8 Dampak Buruk Memaksa Anak Berhenti Menangis

Anak Menangis
Anak Menangis. Photo credit: stock.adobe.com|Johnstocker

Saat anak menangis biasanya orangtua panik dan buru-buru untuk mendiamkan anak, bahkan banyak orangtua yang terpancing emosi sehingga mendiamkan anak yang menangis secara paksa, misalnya dengan membentak anak untuk segera menghentikan tangisannya.

Hal yang disayangkan banyak orangtua langsung `alergi` saat anak menangis, padahal menangis adalah hal yang wajar untuk dialami setiap anak, sebagai bagian dari proses tumbuh-kembangnya. Memberikan ‘kesempatan’ anak untuk menangis sama dengan berempati dan menunjukkan rasa pengertian.

Dampak Buruk Memaksa Anak Berhenti Menangis


1. Anak Beresiko Gagap di Kemudian Hari

Orangtua perlu berpikir ulang dari tindakan sering memaksa anak berhenti menangis karena beresiko membuat anak menjadi gagap.

Para ahli menjelaskan bahwa gagap dapat terjadi karena trauma yang dialami saat masa kecil. Saat seorang anak kecil menangis sesenggukan tapi dipaksa berhenti (bahkan dengan ancaman) maka tangisan anak langsung tertahan.

Jika hal ini sering terjadi maka lama-kelamaan akan memengaruhi anak dan membuatnya jadi gagap. Selain itu, risiko anak menjadi gagap dapat meningkat jika ia sering stres.

2. Terhambatnya Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak 

Bahaya memaksa anak berhenti menangis yaitu perkembangan EQ anak jadi terhambat. Anak tentunya memiliki alasan mengapa ia menangis. Psikolog menjelaskan bahwa saat orangtua terus-menerus meminta anak berhenti menangis, itu sama saja dengan menekan emosi anak.

Dimana seakan-akan mengatakan kepada anak bahwa dirinya tidak boleh merasakan sesuatu, hal ini bisa sangat buruk terhadap perasaan anak dan perkembangan kecerdasan emosionalnya.

Para orangtua harus menyadari bahwa ketika anak-anak menangis, berarti mereka sedang berekspresi dan mengeluarkan perasaannya, dimana mereka tengah membangun keterampilan sosial-emosionalnya, maka jangan merusaknya.


3. Memicu Perilaku Tantrum

Dampak buruk memaksa anak berhenti menangis yaitu memicu perilaku tantrum. Sehingga, seringkali anak bisa menjadi tantrum (suka mengamuk) karena kesalahan dari orangtua itu sendiri.

Dimana kondisi anak yang sedang merasakan kesedihan tapi malah dilarang menangis. Perlu diketahui bahwa anak kecil masih belum bisa memproses emosinya, dan hal ini bisa membuatnya kebingungan.

Anak merasakan sakit dan kesedihan di hatinya sehingga ingin mengekspresikan perasaannya, larangan dari orangtuanya berupa tidak boleh menangis menyebabkan anak mencoba untuk mengekspresikan perasaannya dengan cara lain.

Diantaranya dengan cara marah, teriak-teriak, melempar benda, menendang-nendangkan kakinya dll. Anak harus mengekspresikan atau melepaskan perasaannya agar perasaannya menjadi lega, kewajiban orangtua adalah membantu anak untuk bisa meluapkan isi hatinya.

Kesalahan orangtua yang suka mendesak anak berhenti menangis beresiko menyebabkannya jadi tantrum. Penelitian menunjukan, cara terbaik dan tersehat untuk meluapkan perasaan dan menjadikan hati lega adalah dengan cara menangis, ini berlaku pada semua umur (anak maupun dewasa).

4. Anak Jadi Takut Menunjukan Perasaannya

Menangis menjadi metode anak untuk berinteraksi melalui hatinya. Apabila dia menangis, tapi justru dipaksa berhenti atau bahkan dimarahi, bukankah ini berarti melarang anak untuk mengeluarkan isi hatinya dan apa yang tengah dialaminya?

Dampaknya dari larangan tersebut menyebabkan anak bakal kesulitan dan trauma untuk menunjukan perasaannya.

Psikolog menjelaskan agar jangan mendesak anak berhenti menangis, sebab itu akan berefek negatif pada kondisi mentalnya. Menangis suatu yang wajar, karena itu adalah isi hati yang perlu disalurkan.

5. Menghilangkan Kepercayaan Diri Anak

Ketika anak didesak berhenti menangis, menyebabkan anak menjadi tidak berani untuk mengeluarkan isi hatinya. Lama-kelamaan, dampaknya bisa menurunkan rasa percaya dirinya.

Lebih lanjut, dikhawatirkan membentuk karakter penakut sehingga anak tidak berani mencoba di dalam kehidupannya, dan anak takut menghadapi tantangan. Ini akan membuatnya kesulitan untuk sukses di masa depan.


6. Anak Menjadi Sulit Berempati

Saat anak suka dipaksa berhenti menangis sehingga ia tidak bisa mengekspresikan isi hatinya, dia bakal mengerjakan hal serupa ke orang lain. Dampaknya anak sulit untuk peduli.

Misalnya tidak peduli saat ada seseorang yang tertimpa musibah dll. Dimana anak merasa dirinya yang paling menderita, kalau sudah begini maka hilang rasa kasihan dan peduli di hatinya.

7. Anak Berpikir Perasaannya Adalah Sesuatu yang Salah

Akibat suka dipaksa berhenti menangis, anak bakal berpikir bahwa perasaannya merupakan hal tidak penting, dampaknya juga anak menjadi suka memendam perasaannya.

Menyuruh anak berhenti menangis sama saja dengan meminta anak untuk mengubur emosi yang dirasakannya.

8. Anak Merasa Tidak Disayang

Anak merasa dirinya disepelekan, hal ini akan memupuk perasaan kecewa dan kebencian di dalam hatinya. Memaksa anak berhenti menangis sama seperti memberitahu anak bahwa dirinya tidak boleh mengungkapkan apa yang dirasakannya.

Memaksanya berhenti menangis seakan-akan memberitahu anak perasaannya tidak penting. Kesalahan semacam ini dapat membahayakan kejiwaan atau psikis anak, termasuk meningkatkan resiko anak terkena depresi, khususnya saat masa dewasanya kelak.


Penutup

Banyak orang mengira bahwa emosi positif hanyalah tertawa. Adapun menangis dianggap sebagai emosi negatif. Akibatnya banyak orangtua yang buru-buru menghentikan tangisan anak, karena pola pikirnya menganggap menangis adalah sesuatu yang sangat buruk.

Sayangnya, saat orangtua mendesak anak jangan menangis, tindakan tersebut mengakibatkan anak bakal memendam perasaannya.

Bahkan larangan tersebut akan menimbulkan kesan negatif dan kesalahan berpikir pada anak, yaitu menganggap perasaan sedih dan menangis merupakan suatu aib, yang dilarang dilakukan. 

Orangtua juga harus paham, anak-anak adalah makhluk yang polos dan belum bisa memiliki kematangan pemahaman seperti halnya orang dewasa. Di dunia mereka, rusaknya mainan kesayangan merupakan musibah besar dan tragis.

Sekalipun kita tak melihatnya sebagai masalah besar, tapi kita harus menunjukkan kepada anak bahwa kita peduli pada kesedihan dan rasa kehilangannya.

Menangis ternyata sangat berefek positif pada kesehatan tubuh dan mental. Salah satunya yaitu membuang hormon kortisol (pemicu stres) melalui mekanisme menangis. Faktor ini yang menyebabkan seseorang merasa lebih lega dan rasa stresnya mereda setelah menangis.

Tips Menghadapi Anak yang Menangis

  1. Jangan sampai ditatapi dengan risih
  2. Bebaskan dia secara leluasa sampai puas melakukannya. Pastikan suasana yang damai dan aman untuknya.
  3. Tidak mengapa berada di sampingnya, sehingga anak akhirnya memahami menangis bukanlah perbuatan terlarang atau tercela. Berikan kesan bahwa Anda bersimpati dan selalu ada untuknya.
  4. Bantu anak untuk bisa memahami apa yang dirasakannya. Jelaskan apa yang dirasakannya itu sesuatu yang wajar.
  5. Setelah dia puas hingga tangisannya akhirnya selesai, ajak anak mengobrol hal ringan. Misalnya tanya mengenai perasaannya saat ini. Lalu bantu anak untuk mengatasi penyebab atau pemicu ia menangis.




Baca Juga: