16 Efek Buruk Multitasking Terhadap Kesehatan Mental, Fisik dan Otak

Kalau dipikir-pikir multitasking sepertinya ide yang bagus, mengerjakan beberapa tugas sekaligus dalam satu waktu membuat Anda tampak lebih produktif, hal ini memang benar secara teori. Hanya saja walau multitasking tampaknya bagus, tapi beberapa penelitian menunjukkan bahwa multitasking justru merusak produktivitas dan berbahaya.

Multitasking
Photo credit: stock.adobe.com|hin255

Bahkan pada sebuah studi terbaru oleh para peneliti di University of Waterloo menunjukkan bahwa multitasking dapat membuat orang-orang menjadi lebih linglung dalam kehidupan sehari-hari mereka, sehingga ini justru menghambat kinerja daripada membantu. Sebelum Anda memutuskan untuk menangani dua pekerjaan sekaligus dalam satu waktu, berikut beberapa alasan mengapa multitasking adalah hal yang buruk.

1. Membuat Anda Lebih Rentan Melakukan Kesalahan
Multitasking membuat Anda sering beralih antar tugas, penelitian menunjukan bahwa hal ini akan menguras sumber daya kognitif yang menyebabkan Anda lebih rentan terhadap kesalahan. Otak yang bertanggung jawab untuk fungsi penalaran, pengambilan keputusan dan kemampuan belajar memiliki kapasitas yang terbatas, adapun tugas kompleks memiliki beban kognitif yang sangat tinggi.

Mencoba melakukan beberapa tugas kompleks sekaligus, maka terlalu banyak hal untuk ditangani otak, sehingga akan cenderung membuat kesalahan. Apalagi jika Anda menambahkan tugas ketiga, penelitian menunjukan hal ini akan menyebabkan Anda tiga kali lipat lebih beresiko melakukan kesalahan daripada saat Anda melakukan dua tugas sekaligus.

Anda hanya bisa melakukan multitasking pada tugas dengan beban kognitif yang rendah. Misalnya jalan-jalan sambil makan snack dan dengerin podcast favorit.


2. Multitasking Menyebabkan Masalah Memori (Daya Ingat)
Pada penelitian yang dipublikasikan di Psychonomic Bulletin & Review tahun 2016 menemukan bahwa orang-orang yang sering melakukan multitasking mengalami penurunan ‘memori kerja’ yaitu kemampuan menyimpan informasi yang relevan saat mengerjakan tugas, serta penurunan memori jangka panjang (kemampuan menyimpan dan mengingat informasi dalam jangka waktu lama).

3. Multitasking Menyebabkan Peningkatan Distraksi
Pada sebuah penelitian tahun 2016, selama periode tujuh hari para peneliti mempelajari multitasking orang-orang di rumahnya. Hasilnya, peneliti menemukan bahwa semakin sering orang-orang melakukan multitasking, semakin besar kemungkinan mereka menunjukkan gangguan perilaku. Peneliti beransumsi bahwa multitasking membuat seseorang menanggapi begitu banyak gangguan, yang akibatnya seseorang bisa kehilangan kemampuan untuk membedakan antara gangguan penting dan tidak penting.

4. Multitasking Meningkatkan Resiko Stres Kronis
Sebuah penelitian menemukan bahwa semakin sering mahasiswa melakukan multitasking saat menggunakan komputer, semakin banyak stres yang mereka alami. Terlalu banyak informasi atau hal-hal yang mereka coba tanggapi dapat memicu stres. Peneliti menjelaskan bahwa terlalu sering melakukan multitasking dapat menyebabkan stres kronis.

5. Multitasking Meningkatkan Resiko Depresi dan Kecemasan Sosial
Peneliti memeriksa hubungan antara multitasking, penggunaan media dan kesehatan emosional. Tim peneliti menemukan bahwa semakin sering peserta melakukan banyak tugas (multitasking), semakin besar kemungkinan mereka mengalami gejala depresi dan kecemasan sosial .


6. Menjadi Lebih Mudah Kehilangan Fokus
Multitasking dapat menyebabkan seseorang punya masalah fokus, karena memang pada dasarnya sulit untuk fokus pada dua hal sekaligus. Membalas email di tengah panggilan telepon tampaknya oke-oke saja, tapi jika itu dibiasakan akan berdampak buruk terhadap kemampuan fokus Anda. Oleh karena itu, jika fokus Anda sering hilang atau konsentrasi mudah buyar, bisa saja itu karena Anda selama ini punya kebiasaan multitasking yang berlebihan.

7. Peforma Kerja Menurun
Pada sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences of the United States of America menemukan bahwa seiring berjalannya waktu, kebiasaan multitasking dapat mengubah cara fungsi otak yang menyebabkan penurunan produktivitas.

Bahkan ketika multitasker (orang yang sering melakukan multitasking) mencoba fokus pada satu tugas, mereka tetap akan kurang efisien. Dengan kata lain, saat hanya mengerjakan satu tugas tapi tetap saja hasilnya tidak optimal, akibat dari sudah terlalu sering multitasking. Dengan begitu, kebiasaan multitasking yang berlebihan dapat menyebabkan peforma kerja menurun. Akan lebih baik jika Anda mencoba untuk fokus pada satu tugas.

8. Multitasking Dapat Menyebabkan Kerusakan Otak
Para peneliti di University of Sussex di Inggris membandingkan jumlah waktu yang dihabiskan orang-orang di beberapa perangkat sekaligus (seperti mengirim pesan teks sambil menonton TV, dll) dengan pemindaian MRI otak. Peneliti menemukan bahwa orang-orang yang sering multitasking memiliki tingkat kepadatan otak yang lebih rendah di korteks cingulate anterior, itu adalah bagian yang bertanggung jawab untuk empati serta kontrol kognitif dan emosional.


9. Banyak orang sukses seperti penulis hebat, seniman, musisi dan banyak lagi melaporkan bahwa mereka bisa menjadi sangat kreatif dan produktif saat mereka fokus sepenuhnya pada tugas yang ada. Disebutkan bahwa orang-orang yang sering multitasking berisiko menjadi kurang produktif dan kurang kreatif.

10. Multitasking bisa membuat anda kurang produktif dan kurang efisien. Umumnya orang mengira multitasking membuat mereka lebih produktif dan efisien, tapi hasil penelitian menunjukkan kebalikan dari apa yang diyakini banyak orang, dimana peneliti menemukan bahwa multitasking sebenarnya membuat peserta kurang efisien dan kurang produktif.

11. Beralih di antara tugas-tugas membuat otak memakan lebih banyak glukosa, akibatnya Anda menjadi mudah lelah, disamping Anda juga mudah bingung akibat multitasking.

12. Multitasking tidak hanya buruk bagi otak, tapi juga buruk bagi kesehatan tubuh. Multitasking meningkatkan hormon stres kortisol dan adrenalin, yang dapat menyebabkan penyempitan arteri, peningkatan gula darah dan melemahkan sistem kekebalan tubuh.

13. Multitasking justru memperlambat dan merusak pekerjaan, serta meningkatkan resiko melakukan banyak kesalahan. Multitasking justru memperlambat Anda, sehingga alih-alih meningkatkan produktivitas, justru memperlambat kecepatan penyelesaian pekerjaan, akibat dari beralih bolak-balik di antara tugas-tugas. Selain itu, multitasking juga melelahkan secara mental maupun fisik.


14. Beralih di antara tugas-tugas membutuhkan banyak energi, sehingga sering multitasking membuat seseorang lebih cepat lelah dari biasanya. Selain itu, para peneliti mengatakan bahwa multitasker biasanya mengonsumsi lebih banyak makanan dan kafein.

15. Penelitian menemukan bahwa multitasking dapat menurunkan kecerdasan IQ. Sebuah studi di University of London menemukan bahwa peserta yang melakukan banyak tugas selama tugas kognitif mengalami penurunan skor IQ. Selain itu, peneliti menyebutkan bahwa efek buruk multitasking pada otak (atau IQ) serupa dengan merokok ganja atau begadang sepanjang malam. IQ turun 15 poin untuk pria multitasking, menurunkan skor mereka ke kisaran rata-rata anak berusia 8 tahun.

16. Multitasking bisa sangat berbahaya pada kondisi seruis, misalnya berkendara sambil menggunakan ponsel, sehingga banyak negara melarang menggunakan ponsel saat mengemudi. Penggunaan ponsel sambil berkendara beresiko besar menyebabkan kecelakaan.

Penutup: Sebenarnya masih memungkinkan bagi otak kita untuk melakukan beberapa hal sekaligus, jika tugas yang dilakukan memiliki beban kognitif yang rendah. Masalah muncul ketika Anda mencoba melakukan dua hal aktivitas sekaligus yang membebani otak. Otak manusia sebenarnya tidak bisa memberikan perhatian penuh pada dua tugas sekaligus. Beralih bolak-balik di antara tugas-tugas mengakibatkan tidak ada tugas yang mendapatkan perhatian yang layak.

Efek buruk multitasking pada otak dan tubuh yaitu:
  1. Penuaan otak dini.
  2. Meningkatnya stres, depresi, dan kecemasan.
  3. Kontrol impuls yang buruk.
  4. Kurangnya kemampuan untuk menyaring informasi yang tidak relevan.
  5. Lebih banyak kesalahan.
  6. Produktivitas keseluruhan yang lebih rendah.
  7. Jika sudah kebiasaan, multitasking bisa membuat ketagihan. Dengan kata lain sulit dihilangkan kebiasaannya.




Baca Juga: