Inilah Peran Penting Ayah untuk Tumbuh Kembang Anak


Seorang ayah tidak hanya berperan dalam mencari nafkah, melainkan juga harus terlibat aktif dalam proses tumbuh kembang anak. Baik anak laki-laki maupun perempuan sangatlah membutuh sosok ayah dalam kehidupannya sehari-hari.

Sangat mudah untuk menjadi seorang ayah secara biologis, tapi hanya sedikit yang bisa menjadi sosok ayah yang baik. Sangat berbahaya jika seorang ayah tidak dekat dengan anak-anaknya karena akan menimbulkan banyak masalah pada perkembangan anak secara psikologis.

Ayah dan Anak
Photo credit: gettyimages.com|Newton Daly

Penelitian menunjukan bahwa anak yang tidak dekat dengan ayahnya biasanya punya sifat agresif dan mudah marah. Juga seumur hidup anak akan bertanya-tanya mengapa ayahnya tidak dekat dengannya, sehingga tidak ada sosok yang mengayominya.

Anak yang tidak dekat dengan ayahnya akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri, sulit berteman, beresiko mengalami gangguan prilaku, serta rentan untuk terkena depresi di masa mendatang.

Penelitian menemukan terdapat hubungan yang kuat antara suasana hati ayah dan kesehatan mental anak. Sehingga tindakan, ucapan dan mood dari seorang ayah turut memengaruhi tumbuh kembang anak, oleh karena itu para ayah seharusnya bisa mengelola emosi dengan baik serta lebih memerhatikan lagi tingkat stresnya, khususnya saat berada di sisi anak.

Sosok ayah yang baik benar-benar memiliki efek langsung pada anak-anak, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Ada manfaat yang sangat besar saat ayah mau ‘terjun’ dalam kehidupan anak-anaknya. Para peneliti di Universitas Oxford menemukan anak laki-laki yang dekat dan punya hubungan harmonis dengan ayahnya cenderung tidak bermasalah saat beranjak remaja.

Sosok ayah mempengaruhi prilaku anak, dan membantu anak untuk memiliki kesadaran yang lebih baik terhadap perasaan dan emosi. Namun, orang lain selain ayah kandung juga tetap dapat memberikan pengaruh yang bermanfaat, peran ini bisa dilakukan oleh paman, kakek atau lainnya.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan dari Oxford University menemukan bahwa anak-anak perempuan yang punya kedekatan dan rutin melakukan aktivitas bersama dengan ayahnya lebih jarang menghadapi masalah kesehatan mental di kemudian hari.

Para ahli menjelaskan kepada para ayah untuk sering memuji anak perempuan. Kasih sayang dan perhatian yang tulus dari seorang ayah dapat membantu anak perempuannya tumbuh menjadi lebih percaya diri dan mandiri.

Dengan begitu peran ayah sama pentingnya dengan peran ibu dalam kehidupan sehari-hari anak. Kesalahan yang sangat disayangkan, banyak ditemukan kasus para ayah yang memiliki banyak waktu luang tetapi tidak pernah berkomunikasi dengan baik kepada anak, dimana ayah dengan sifat ini biasanya punya perilaku negatif seperti berkata kasar, mudah emosi dan bahkan memukul anak.

Anak-anak yang punya hubungan harmonis dengan ayahnya biasanya memiliki nilai IQ lebih tinggi dibandingkan anak-anak yang tidak dekat dengan ayah mereka. Selain itu hubungan harmonis anak dan ayah juga bermanfaat bagi anak meliputi sisi emosional, sosial, dan perilaku. Manfaat bisa semakin besar jika seorang ayah punya hubungan dekat dengan anak sejak usia dini.

Di Indonesia berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tahun 2015, ditemukan fakta sebanyak 27,9 persen ayah di Indonesia sudah berinisiatif mencari informasi bagaimana merawat dan mengasuh anak sebelum menikah. Ini sebenarnya berita cukup positif, tapi harus tetap ditingkatkan jumlah para ayah yang melek ilmu pendidikan dan pengasuhan anak.

Peran ayah sudah seharusnya menjadi sosok yang melindungi, mengayomi, memberikan rasa aman, serta bertanggung jawab terhadap kebutuhan finansial juga kebutuhan psikis keluarganya.

Peran ayah juga harus dapat memberikan motivasi kepada anak, tahu cara yang bijak dalam merespon kesalahan atau kegagalan anak, menghargai keberanian anak saat mengaku salah, menghargai usaha anak, hingga mengajarkan anak untuk memahami realitas kehidupan.

Ayah bertanggung jawab terhadap pusat kesejahteraan emosional anak-anaknya, selain juga sebagai penjaga dan menanamkan nilai-nilai disiplin kepada anak. Para ahli menjelaskan bahwa seorang ayah haruslah penuh kasih sayang, suportif dan terlibat dalam perkembangan anaknya, karena hal itu nantinya berpengaruh besar terhadap kemampuan kognitif, bahasa dan sosial anaknya. 

Anak perempuan nantinya akan mencari pria sebagai pasangannya dengan berdasarkan dari sosok ayahnya sendiri. Adapun bagi anak laki-laki, karakter ayah akan menjadi role modelnya untuk bisa menjadi pria sejati kelak. Hubungan harmonis dengan ayah bisa memengaruhi semua kehidupan anak sejak ia lahir hingga dewasa, pola-pola awal interaksi dengan ayahnya menjadi modal baginya untuk mampu berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Keterlibatan ayah sangat membantu anak-anaknya dalam segala aspek kehidupan, anak yang dekat dengan ayahnya akan memiliki perkembangan yang optimal, memiliki keterampilan bahasa yang lebih baik dan keberhasilan di bidang akademik.

Penelitian menemukan bahwa anak-anak yang berinteraksi dan dekat dengan ayahnya dalam kehidupan sehari-hari biasanya memiliki IQ yang lebih tinggi, mampu berpikir kritis, serta interaksi aktif antara ayah dan anak sejak masih kecil nantinya menstimulasi perkembangan otak anak sejak dini.

Anak-anak yang memasuki usia balita biasanya akan lebih aktif, penuh dengan rasa ingin tahu dan tertarik untuk mengeksplorasi hal-hal baru yang ada di sekelilingnya. Ayah memiliki peran penting untuk memandu eksplorasi anak, dimana pada tahap ini seharusnya ayah bisa menjadi teman bermain bagi anaknya, mendorongnya untuk lebih percaya diri, hingga melatih keterampilan pemecahan masalah pada anak. Hal ini selain sangat bermanfaat dalam proses tumbuh kembang anak, juga penting untuk membangun ikatan emosional yang kuat antara ayah dan anak.

Pada anak usia sekolah, ayah harus aktif membantu anak untuk percaya diri dan mandiri, anak akan belajar nilai-nilai moral dan sosial dengan mengamati tindakan ayahnya. Anak-anak yang tumbuh dengan hubungan baik dan sering berinteraksi dengan ayahnya akan lebih pandai bergaul.

Peran pengajaran ayah lebih menekankan pada kewajiban berdasarkan aturan. Adapun peran pengajaran ibu lebih menekankan pada kemampuan bersimpati, menyanyangi, perhatian dan semacamnya. Para ayah cenderung menegakkan aturan secara sistematis dan tegas, mengajarkan anak tentang konsekuensi dari benar dan salah.

Kedua peran dari ayah dan ibu haruslah seimbang, maka sangat penting bagi para ayah untuk aktif, sehingga tidak hanya ibu yang berperan dalam proses pengasuhan dan pendidikan anak.

Jika ayah kurang memberi perhatian dan kurang berdialog dengan anaknya, akibatnya bisa fatal. Pada anak perempuan misalnya, akan mudah digombalin oleh lawan jenisnya, dimana banyak para remaja perempuan yang ‘menyerahkan diri’ kepada lawan jenisnya karena digombalin dengan sebutan "cantik", "manis" dll. Hal itu karena selama ini ayahnya tidak pernah dekatnya dengannya dan tidak pernah memujinya dengan sebutan "cantik", "manis" dll.

Bahkan anak perempuan yang tidak dekat dengan ayahnya memiliki resiko 8 kali lebih mungkin memiliki anak di luar pernikahan, cenderung suka lelaki lebih tua, ataupun lebih beresiko menjadi single mother (bercerai dari pasangan).

Adapun anak laki-laki yang tidak dekat dengan ayahnya lebih beresiko mengalami gangguan kepercayaan diri, kesulitan dalam kehidupan sosial, kecanduan pornografi, narkoba, terlihat dalam tindak kriminal, hingga kesulitan mendapatkan pekerjaan di masa dewasa.

Namun bila ayahnya telah meninggal, maka para ahli menjelaskan agar anak dikuatkan dengan pengasuhan yang berkualitas, dimana ibu harus berupaya sungguh-sungguh melindungi anaknya dari berbagai efek buruk ketiadaan ayah.

Bila orang tua bercerai, maka kedua orangtua harus tetap terhubung, dimana jangan dihalangi pertemuan antara anak dengan ayahnya. Bahagiakanlah anak secara psikologis, bukan cuma sekedar materi. Perlu selalu diingat bahwa bercerainya Ayah dengan Ibu, bukan berarti bercerainya ayah/Ibu dengan anak, sehingga anak tetap harus diperbolehkan untuk bertemu dengan ayah/ibunya.




Tulisan Terkait: