10 Cara Menghukum Anak yang Mendidik (Agar Mau Memperbaiki Kesalahannya)

Anak-Anak
Anak-Anak. Photo credit: istockphoto.com|gpointstudio

Orangtua perlu bersikap tegas, yaitu memberikan konsekuensi saat anak melakukan hal buruk. Sayangnya ada banyak kesalahan yang dilakukan orangtua dalam menghukum anak, sehingga proses pendisiplinan yang dilakukan malah kontra produktif.

Apalagi seringkali orangtua mencoba mendisiplinkan anak dalam keadaan emosi. Meskipun perilaku anak membuat jengkel, hindari menghukum mereka dengan amarah.

Cara Menghukum Anak yang Mendidik


1. Hindari Kekerasan

Tindakan berteriak, membentak, memaki bahkan memukul anak atas kesalahannya, justru membuat keadaan semakin parah. Tindakan seperti itu tidak akan bisa membuat anak sadar atas kesalahannya. Yang ada, justru kelakuan buruk anak semakin menjadi-jadi.

2. Orangtua Harus Kuasai Emosi

Saat orangtua geram karena kelakuan anak, maka langkah awal yaitu orangtua perlu menguasai diri sendiri dulu, hindari bertindak dan berucap dikala kemarahan memuncak.

Setelah emosi stabil (mereda) barulah mulai mengobrol bersama anak tentang kesalahannya. Anak bakal mau mendengarkan jika orangtua melakukan interaksi (komunikasi) secara rileks. Adapun memarahi dan berteriak pada anak, enggak bakal membuatnya sadar atas kesalahannya.

Hindari hukuman fisik karena itu bukan cara yang efektif, orangtua perlu mencari bentuk hukuman yang mendidik. Ingat, orangtua berperan sebagai pendidik dan pengasuh anak, bukan sebagai ‘algojo’ bagi anak. 


3. Konsisten

Cara menghukum anak yang benar yaitu pastikan orangtua harus bisa konsisten sebelumnya. Banyak orangtua tak konsisten saat menanggapi kesalahan anak. Kenakalan anak yang sama tapi ditanggapi berbeda dari waktu ke waktu.

Terkadang orangtua memberikan konsekuensi, terkadang tidak, dan terkadang memberikan hukuman yang tidak wajar (terlalu berat).

Kejadian seperti ini tentu menimbulkan kebingungan pada anak, ketidak-konsistenan yang orangtua lakukan menyebabkan wibawa orangtua jatuh di mata anak.

Misalnya, suatu waktu anak berbicara kotor, tapi orangtua hanya tertawa. Tapi di waktu lain, kata yang sama keluar dari mulutnya lalu orangtua menghukumnya. Keanehan respon orangtua ini bakal bikin anak heran tentang mana yang boleh dan tidak boleh.

Orangtua harus konsisten dan bersikap tegas, lalu bangun komunikasi yang jelas antara orangtua dan anak. Sikap konsisten orangtua sangat penting supaya anak memahami serta mampu membedakan perilaku yang baik dan buruk.

4. Bentuk Hukuman yang Berhubungan

Anak bakal lebih memahami apabila hukuman sesuai dengan kesalahannya. Contohnya: anak mengotori lantai, maka hukumannya yaitu anak wajib membersihkan lantai yang dikotorinya.

Bukannya malah memarahi dan memaki anak karena yang ada nantinya anak jadi sakit hati dan membenci orangtuanya sendiri.

Contoh lainnya: anak nilainya jelek karena malas belajar dan sering main game, maka hukumannya yaitu anak tidak boleh main smartphone.

Bentuk hukuman hendaknya berkolerasi pada kesalahan anak, dengan begitu anak akan belajar tentang akibat dan konsekuensi dari perbuatannya sendiri.

5. Hukuman Harus Fair

Hukuman wajar dan adil yaitu ditimbang dari kekeliruan yang diperbuat. Jika anak hanya melakukan kesalahan kecil maka hukuman ringan, adapun hukuman berat hanya diberlakukan apabila kesalahan anak begitu parah. Bentuk hukuman juga harus diselaraskan pada umur anak. 

6. Apresiasi

Setelah anak berhasil menyelesaikan hukumannya secara mulus, pastikan memuji anak karena telah mau bertanggung jawab. Pujian yang diberikan oleh orangtuanya, menjadikan anak nantinya lapang dada dalam menerima konsekuensi, serta mau introspeksi diri atas kekeliruannya dan tak lagi mengulangi.


7. Kompak

Ayah dan ibu harus kompak. Penting bagi ayah dan ibu kompak dalam mendidik anak. Bila memang Anda tidak sepakat dengan pasangan, hindari berdebat di depan anak. Bicarakanlah secara tersembuyi tentang rasa tidak setuju Anda terhadap pasangan, jangan sampai terlihat anak-anak.

Penting bagi ayah dan ibu bisa bersepakat tentang bentuk pola asuh anak. Jika ayah dan ibu tidak kompak, hal itu dapat meruntuhkan rasa kepercayaan anak terhadap kedua orangtuanya.

8. Dialog dengan Anak

Sekedar menegur, memarahi atau menceramahi anak tidak akan membuat anak memperbaiki diri, anak sekedar mendengar tapi enggak akan mau memahami dan merenungkannya.

Pendekatan cerdas yaitu melakukan dialog dua arah bersama anak, guna mencari akar masalah (penyebab) dari sikap atau kelakuan buruk anak. Selain itu berikan anak kesempatan yang luas buat berbicara.

Mengadakan obrolan semacam ini sangat penting supaya orangtua bisa memahami kondisi anak secara akurat. Dengan memahami kondisi anak, sehingga akan sangat mempermudah orangtua guna mencari solusi dari problematika anak.

Acapkali anak mengerjakan sesuatu yang tak dipahaminya, anak tak memahami apa yang diperbuatnya itu benar atau salah. Sehingga jangan memvonis anak dengan sebutan 'bandel', 'nakal' dll.

9. Hindari Membandingkan Anak

Saat menghukum anak, hindari mengatakan hal-hal yang gak perlu, termasuk membanding-bandingkan anak dengan orang lain. Anak sangat benci dan sakit hati apabila dibanding-bandingkan.

Akibat orangtua suka membandingkan anak, menyebabkan anak merasa bahwa keberadaannya tak diinginkan orangtuanya, bahkan anak bakal berpikir orangtuanya tak menerima dirinya apa adanya.

Ucapan semisal “Teman kamu bisa, mengapa kamu enggak”. Contoh ucapan seperti ini mustahil bikin anak tergugah, malah memunculkan penolakan dan kebencian di hati anak.


10. Hal Lainnya

Anak punya energi tak terbatas (sangat tinggi) menyebabkan anak rentan melakukan hal apapun yang membuatnya penasaran, akibatnya seringkali anak melakukan hal negatif (buruk) yang tidak disadarinya.

Oleh karena itu, Anda hendaknya mencari cara agar bisa menyalurkan energi berlebih anak, diantaranya:
  1. Sediakan waktu permainan fisik dan bercengkrama bareng anak di halaman rumah. Lebih bagus lagi apabila dekat tempat tinggal Anda punya fasilitas taman bermain buat anak (seperti perosotan dll), itu bagus sekali supaya energinya dikeluarkan secara sehat.
  2. Mengajak anak bersepeda di sekitar. Tatkala akhir pekan hendaknya mengajak anak bersepeda di car free day atau lainnya yang menyenangkan dan mungkin ramai.
  3. Mengajak anak main sepatu roda, layangan dan lainnya.
  4. Mendaftarkan anak ke klub olahraga. Cari tahu yang disukainya, misalnya berenang, basket, bela diri dll.

Hindari pemberian hukuman yang berlebihan atau tidak wajar yang bisa mengakibatkan trauma pada jiwa anak.

Contoh Kesalahan dalam Menghukum Anak

  1. Menempatkan anak di area gelap maupun tertutup.
  2. Melakukan tindakan kasar yakni menampar, menendang dll.
  3. Mengomeli anak di tempat umum, ini akan bikin dia malu dan bisa memicu kehilangan harga diri.
  4. Dilarang makan. Ini bisa membahayakan proses tumbuh-kembang anak.
  5. Menghina dan membanding-bandingkan anak. Ini mengakibatkan masalah serius pada psikis anak, misalnya anak bakal merasa dirinya sebagai seorang pecundang, yang perasaan ini akan terus terbawa hingga dewasa.
  6. Menghukum dengan membebankan tugas rumah secara tak wajar, tanpa mempertimbangkan kemampuan anak.
  7. Hukuman berupa anak dipaksa belajar terus-menerus dengan durasi tak wajar. Ini justru mengakibatkan perasaan trauma dalam diri anak terhadap aktivitas belajar.
  8. Membuang mainan anak. Anak bakal sakit hati dan dendam karena mainannya dibuang.
  9. Mengusir anak dari rumah.
  10. Tidak diperbolehkan masuk rumah hingga berjam-jam.




Baca Juga: