Balita Suka Memukul, Ini yang Perlu Dilakukan

Balita suka memukul tentu membuat orangtua khawatir dan was-was, dimana orangtua mewanti-wanti si Kecil jangan sampai memukul temannya hingga menangis. Orangtua jangan sampai frustrasi terhadap perilaku si Kecil, pasti ada alasan dibalik gangguan prilakunya.

Anak Memukul
Photo credit: stock.adobe.com|Robert Kneschke

Perilaku agresif balita sebenarnya merupakan bagian dari tahap awal perkembangan yang umum terjadi, sehingga anak Anda tidak sendirian karena banyak anak yang punya gangguan prilaku sebagai bagian dari tahap tumbuh-kembangnya.

Anda perlu memikirkan berbagai kemungkinan alasan si Kecil suka memukul, misalnya karena si Kecil belum lancar bicara maka tangan menjadi alat komunikasi mereka, sehingga anak memukul sebagai bentuk komunikasi. Anda perlu mencari tahu alasan-alasan dibalik sifat agresif si Kecil.

Balita yang posesif terhadap mainannya bisa menjadi agresif jika mainannya diambil, si Kecil juga mungkin memukul saat habis kesabaran karena anak lain tidak mau bergantian menggunakan mainan. si Kecil mungkin awalnya mencoba berbicara untuk minta bergantian menggunakan mainan, tapi jika kata-katanya dicueki oleh anak lain, ia mungkin akan mencari perhatian dengan cara memukul.

Balita juga bisa menjadi agresif atau memukul karena tidak mampu mengungkapkan perasaan atau keinginannya, dimana rasa frustasi yang dialaminya mengakibatkan si Kecil melakukan tindakan kasar. Apalagi anak usia balita biasanya belum punya perbendaharaan kata yang banyak, sehingga sering kesulitan menemukan kata-kata untuk mengungkapkan keinginannya. Saat si Kecil sudah sampai tahap frustrasi, ia melakukan tindakan memukul sebagai cara untuk mengekspresikan diri.


Si Kecil juga bisa memukul saat merasa tidak nyaman seperti lelah, lapar, haus, bosan dll. Oleh karena itu Anda harus benar-benar menjaga kenyamanan si Kecil, pastikan sudah cukup istirahat, makan dan minum. Sehingga saat si Kecil bermain bersama temannya, ia sudah dalam keadaan fit dan nyaman.

Balita bisa saja tiba-tiba menjadi agresif seperti suka memukul atau menggigit saat terjadi perubahan besar dalam lingkungan kehidupannya, seperti kelahiran adik baru dan pindah rumah. Bahkan sekedar melihat kekerasan di sekitar ataupun di TV, maka si Kecil bisa saja meniru bentuk kekerasan yang dilihatnya.

Kurangnya aktivitas untuk menyalurkan energi juga turut memicu sifat agresif dalam diri balita, dimana si Kecil bisa menjadi agresif karena tidak punya ruang untuk menyalurkan energinya. Oleh karena itu ajaklah anak beraktivitas, bermain atau berolahraga untuk menyalurkan energinya yang besar. Jika energi anak tidak tersalurkan untuk hal-hal positif, maka anak akan menyalurkan energinya untuk hal-hal negatif.

Balita suka memukul biasanya karena mencontoh lingkungannya, sehingga hindari perilaku kekerasan. Tindakan keliru orangtua dalam mendisiplinkan anak seperti membentak, mencubit dan memukul justru membuat anak semakin agresif. Dalam memberi pelajaran pada si Kecil maka butuh kesabaran dengan cara yang lembut. Mengajari anak tidak bisa dalam semalam, melainkan itu suatu yang butuh proses dan bersifat jangka panjang.


Ajarkan si Kecil cara meminta maaf, untuk mengajarinya maka orangtua perlu mencontohkan nya. Bukanlah sebuah aib jika orangtua meminta maaf kepada si Kecil, justru ini bagus sebagai pengajaran. Si Kecil akan mencontoh orangtuanya cara meminta maaf, sehingga biasakan budaya di keluarga untuk meminta maaf saat melakukan kesalahan, terapkan ini pada semua orang di keluarga.

Mintalah si Kecil untuk meminta maaf jika ia memukul temannya, meski ia menolak atau tidak tulus, setidaknya si Kecil mendapatkan pengajaran tentang perlunya meminta maaf, sehingga nantinya ia akan mulai familiar dengan kebiasaan baik ini. Secara umum, sangat penting bagi para orangtua untuk menanamkan berbagai kebiasaan baik pada anak-anaknya sejak dini.

Walaupun si Kecil belum mampu membayangkan dirinya di posisi anak yang dipukulnya, tapi kebiasaan bak ini perlahan-lahan akan meresap dalam dirinya, sehingga nantinya si Kecil belajar dan mulai menyadari konsekuensi dari tindakannya. Orangtua perlu secara rutin mengajarkan kewajiban meminta maaf jika si Kecil melakukan kesalahan.

Saat Si Kecil dalam kondisi tenang, orangtua perlu mengajak si Kecil berdiskusi atau mengobrol tentang tindakannya, nasihati si Kecil dengan lembut tapi tegas, berikan pemahaman kepadanya bahwa menyakiti orang lain itu tidak baik.

Untuk membantu balita dalam meregulasi emosinya, jelaskan kepadanya bahwa emosi atau merasa marah itu tidak apa-apa, tapi ada batasan untuk tidak menyakiti atau memukul teman. Ajarkan bahwa fungsi tangan itu untuk melakukan hal-hal baik seperti memeluk dll. Orangtua perlu mencontohkannya pertama kali, sehingga biasakan dalam keseharian untuk memeluk, membelai maupun memijat Si Kecil, sehingga si Kecil nantinya akan belajar untuk menggunakan tangan untuk hal-hal baik.

Jika suatu waktu ia terlihat ingin memukul, maka orangtua dapat mengalihkannya, misalnya dengan melakukan 'Tos!' atau hal-hal yang lebih positif lainnya.

Orangtua bisa memberikan konsekuensi yang dapat secara efektif menghilangkan kebiasaan buruk anak. Memberikan hukuman tentu harus dengan cara yang elegan dan hasilnya efektif, misalnya peringatkan anak untuk tidak memukul, jika anak melanggar maka ajarkan konsekuensinya seperti mengurangi waktu bermain bersama mainan favoritnya dll.


Lindungi si Kecil dari paparan adegan kekerasan di TV, ia akan meniru hal-hal negatif yang dilihatnya. Perkuat alam bahwa sadar anak terhadap perilaku baik, dimana kesalahan banyak orangtua yaitu bertindak saat anak bertingkah buruk, tapi diam saja saat anak berprilaku baik. Sehingga kesannya orangtua hanya memberikan perhatian ketika anak berprilaku buruk, akibatnya saat anak ingin perhatian maka ia melakukanya dengan cara berprilaku buruk.

Seharusnya orangtua rajin memberikan apresiasi atau pujian saat anak berprilaku baik, sesekali berikan hadiah. Hal ini membuat anak sadar bahwa prilaku baik membuat orangtuanya bahagia, sehingga anak kedepannya semakin bersemangat untuk berprilaku baik.

Anak agresif atau memukul temannya bisa saja karena kesulitan untuk berkomunikasi, maka orangtua harus berperan aktif mengajarkan anak. Misalnya saat ia ingin bermain ayunan, ajarkan caranya bertanya pada teman sebayanya untuk bergantian dalam bermain.

Dengan kemampuan komunikasi yang baik, nantinya dapat secara efektif mengurangi prilaku agresif si Kecil. Agar balita punya kemampuan berkomunikasi yang baik, orangtua perlu sering-sering mengajak mengobrol, si Kecil dengan kosa kata yang kaya biasanya lebih terhindar dari sifat agresif.

Berikan si Kecil keleluasaan dalam bergerak sehingga lebih aktif. Si Kecil bisa berperilaku agresif karena merasa terkekang atau adanya emosi terpendam, apalagi jika ia termasuk anak yang bersemangat dan berenergi tinggi, maka hindari tindakan yang mengekang karena berdampak buruk terhadap psikis dan proses tumbuh kembangnya.

Tumbuhkan empati di dalam diri si Kecil, mengajarkan rasa empati dapat dilakukan bahkan saat anak masih berusia 2-3 tahun. Cobalah mengatakan padanya, misalnya:

“Bagaimana perasaanmu kalau dipukul, sakit kan... kalau begitu jangan memukul temanmu”

“Temanmu akan merasa sakit dan sedih jika dipukul.”

Lalu jangan lupa mengajari si kecil caranya minta maaf. Untuk mengajari si Kecil, tentu perlu memberikan contoh yang baik, akan sangat sulit mengajarkan untuk tidak memukul bila orangtua sendiri suka marah, berbicara dengan nada tinggi, menyentil, mencubit, memukul atau lainnya. Apalagi mengatakan “kamu jahat” atau “kamu nakal” hanya akan memperburuk perasaan si Kecil dan membuatnya semakin agresif.


Pendekatan yang seharusnya orangtua lakukan yaitu dengan cara yang lembut. Jika memang kondisi darurat seperti si Kecil bisa mengalami bahaya karena prilakunya sendiri, maka barulah orangtua bisa mengubah nada suara menjadi lebih serius dan tegas agar ia berhenti.

Penutup: Dalam berperilaku, si Kecil biasanya meniru orang dewasa, khsusnya orangtuanya. Ia akan mempelajari efek dari perilakunya terhadap orang lain (terutama figur dekatnya) seperti ketika ia menjambak, memukul, menggigit atau menyebutkan kata-kata tertentu. Perilaku yang mendapatkan respons yang ia anggap positif, akan cenderung diulang.

Sehingga jika ada perilakunya yang kurang baik maka orangtua harus aktif mengajarinya untuk menghentikan perilaku tersebut. Misalnya saat si Kecil mulai memukul maka peganglah tangannya dengan lembut, lalu arahkan ke tubuh Anda dengan gerakan seperti mengelus, sambil katakan, “Tangan untuk mengelus.”

Tapi jika ia menarik tangannya dan kembali ingin memukul, maka katakan dengan tegas bahwa itu sakit. Ada kemungkinan pada awal proses anak akan marah lalu menangis karena tidak dapat melakukan hal yang menjadi kesenangannya (yaitu memukul). Peluk ia, katakan bahwa Anda menyayanginya. 

Pahamkan anak kembali bahwa apa yang dilakukannya tidak baik. Orangtua juga perlu memperhatikan tontonan anak yang dapat memicu perilaku agresif, gantilah tontonan-tontonan yang kurang baik.




Tulisan Terkait: