Pentingnya Toleransi Sebagai Kunci Perdamaian (Cara Mewujudkannya)

Akhir-akhir ini banyak orang yang membicarakan toleransi, ini sebenarnya sangatlah bagus karena toleransi adalah kunci untuk terwujudnya perdamaian, keamanan, kenyamanan dan stabilitas dalam bermasyarakat dan bernegara.

Secara istilah toleransi berasal dari bahasa latin “tolerare” yang artinya sabar dan menahan diri. Jika berkaca dari istilahnya, maka makna toleransi (diantarnya) yaitu menahan diri dari menindas pihak individu atau kelompok yang lebih lemah, atau menahan diri dari bersikap agresif terhadap hal-hal yang tidak sejalan. Pada dasarnya, toleransi sebuah sikap untuk menghormati pihak individu atau kelompok lain. 

Ilustrasi Toleransi
Ilustrasi Toleransi | Photo credit: istockphoto.com|stournsaeh

Termasuk menghargai pendapat seseorang juga merupakan wujud dari toleransi, sikap menghargai ini sangat penting untuk menghindari terjadinya perselisihan dan pertengkaran yang tidak diperlukan (baik itu antar individu atau kelompok).

Menghargai pendapat atau pemikiran pihak lain merupakan contoh toleransi yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, hal seperti ini harus diketahui dan dijalani oleh seluruh masyarakat. Banyak konflik terjadi di masyarakat karena hilangnya rasa toleransi dan simpati di dalam hati orang-orang.

Jika kita ingin dihargai dan hormati, maka hormati dan hargai orang lain juga, setiap orang harusnya menyadari hal ini dan menerapkannya dalam kehidupannya. Sikap toleransi sudah tertuang dalam hukum negara, jadi sudah seharusnya masyarakat menjaga sikapnya dan berlapang dada terhadap perbedaan, serta menghindari segala bentuk prilaku intoleransi. Lalu apa urgensi dari sikap toleransi?

Jika kita membaca tentang kejadian-kejadian di perang dunia ke 2, maka dapat diketahui bahwa masa itu merupakan masa-masa krisis toleransi, bahkan kepedulian terhadap kehidupan bertoleransi sudah sampai titik nadir.

Dari krisis toleransi inilah yang membuat munculnya orang semacami Adolf Hitler, yang membantai jutaan orang (rakyat sipil) tak bersalah di kamp-kamp konsentrasi. Dari krisis toleransi inilah yang membuat Adolf Hitler dan orang-orang semacamnya punya pemikiran bahwa ras arya (jerman) lebih baik dari ras yahudi, gipsi dan slavia. Parahnya, muncul pemikiran untuk melakukan genosida terhadap ras-ras tersebut.

Disebutkan juga bahwa Nazi melakukan genosida terhadap warga Polandia. Einsatzgruppen merupakan satuan paramiliter yang dibentuk nazi pada tahun 1938, awalnya einsatzgruppen difungsikan hanya sebagai pendukung pasukan militer Jerman, namun berubah fungsi setelah jerman (nazi) menginvasi Polandia tahun 1939.

Dari 1 September – 25 Oktober 1939 einsatzgruppen melakukan pembantaian pada lebih dari 16.000 orang dan penghancuran lebih dari 500 kota di Polandia. Disebutkan juga bahwa einsatzgruppen banyak membakar orang hidup-hidup di dalam rumah-rumah ibadah, pembunuhan dilakukan dengan brutal hingga pihak pasukan militer sendiri mengeluhkan atas kekejaman yang melewati batas tersebut.

Itulah dampak terburuk intoleransi, dari awalnya merasa lebih baik, lalu muncul perasaan enggan untuk hidup berdampingan, benih-benih rasisme pun tumbuh, hingga akhirnya muncul pikiran untuk melakukan genosida. Menanamkan sikap toleransi adalah hal yang penting dan tidak boleh diremehkan. 

Jadi toleransi juga bermakna sebuah sikap untuk bisa hidup saling berdampingan demi menghadirkan kebaikan bersama, dan tidak menggunakan faktor perbedaan sebagai alasan untuk melakukan tindakan agresif.

Toleransi Menurut Para Ahli

Menurut Tillman, toleransi adalah sikap untuk saling menghargai. Toleransi sebagai faktor esensi dalam terciptanya perdamaian.

Menurut Max Isaac Dimont, toleransi adalah sikap untuk mengakui perdamaian dan tidak menyimpang dari norma-norma yang diakui dan berlaku. Toleransi diartikan juga sebagai sikap menghormati dan menghargai setiap tindakan orang lain.

Menurut W.J.S Poerwadarminta, toleransi adalah sikap atau sifat memperbolehkan suatu pendapat yang berbeda. Karena dalam toleransi sangat menjunjung tinggi untuk menghargai pendapat orang lain.

Ternyata Amerika & Eropa Paling Intoleran

Dilansir dari republika.co.id, lembaga riset Pew Research Centre menyebutkan Amerika Serikat, Inggris dan Rusia adalah negara-negara dengan tingkat diskriminatif tinggi terhadap pemeluk agama dan perbedaan agama. Lembaga yang berbasis di New York, Amerika Serikat tersebut menjelaskan bahwa tragedi 'permusuhan sosial' di negara-negara tersebut sudah sampai dalam level 'mengkhawatirkan'. 

Pada survei berjudul 'The Rising Tide of Restrictions on Religion' yang berlangsung empat tahun terakhir menunjukan bahwa pemerintah di negara-negara tersebut menerapkan kebijakan membatasi dan mengekang hak beragama yang meningkat menjadi enam persen. 

Survey tersebut menunujukan Inggris adalah negara dengan tingkat tinggi terkait dengan permusuhan sosial, laporan menunjukan bahwa Inggris tidak lebih baik dari Kenya, tapi tidak seburuk Burma (Myanmar). Hanya saja Inggris adalah negara intoleran yang intoleransinya terhadap agama berada di kondisi mengkhawatirkan.

Ilmuwan dalam survei ini bernama Brian Grim, dia menyebutkan bahwa Inggris mengalami tingginya tingkat permusuhan sosial, yang hal ini memicu perilaku intoleran di Inggris yang kondisinya sangat menghawatirkan. Beberapa hal yang memicu seperti kampanye masyarakat Kristen yang menyuarakan hal negatif mengenai diaspora muslim, selain itu juga bangkitnya kelompok-kelompok antisemit di Inggris.

Demikian juga di Amerika Serikat, yang secara mengejutkan pemerintahnya memberlakukan peningkatan intoleransi dan pembatasan terhadap kultur beragama. Hanya saja situasi di Amerika Serikat belum sampai tahap mengkhawatirkam, tapi yang menjadi catatan bahwa hasil survei menunujukan adanya tren peningkatan masalah ungkapan kebencian dan intoleransi pada masyarakat dan pemerintah AS.

Pentingnya Toleransi Antar Agama di Indonesia

Di indonesia khususnya, toleransi sangat penting untuk mencegah terjadinya konflik sosial. Sikap toleransi sangat dibutuhkan agar kehidupan bersosial masyarakat berjalan dengan baik. Terjaganya stabilitas dan keamanan negara merupakan pondasi untuk kelancaran pembangunan negara. 

Adapun jika negara dilanda dengan konflik sosial dan keamanan, dampaknya pembangunan negara dipastikan terhambat, negara kehilangan banyak investor, jumlah orang yang menganggur meningkat pesat, kasus kejahatan meningkat, situsasi negara mencekam dan berbagai marabahaya lainnya. Oleh karena itu sikap toleransi bukanlah sesuatu yang remeh.

Setiap orang harus belajar bertoleransi dalam politik, budaya, agama dan lainnya. Misalnya toleransi dalam berpolitik, dimana Anda perlu menghormati pilihan dan pendapat politik orang lain, negara telah menjamin hak warga negara untuk menyuarakan kebebasan berpendapat asalkan masih dalam batas norma dan sosial yang berlaku di masyarakat. Dengan sikap toleransi ini akan mencegah terjadinya konflik dan permusuhan di masyarakat.

Demikian juga toleransi dalam berbudaya, setiap orang harus menghormati keberagaman budaya, bahasa dan lainnya. Termasuk sudah seharusnya toleransi beragama diterapkan, dimana di Indonesia telah diakui keberadaan enam keyakinan yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Konghucu dan Budha. Semua pihak dari agama-agama tersebut bersepakat untuk tidak saling mengganggu rutial ibadah di rumah ibadah masing-masing.

Perbuatan vandalisme pada rumah ibadah tidak dapat DITOLERIR, pelakunya harus dihukum berat oleh pemerintah karena memprovokasi dan mengganggu kerukunan umat beragama di Indonesia. Selain itu, tidak diperbolehkan dan dilarang keras memaksa seseorang untuk memilih keyakinan tertentu. Setiap orang seharusnya memilih keyakinan tanpa adanya paksaan.

Tidak boleh mencela tuhan dari agama lain, dan secara umum tindakan mencela atau menghina dilarang. Hal ini berbeda dengan dialog atau debat ilmiah, biasanya dalam debat ilmiah akan menyertakan argumentasi berkualitas yang disertai data dan fakta. Debat ilmiah juga dilakukan dengan sikap saling menghormati dan menghargai lawan.

Sebagai contoh yang bagus adalah acara debat yang dilakukan oleh pendeta atau pastor di Amerika Serikat dengan Syaikh Ahmad Deedat. Jika Anda menonton acara tersebut maka akan ditemukan berbagai argumentasi berkualitas, dan tidak ditemukan adanya tindakan menghina atau mencela lawan debat, kedua belah pihak saling menghormati.

Melakukan debat ilmiah masih tergolong diperbolehkan, dengan syarat narasumbernya adalah orang yang terpelajar, bersikap bijak, menghormati lawan debat, serta berbicara dengan data dan fakta. Acara debat ilmiah juga biasanya dimonitor oleh pemerintah untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Salah satu hal yang disayangkan adalah tindakan vandalisme terhadap rumah ibadah yang kejadiannya sering atau berulang-ulang. Tindakan tesebut jelas sangat terlarang karena dapat memicu konflik yang tidak seharusnya, pelakunya harus dihukum berat oleh pemerintah.

Selain itu tidak diberbolehkan dan dilarang keras menyakiti seseorang karena berbeda keyakinan. Tidak boleh seseorang dimusuhi atau diserang secara fisik dan verbal karena berbeda keyakinan. Toleransi bertujuan untuk mewujudkan kedamaian, keamanan dan stabilitas, jadi sudah seharusnya setiap warna negara mewujudkan hal tersebut.

Toleransi bukanlah mencampur-adukan antar ajaran keyakinan. Contohnya orang islam sholat di geraja, ikutan misa dan natalan, atau misalnya orang kristen melakukan ibadah menyanyi di masjid. Itu contoh keliru dari memahami makna toleransi.

Berikut hal-hal yang harus dipahami dalam menjalankan toleransi bergama:
  1. Terlarang melakukan vandalisme di rumah ibadah.
  2. Tidak boleh menghina tuhan dari agama lain.
  3. Tidak boleh menghina tokoh-tokoh penting dari suatu agama.
  4. Tidak boleh menghina atribut dari suatu agama.
  5. Terlarang menyebarkan informasi yang salah tentang suatu agama.
  6. Jangan menshare informasi atau berita tentang suatu agama sebelum dicek kebenarannya.
  7. Tidak boleh melabeli suatu agama dengan label buruk seperti teroris, radikal dll. Dari enam agama yang diakui di Indonesia, tidak ada satupun yang mengajarkan tentang terosisme dan radikalisme.
  8. Seharusnya ada sebuah lembaga negara yang memfasilitasi acara pertemuan antar pemimipin pemuka agama.

Mewujudkan Toleransi di Masyarakat

Sebagiannya telah dijelaskan diatas, dan ada beberapa hal lainnya untuk bisa mewujudkan kehidupan bertoleransi di masyarakat. Setiap warga negara seharusnya saling mengerti dan memahami bahwa mereka ingin hidup damai, aman dan tentram, sehingga setiap individu seharusnya melakukan hal-hal yang membantu mewujudkan hal itu.

Perbedaan adalah hal yang harus dimaklumi bersama, itu adalah keniscayaan dalam kehidupan bermasyarakat. Dilarang keras mencela suku atau bahasa dari daerah lain, demikian juga tidak boleh berkomentar negatif terhdap pakaian adat suatu daerah.

Jika ada orang dengan suku/daerah/agama lain tinggal di daerah perumahan Anda, sekalipun dia minoritas, maka sudah seharusnya hak-haknya dijaga dan tidak boleh memberikan gangguan. Mengusir seseorang dari lingkungan kompleks karena berbeda suku/daerah/agama adalah tindakan yang SANGAT KONYOL. Sudah seharusnya setiap orang berpikir cerdas sehingga terhindar dari melakukan perbuatan yang bar-bar dan rendah terebut.

Setiap masyarakat juga harus melatih diri untuk terbiasa berbicara santun, menjalankan dengan baik norma masyarakat yang berlaku, membuang kebiasaan bergunjing, tidak memaksakan kehendak, bisa menerima perbedaan dan menghargai hak orang lain. Hal-hal tersebut sangat penting untuk membantu terwujudnya kedamaian dan toleransi, dan menekan bibit-bibit permusuhan.


Tulisan Terkait: