Tips Mendidik Anak Manja dan Cara Mengatasinya Supaya Mandiri


Kesalahan banyak orangtua yaitu membuat anak ‘terbuai’ dengan sifat manja. Menyayangi dan membuat senang anak memang harus, tapi jika berlebihan maka lama-kelamaan akan terbentuk sifat manja, lemah, malas dan tidak mandiri dalam diri anak. Anak-anak yang terlalu dimanja akan mengalami hambatan perkembangan, sehingga potensi di dalam dirinya hilang.

Jangan Selalu Menuruti Kemauan Anak. Orangtua perlu menyadari bahwa ada batasan dalam menyenangkan anak. Sebagian orangtua karena tidak mau repot, lebih memilih menuruti semua kemauan anak, bahkan keinginan anak yang aneh-aneh pun dituruti, hal seperti ini akan berdampak buruk pada mental anak dan proses tumbuh-kembangnya.

Anak Lelaki
Photo credit: ko.depositphotos.com|PedroPlayaPic

Contoh lainnya, sebagian orangtua karena merasa bersalah kepada anak (misalnya karena terlalu sibuk bekerja) sehingga selalu menuruti permintaan anak yang aneh-aneh, padahal justru ini merupakan bentuk pola asuh yang buruk. Selalu menuruti kemauan anak nantinya membentuk sifat materialistis dan tidak menghargai di dalam diri anak, menimbulkan sifat manja, serta anak akan kesulitan membedakan mana hal yang dibutuhkan dan diinginkan (sifat ini akan terus terbawa hingga dewasa).

Jangan selalu menuruti keinginan anak, apalagi biasanya anak punya keinginan yang aneh-aneh, tapi ini bukan berarti orangtua bersikap keras dan perhitungan kepada anak. Anak-anak harus disayang dan diberikan perhatian, namun orangtua juga harus bisa tegas dalam mendidik anak.

Meski kadang sulit menolak keinginan anak, namun orangtua harus berhati teguh demi membangun karakter anak di masa depan. Jelaskan pada anak dengan baik, pelan-pelan dan bahasa yang mudah dimengerti bahwa tidak semua keinginan bisa dipenuhi. Awalnya anak mungkin akan kaget dan emosi, tapi dengan begitu anak akan mulai belajar cara mengendalikan emosinya dan mulai memahami bahwa tidak semua kemauannya bisa dipenuhi, lama-kelamaan anak akan terbiasa dengan kondisi ini. Selain itu ajarkan anak bersyukur atas semua hal yang dimilikinya, tentunya disini orangtua harus memberikan teladan yang baik dan mencontohkan kepada anak.

Menerapkan aturan secara tidak tegas, tidak jelas, terlalu longgar, hingga membebaskan anak melakukan hal yang diinginkan tanpa adanya konsekuensi, hal ini akan berdampak negatif pada anak dan membuat anak menjadi manja, selain itu anak juga bakal sulit mengikuti peraturan. Ini bisa menjadi masalah serius bagi anak karena sifat manjanya membuat ia kesulitan untuk mengikuti peraturan yang berlaku di masyarakat.

Orangtua harus bisa bersikap tegas pada anak, kenalkan aturan pada anak. Namun sikap tegas bukan berati kasar, hindari mendidik anak dengan teriakan dan pukulan, juga kenalkan anak dengan disiplin. Buatlah anak berusaha, misalnya anak boleh mendapatkan hadiah jika berhasil melakukan hal yang positif, seperti memperoleh nilai bagus saat ujian, menyelesaikan tugas rumah, dll.

Terlibat dalam Urusan Anak Jika Diperlukan Saja. Orangtua harus bisa mengidentifikasi mana kegiatan anak yang perlu dibantu, dan mana yang orangtua tidak perlu ikut terlibat karena anak bisa melakukannya sendiri. Kesalahan banyak orangtua (karena saking sayangnya pada anak) selalu membantu dan ikut campur dalam kegiatan anak padahal anak bisa melakukannya sendiri, akibatnya hal ini bisa memicu sifat manja dalam diri anak.

Saat anak selalu dibantu dan dilayani oleh orangtuanya sehingga anak sering merasa santai. Hal ini bisa membuatnya menjadi anak manja, apalagi jika anak tidak pernah berjuang dan berusaha dalam hidupnya.

Berikan Anak Tugas di Rumah. Salah satu bentuk kasih sayang orangtua adalah memberikan anak tanggung jawab atau tugas-tugas di rumah seperti menyapu, mengelap kaca, merapihkan kamar tidur menyuci piring atau lainnya. Hal ini sangat bagus dan bermanfaat untuk proses tumbuh-kembangnya, saat anak berhasil menyelesaikan sebuah pekerjaan rumah maka ia akan mendapatkan kepuasan batin sendiri, yang nantinya dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian.

Anak menjadi manja biasanya karena tidak pernah dikenalkan tugas rumah, ajaklah anak melakukan kegiatan bersih-bersih rumah bersama, semua anggota keluarga memiliki tugas masing-masing, nantinya kegiatan ini akan membangun kedekatan dan ikatan kebersamaan dalam keluarga. Jangan sampai anak memandang pekerjaan rumah sebagai beban atau momok menakutkan.

Sekalipun di rumah ada asisten rumah tangga, bukan berarti anak tidak melakukan apa-apa, motivasi anak agar mau dan terbiasa untuk mengerjakan tugas-tugas di rumah, setidaknya anak harus merapikan tempat tidurnya sendiri.

Konsisten dengan Apa yang Diucapkan. Anak bisa menjadi manja disebabkan oleh orangtua yang tidak konsisten dalam perkataannya, contohnya saat orangtua bilang tidak, lalu anak merengek dan memaksa orangtuanya untuk memenuhi keinginannya, maka orangtua pun akhirnya menuruti kemauan si Anak. Jika hal ini sering terjadi, anak bakal menjadikan tindakan merengek dan mengamuk sebagai senjata agar kemauannya dituruti, sehingga anak bakal punya sifat manja dan suka memaksa orangtuanya.

Orangtua harus bisa konsisten dalam perkataannya, ini penting agar anak tidak menjadi orang yang berkarakter negatif. Saat Anda tidak memuruti kemauan anak, ia mungkin menangis dan kesal. Anda tentu tidak tega melihat anak sedih, tapi bukan berarti Anda berubah sikap dan menuruti kemauan anak yang aneh-aneh. Lebih baik berikan penjelasan sehingga membantu anak mengurangi kesedihannya, beritahu alasan mengapa Anda menolak menuruti kemauannya.

Berikan penjelasan secara lembut dan pelan-pelan. Dengan memberikan penjelasan atau alasannya, anak berpikir orangtua masih tetap perhatian dan sayang padanya. Hindari menolak permintaan anak tanpa penjelasan apa pun. Intinya, komunikasi dua arah adalah sangatlah penting untuk memberi pengertian kepada anak.

Sikap manja anak terjadi karena orangtua tidak berdaya mengendalikan anak, walau begitu sikap manja tidak bisa dihilangkan sepenuhnya pada diri anak. Hanya saja menjadi masalah jika sifat manjanya semakin menjadi-jadi, seperti timbulnya perilaku egois yang berlebihan, ingin perhatian secara berlebihan, meminta hak istimewa yang tidak wajar, dan dikhawatirkan ia akan tumbuh dewasa dengan karakter pemarah dan tidak simpatik pada orang lain. Hal lainnya yang dikhawatirkan dari anak manja:
  1. Kalau dilarang malah marah, dan bahkan memukul atau bertindak agresif.
  2. Punya sifat pelit, tidak pernah mau berbagi mainan atau makanan dengan temannya. Sehingga dikhawatirkan anak manja tidak punya teman, bahkan menjadi public enemy.
  3. Selalu ingin memiliki apa yang dimiliki temannya.
  4. Berani memaksa dan bersikap kasar pada orangtuanya agar kemauannya dituruti.
  5. Saat ngambek bersikap berlebihan, seperti menendang-nendang, berguling-guling sambil menangis, dll.

Para ahli menjelaskan bahwa mengajarkan dan mengenalkan anak rasa tanggung jawab dan kemandirian adalah solusi agar anak tidak berperilaku manja yang ‘ekstrim’ seperti itu. Ajarkan anak harga diri untuk menjaga sikapnya, menahan diri dan tidak bergantung pada apa yang orang lain miliki. Orangtua memang tidak perlu selalu menang, namun jangan ragu-ragu untuk menghadapi anak dengan sikap tegas. Mulailah berhenti menuruti tuntutan anak, sekalipun Anda sangat menyayangi anak, justru rasa sayang itu adalah ketika Anda bisa bersikap tegas dan adil pada anak, karena sangat penting agar anak tumbuh dan berkembang dengan kepribadian yang positif. Saat anak merengek meminta sesuatu yang aneh-aneh maka jangan dipenuhi, bicaralah dengan lembut padanya dan sampaikan kenapa permintaannya tidak dipenuhi.

Pola asuh orangtua menentukan kemandirian anak. Anak sejak usia 3 tahun sebenarnya sudah bisa dilatih mandiri. Anda perlu kompak mengajak bicara orang-orang di lingkungan anak seperti kakek, nenek, pengasuh dll. Tujuannya agar terjadi persamaan perlakuan terhadap anak sehingga harapan orangtua agar anak tidak manja dan bisa mandiri bisa tercapai. Orangtua harus bersabar dalam memperbaiki sifat manja anak, hindari emosi kepada anak karena segala sesuatu butuh proses. 

Saat Anda meminta anak untuk makan sendiri tapi anak menolak, orangtua harus tetap konsisten, katakan pada anak "Semua ini kebutuhan kamu. Kalau kamu tidak mau makan sendiri, nanti akan lapar." Apresiasi anak ketika berhasil melakukan hal yang positif, berikan pujian (dan sesekali hadiah) sehingga membuat anak merasa bangga dengan dirinya, ia akan semakin percaya diri dan termotivasi untuk melakukan hal-hal positif.




Tulisan Terkait: