depan mata akan diperolehnya, serta mencampakan nafsunya dari berbagai kemewahan untuk mewujudkan cita-cita yang mulia.

Banyak sejarawan yang menyebutkan bahwa sosok Pangeran Diponegoro membuat para ulama, santri dan para pemuka merapatkan barisan di Perang Jawa.

Banyak sejarawan yang menyatakan kekagumannya pada sosok Diponegoro, yang mampu menyatukan dan mengambil hati kaum santri. Padahal pernah terjadi pembantaian besar-besaran terhadap kaum santri, yang bahkan sampai ribuan ulama terbunuh oleh Sunan Amangkurat I tahun 1647.

Sejak saat itu, hubungan kaum santri dan pihak keraton berjalan sangat buruk. Kemunculan Pangeran Diponegoro ternyata berhasil menyatukan mereka.

Upaya perjuangan pangeran Diponegoro memiliki daya tarik yang sangat besar terhadap banyak lapisan masyarakat, termasuk para tokoh dan pejabat tinggi kerajaan yang pro Diponegoro.

Bahkan puluhan pangeran Keraton bersimpati dan mendukung perjuangan Diponegoro, diantaranya Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Ngabehi Jayakusuma.

Peperangan panjang yang dilakukan Pangeran Diponegoro adalah sesuatu yang heroik, peperangan melawan bangsa Belanda yang saat itu sangat mendominasi dan memiliki senjata yang jauh lebih canggih. Perjuangan rakyat Jawa tersebut didasarkan atas faktor ekonomi, sosial dan semangat keislaman.

Perang Diponegoro banyak menggerus finansial pihak Belanda, bahkan efeknya sampai ke pusat negeri Belanda yang mengalami kantong kering akibat budget perang yang sangat besar. Berakhirnya Perang Jawa menjadi akhir perlawanan para bangsawan Jawa.


Pertanyaan Tentang Pangeran Diponegoro

Siapakah nama lengkap Pangeran Diponegoro?
Bendara Pangeran Harya Dipanegara

Apa julukan Pangeran Diponegoro?
Satria Piningit

Siapa nama ayah Pangeran Diponegoro?
Gusti Raden Mas Suraja. Adapun gelarnya pasca naik takhta adalah Hamengkubuwana III.

Siapa nama ibu Pangeran Diponegoro?
R.A. Mangkarawati

Pangeran Diponegoro lahir pada tanggal?
11 November 1785

Pangeran Diponegoro meninggal pada tanggal?
8 Januari 1855

Pangeran Diponegoro berasal dari daerah mana?
Yogyakarta. Pangeran Diponegoro lahir di Yogyakarta (saat itu bernama Ngayogyakarta Hadiningrat)

Nama kecil Pangeran Diponegoro adalah?
Raden Mas Antawirya

Perjuangan Pangeran Diponegoro melawan siapa?
Pemerintahan kolonial Hindia Belanda

Mengapa Pangeran Diponegoro menentang penjajah Belanda?
Tindakan Pemerintah Kolonial Belanda yang menetapkan pajak sangat tinggi menyebabkan penderitaan tiada tara rakyat jelata. Hal ini menyebabkan kemarahan yang sangat besar di hati sang pengeran.

Sebab khusus perlawanan Pangeran Diponegoro adalah?
Ada yang menyebutkan bahwa sebab khusus perlawanan pangeran diponegoro yaitu karena makam keluarga kerajaan digusur Belanda. Itu kurang tepat, karena itu hanyalah momen meletusnya perang. Ada dua faktor utama yang memicu perjuangan Pangeran Diponegoro.

Faktor pertama yaitu karena Pangeran Diponegoro sejak remaja sudah sangat membenci Belanda yang bertindak seenaknya membuat rakyat Jawa menderita. Faktor kedua yaitu Pangeran Diponegoro ingin menegakan syariat Islam di tanah Jawa, tapi Belanda tidak akan membiarkannya.

Pangeran Diponegoro dalam menghadapi pasukan Hindia Belanda memakai strategi?
Disebabkan teknologi atau senjata militer Belanda yang lebih canggih, maka Pangeran Diponegoro memakai strategi geriliya untuk melawan Belanda. Itu artinya pasukan Diponegoro sering bergerak dan berpindah-pindah tempat untuk menyulitkan militer Belanda

Kapan dan dimana penangkapan Pangeran Diponegoro?
Tanggal 28 Maret 1830, Diponegoro mengadakan pertemuan dengan pihak Belanda di wisma keresidenan di Magelang, guna mengadakan kesepakatan damai dan berkomitmen menyudahi peperangan yang melelahkan. Hanya saja, pihak Belanda kemudian menangkap Pangeran Diponegoro.
 
Kemana Pangeran diponegoro diasingkan?
Pangeran Diponegoro diasingkan di Batavia (Jakarta) pada 11 April 1830. Lalu dipindahkan ke Manado pada 3 Mei 1830. Tahun 1834 dipindahkan kembali ke Makassar dan ditahan di Benteng Rotterdam. Sampai akhirnya sang pangeran wafat pada 8 Januari 1855 di pagi hari.

Dimana makam Pangeran Diponegoro
Kampung Melayu, Wajo, Makassar, Sulawesi Selatan

Berapa lama masa perjuangan Pangeran Diponegoro?
Pangeran Diponegoro memimpin peperangan panjang melawan Belanda selama lima tahun dalam Perang Jawa (disebut juga Perang Diponegoro) dimulai dari tahun 1825 sampai 1830.

Apa perilaku yang pantas ditiru dari Pangeran Diponegoro?
Pangeran Diponegoro terbiasa turun ke bawah (blusukan) untuk berbaur dengan rakyat biasa, sehingga sang pangeran bisa merasakan secara langsung penderitaan yang dialami rakyat. Beginilah seharusnya sifat seorang pemimpin atau pejabat tinggi negara, peka terhadap kondisi rakyatnya.

Di daerah mana Pangeran Diponegoro berjuang?
Sejarah perjuangan pangeran Pangeran Diponegoro mencangkup banyak kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Pangeran Diponegoro merupakan pahlawan nasional yang berasal dari daerah?
Yogyakarta, Pulau Jawa.

Kota apa saja yang terdapat nama jalan Pangeran Diponegoro?
Kota-kota yang memiliki nama jalan Pangeran Diponegoro yaitu Jakarta, Bandung, Surabaya, Banda Aceh, Bandar Lampung dan Denpasar.

Apa yang dapat kamu teladani dari perjuangan Pangeran Diponegoro?
  1. Sekalipun Pangeran Diponegoro adalah bangsawan dan anak Raja, beliau menjalankan hidup sederhana dan tidak menghambur-hamburkan uang kerajaan (negara).
  2. Pangeran Diponegoro sering berbaur dengan rakyat biasa di jalan-jalan. Hal ini menandakan beliau sosok yang rendah hati dan jauh dari sifat sombong dan congkak.
  3. Pengeran Diponegoro begitu merasakan penderitaan yang dialami banyak rakyat, menjadikan beliau orang yang peka dan punya rasa empati tinggi.
  4. Pangeran Diponegoro adalah seorang yang sangat pemberani. Cita-cita beliau ingin membebaskan rakyat Jawa dari kekejaman Belanda, nyali beliau tidak ciut walaupun militer Belanda jauh lebih kuat dan canggih senjatanya. Sang pangeran berani melawan kekejaman Belanda.




Baca Juga: