Ciri-Ciri Anak Manja dan Cara Mengatasinya

Kesalahan banyak orangtua yaitu membuat anak ‘terbuai’ dengan sifat manja. Menyayangi dan membuat anak senang memang wajib, tapi jika berlebihan maka akan terbentuk sifat manja, lemah, malas dan tidak mandiri dalam diri anak.

Anak-anak yang terlalu dimanja akan mengalami hambatan perkembangan, sehingga potensi di dalam dirinya akan hilang atau berkurang.

Ciri-Ciri Anak Manja
Photo credit: stock.adobe.com|STUDIO GRAND WEB

Anak manja berpikir bahwa apa yang dimintanya harus dipenuhi. Sifat manja anak bisa sangat merepotkan orangtua, dia seringkali berteriak kencang untuk memaksa orangtuanya.

Ciri-Ciri Anak Manja


1. Terlalu Mengandalkan Pihak Lain

Dengan usia yang semakin besar, umumnya anak akan mulai berusaha memperlihatkan keterampilan untuk mengerjakan beberapa kegiatan sendiri saja (tanpa bantuan). Tanda-tanda anak manja yaitu terlalu sering mengandalkan pihak lain. 

Semakin bertambahnya usia, seharusnya anak mulai belajar untuk bisa mandiri dan mengurangi ketergantungan ke pihak lain, tapi jika tidak ada perkembangan pada kemandiriannya, maka ini bisa membentuk sifat manja. 

Misalnya, seharusnya anak mulai mencoba untuk makan sendiri, tapi si Anak keras kepala dan maunya terus disuapi.

2. Egois

Ciri-ciri anak manja yaitu punya sifat egois. Dimana dia tidak peka dengan lingkungan sosial, bahkan tidak peduli dengan perasaan orang lain. Hal itu karena anak manja hanya memikirkan diri sendiri, bahkan merasa bahwa dirinya adalah orang yang spesial dan harus dilayani.

Kalau sudah begitu, wajar saja jika anak manja bakal punya sifat egois dan maunya menang sendiri, apalagi selama ini permintaan-nya selalu dituruti oleh Ayah dan Bunda maka semakin membentuk sifat egoisnya.

Dengan sifat buruknya itu, wajar juga bahwa dia pasti gampang mengeluh dan mengamuk saat keinginannya tidak dipenuhi. Pola pikir anak manja yaitu perasaannya harus selalu disenangkan dan keinginannya harus selalu dipenuhi, sehingga boro-boro dia mau peduli pada orang lain.


3. Selalu Menolak Tugas Rumah

Saat anak sudah semakin besar maka seharusnya mulai dapat membantu orangtuanya, dengan melakukan beberapa tugas rumah yang sederhana. Jika anak selalu saja menolak saat diminta melakukan tugas rumah, itu bisa menjadi ciri-ciri anak manja.

Apalagi anak menolak untuk merapihkan mainannya sendiri. Maka ini adalah sinyal bahaya bahwa dia bisa saja tumbuh menjadi anak manja.

4. Mencari Perhatian Secara Berlebihan

Hal yang wajar jika anak butuh perhatian dari orangtuanya. Hanya saja anak manja seringkali mencari perhatian secara tidak benar, serta juga selalu ingin diperhatikan dan diutamakan. Dia mungkin akan melakukan beberapa hal buruk agar diperhatikan orangtuanya.

Bahkan dia mungkin akan berteriak di tempat umum sehingga mengganggu banyak orang, alhasil membuat malu orangtuanya dan digunakan sebagai senjata untuk memaksa. Sifat buruk anak ini jika tidak diluruskan akan membentuk sifat manja.

5. Berperilaku Negatif Saat Kemauannya Tidak Terpenuhi

Tanda-tanda anak manja yaitu berperilaku negatif saat permintaannya tidak dipenuhi. Sebenarnya masih normal-normal saja jika anak tampak kesal karena kemauannya tidak dituruti, tapi anak manja biasanya merespon dengan berlebihan dan penuh drama.

Misalnya mengamuk-ngamuk, atau sengaja berteriak saat berada di tempat umum agar orangtuanya malu. Sifat seperti itu jelas buruk, apalagi jika anak sering mengamuk dan sifat buruknya tersebut tidak surut saat usianya semakin bertambah.

Itu menandakan ada permasalahan pada kejiwaan atau perkembangan karakter anak, biasanya anak seperti ini punya sifat manja yang berlebihan serta suka memaksa orangtuanya.

6. Selalu Ingin Lebih

Ciri-ciri anak manja yaitu selalu ingin lebih. Anak manja biasanya punya banyak mainan dan barang-barang lainnya, namun dia selalu merasa kurang dengan apa yang dimilikinya, sehingga terus meminta dan menuntut pada orangtuanya.

Disebabkan sifat buruknya ini, anak manja biasanya kurang menghargai pemberian orang lain, serta tidak bersyukur dengan apa yang telah dipunyai, bahkan anak manja condong kepada sifat rakus.

Anak manja biasanya tidak berlapang dada dengan segala yang telah dimilikinya. Maka, ketika dia mendapatkan sesuatu sehingga seharusnya berterima kasih dan bersyukur, justru yang dipikirkan-nya yaitu ingin memperoleh hal baru lainnya.


7. Tidak Bisa Bersabar

Jika anak Anda termasuk orang yang tidak sabaran maka itu menjadi tanda-tanda anak manja. Dimana saat dia menghendaki atau meminta suatu hal, harus dikabulkan ketika waktu itu pula.

Sekalipun Anda telah memberikan garansi akan memenuhi permintaannya nanti, tapi si Anak manja tetap tidak sabaran dan ingin direalisasikan sekarang juga. Contoh lainnya yaitu anak tidak sabaran saat menunggu mengantri.

Sifat tidak sabaran ini menandakan jiwa anak yang lemah. Jiwa yang lemah sangat berkaitan dengan sifat manja.

8. Tidak Paham Tentang Pentingnya Sopan Santun

Ciri-ciri anak manja biasanya kurang sopan santun. Anak manja cenderung punya sifat egois dan mau menang sendiri, pola pikirnya yaitu merasa berhak untuk memperoleh segala yang dimauinya.

Sifat negatif seperti itu akan terus berkembang, lama-kelamaan dampaknya yaitu si Anak tidak peduli pada pentingnya sopan santun. Bahkan tidak mau untuk sekedar mengucapkan kata-kata sederhana seperti “tolong“, “terima kasih“ dan “maaf“.

Salah satu kesalahan pola pikir anak manja yaitu merasa dirinya paling penting, alhasil dia tidak peduli pada aturan sosial di lingkungan, termasuk tidak peduli untuk menjaga adab di lingkungan sosial.

9. Sering Mengamuk

Tanda-tanda anak manja yaitu terlalu sering mengamuk. Sebenarnya anak kecil mengamuk masih normal-normal saja, namanya anak kecil masih belum mampu menghadapi suasana hatinya yang gampang berubah.

Hanya saja, jangan sampai kebiasaan mengamuk dijadikan senjata oleh anak agar kemauannya dituruti. Apalagi jika anak sudah memasuki usia 6 tahun, maka kebiasaan cengeng dan mengamuk harus dikurangi.


Cara Mendidik Anak Manja Menjadi Mandiri


1. Jangan Selalu Mengabulkan Kemauan Anak

Orangtua perlu menyadari bahwa ada batasan dalam menyenangkan anak. Sebagian orangtua karena tidak mau ribet, lebih memilih memenuhi semua kemauan anak, bahkan keinginan anak yang aneh-aneh pun dituruti, hal seperti ini akan berakibat buruk pada mental anak dan proses tumbuh-kembangnya.

Contoh lainnya, sebagian orangtua karena merasa kurang perhatian pada anak (atau kurang waktu untuk anak karena terlalu sibuk bekerja dll) sehingga selalu mengabulkan keinginan anak, sekalipun itu permintaan yang aneh-aneh. Padahal justru ini merupakan bentuk pola asuh yang buruk.

Cara mendidik anak manja yaitu jangan selalu mengabulkan kemauannya. Selalu menuruti kemauan anak nantinya membentuk sifat materialistis, serta rasa tidak menghargai di dalam diri anak.

Selain itu menimbulkan sifat manja dan anak akan kesulitan membedakan mana hal yang dibutuhkan dan diinginkan (sifat ini akan terus terbawa hingga dewasa).

Jangan selalu menuruti keinginan anak, apalagi biasanya anak punya keinginan yang aneh-aneh, tapi ini bukan berarti orangtua bersikap keras dan perhitungan kepada anak. Anak-anak harus disayang dan diberikan perhatian, namun orangtua juga harus bisa tegas dalam mendidik anak.

Memang tidak mudah menolak permintaan anak, tapi sangat penting menghadapi anak dengan hati yang teguh, demi membentuk pribadi anak yang positif di masa depan. Jelaskan pada anak dengan baik, pelan-pelan dan menggunakan kata-kata yang mudah ditangkap olehnya, hingga akhirnya anak paham bahwasanya tidak semua permintaan bisa dipenuhi.

Awalnya anak mungkin akan kaget, tapi dengan begitu anak akan mulai belajar cara mengendalikan emosinya dan mulai memahami bahwa tidak semua kemauannya bisa dipenuhi, lama-kelamaan anak akan beradaptasi dengan kondisi ini.


2. Ajarkan Anak Bersyukur dan Kenalkan Dengan Aturan

Cara mengatasi anak manja yaitu ajarkan anak bersyukur dan kenalkan anak dengan aturan. Ajarkan anak bersyukur atas apa-apa yang dimilikinya, tentunya disini orangtua harus memberikan teladan yang baik dan mencontohkan kepada anak.

Menerapkan aturan secara tidak tegas, tidak jelas, terlalu longgar, hingga membiarkan anak melakukan hal seenaknya tanpa adanya konsekuensi, akan berdampak negatif pada anak dan membuatnya jadi manja, selain itu anak bakal sulit mengikuti peraturan.

Ini bisa menjadi masalah serius bagi anak karena sifat manjanya membuat ia kesulitan untuk mengikuti norma dan peraturan yang berlaku di masyarakat.

Orangtua harus bisa bersikap tegas pada anak, kenalkan aturan pada anak. Namun sikap tegas bukan berarti kasar, hindari mendidik anak dengan teriakan dan pukulan, juga kenalkan anak dengan disiplin.

3. Terlibat dalam Urusan Anak Jika Diperlukan Saja

Cara mendidik anak manja yaitu terlibat dalam urusan anak jika diperlukan saja. Orangtua harus bisa mengidentifikasi mana kegiatan anak yang perlu dibantu, dan mana yang orangtua tidak perlu ikut terlibat karena anak bisa melakukannya sendiri.

Kesalahan banyak orangtua (karena saking sayangnya pada anak) selalu membantu dan ikut campur dalam kegiatan anak padahal anak bisa melakukannya sendiri, akibatnya ini bisa memicu sifat manja dalam diri anak.

Saat anak selalu dibantu dan dilayani oleh orangtuanya sehingga anak sering merasa santai. Hal ini bisa membuatnya jadi manja, apalagi jika anak tidak pernah berjuang dan berusaha dalam hidupnya.


4. Berikan Anak Tugas di Rumah

Cara mengatasi anak manja yaitu berikan anak tugas di rumah. Salah satu bentuk KASIH SAYANG orangtua adalah memberikan anak tanggung jawab atau tugas-tugas di rumah seperti menyapu, mengelap kaca, merapihkan kamar tidur menyuci piring atau lainnya.

Hal ini sangat bagus dan bermanfaat untuk proses tumbuh-kembangnya, saat anak berhasil menyelesaikan sebuah pekerjaan rumah maka ia akan mendapatkan kepuasan batin sendiri, yang nantinya dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian.

Anak menjadi manja biasanya karena tidak pernah dikenalkan tugas rumah, ajaklah anak melakukan kegiatan bersih-bersih rumah bersama, semua anggota keluarga memiliki tugas masing-masing. Motivasi anak agar mau mengerjakan tugas-tugas di rumah, setidaknya merapikan tempat tidurnya sendiri.

5. Konsisten dengan Apa yang Diucapkan

Cara mendidik anak manja yaitu konsisten. Anak bisa menjadi manja disebabkan orangtua yang tidak konsisten dalam perkataannya, contohnya saat orangtua bilang tidak, lalu anak merengek dan memaksa orangtuanya untuk memenuhi keinginannya, maka orangtua pun akhirnya menuruti kemauan si Anak.

Jika hal ini sering terjadi, anak bakal menjadikan tindakan merengek dan mengamuk sebagai senjata ampuh agar kemauannya dituruti, sehingga anak bakal punya sifat manja dan suka memaksa orangtuanya.

Orangtua harus bisa konsisten dalam perkataannya, ini penting agar anak tidak menjadi orang yang berkarakter negatif. Saat Anda tidak menuruti kemauan anak, ia mungkin menangis dan kesal. Anda tentu tidak tega melihat anak sedih, tapi bukan berarti Anda berubah sikap dan menuruti kemauan anak yang aneh-aneh.

Lebih baik berikan penjelasan sehingga membantu anak mengurangi kesedihannya, beritahu alasan mengapa Anda menolak menuruti kemauannya. Hindari menolak permintaan anak tanpa penjelasan apa pun. Intinya, komunikasi dua arah sangat penting untuk memberi pengertian kepada anak.

Saat anak merengek meminta sesuatu yang aneh-aneh maka jangan dipenuhi, bicaralah dengan lembut padanya dan sampaikan kenapa permintaannya tidak dipenuhi. Rasa sayang adalah ketika orangtua bisa bersikap tegas dan adil pada anak, karena sangat penting agar anak tumbuh dan berkembang dengan kepribadian positif.

Para ahli menjelaskan bahwa mengajarkan dan mengenalkan anak rasa tanggung jawab dan kemandirian adalah solusi agar anak tidak berperilaku manja. Anak sejak usia 3 tahun sebenarnya sudah bisa dilatih mandiri.

Anda perlu kompak mengajak bicara orang-orang di lingkungan anak seperti kakek, nenek, pengasuh dll. Tujuannya agar terjadi persamaan perlakuan terhadap anak, sehingga harapan orangtua agar anak mandiri bisa tercapai. Bersabarlah dalam memperbaiki sifat manja anak karena segala sesuatu butuh proses.

Apresiasi anak ketika berhasil melakukan hal yang positif, berikan pujian (dan sesekali hadiah) sehingga membuat anak merasa bangga dengan dirinya, ia akan semakin percaya diri dan termotivasi untuk melakukan hal-hal positif.




Baca Juga:

Tidak ada komentar: