14 Cara Mendidik Anak Agar Mau Minta Maaf

Namanya anak-anak pasti sering berperilaku yang aneh-aneh, terutama anak-anak itu suka sekali berselisih atau bertengkar. Disinilah pentingnya orangtua mengarahkan anak untuk belajar meminta maaf saat ia melakukan hal yang buruk. Pada anak-anak yang menolak meminta maaf, punya sifat keras kepala dan enggan mengakui kesalahannya, itu karena sejak kecil tidak pernah diarahkan atau diajarkan oleh orangtuanya.

Anak-Anak
Photo credit: alamy.com|Aleksandr Davydov

Orangtua harus proaktif, dimana peran orangtua sangat penting dalam proses tumbuh-kembang anak yang optimal. Perlu kiranya agar anak sejak kecil diajarkan untuk mau meminta maaf saat melakukan kesalahan. Agar hal ini tercapai, perlu adanya tindakan dan langkah-langkah yang tepat sehinga anak mau meminta maaf, berikut hal-hal yang harus diketahui orangtua:

1. Orangtua Perlu Proaktif Memberikan Contoh Baik Kepada Anak
Anak-anak mencontoh orang-orang yang ada di sekitar kehidupannya, khususnya anak akan meniru segala tindakan dan prilaku orangtuanya sendiri. Oleh karena itu, orangtua harus memberikan contoh yang positif kepada anak.

Sebelum mengajarkan anak untuk meminta maaf maka orangtua perlu mencontohkan-nya. Orangtua perlu membiasakan sikap meminta maaf saat melakukan kesalahan sekecil apapun. Orangua perlu memberi contoh bagaimana merasa bersalah dan meminta maaf.

Usahakan agar sikap meminta maaf ini dibiasakan oleh semua anggota keluarga, sehingga semua anggota keluarga akan memberikan contoh baik untuk si Kecil, maka si Kecil pun akan ikut terbiasa meminta maaf saat melakukan kesalahan. Lingkungan positif seperti ini sangatlah penting, anak tidak lagi kaku untuk berkata “maaf”.


2. Tumbuhkan Rasa Empati Anak
Anak baru bisa meminta maaf jika dia sudah punya rasa empati untuk memahami perasaan orang lain. Untuk menumbuhkan rasa empati anak maka orangtua perlu berkomunikasi intens dengan anak. Ajak anak mengobrol saat santai, ucapkan kata-kata yang dapat menyentuh hatinya. Misalnya, saat anak memukul adiknya maka katakan: “Coba bagaimana perasaan kamu kalau kamu dipukul?” 

Ucapan seperti itu akan merangsang rasa empati anak untuk memahami perasaan pihak lain. Walaupun anak mungkin tidak menjawab pertanyaan tersebut, tapi setidaknya anak mulai belajar dan memahami bahwa perbuatannya buruk, dan telah membuat pihak lain tersakiti atau terganggu.

Anak-anak sejak dini perlu sekali untuk diajarkan rasa empati, ini menjadi modal dasar saat anak nantinya bersosialisasi dengan anak-anak seumurannya. Rasa empati menjadikan anak peduli dengan orang-orang di sekitarnya. Rasa empati pun perlu diasah sehingga anak memiliki kemampuan untuk menyingkirkan ego dan mengerti perasaan pihak lain. Itu merupakan faktor utama agar anak mau meminta maaf saat bersalah.

Empati membuat anak memahami perasaan pihak lain yang terluka akibat tindakannya. Jika rasa empati diajarkan pada anak sejak kecil, anak menjadi terlatih untuk bisa menerima konsekuensi atas kesalahannya, punya karakter bertanggung jawab dan tidak segan untuk meminta maaf. 

3. Mengingatkan, Tapi Hindari Memarahi Anak
Anak terkadang melakukan kesalahan yang tidak disengaja, misalnya menyengol gelas hingga terjatuh dan pecah. Terkadang orangtua merasa emosi atas kesalahan anak, tapi ingatlah bahwa anak tidak sengaja melakukannya, sehingga tidak perlu dimarahi. Jika anak melakukan kesalahan dan belum jua meminta maaf, maka orangtua harus proaktif memberitahukan anak untuk segera meminta maaf.

Orangtua perlu tegas mengingatkan anak untuk meminta maaf saat melakukan kesalahan, ini harus dibiasakan sejak dini. Tapi tegas bukan berarti berbicara dengan nada tinggi atau bahkan membentak, intinya yaitu anak diajarkan bahwa ada konsekuensi bila dia melakukan kesalahan sehingga harus meminta maaf.


4. Mengajak Anak Berpikir
Ini juga penting, yaitu ajak anak berpikir kalau dirinya telah melakukan kesalahan. Saat anak bersalah, sebaiknya orangtua jangan langsung memaksa anak meminta maaf, tapi cobalah mengajak anak untuk berpikir. Cobalah untuk pelan-pelan berdiskusi sehingga anak dapat belajar bahwa perilakunya salah, misalnya menyakiti pihak lain.

Anak juga perlu diajarkan bahwa setiap perilakunya dapat berdampak kepada orang lain, dan setiap orang memiliki perasaan. Mengajak anak berpikir akan menumbuhkan rasa empatinya, sehingga anak akan menghargai kata 'maaf' ketika melakukan kesalahan ke pihak lain. 

5. Ajarkan Anak Bahwa Meminta Maaf adalah Tindakan Mulia
Anak juga perlu diajarkan bahwa meminta maaf ketika salah bukanlah sesuatu yang memalukan, tanamkan dalam diri anak bahwa meminta maaf adalah tindakan yang sangat bagus dan mulia. Berikan pujian kepada anak saat ia berhasil meminta maaf, beri tahu anak bahwa dengan meminta maaf berarti menunjukkan seseorang itu lapang dada. 

6. Katakan “Maaf” Kepada Anak
Saat orangtua melakukan kesalahan kepada anak, orangtua jangan gengsi untuk mengatakan “minta maaf” kepada anak. Katakan “Bunda minta maaf” atau “Ayah minta maaf” sehingga anak mendapatkan contoh langsung dari orangtuanya.

Anak adalah cerminan dari orangtuanya, jika orangtuanya mudah untuk meminta maaf maka anak pun akan seperti itu. Tanpa perlu banyak diajari, anak bakal meminta maaf saat bersalah karena telah mendapatkan contoh langsung dari orangtuanya. Kata MAAF yang diucapkan orangtua menjadi panduan anak ketika melakukan kesalahan.

Tapi sayangnya banyak orangtua yang gengsi untuk meminta maaf kepada anak, tapi saat anak yang melakukan kesalahan dipaksa-paksa untuk minta maaf. Ini merupakan kesalahan fatal dan menjadi contoh buruk. Contoh buruk yang ditampilkan orangtua akan menyebabkan anak mengembangkan kepribadian yang buruk.


7. Mengajarkan Nilai Kejujuran
Saat orangtua meminta maaf kepada anak, maka secara tidak langsung orangtua sebenarnya telah mengajarkan nilai kejujuran kepada anak. Oleh karena itu orangtua jangan gengsi untuk meminta maaf kepada anak, sehingga anak akan belajar dan memahami tentang pentingnya nilai kejujuran. Jika anak telah memahami nilai kejujuran, berarti akan lebih mudah bagi anak untuk mau meminta maaf saat melakukan kesalahan.

8. Bangun Rasa Percaya Diri Anak
Orangtua harus membantu membangun harga diri yang positif pada anak, orangtua harus proaktif untuk membangun rasa percaya diri anak sejak usia dini. Jika anak punya rasa percaya diri yang bagus, anak akan lebih berani untuk mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Sebaliknya, rasa percaya diri yang rendah seringkali menyebabkan anak tidak berani meminta maaf, dan takut mengakui kesalahannya.

9. Ajarkan Rasa Saling Menghormati
Sejak dini, ajarkan anak sikap dan prilaku untuk menghormati pihak lain. Beritahu anak bahwa orang lain memiliki perasaan, sehingga anak ditanamkan tentang pentingnya menghormati dan menjaga perasaan pihak lain. Jika anak dapat menghormati pihak lain, akan lebih mudah bagi anak untuk mau meminta maaf saat bersalah.

10. Jangan memaksa anak meminta maaf karena akan membuatnya trauma terhadap kata “maaf”. Cara memaksa tidaklah benar dan dapat menekan anak, semakin dipaksa untuk meminta maaf maka semakin sulit bagi anak untuk melakukannya. Paksaan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan, akibatnya anak menjadi benci dan menjauhi kata “minta maaf”.

11. Berikan apresiasi atau pujian saat anak berani meminta maaf, ini akan menjadikan anak semakin termotivasi. Saat anak sewaktu-waktu berani meminta maaf, pastikan memberikan pujian. Dengan hanya sebuah pujian sederhana, anak akan menyadari bahwa dirinya berhasil melakukan sesuatu yang diinginkan oleh orangtuanya.

12. Berikan alasan kenapa perlu meminta maaf, karena pertanyaan “kenapa” selalu ada di kepala anak-anak. Misalnya saat Anda meminta maaf pada si kecil, bisa jadi dia bertanya-tanya dalam hatinya. Oleh karena itu, beri tahu alasan Anda meminta maaf pada si kecil, sehingga ia paham kenapa Anda meminta maaf. Anak akan belajar bahwa ia harus meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

13. Contohkan penggunaan bahasa tubuh pendukung kata maaf. Ungkapan maaf tak hanya sekadar bahasa verbal, tapi juga termasuk bahasa nonverbal seperti pelukan, salaman atau mengelus. Lewat bahasa nonverbal, anak akan lebih mudah mengenal empati.

14. Hindari suka memarahi anak karena berdampak buruk terhadap psikologi anak, dampaknya menyebabkan anak ketakutan, trauma dan anak juga bakal sering salah dalam bersikap atau berprilaku. Selain itu, jika anak sering dimarahi, ia akan sering berbohong karena tidak berani mengakui kesalahannya sendiri. Kalau sudah begini, boro-boro anak bersedia minta maaf.




Tulisan Terkait: