9 Penyebab Anak Melawan Kepada Orangtua (Serta Cara Mengatasinya)

Orangtua tentu mengharapkan anak mau mengikuti arahan dan bimbingan yang diberikan, hanya saja seringkali anak melawan, membantah orangtuanya atau tidak mau menerima nasehat, sikapnya yang seperti ini sangat menyulitkan orangtua.

Anak Melawan Orangtua
Photo credit: alamy.com|Aleksandr Davydov

Berikut hal-hal yang memicu anak melawan pada orangtuanya:

1. Orangtua Tidak Memperhatikan Nada Bicara
Kesalahan orangtua dalam pemilihan kata dan intonasi bicara yang keliru, bisa berakibat fatal. Nada bicara yang baik sangatlah penting, seringkali orangtua tidak memperhatikan nada bicaranya sehingga menyakiti anak, sehingga anak balik melawan.

Hindari berbicara dengan nada tinggi (apalagi sampai teriak-teriak dan membentak) karena anak bakal jengkel dan sakit hati, yang akan memicunya untuk melawan pada orangtua. Penting untuk diketahui, walaupun seorang anak masih kecil tetapi ia sudah bisa memahami nada bicara orang lain. 

Anak-anak yang sejak kecil sering mendengarkan orangtuanya teriak-teriak, biasanya dia cenderung melawan orangtuanya saat usia remaja.


2. Orangtua Memanjakan Anak Secara Berlebihan
Hindari memanjakan anak secara berlebihan, misalnya dengan selalu menuruti setiap permintaan anak, bahkan pada permintaan anak yang aneh-aneh dan tidak masuk akal. Jika orangtua selalu menuruti permintaan anak maka hal ini tidak baik untuk proses tumbuh kembangnya, anak juga tidak terbiasa dengan penolakan dan tidak terlatih untuk bersabar.

Akibatnya jika sewaktu-waktu keinginan anak tidak terpenuhi, anak tanpa berikir panjang akan melawan dan menentang orangtuanya sendiri. Perlawanan yang dilakukan anak sebagai bentuk protes karena keinginannya tidak terpenuhi.

Dengan begitu hindari selalu menuruti keinginan anak, adakalanya orangtua menuruti permintaan anak, tapi orangtua harus berani menolak saat anak meminta yang aneh-aneh atau tidak penting.

3. Orangtua Bersikap Otoriter
Anak bisa menjadi suka melawan jika orangtuanya sering bersikap otoriter. Sikap otoriter orangtua bisa membuat anak tertekan dan tidak nyaman, hingga akhirnya melawan orangtua. Hal yang sering terjadi yaitu orangtua suka memaksa anak untuk mematuhi dan menjalankan perintah tapi sayangnya orangtua tidak pernah memperhatikan perasaan anak.

Sikap otoriter orangtua menyebabkan anak merasa terkekang, dan anak akan menganggap perasaannya tidak dihargai oleh orangtuanya, hal inilah yang memicu anak memberontak dan melawan orangtuanya.

Orangtua mungkin berpikir bahwa sikap otoriter akan membuat anak patuh, tapi nyatanya ini bisa menjadi bom waktu yang membuat anak memberontak dan melawan. Sikap otoriter dan memaksakan kehendak pada anak tidaklah efektif, lebih baik orangtua sering-sering untuk berbicara dari hati ke hati dengan anak.


4. Faktor Lingkungan
Anak bisa menjadi suka melawan karena faktor lingkungan. Dimana lingkungan sekitar anak memberikan pengaruh sangat besar terhadap perkembangan karakter dan tingkah laku anak, termasuk sikap suka melawan orang tua. Anak akan mencontoh lingkungan pergaulannya, jika lingkungannya buruk maka kepribadian anak pun bakal cenderung buruk.

Jika anak memiliki teman-teman yang suka melawan orangtuanya, anak pun akan hanyut dan ikut mencontoh perilaku buruk teman-temannya itu. Anak suka melawan bisa karena faktor lingkungan sehingga perhatikan pergaulan anak, yaitu dengan siapa ia berteman, bersosialisasi, dan berinteraksi karena hal tersebut sangat memengaruhi pembentukan karakternya.

Jika awalnya anak adalah seorang yang penurut dan koperatif tapi kemudian berubah jadi suka membantah, cobalah lihat bagaimana lingkungan kesehariannya. Oleh karena itu, usahakan agar anak berada lingkungan pergaulan yang baik, ini akan sangat membantu Anda sebagai orangtua dalam proses pendidikan dan pengasuhan anak.

5. Orangtua Tidak Ada Waktu Untuk Anak
Kebersamaan orangtua dan anak sangatlah penting, anak akan belajar banyak dari orangtuanya. Sehingga jangan sampai karena terlalu sibuk bekerja, orangtua tidak ada waktu untuk bersama anak walau hanya beberapa saat dalam sehari.

Jangan sampai kesibukan Anda mengalahkan perhatian Anda untuk anak, berakibat anak kurang mendapatkan bimbingan. Jika seorang anak tidak mendapatkan bimbingan dari orangtuanya, dia anak cenderung mengembangkan kepribadian yang buruk.

Maka jangan heran, anak-anak yang suka melawan orangtuanya biasanya selama ini jarang bersama dan jarang berkomunikasi dengan orangtuanya. Dengan begitu, orangtua harus memiliki waktu bersama anak walaupun sekedar mengobrol beberapa menit dalam sehari.


6. Kebiasaan Orangtua yang Sering Menyalahkan Anak
Orangtua memang punya kewajiban untuk meluruskan kesalahan dan perilaku anak yang keliru, tapi ini bukan berarti orangtua selalu mengkritik atau menyalahkan anak setiap waktu. Jika anak terlalu sering disalahkan, ini akan memicu anak punya sifat melawan pada orangtuanya. Oleh karena itu, adakalanya orangtua perlu longgar atau toleran terhadap kesalahan kecil yang dilakukan oleh anak.

7. Anak Mencari Perhatian
Sebagian anak tiba-tiba suka melawan demi mencari perhatian dari orangtuanya, hal ini bisa terjadi jika selama ini orangtua terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga anak jarang mendapatkan curahan perhatian dan kasih sayang.

Anak kecil sangat membutuhkan perhatian, terkadang mereka anak yang baik-baik tapi kemudian berubah menjadi nakal dan suka berbuat ulah demi memperoleh perhatian dari orangtuanya. Jika demikian adanya, orangtua perlu berusaha memperbaikinya dan mulai memperhatikan kebutuhan ‘batin’ anak. 

8. Anak Tidak Mendapatkan Ruang Berbicara
Orangtua harus bisa menjadi pendengar yang baik untuk anak-anaknya, anak harus diberikan ruang untuk berbicara dan berpendapat. Saat anak berbicara maka dengarkan dengan baik, saat anak berpendapat maka berikan respon positif. Jika orangtua tidak memberikan ruang untuk anak, maka anak akan cenderung suka melawan, memberontak dan sulit untuk diajak koperatif.

9. Hubungan Ayah dan Ibu Kurang Harmonis
Jika Ibu dan Ayah di dalam rumah sering bertengkar, ini bisa sangat berdampak pada psikologi atau emosional anak, dimana anak bakal cenderung memiliki karakter keras, kasar dan suka melawan. Hal itu karena biasanya hubungan suami-istri yang tak harmonis juga akan memengaruhi pemberian kasih sayang dan perhatian pada anak. Hubungan sehat suami-istri sangatlah penting dalam proses pendidikan dan pengasuhan anak.


Penutup
Orangtua harus menghindari sikap kaku, misalnya memaksakan segala aturan harus ditaati, menjadikan anak harus nurut, bahkan tidak ada ruang bagi anak untuk berbicara dan berpendapat. Celakanya sikap kaku orangtua yang seperti ini justru berdampak buruk pada hubungan orangtua dan anak, serta anak merasa tertekan kehidupannya.
 
Anak yang merasa tidak nyaman, tertekan dan terkekang sehingga memicu anak punya perasaan kurang disayangi dan kurang dipedulikan selama ini. Ketika anak merasa kurang mendapatkan curahan kasih sayang dan perhatian, anak bakal cenderung menjadi pribadi yang tempramen, egois dan kasar. Ini karena anak merasa tidak mendapatkan haknya yang seharusnya ia dapatkan, terutama kewajiban orangtua untuk memberikan perhatian pada anak.

Berikut hal-hal yang perlu diketahui orangtua:
  1. Hindari suka berteriak dan menghakimi anak.
  2. Hindari suka membandingkan anak dengan anak lain.
  3. Orangtua perlu membiasakan diri menjadi pendengar yang baik untuk anak.
  4. Jangan meremehkan pendapat anak.
  5. Praktekkan apa yang dikatakan ke anak. Orangtua perlu menjadi teladan langsung bagi anak-anak, bukan sekedar memberikan nasehat dengan kata-kata.
  6. Belajar untuk menghargai keberadaan anak.
  7. Belajar memahami cara berpikir anak.
  8. Jangan mengutamakan pekerjaan dibandingkan keluarga.
  9. Meluangkan waktu untuk berbicara dengan anak, diusahakan setiap hari.
  10. Ciptakan lingkungan yang menyenangkan di rumah.




Tulisan Terkait: