Cara Menghukum Anak yang Mendidik dan Agar Mau Memperbaiki Kesalahannya

Orangtua perlu bersikap tegas, yaitu memberikan hukuman atau konsekuensi saat anak melakukan hal buruk. Sayangnya ada banyak kesalahan yang dilakukan orangtua dalam menghukum anak, sehingga proses pendisiplinan yang dilakukan malah berdampak buruk, apalagi seringkali orangtua mencoba mendisiplinkan anak dalam keadaan emosi.

Meskipun perilaku anak membuat jengkel, hindari menghukum mereka dengan amarah. Tindakan berteriak, membentak, memaki bahkan memukul anak atas kesalahannya, justru membuat keadaan semakin parah. Tindakan seperti itu tidak akan bisa membuat anak sadar atas kesalahannya, yang ada justru kelakuan buruk anak semakin menjadi-jadi. Kondisi emosi membuat orangtua langsung menghukum anak tanpa pikir panjang.

Anak-Anak
Anak-Anak. Photo credit: istockphoto.com|gpointstudio

Saat Anda emosi karena kelakuan anak, maka langkah pertama yang harus dilakukan yaitu Anda menenangkan diri terlebih dahulu, hindari berbicara saat emosi memuncak. Setelah emosi stabil (mereda) barulah mulai berbicara pada anak tentang kesalahannya. Anak lebih bisa memahami jika Anda melakukan pendekatan dengan tenang, adapun berteriak pada anak maka tidak akan bisa membuatnya sadar atas kesalahannya.

Hindari hukuman fisik karena itu bukan cara yang efektif, orangtua perlu mencari bentuk hukuman yang mendidik. Ingat, orangtua berperan sebagai pendidik dan pengasuh anak, bukan sebagai ‘algojo’ bagi anak. 


Orangtua Harus Bisa Konsisten. Banyak orangtua yang tidak bisa konsisten dalam menanggapi kesalahan anak. Kenakalan anak yang sama tapi ditanggapi berbeda dari waktu ke waktu, terkadang orangtua memberikan konsekuensi, terkadang tidak, dan terkadang memberikan hukuman yang tidak wajar (terlalu berat). Kejadian seperti ini tentu menimbulkan kebingungan pada anak, ketidak-konsistenan yang orangtua lakukan menyebabkan wibawa orangtua jatuh di mata anak.

Misalnya, suatu waktu anak berbicara kotor, tapi orangtua hanya tertawa. Tapi di waktu lain, kata yang sama keluar dari mulutnya lalu orangtua menghukumnya. Hal ini membuat anak kebingungan tentang mana yang boleh dan tidak boleh. Orangtua harus konsisten dan bersikap tegas, perlu pemahaman dan komunikasi yang jelas antara orangtua dan anak. Sikap konsisten orangtua sangat penting agar anak memahami dan bisa membedakan perilaku yang baik dan buruk.

Berikan Hukuman yang Berhubungan. Anak bakal lebih memahami jika hukuman yang diberikan sesuai dengan kesalahannya. Contohnya: anak mengotori lantai, maka hukuman yang diberikan yaitu anak harus membersihkan lantai yang dikotorinya, bukannya malah memarahi dan memaki anak karena yang ada nantinya anak jadi sakit hati dan membenci orangtuanya sendiri.

Contoh lainnya: anak nilainya jelek karena malas belajar dan sering main game, maka hukumannya yaitu anak tidak boleh main smartphone. Bentuk hukuman yang diberikan hendaknya berkolerasi dengan kesalahan anak, dengan begitu anak akan belajar tentang akibat dan konsekuensi dari perbuatannya sendiri.

Berikan hukuman yang proporsional, yaitu sesuai dengan kesalahan yang diperbuat. Hukuman ringan untuk kesalahan kecil, adapun hukuman yang berat jika memang anak melakukan kesalahan yang fatal. Sesuaikan juga hukuman dengan usia anak. 

Jika anak telah menjalani hukuman atau konsekuensi dengan baik, berikan apresiasi padanya. Penghargaan dan pujian yang diberikan oleh orangtuanya, membuat anak nantinya bisa lapang dada saat menerima konsekuensi serta mau memahami kesalahannya dan tidak lagi mengulanginya.


Ayah dan Ibu Harus Kompak. Penting bagi ayah dan ibu kompak dalam mendidik anak. Bila memang Anda tidak sepakat dengan pasangan, hindari berdebat di depan anak. Bicarakanlah secara tersembuyi tentang rasa tidak setuju Anda terhadap pasangan, jangan sampai terlihat anak-anak. Penting bagi ayah dan ibu bisa bersepakat tentang bentuk pola asuh anak. Jika ayah dan ibu tidak kompak, hal itu dapat meruntuhkan rasa kepercayaan anak terhadap kedua orangtuanya.

Dialog dengan Anak. Sekedar menegur, memarahi atau menceramahi anak tidak akan membuat anak memperbaiki diri, anak sekedar mendengar tapi tidak akan mau memahami dan merenungkannya. Pendekatan yang lebih baik yaitu melakukan dialog dua arah dengan anak, untuk mencari akar masalah (penyebab) dari sikap atau kelakuan buruk anak. Selain itu berikan anak kesempatan yang luas untuk berbicara. Mengadakan obrolan seperti ini sangat penting agar orangtua bisa memahami kondisi anak secara akurat. Dengan memahami kondisi anak, sehingga akan sangat mempermudah orangtua dalam mencari solusi dari problematika anak.

Seringkali anak melakukan hal-hal yang tidak dipahaminya, anak tidak memahami apa yang diperbuatnya itu benar atau salah. Sehingga hindari memvonis anak dengan sebutan “bandel”, “nakal” dan semacamnya.

Hindari Membandingkan Anak. Saat menghukum anak, hindari mengatakan hal-hal yang tidak perlu, termasuk membanding-bandingkan anak dengan orang lain. Anak sangat tidak suka jika dirinya dibanding-bandingkan dengan orang lain. Akibat orangtua suka membandingkan anak, menyebabkan anak merasa bahwa keberadaannya tidak diinginkan orantuanya, bahkan anak menganggap orangtuanya tidak bisa menerima dirinya apa adanya.

Ucapan semisal “Teman kamu rajin, mengapa kamu malas,” atau “Teman kamu bisa, mengapa kamu tidak bisa”. Bentuk ucapan seperti ini tidak akan membuat anak tergugah, justru memunculkan penolakan dan kebencian di dalam hati anak terhadap orangtuanya.


Hal Lainnya

Anak-anak biasanya memiliki energi yang tinggi, menyebabkan anak rentan melakukan hal apapun yang membuatnya penasaran, akibatnya seringkali anak melakukan hal-hal negatif (buruk) yang tidak disadarinya. Oleh karena itu, orangtua perlu mencari cara agar bisa menyalurkan energi berlebih anak, diantaranya:
  1. Mengajak anak bermain dan bercanda bersama di halaman rumah. Lebih bagus lagi jika di komplek perumahan terdapat taman yang dilengkapi area bermain untuk anak, itu bagus sekali untuk menyalurkan energi anak.
  2. Mengajak anak bersepeda bersama keliling komplek di pagi atau sore hari. Saat libur akhir pekan bisa mengajak anak bersepeda di tempat yang lebih seru seperti area car free day dan lainnya.
  3. Mengajak anak bermain sepatu roda, melempar bola, menerbangkan layangan dan aktivitas fisik lainnya.
  4. Mendaftarkan anak ke dalam klub olahraga. Tanyakan kepada anak apa yang disukainya, misalnya berenang, sepak bola, basket, bulutangkis taekwondo, karate dll.
  5. Melakukan permainan yang mengasah otak sehingga memancing kreativitas anak dan melatih ketangkasan berpikirnya. Diantaranya yaitu bermain puzzle, scrabble, lego, menyusun balok dll.

Hindari jenis hukuman yang dapat menimbulkan trauma pada masa perkembangan anak, diantaranya:
  1. Mengurung anak di dalam ruangan gelap atau tertutup.
  2. Menggunakan kekerasan fisik seperti memukul, menjewer atau menggunakan benda tertentu.
  3. Memarahi anak didepan teman-temannya, hal ini akan membuat anak merasa malu dan menimbulkan rasa rendah diri.
  4. Menghukum dengan tidak memberikan makan. Hal ini dapat membahayakan proses tumbuh-kembang anak.
  5. Menghukum dengan memaki dan membanding-bandingkan anak. Hal ini dapat menimbulkan rasa tidak percaya diri pada anak dan persepsi bahwa ia merasa dirinya sebagai seorang pecundang. Ingatlah setiap anak adalah unik.
  6. Menghukum dengan pekerjaan rumah yang berlebihan, yang tidak sesuai dengan kemampuan anak.
  7. Menghukum anak dengan harus belajar berjam-jam tanpa henti. Hal ini justru menimbulkan perasaan trauma dalam diri anak terhadap aktivitas belajar.
  8. Menghukum dengan cara membuang mainan-mainan anak. Anak akan merasa sakit hati dan dendam karena mainannya dibuang.
  9. Menghukum anak dengan tidak memperbolehkan masuk ke dalam rumah selama berjam-jam.




Tulisan Terkait: