Sultan Iskandar Muda (1593-1636) Pemimpin Terbesar Kesultanan Aceh

Nama : Sultan Iskandar Muda
Lahir   : 1590 atau 1593
Wafat : 27 Desember 1636
Ayah   : Sultan Mansur Syah
Ibu      : Puteri Raja Indera Bangsa

Sultan Iskandar Muda lahir di Bandar Aceh Darussalam, Kesultanan Aceh. Beliau berkuasa dari tahun 1607 sampai 1636. Sultan Iskandar Muda merupakan salah satu raja yang paling terkenal di Kesultanan Aceh. Daerah kekuasaannya sangat luas dan reputasinya sebagai pemimipin kerajaan Islam sangat terkenal hingga ke seluruh dunia.

Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda

Kesultanan Aceh mencapai kejayaan pada masa kepemimpinannya, Sultan Iskandar Muda berhasil menjaga stabilitas wilayah dan menjadikan pelabuhan Aceh sebagai pusat perdagangan internasional. Walaupun tidak berhasil mengusir Portugis dari wilayah nusantara, tapi Kesultanan Aceh di bawah kepemimpinannya tetap merupakan kerajaan yang merdeka dan berdaulat.

Berbagai kerajaan besar di dunia seperti Kerajaan Inggris, Turki Ustmani, Belanda hingga Perancis menaruh hormat pada kedaulatan Kesultanan Aceh, penghormatan lebih khusus diberikan kepada sang pemimpin, Sultan Iskandar Muda. 

Sejak kecil, Iskandar Muda dididik dengan pengetahuan agama dan kepemimpinan, dirinya akan dipersiapkan sebagai penerus tahta dari Kesultanan Aceh. Nama asli Sultan Iskandar Muda sewaktu kecil adalah Perkasa Alam.

Ayah Sultan Iskandar Muda bernama Sultan Mansyur Syah, semenjak kecil ayahnya sangat perhatian terhadap pendidikan agama sang anak. Sehingga Sultan Iskandar Muda sejak kecil dekat dengan para ulama, beliau pernah belajar kepada beberapa ulama besar yang berasal dari Mekkah dan Gujarat India.

Di usianya yang masih muda, beliau memperlihatkan kemampuannya dalam memimpin. Iskandar Muda memimpin pasukan Aceh melawan pasukan Portugis yang menginvasi Kesultanan Aceh. Dengan kecakapannya dalam memimpin pasukan dan menerapkan strategi perang, sehingga Portugis gagal menguasai wilayah Aceh. 

Sultan Iskandar Muda menikah dengan seorang Putri dari Kesultanan Pahang yang dikenal dengan sebutan Putroe Phang. Peran Putri Pahang tidak hanya sebagai istri seorang Sultan, tapi juga berperan menjadi penasehat Sultan. Salah satu ide cemerlang yang dibuat Putri Pahang yaitu dibentuknya Majelis Syura (Parlemen) yang saat itu beranggotakan 73 orang sebagai perwakilan penduduk Kesultanan Aceh.

Disebutkan bahwa Sultan Iskandar Muda membangun Gunongan untuk mengobati kesedihan istrinya yang rindu pada kampung halamannya di Pahang. Dari pernikahannya dengan Putri Pahang, Sultan Iskandar Muda mempunyai anak bernama Sultanah Safiatuddin dan Meurah Pupok.

Perjuangan Sultan Iskandar Muda

Berbicara mengenai situasi politik Kesultanan Aceh dalam persaingannya dengan imperialis Eropa, dimana kekuatan imperialis Eropa yang pertama datang ke Asia Tenggara adalah Portugis, yang pada tahun 1511 Portugis berhasil menaklukkan Malaka. Portugis lalu menaklukkan Samudera Pasai (1521) dan terus memperluas pengaruhnya di wilayah sekitar.

Portugis begitu digdaya di wilayah Melaka, akan tetapi di wilayah Sumatera bagian utara munculah kekuatan besar yang menjadi lawan sepadan Portugis, yaitu Kesultanan Aceh Darussalam. Perseteruan antar kedua belah pihak berlangsung selama ratusan tahun.

Sultan Iskandar Muda diangkat menjadi Sultan Aceh menggantikan Sultan Ali Riayat Syah yang wafat. Pada periode kepemimpinan sebelumnya -periode Sultan Ali Riayat Syah- terjadi kekacauan internal di dalam tubuh Kesultanan Aceh, serta adanya bahaya rencana invasi dari Portugis.

Bahkan saat itu Sultan Ali Riayat Syah memenjarakan Perkasa Alam (Sultan Iskandar Muda) karena adanya perselisihan. Pada saat itu, Portugis sudah menguasai pulau yang ada diseberang Kesultanan Aceh, sehingga Portugis punya posisi yang kuat dan strategis untuk menginvasi Aceh, disamping juga armada laut Portugis terkenal kuat.

Pangeran Perkasa Alam yang saat itu masih dipenjara, mengirimkan utusan kepada Sultan Ali Riayat Syah untuk menawarkan bantuan guna membendung serangan Portugis. Akhirnya Sultan Ali Riayat Syah setuju dengan tawaran bantuan tersebut.

Maka Perkasa Alam dibebaskan dan diperbolehkan untuk memiliki pasukan serta sedikit senjata, hingga akhirnya pasukan masuk ke medan pertempuran melawan Portugis, bekerja sama dengan pasukan Sultan Ali Riayat Syah.

Sultan Ali Riayat Syah hanya memberikan sedikit bekal senjata kepada pasukan Perkasa Alam, karena khawatir jika Perkasa Alam mempunyai pasukan yang besar dengan persenjataan banyak akan mengkudeta dirinya. Walaupun dengan persenjataan yang terbatas, Perkasa Alam cukup berkontribusi dalam mengusir Portugis dari wilayah Aceh pada tahun 1606.

Atas perannya ini, Perkasa Alam menjadi sosok yang disegani oleh Inggris dan Belanda. Pada tahun 1607, karena Sultan Ali Riayat Syah yang wafat, maka putra mahkota yang sah Perkasa Alam naik menjadi Sultan Aceh, dan dikenal dengan sebutan Sultan Iskandar Muda.

Tindakan yang diambil oleh Sultan Iskandar Muda untuk memperkuat posisi Kesultanan Aceh adalah dengan merangkul kerajaan-kerajaan yang ada di sekitar. Sultan Iskandar Muda melakukan tindakan yang revolusioner ini bertujuan untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di sekitar kawasan untuk membendung invasi dari bangsa Eropa, serta agar kerajaan-kerajaan di kawasan tidak mudah dipengaruhi oleh bangsa-bangsa asing seperti Portugis, Inggris maupun Belanda.

Kebijakan ketat dijalankan oleh Sultan Iskandar Muda di bidang perdagangan dan ekonomi. Sultan juga mengontrol pergerakan orang-orang asing yang berada di wilayah Kesultanan Aceh. Wilayah Kesultanan Aceh di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda meluas hingga wilayah Semenanjung Malaya seperti Malaka, Johor, Pahang, Perak hingga Patani (Thailand).

Sultan juga sangat perhatian terhadap kekuatan armada lautnya. Disebutkan bahwa Kesultanan Aceh memiliki ratusan kapal perang yang dilengkapi dengan meriam-meriam. Kekuatan besar militer Kesultanan Aceh membuat Portugis segan dan tidak berani macam-macam karena sebelumnya mengalami beberapa kekalahan dalam beberapa pertempuran.

Wilayah Kesultanan Aceh dan Portugis sangat berdekatan karena hanya dipisahkan selat, maka Kesultanan Aceh harus mengambil inisiatif untuk mengusir Portugis dari pulau seberang. Di masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda, diputuskan lah untuk menyerang wilayah Portugis di Malaka tahun 1615, tapi tidak berhasil mengusir Portugis.

Pada 1629, kampanye serangan lebih besar kembali dilakukan untuk menggempur pertahanan Portugis di Malaka, akhirnya pasukan Portugis terkepung dan menunggu waktu untuk menyerah, hanya saja muncul bantuan dari India dan beberapa kerajaan di Semenanjung Malaya yang berhasil dihasut oleh Portugis, menyebabkan pasukan Kesultanan Aceh gagal menginjakan kakinya di jantung wilayah kekuasaan Portugis.

Hubungan Diplomatik Kesultanan Aceh dengan Bangsa Eropa

Belanda sangat berhasrat untuk menguasai Selat Malaka, tapi karena tidak mampu menandingi kekuatan armada laut Kesultanan Aceh, maka akhirnya Belanda menyerah dalam upaya mengambil alih Aceh. Belanda pun mulai mencari ‘mangsa’ baru yaitu wilayah Jawa dan Maluku.

Selain Kerajaan Belanda, Kerajaan Inggris juga menghormati kedaulatan Kesultanan Aceh, khususnya pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda. Inggris memilih tunduk pada aturan mengenai Selat Malaka yang ditetapkan oleh Kesultanan Aceh, ketimbang harus memilih jalan berperang melawan Aceh karena akan mengeluarkan banyak biaya dan korban jiwa, itupun belum tentu menang.

Raja Inggris saat itu, James I, mengirimkan hadiah kepada Sultan Iskandar Muda berupa sebuah meriam. Dimana meriam tersebut masih ada dan terawat hingga abad 21 sekarang, meriam tersebut dinamakan dengan Meriam Raja James. Peninggalan terkenal dari Sultan Iskandar Muda yaitu Masjid Baiturrahman di Aceh.

Prancis juga lebih memilih menghormati kedaulatan Kesultanan Aceh, Raja Perancis menyegani sosok Sultan Iskandar Muda sehingga tidak mau berbuat macam-macam. Raja Perancis mengirimkan utusan dengan membawa hadiah berupa cermin yang sangat indah, hanya saja ditengah perjalanan cermin tersebut pecah, Sultan Iskandar Muda tetap dengan senang hati menerima hadiah dari Raja Perancis tersebut.

Kesultanan Aceh juga punya hubungan yang sangat erat dengan Kesultanan Turki Utsmani. Sultan Ahmed I yang merupakan Sultan Turki saat itu mengirimkan utusan dengan membawa hadiah berupa meriam, selain itu dikirim juga beberapa orang ahli dan perwira perang untuk membantu latihan militer orang-orang Aceh.

Disebutkan bahwa Sultan Iskandar Muda mengirim utusannya untuk menghadap Sultan Utsmaniyah yang ada di Konstantinopel. Karena suatu kondisi tertentu sehingga utusan Aceh belum juga bisa bertemu dengan Sultan Turki Ustmani. Karena terluntang-lantung cukup lama di negeri Kesultanan Turki Ustmani maka utusan Aceh terpaksa menjual sedikit demi sedikit hadiah yang dibawa tersebut (untuk biaya konsumsi).

Hingga akhirnya utusan Aceh bisa bertemu dengan Sultan Ustmaniyah, akan tetapi hadiah yang dibawa dari Aceh hanya tinggal lada sekarung. Namun Sultan Ustmaniyah menyambut baik hadiah tersebut, beliau menghadiahkan sebuah meriam untuk Kesulanan Aceh, serta mengirim beberapa perwira perang untuk membantu Kesultanan Aceh. Hadiah meriam tersebut masih ada sampai sekarang, yang dinamakan dengan Meriam Lada Sicupak (Meriam Lada sekarung).

Perluasan Wilayah Kesultanan Aceh

Setelah diangkat menjadi sultan, dengan cepat Sultan Iskandar Muda melakukan aktivitas militer untuk mengambil kendali atas bagian barat laut kepulauan. Sultan melakukan berbagai aturan dan kebijakan yang menjadikan Kesultanan Aceh mengalami masa kejayaan. Selain membangun ekonomi, Sultan memikirkan tentang perlunya melakukan ekspedisi ke daerah sekitarnya sehingga stabilitas kawasan dapat terjaga dengan baik dan aman.

Pada 1612 Deli berhasil dikuasai, menyusul Johor pada 1613. Setahun kemudian Bintan, lalu berhasil menguasai Pahang tahun 1618, Kedah tahun 1619 dan Nias pada 1624-1625. Sehingga wilayah Kesultaan Aceh mencakup sebagian besar pantai barat dan pantai timur Sumatera. Kutaraja yang sekarang bernama Banda Aceh, pada masa itu merupakan bandar transito yang menghubungkan perdagangan ke dunia barat (Eropa). Di Kutaraja, berlabuh berbagai kapal dagang asing dari seluruh dunia untuk membeli lada. 

Aceh merupakan pusat perdagangan lada terbesar di dunia pada saat itu. Untuk menghilangkan gangguan dari penjajah Portugis yang wilayahnya bertetangga dengan Kesultanan Aceh, maka Sultan Iskandar Muda memperkuat angkatan perangnya, khususnya armada laut. Sultan membangun kesatuan atau lembaga yang berfungsi untuk melatih anggota-anggota pasukan sejak muda.

Portugis sudah sejak 1511 menjajah Malaka, sehingga keberadaan Portugis adalah ancaman nyata depan pintu untuk Kesultanan Aceh. Demikian juga Portugis merasa kesulitan untuk memonopoli perdagangan selama Kesultanan Aceh masih berdiri kokoh.

Sehingga bentrokan antara Kesultanan Aceh dan Potugis sering terjadi dari waktu ke waktu. Kapal Portugis yang berlayar di Selat Malaka sering diserang oleh armada laut Kesultanan Aceh, ini sudah sering terjadi sebelum Sultan Iskandar Muda naik tahta.

Apalagi setelah Sultan Iskandar Muda naik tahta, beliau memilih konfrontasi terhadap Portugis. Bukti ketegasannya, Sultan Iskandar Muda tidak memberikan toleransi sedikitpun kepada kerajaan-kerajaan yang menjalin hubungan dengan Portugis.

Salah satu kerajaan yang diserang oleh pasukan Sultan Iskandar Muda adalah Kerajaan Johor. Sultan mengetahui bahwa Kerajaan Johor menjalin hubungan dengan pihak Portugis, dan tidak mengindahkan peringatan dari Kesultanan Aceh. Ketegasan Sultan juga terlihat dari keberaniannya membuat peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh semua bangsa yang masuk ke wilayah Aceh. 

Ketegasan dan keberanian seorang pemimpin akan menular kepada para bawahannya hingga para prajurit. Kesultanan Aceh pada masa pemerintahannya benar-benar disegani oleh semua bangsa, Sultan Iskandar Muda bergerak cepat untuk menumpas kekuatan asing yang tidak menghormati kedaulatan Aceh.

Konfrontasi yang paling panjang adalah melawan Portugis. Serangan terhadap Portugis yang berlokasi di Malaka dilakukan dari 1615 hingga 1629. Serangan besar-besar dilakukan pada 1629 hingga berhasil membuat pasukan Portugis terkepung.

Karena sangat terdesak, Portugis meminta dan mendapatkan bantuan dari Johor, Pahang, Patani, Goa dan India. Dengan mendapatkan bantuan pasukan yang banyak maka pasukan Portugis bisa mengambil napas, dan akhirnya bisa bertahan dari gempuran pasukan Kesultanan Aceh. Sehingga cita-cita Sultan Iskandar Muda untuk sepenuhnya mengusir Portugis dari tanah Malaka kandas.

Setelah itu Sultan Iskandar Muda lebih berfokus untuk menata dalam negeri Kesultanan Aceh seperti sistem pemerintahan yang disempurnakan dan menjadikan pendidikan agama sebagai yang paling prioritas di wilayah Kesultanan Aceh.

Pada bidang ekomomi, Sultan membuat undang-undang yang isinya menjamin kesejahteraan rakyat, berbagai peraturan dibuat dalam bidang perdagangan, pelayaran, perikanan, pertanian, perindustrian dan pertambangan. Sultan Iskandar Muda dengan cakap berhasil menjaga stabilitas wilayah selat, menjadikan Kesultanan Aceh menguasai Selat Malaka sebagai jalur perdagangan internasional yang aman.

Barang-barang yang diekspor dari Kesultanan Aceh yaitu beras, lada, emas, perak, timah dan rempah-rempah. Adapun barang-barang yang dijual oleh bangsa asing ke wilayah Kesultanan Aceh seperti kain dari Koromandel (India), minyak wangi dari Eropa, porselin dan sutera dari Jepang dan China.

Selain itu banyak kapal-kapal Aceh yang berlayar hingga ke Laut Merah untuk melakukan perdagangan. Di bawah kepemimpinannya, Sultan berhasil membawa Aceh ke puncak kejayaan. Beliau adalah pemimpin yang sangat perhatian terhadap perkembangan Agama Islam, serta sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Sekitar 30 tahun masa pemerintahannya, Sultan Iskandar Muda berhasil menyatukan seluruh wilayah semenanjung Melayu.

Sultan Iskandar Muda Wafat

Setelah perjalanan yang panjang dalam melayani rakyatnya dan perjuangannya menjaga keamanan wilayah Kesultanan Aceh, Sultan Iskandar Muda wafat pada tanggal 27 Desember 1636 di usia 43 tahun. Sangat disayangkan beliau wafat di usia yang masih muda.

Sultan Iskandar Muda dimakamkan di Kompleks Pemakaman Sultan Aceh Kandang XII, Banda Aceh. Beliau menjadi penguasa Kesultanan Aceh yang terbesar dan paling terkenal di dalam sejarah. 

Pada tanggal 14 September 1993, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Iskandar Muda atas jasa-jasanya yang sangat besar.

Untuk mengenang jasa-jasanya, namanya diabadikan untuk banyak hal, seperti Universitas Iskandar Muda, Kodam Iskandar Muda dan Bandar Udara Internasional Sultan Iskandar Muda di Aceh. 


Tulisan Terkait: