Sejarah Sultan Iskandar Muda (1593-1636) Cerita Perjuangan

Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda

Biografi Sultan Iskandar Muda


Sultan Iskandar Muda dilahirkan di Banda Aceh. Beliau memimpin sejak 1607 sampai 1636, beliau seorang pemimpin yang paling dikenang di Kesultanan Aceh. Zona pemerintahan dan pengaruhnya sangat luas, serta reputasinya sebagai pemimpin 'jempolan' begitu dikenal di seluruh dunia.

Kesultanan Aceh menggapai pucuk kegemilangan pada masanya, beliau berhasil menjaga stabilitas wilayah dan menjadikan pelabuhan Aceh tempat yang super strategis, berupa jantung perniagaan dunia.

Walaupun tak sukses mengusir Portugis dari zona nusantara, tapi Kesultanan Aceh di dalam kepemimpinan-nya berdiri sebagai negeri yang independen dan berdaulat.

Bermacam kekuatan raksasa di dunia seperti Kerajaan Inggris, Turki Ustmani serta Perancis tunduk dan mengakui kedaulatan Kesultanan Aceh, penghormatan lebih khusus diberikan kepada sang pemimpin, Sultan Iskandar Muda. 

Semenjak usia belia, beliau telah dididik secara disiplin, berupa ditanamkan Ilmu Keislaman, serta ditanamkan jiwa seorang pemimpin dan tanggung jawab.

Dirinya akan dipersiapkan sebagai penerus tahta. Ayah beliau bernama Sultan Mansyur Syah, semenjak kecil ayahnya sangat perhatian terhadap pendidikan agama sang anak.

Bahkan beliau semenjak kecil dekat dengan para ulama, beliau pernah menuntut ilmu pada ulama besar Mekkah dan Gujarat.

Saat masih pemuda, beliau sukses membuktikan keterampilan leadership-nya, dengan mengkomando banyak prajurit melawan militer Portugis yang berupaya menginvasi daerah Aceh.

Dengan kecakapannya dalam memimpin pasukan dan menerapkan strategi perang, sehingga Portugis gagal menguasai wilayah Aceh. 

Beliau menemukan jodohnya yakni putri dari Kesultanan Pahang yang punya sebutan Putroe Phang. Perannya ternyata tak cuma sebagai istri seorang Sultan, tapi juga berperan sekalu konselor atau pembisik Sultan terhadap kebijakan-kebijakannya.

Sebuah ide cemerlang yang dibuat Putri Pahang yaitu dibentuknya parlemen yang saat itu berisi 73 orang, mereka bekerja atau berfungsi untuk mewakili rakyat dan menyampaikan suara harapan rakyat kepada pejabat kerajaan.


Perjuangan Sultan Iskandar Muda


Berbicara mengenai situasi politik Kesultanan Aceh dan persaingannya melawan pihak barat, dimana kekuatan pihak barat yang awal-awal berkunjung ke Nusantara yakni Portugis, pada 1511 Portugis berhasil menguasai Malaka. Lalu menundukkan Samudera Pasai (1521) serta terus memperbesar  cengkraman-nya ke wilayah sekitar.

Portugis begitu digdaya di wilayah Melaka, namun di daerah Sumatera bagian utara muncullah kekuatan besar yang menjadi lawan sepadan Portugis, yaitu Kesultanan Aceh Darussalam. Perseteruan antar kedua belah pihak berlangsung selama ratusan tahun.

Pada periode kepemimpinan sebelumnya, terdapat kegaduhan dalam negeri (di tubuh pemerintahan Aceh) serta adanya bahaya rencana invasi dari Portugis.

Terlebih, Sultan yang berkuasa kala itu (Ali Riayat Syah) memenjarakan Iskandar Muda sebab adanya perselisihan. Di saat bersamaan, Portugis sudah mengontrol pulau yang terdapat di seberang Aceh. Sehingga Portugis punya posisi yang kuat dan strategis untuk menginvasi Aceh. Terlebih lagi, armada laut Portugis amat kuat dan berpengalaman di medan tempur.

Pangeran Iskandar Muda yang kala itu masih di penjara, menyampaikan pesan melalui utusan ke Sultan Ali Riayat Syah, guna menawarkan bantuan membendung serangan Portugis. Akhirnya tawaran tersebut disetujui.

Kemudian, Pangeran Iskandar Muda dibebaskan dan diperbolehkan memiliki prajurit, hingga akhirnya pasukan masuk ke medan pertempuran melawan Portugis, bekerja sama dengan pasukan Sultan Ali Riayat Syah.


Sultan Ali Riayat Syah hanya memberikan bekal alat militer seadanya kepada pasukan Pangeran Iskandar Muda, sebab khawatir jika timbul kudeta pada dirinya. Walaupun dengan persenjataan terbatas, Pangeran Iskandar Muda cukup berkontribusi untuk menendang Portugis dari daerah Aceh pada 1606.

Atas perannya ini, Iskandar Muda menjadi sosok yang diperhitungkan oleh Inggris dan Belanda, sehingga kedua negara barat tersebut tampaknya bakal lebih memilih relasi damai dengan pihak Aceh.

Pada 1607 Sultan Ali Riayat Syah wafat, maka putra mahkota yang sah yakni Iskandar Muda, secara otomatis menjadi Sultan Aceh.

Tindakan yang diambil Sultan Iskandar Muda agar memantapkan posisi (stabilitas kawasan) yakni merangkul kerajaan-kerajaan di sekitar.

Beliau mengerjakan tindakan yang revolusioner ini bertujuan untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di sekitar kawasan untuk membendung invasi dari bangsa Eropa. Serta agar kerajaan-kerajaan di kawasan tak gampang dipengaruhi kekuatan barat yang selalu mengintai dan mencari kesempatan.

Aturan gamblang dan tegas dijalankan oleh beliau di sektor ekonomi. Beliau juga mengawasi setiap gerak-gerik kekuatan asing yang datang berkunjung (khususnya dari negeri Eropa) di daerah kedaulatan-nya. Kesultanan Aceh di zaman kepemimpinan beliau semakin meluas.

Sultan juga sangat perhatian terhadap kekuatan armada lautnya. Disebutkan bahwa Kesultanan Aceh mempunyai ratusan kapal militer, dengan dipasangkan banyak canon di setiap kapal.

Kekuatan besar militer Aceh membuat Portugis segan dan tidak berani macam-macam, karena sebelumnya pernah kalah di sejumlah peperangan.

Posisi Portugis dan Kesultanan Aceh sangat berdekatan karena hanya dipisahkan selat, maka Sultan harus mengambil inisiatif untuk mendepaknya dari pulau seberang. Diputuskan-lah untuk menyerang wilayah Portugis di Malaka tahun 1615, tapi tidak berhasil membasmi Portugis.

Pada 1629, kampanye serangan lebih besar kembali dilakukan untuk mendobrak posisi Portugis di Malaka, akhirnya militer Portugis tersudut serta tinggal menunggu waktu untuk bertekuk lutut.

Hanya saja muncul sokongan militer dari beberapa daerah, yang sebelumnya sudah mengadakan aliansi dengan Portugis, menyebabkan prajurit Kesultanan Aceh gagal menginjakkan kakinya di jantung kawasan penjajah Portugis.


Cerita Sultan Iskandar Muda: Hubungan Diplomatik dengan Bangsa Eropa


Belanda amat berhasrat buat mencaplok Selat Malaka, tapi karena tidak mampu menandingi kekuatan armada laut Aceh, maka akhirnya Belanda menyerah dalam upaya mengambil alih Aceh. Belanda pun mulai mencari ‘mangsa’ baru yaitu wilayah Jawa dan Maluku.

Inggris juga menghormati kedaulatan Kesultanan Aceh, sehingga memilih tunduk pada aturan mengenai Selat Malaka yang ditetapkan Aceh, ketimbang harus memilih jalan berperang karena akan mengeluarkan banyak biaya dan korban jiwa, itupun belum tentu menang.

Raja Inggris saat itu, James I, pernah memberi 'cenderamata' berupa meriam. Prancis juga lebih memilih menghormati kedaulatan Aceh, Raja Perancis menyegani sosok Sultan Iskandar Muda sehingga tak mau berbuat macam-macam.

Kesultanan Aceh juga punya ikatan yang amat erat dengan Kesultanan Turki Utsmani. Sultan Ahmed I yang menjadi Sultan Turki saat itu mengirimkan delegasi dengan membawa hadiah berupa meriam, juga dikirim sejumlah ahli teknologi dan perwira militer agar mendukung perkembangan militer Aceh.

Disebutkan bahwa beliau mengirim utusan buat menemui Sultan Utsmaniyah, disebabkan suatu kondisi tertentu sehingga utusan Aceh belum juga bisa bertemu dengan Sultan Turki Ustmani.

Karena terluntang-lantung cukup lama di negeri Turki, akhirnya utusan Aceh terpaksa mengambil sebagian hadiah yang dibawa (guna sebagai biaya konsumsi).

Sampai akhirnya utusan Aceh bisa bertemu dengan Sultan Ustmaniyah, namun hadiah yang dibawa dari Aceh cuma tersisa sedikit (berkurang). Tapi Sultan Ustmaniyah tetap memberikan respon positif, lalu menghadiahkan meriam buat Kesultanan Aceh, serta mengirim beberapa perwira guna melatih prajurit Aceh.


Cerita Sultan Iskandar Muda: Perluasan Wilayah Kesultanan Aceh


Pasca diangkat menjadi pemimpin tertinggi, secara cepat Sultan Iskandar Muda mengadakan aktivitas militer untuk mengambil kontrol beberapa area strategis supaya membendung dominasi penjajah. Sultan melakukan berbagai aturan serta kebijakan yang menjadikan posisi Aceh semakin kuat.

Selain membangun ekonomi, Sultan memikirkan tentang perlunya mengadakan operasi militer ke area sekitar sehingga stabilitas kawasan dapat terjaga dengan baik dan aman.

Pada 1612 Deli berhasil dikuasai, Johor pada 1613, lalu berhasil menguasai Pahang pada 1618, Nias pada 1624, serta beberapa daerah vital lainnya.

Aceh, kalau itu sebagai sentral perniagaan dunia, bahkan menjadi zona strategis yang mempertalikan perniagaan Asia dan Eropa. Di Kutaraja, berlabuh bermacam kapal dagang asing dari seluruh dunia. 

Aceh juga menjadi tempat terpopuler di dunia untuk jual-beli lada pada saat itu. Guna menghilangkan gangguan dari penjajah Portugis yang wilayahnya bertetangga dengan Aceh, maka beliau serius untuk meningkatkan power militernya, khususnya armada laut.

Sultan membangun kesatuan atau lembaga yang berfungsi untuk melatih anggota-anggota pasukan sejak muda. Portugis telah sejak 1511 menjajah Malaka, sehingga keberadaan Portugis ialah bahaya nyata di depan pintu Aceh.

Demikian juga Portugis merasa kesulitan buat mengerjakan monopoli selama Kesultanan Aceh masih berdiri kokoh. Sehingga konfrontasi antar dua pihak kerap timbul dari waktu ke waktu.

Militer Portugis yang kerap berkeliaran mendekati wilayah kedaulatan Aceh, nantinya dihadang dan diusir militer Aceh, ini sudah sering terjadi sebelum Sultan Iskandar Muda naik tahta.

Apalagi setelah beliau naik tahta, maka mengambil jalan untuk bersikap keras pada Portugis. Bukti ketegasannya yakni tak ada pemaafan sedikitpun buat daerah-daerah yang berkenan menerima dan beraliansi dengan Portugis.

Salah satu daerah yang diserang Kesultanan Aceh yakni Kerajaan Johor. Beliau mengetahui bahwa Johor mengadakan aliansi bersama pihak Portugis, serta tak mengindahkan peringatan dari Aceh.

Ketegasan beliau juga terlihat dari keberaniannya mendeklarasikan undang-undang mengenai aturan saat berada di area kekuasaan Kesultanan Aceh, dimana semua kerajaan di dunia yang berkunjung wajib tunduk pada undang-undang tersebut. Ketegasan dan keberanian seorang pemimpin akan menular kepada para bawahannya hingga para prajurit.

Kesultanan Aceh di zaman pemerintahannya benar-benar disegani oleh dunia, Sultan Iskandar Muda bergerak cepat membasmi pihak asing yang tidak menghormati kedaulatan Aceh.

Konfrontasi yang teramat panjang yakni menghadapi Portugis. Pertempuran menghadapi Portugis berlangsung sangat panjang, yakni dari 1615 sampai 1629.

Sultan pernah mengirimkan pasukan dengan jumlah sangat banyak yaitu pada 1629, operasi militer kali ini sampai berhasil membuat militer Portugis terpojok.

Karena sangat terdesak, Portugis meminta dan mendapatkan pertolongan dari Johor, Patani, India dan lainnya. Dengan mendapatkan bantuan pasukan yang banyak maka pasukan Portugis bisa menarik napas, dan akhirnya bisa bertahan dari gempuran militer Aceh.

Dengan begitu, cita-cita beliau agar sepenuhnya mengusir Portugis kandas. Setelah itu beliau lebih berfokus untuk membenahi urusan internal dan melakukan pembangunan, seperti sistem pemerintahan yang dibenahi serta menjadikan pendidikan keislaman sebagai yang paling prioritas di Aceh.

Pada bidang ekonomi, Sultan membuat undang-undang yang isinya untuk memastikan penduduk hidup dalam kecukupan rezeki, serta mendukung kehidupan nelayan, bidang agraria, pertambangan dan lainnya.

Beliau dengan cakap berhasil menjaga stabilitas wilayah, menjadikan Kesultanan Aceh mengontrol Selat Malaka sebagai jalur perdagangan internasional yang aman.

Selain itu banyak kapal Aceh yang berlayar sampai ke Laut Merah untuk melakukan perdagangan. Di bawah kepemimpinan-nya, Aceh menggapai pucuk kegemilangan.

Beliau adalah pemimpin yang amat perhatian pada perkembangan Agama Islam, serta sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Beliau berhasil menyatukan banyak daerah di semenanjung Melayu.

Setelah usaha yang panjang dalam melayani rakyatnya serta kerja kerasnya menjaga keamanan daerah Kesultanan Aceh, Sultan Iskandar Muda meninggal pada 27 Desember 1636 di umur 43 tahun.

Sangat disayangkan beliau wafat di usia muda. Beliau menjadi pemimpin Kesultanan Aceh yang terbesar di dalam sejarah.




Baca Juga: