Sejarah Sultan Ageng Tirtayasa (1631-1695), Kesultanan Banten

Sultan Ageng Tirtayasa
Sultan Ageng Tirtayasa | Photo credit: -

Biografi Sultan Ageng Tirtayasa


Sultan Ageng Tirtayasa adalah raja Kesultanan Banten yang memimpin pada abad 17. Perjuangan beliau yang begitu keras selalu diingat oleh generasi Nusantara di sepanjang masa, khususnya dalam konfrontasi tiada henti melawan kesewenang-wenangan Belanda.

Setelah ayahnya meninggal, estafet kepala negara diemban kakeknya yang hanya sempat memerintah selama setahun.

Setelah kakeknya meninggal pada 1651, beliau yang gilirannya diangkat menjadi Sultan Banten ke-6. Selain menjalani roda pemerintahan, beliau amat peduli kepada kualitas pendidikan agama Islam di daerah kekuasaannya, kehidupannya juga amat dekat dengan para ulama.

Lebih lanjut, beliau sangat memahami dunia militer dan taktik pertempuran, perannya sangat kentara ketika dirinya turun langsung menempa para prajurit.

Barisan pasukannya dididik-nya agar dekat pada ajaran Islam, bahkan Sultan mendatangkan beberapa ulama kibar dari negeri Arab supaya menguatkan iman dan menyebarkan kebaikan ke jiwa-jiwa prajurit Banten.

Sultan memerintah secara bijaksana, hingga akhirnya di zaman pemerintahannya menjadi puncak kegemilangan Kesultanan Banten.

Disamping kepedulian tinggi pada kualitas keislaman rakyatnya, Sultan juga berperan signifikan di bidang teknologi, ketahanan pangan serta memperkuat armada perangnya.

Sultan berupaya untuk menjamin dan memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya, beliau menyiapkan modal yang sangat besar untuk membuat lahan pertanian baru, meningkatkan fungsi irigasi, membuat terusan dan membangun bendungan.

Dalam hubungan diplomatik, beliau berperan besar dalam menjaga relasi yang harmonis pada banyak kerajaan di Nusantara. Berkat terjalinnya relasi yang positif tersebut, mengakibatkan Belanda berkali-kali gagal dalam upaya menguasai Banten dan area lainnya.


Disamping itu, Banten menjalankan peran politik luar negeri dan perniagaan dengan Kerajaan Turki Ustmani, Kerajaan Inggris, Perancis dan banyak lainnya.

Pelabuhan Banten kala itu menjadi tempat strategis karena menjadi pusat ekonomi yang menghubungkan jalur perniagaan dunia. Berbagai kapal dagang dunia singgah seperti dari Arab, Inggris, China, Persia, India dan lainnya.

Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa


Di zaman kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa, Belanda dikala itu sangat bernafsu untuk menaklukkan Banten, hanya saja mengalami kesulitan buat mengalahkan prajurit Banten.

Konflik kian memanas tatkala Belanda berusaha mencampuri urusan (baca: merecoki) politik dalam negeri pihak Kesultanan.

Dengan kata lain, Belanda melancarkan upaya untuk memecah-belah kesatuan Banten, yaitu dengan berusaha memprovokasi Pangeran Abu Nasr Abdul Kahar agar memusuhi Pangeran Arya Purbaya, mereka berdua merupakan saudara. Belanda membuat ketegangan antar kedua pangeran itu.

Belanda merayu dan mengiming-imingi Pangeran Abu Nasr Abdul Kahar bantuan, hingga setelah itu terjadi perang saudara. Jadilah dia memberontak pada pemimpin sah Banten (yakni ayahnya sendiri).

Hanya saja karena Abu Nasr Abdul Kahar berkhianat dan berkongsi bersama Belanda, sehingga pasukan Belanda bisa secara leluasa masuk ke tanah Banten.

Sultan Ageng Tirtayasa berkuasa pada 1651-1683. Selama menjadi pemimpin tertinggi, beliau melakukan segala upaya buat membendung invasi Belanda.

Kala itu Belanda memaksakan agar menguasai ekonomi atau perniagaan secara sepihak, dimana semua pihak diharuskan tunduk pada segala aturan ekonomi yang dibuat Belanda. Dengan berani Sultan menolak keinginan Belanda.

Sultan punya cita-cita agar menjadikan Banten sebagai kerajaan Islami terkuat dan punya pengaruh signifikan di dunia, sehingga pihak barat wajib punya rasa hormat dan mengakui kedaulatan Banten.

Saat adanya persengketaan antara kedua putra beliau, Belanda secara licik memanfaatkan kesempatan tersebut. Belanda berhasil merayu Abu Nasr Abdul Kahar. Alhasil pasukan Belanda dan Abu Nasr Abdul Kahar bergabung menggempur pasukan Sultan.


Politik Internasional

Di zaman kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa, Kesultanan Banten memperluas jangkauannya dengan aktif menjalankan politik luar negeri dan aliansi pada banyak kerajaan di dunia.

Banten secara luas mengadakan kerja sama ekonomi dan perniagaan dengan super power dunia seperti Inggris, Perancis dan Denmark, kecuali Belanda. Pada 1671, Raja Prancis mengirim utusan ke Banten, rombongan utusan Prancis disambut baik.

Sultan menyambut positif utusan Perancis dengan diperbolehkan mendirikan kantor dagang. Banten dan Perancis menyepakati adanya nota kesepahaman, itu artinya kedua pihak serius untuk membangun relasi positif ke depannya.

Dikarenakan hubungan yang mulai erat, maka Kerajaan Perancis diberikan keistimewaan yang khususnya dalam hal akses perniagaan (ekonomi), ini seperti yang juga diberikan pada Inggris. 

Relasi Banten dan Inggris

Relasi yang positif terjalin antara Inggris dan Banten, bahkan ini sebenarnya telah berlangsung lama, yaitu sebelum masanya beliau.

Pada 1602, Banten pada zaman Sultan Abdul Mafakhir menyampaikan pesan formal atas pengangkatan Charles I menjadi Raja Inggris. Sejak masa itu Banten sudah menjalin relasi politik dengan Inggris, termasuk relasi ekonomi dimana Inggris diperbolehkan memiliki kantor dagang di Banten.

Banten senantiasa jadi tujuan utama kegiatan perdagangan Kerajaan Inggris hingga ujung masa kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1682.

Mega Proyek Selama Zaman Beliau 

Sultan berusaha memajukan sektor pertanian di area kekuasaannya, rupanya tindakan beliau bikin khawatir pihak Belanda karena pengaruh Kesultanan Banten bakal kian meluas, sehingga beliau dinilai berbahaya oleh Belanda.

Keengganan Sultan buat tunduk pada Belanda kian meningkatkan rivalitas Banten dan Batavia (Belanda). Kedua belah pihak tidak menemui kata sepakat, hingga dampaknya deklarasi perang diumumkan bulan Mei 1658.

Peperangan muncul dimana-mana dan berlarut-larut, baik itu medan darat ataupun laut. Masyarakat Banten bersama penguasa Banten saling bahu membahu menangkal invasi Belanda, sampai akhirnya pasukan Belanda terdesak. 

Belanda menawarkan perjanjian damai, dan tawaran damai disetujui oleh Sultan. Setelah tidak lagi serang-menyerang maka suasana menjadi kondusif, Sultan kembali menjalankan program pembangunan, diantaranya sektor pertanian, prasarana dan transportasi air guna menyokong aktivitas perniagaan.


Sultan memerintahkan didirikan lokasi baru untuk kompleks perumahan rakyat di dekat area perbatasan. Seorang pejabat Kesultanan Banten membuat sebuah kebijakan unik, yakni dia memanggil pemimpin tiap daerah, agar memerintahkan orang-orang di daerahnya (tiap rumah) agar mencari batang pohon kelapa.

Setiap keluarga bakal diberikan tanah satu hektar. Pemukiman baru akan dibuat dengan perkiraan berjumlah 5000 keluarga. Proyek ini sukses menghasilkan lahan perkebunan dengan luas sekitar 5000 hektar. Para ahli sejarah menyebutkan bahwa tindakan ini sebagai ‘Mega Proyek’.

Muncul belasan desa baru dari mega proyek tersebut, selain sebagai tempat tinggal rakyat dan usaha perkebunan, desa-desa tersebut dibangun untuk difungsikan layaknya benteng pertahanan alami.

Dengan ditanamnya puluhan ribu pohon di dekat perbatasan, maka akan mengaburkan dan menghambat pihak yang ingin menyerang, serta juga Belanda menjadi lebih sulit untuk memata-matai.

Walaupun sudah diteken perjanjian damai, tapi sebenarnya antar kedua pihak masih punya rasa curiga yang tinggi. Sultan sudah mengetahui bahwa Belanda menempatkan banyak intel di wilayah perbatasan.

Pada 1663, Banten menjalankan sebuah rencana pengerukan saluran (kanal) dari sejumlah sungai, alirannya nantinya didesain supaya bisa dilewati kapal untuk keperluan perniagaan dan transportasi.

Proyek ini juga dikerjakan buat kepentingan pengairan sawah, hingga untuk keperluan militer yang dimana kanal bisa gunakan buat memperlancar mobilisasi militer dari satu tempat ke tempat lainnya.

Saat pembuatan sejumlah kanal selesai, Sultan kemudian memerintahkan agar rakyatnya membikin banyak lahan sawah di kanan dan kiri alirannya.

Dengan dibangunnya area persawahan yang lumayan luas, menjadikan Banten punya pasokan lumbung padi yang berlimpah buat mencukupi kebutuhan penduduk.

Sultan meninggalkan istananya dan 'turun gunung' memantau mega proyeknya, adapun penanggung-jawab di pusat diberikan ke pejabat kepercayannya di istana.

Pada 1664, dimana proyek kanal progresnya baru setengah jalan (belum selesai), Sultan Ageng ternyata membuat proyek lainnya yaitu pembangunan bendungan.

Fungsi bendungan yaitu buat menampung banyak air ketika di masa-masa air begitu berlimpah (biasanya di musim hujan) agar kemudian digunakan buat mengaliri persawahan atau buat hal lainnya. Dengan adanya bendungan, air akan tetap tersedia cukup di musim kemarau.

Pasca kanal Tanara-Pasilian selesai dibuat, pada 1670 Sultan Ageng membangun kanal Pontang-Tanara. Beliau ingin agar adanya akses memadai dari laut sampai daerah terpencil. 

Lagi-lagi ini mega proyek yang diprakarsai oleh Sultan dengan menelan banyak biaya dari kas Kesultanan, disebutkan bahwa proyek ini melibatkan 16.000 pekerja.


Peranan Sultan Ageng Tirtayasa yaitu melakukan pembangunan besar-besaran untuk memakmurkan kehidupan rakyat Banten. Sebenarnya merencanakan mega proyek seperti ini tidaklah mudah karena tidak sedikit biaya yang dibutuhkan, hanya saja Sultan berusaha keras agar bisa terlaksana karena memberikan manfaat besar.

Disebutkan pada 1673, Sultan membeli 12 kincir air khusus dari Batavia. Itu sudah termasuk teknologi canggih kala itu, fungsinya agar pengairan sawah berjalan lebih cepat dan optimal. 

Bahkan pada 1675-1677, Sultan mengadakan sejumlah pembangunan lagi seperti meningkatkan jumlah kanal dan membuat bendungan di beberapa lokasi.

Konon katanya, para lelaki diwajibkan untuk ikut serta pada upaya pengerjaan tersebut. Setelah semua proyek tersebut direalisasikan, beliau lalu mengarahkan perhatiannya untuk mendirikan suatu kota di sepanjang kanal.

Hal yang menarik, Sultan juga memilih opsi pembangunan rumah dengan bahan permanen yang menelan budget besar, untuk tempat tinggal penduduk.

Hanya saja pada 1678, pihak Cirebon memohon sokongan militer dari Banten, alhasil mau tidak mau Sultan harus memberangkatkan banyak serdadu kesana guna membantu pasukan Cirebon.

Hal ini membuat perhatian Sultan teralihkan ke militer, sehingga rencana-rencana pembangunan lainnya tidak memungkinkan untuk terlaksana.

Apalagi disaat bersamaan terjadi konflik di internal Kesultanan Banten, dimana terjadi pemberontakan oleh Pangeran Abu Nasr Abdul Kahar, ini menjadi peluang besar bagi Belanda untuk menginvasi Banten.

Puluhan ribu pekerja laki-laki dialihkan menjadi prajurit Banten. Dampaknya, mega proyek terpaksa tidak bisa dilanjutkan. Walau begitu sebenarnya Sultan telah melakukan pembangunan yang begitu besar bagi Kesultanan Banten.

Kelicikan Belanda

Pangeran Purbaya datang ke ayahnya (Sultan Ageng) memberitahu tindakan Belanda yang memblokade jalur perniagaan laut Banten, yang menyebabkan para pedagang mancanegara tidak bisa masuk pelabuhan.

Dampaknya para pedagang dari banyak negara di dunia memilih menjauh dari Banten, karena terus mendapatkan ancaman dari angkatan laut Belanda.

Sultan menolak mentah-mentah tawaran Belanda yang ingin menguasai perniagaan secara sepihak, karena keinginan Sultan adalah bercita-cita Banten menjadi salah satu pusat perniagaan terbesar di dunia.

Sehingga yang diinginkan Sultan adalah menyambut baik semua kapal dagang dari berbagai belahan dunia. Alhasil karena sultan bersikeras tidak mau tunduk pada Belanda, maka pihak Belanda pun ngambek sebab poin-poin keinginannya (baca: tuntutan) tak dituruti.

Disebabkan sikap bodoh Belanda yang memblokade jalur laut Banten, maka terjadilah konflik dua negara yang bertetangga ini. Konflik menyebabkan banyak kerusakan pada kapal-kapal milik Belanda, dan Sultan berhasil membuka blokade Belanda.

Dari sinilah konflik antar kedua negara bermula, taktik terkenal yang akan dilakukan Belanda adalah adu domba, Belanda sukses mengadu domba dua kakak beradik yaitu Pangeran Abu Nashar Abdulqahar dan Pangeran Purbaya.


Disebutkan bahwa putra mahkota yaitu Pangeran Abu Nashar Abdulqahar merasa tidak suka terhadap adiknya (Pangeran Purbaya) yang berperan besar dalam pemerintahan Banten, yang menurutnya itu adalah haknya saja.

Disisi lain, Sultan prihatin karena Pangeran Abu Nashar Abdulqahar semakin hari semakin dekat pada Belanda, bahkan dia melakukan perjanjian dengan Belanda berupa pajak dagang dinaikkan yang tentu menyengsarakan rakyat.

Perjuangan Sultan Ageng Tirtayasa yaitu:
  1. Berusaha keras untuk memakmurkan rakyatnya di seumur hidupnya.
  2. Berani menentang Belanda yang banyak menyengsarakan rakyat Nusantara.
  3. Berusaha melindungi rakyatnya dari kesewenang-wenangan Belanda, terutama dari pajak tinggi yang ditetapkan Belanda.
  4. Berjuang menjaga kehormatan dan kedaulatan Banten, sehingga beliau selalu menolak tunduk pada Belanda walau diberikan iming-iming tawaran. Bahkan tak takut sekalipun diancam oleh Belanda yang merupakan bangsa Eropa dengan teknologi maju dan senjata militer lebih canggih.
  5. Berusaha mendamaikan perpecahan dan perang saudara di Banten.

Pangeran Purbaya menganggap kakanya (Pangeran Abu Nashar Abdulqahar) telah dipengaruhi Belanda, tapi kakaknya beralasan bahwa maksud kedekatannya dengan kompeni agar Kesultanan bisa menjalin hubungan baik dengan Belanda, sehingga kedua belah pihak hidup damai.

Pangeran Abu Nashar Abdulqahar juga merasa bahwa dirinya berhak bikin keputusan seperti itu, dia mengklaim dirinya sebagai pewaris tahta satu-satunya.

Respon Sultan Ageng Tirtayasa pastinya memandang aneh atas kelakuan anaknya itu, Sultan pun mengingatkan bahwa Belanda sangatlah licik, berbaik hati kalau ada maunya.

Hanya saja Belanda sangat pandai dalam tipu daya, hingga akhirnya membuat Pangeran Abu Nashar Abdulqahar mau berpihak. Jadi si pangeran lebih percaya Belanda daripada nasihat ayahnya. Belanda lalu memengaruhinya untuk mengkudeta ayahnya.

Menghadapi situasi yang pelik, Sultan membangun Keraton baru di Tirtayasa. Sultan tak sudi jika keraton dikuasai Belanda sehingga keraton (yang lama) dimusnahkan dengan cara dibakar.

Terjadilah perang saudara di Banten karena ulah kelicikan Belanda, Sultan tidak menghentikan perjuangan walaupun digempur terus-menerus oleh dua pihak sekaligus.

Lalu Si Penjajah lagi-lagi menjalankan tipu daya, dibuatlah seolah-olah Pangeran Abu Nashar Abdulqahar menyesal dan berkirim surat menyadari kesalahannya dan ingin kembali berpihak ke ayahnya.

Sultan pun datang ke Surosowan, saat pembicaraan berlangsung dengan anaknya, secara tiba-tiba Belanda datang dan mengepung, hingga akhirnya kemudian beliau dibawa ke Batavia.

Maka berakhirlah perjuangan Sultan Ageng sebab pengkhianatan yang dikerjakan puteranya sendiri. Selain itu berbagai tokoh penting dan berpengaruh di Banten juga ditawan Belanda.

Setelah itu Abu Nashar Abdulqahar (Si Pengkhianat) diangkat sebagai Sultan. Hanya saja dia selalu dibawah tekanan Belanda pada setiap keputusannya. Dia tak pernah mendapatkan kebebasan dalam menjalankan pemerintahan di Banten.

Sultan Ageng Tirtayasa Wafat

Perang saudara yang terus-menerus terjadi, menyebabkan kekuatan Banten menyusut karena hanya disibukan dengan urusan internal. Kekuatan militer Banten yang melemah menyebabkan Belanda terus bergerak maju dan menguasai banyak area penting.

Sultan Ageng Tirtayasa ditangkap pada 1683 lalu diasingkan ke Batavia. Beliau ditahan di Batavia, hingga ajal menjemputnya pada 1692.




Baca Juga: