12 Dampak Buruk Memaksa Anak Berhenti Menangis

Saat tiba-tiba anak menangis biasanya orangtua akan panik dan buru-buru untuk mendiamkan anak, bahkan banyak orangtua yang terpancing emosi sehingga mendiamkan anak yang menangis secara paksa, misalnya dengan membentak si kecil untuk segera menghentikan tangisannya.

Hal yang disayangkan banyak orangtua langsung `alergi` saat anak menangis, padahal menangis adalah hal yang wajar untuk dialami setiap anak sebagai bagian dari proses tumbuh-kembangnya. Memberikan ‘kesempatan’ anak untuk menangis sama dengan berempati dan menunjukkan rasa pengertian.

Anak Menangis
Anak Menangis. Photo credit: stock.adobe.com|Johnstocker

Berikut dampak buruk suka menghentikan tangisan anak secara paksa:

1. Anak Beresiko Gagap di Kemudian Hari
Orangtua perlu berpikir ulang dari tindakan sering memaksa anak berhenti menangis, karena beresiko membuat anak menjadi gagap. Para ahli menjelaskan bahwa gagap dapat terjadi karena trauma yang dialami saat masa kecil, saat seorang anak kecil menangis sesenggukan tapi dipaksa berhenti oleh orangtuanya (bahkan dengan ancaman) maka tangis anak langsung tertahan. Jika hal ini sering terjadi maka lama-kelamaan akan memengaruhi anak dan membuatnya jadi gagap.

Gagap bisa terjadi saat memulai berbicara dan ada juga yang terjadi saat mau mengakhiri satu kata/kalimat. Sebenarnya ada banyak faktornya, tapi salah satu penyebab gagap yaitu adanya gangguan pada saraf atau bagian otak yang mengendalikan kemampuan berbicara, selain itu risiko seorang anak menjadi gagap dapat meningkat jika ia sering stres, seperti akibat terlalu banyak tugas menumpuk yang harus dikerjakan, mengalami bullying dari teman-temannya dan semacamnya.


2. Terhambatnya Perkembangan Kecerdasan Emosional Anak 
Anak tentunya memiliki alasan mengapa ia menangis. Psikolog menjelaskan bahwa saat orangtua terus-menerus meminta anak berhenti menangis, itu sama saja dengan menekan emosi anak, dimana seakan-akan mengatakan kepada anak bahwa dirinya tidak boleh merasakan sesuatu, hal ini bisa sangat buruk terhadap perasaan anak dan perkembangan kecerdasan emosionalnya.

Para orangtua harus menyadari bahwa saat anak-anak menangis, itu berarti mereka sedang berekspresi dan mengeluarkan perasaannya, dimana anak sedang membangun keterampilan sosial-emosionalnya, maka orangtua jangan merusaknya.

3. Memicu Prilaku Tantrum
Anak bisa menjadi tantrum (suka mengamuk) seringkali karena kesalahan dari orangtua itu sendiri. Kondisi anak yang sedang merasakan kesedihan tapi malah dilarang menangis, perlu diketahui bahwa anak kecil masih belum bisa memproses emosinya, dan hal ini bisa membuatnya kebingungan.

Anak merasakan sakit dan kesedihan di hatinya sehingga ingin mengekspresikan perasaannya, larangan dari orangtuanya berupa tidak boleh menangis menyebabkan anak mencoba untuk mengekspresikan perasannya dengan cara lain. Diantaranya dengan cara marah, teriak-teriak, melempar benda, menendang-nendangkan kakinya dll.

Anak harus mengekpresikan atau melepaskan perasannya agar perasaannya menjadi lega, kewajiban orangtua adalah membantu anak untuk bisa mengekspresikan perasannya. Kesalahan orangtua yang suka memaksa anak berhenti menangis bisa menyebabkan anak menjadi tantrum. Penelitian menunjukan bahwa cara terbaik dan tersehat untuk meluapkan perasaan dan membuat perasaan menjadi lega adalah dengan cara menangis, ini berlaku untuk anak-anak maupun orang dewasa.


4. Anak Menjadi Takut Menunjukan Perasaannya
Menangis merupakan cara seseorang berkomunikasi lewat ekspresinya. Jika anak menangis malah dipaksa berhenti atau bahkan dimarahi, bukankah ini berarti melarang anak untuk menunjukkan perasaan yang sedang dialaminya?

Dampaknya dari larangan tersebut menyebabkan anak bakal kesulitan dan truma untuk menunjukan perasannya. Psikolog menjelaskan bahwa menangis adalah hal yang wajar dan tidak boleh dihindari, termasuk tidak boleh memaksa anak berhenti menangis karena memengaruhi perkembangan mentalnya, anak menangis itu wajar karena itu adalah luapan emosi yang harus dikeluarkan.

5. Menurunkan Kepercayaan Diri Anak
Saat orangtua melarang anak untuk mengekspresikan perasaannya, dampaknya bisa menurunkan rasa percaya diri si Kecil. Padahal anak perlu membangun kepercayaan diri sebagai bekal saat dewasa nanti. Selain itu juga dikhawatirkan membentuk karakter anak menjadi penakut dan tidak berani mencoba, ini akan membuatnya kesulitan untuk sukses di masa depan.

6. Anak Menjadi Sulit Berempati
Saat anak sering dipaksa berhenti menangis sehingga ia tidak bisa mengekspresikan perasaannya, dia akan melakukan hal yang sama pada orang lain. Dampaknya anak kehilangan rasa empati, misalnya tidak peduli saat melihat temannya sedih dll.


7. Anak Merasa Perasaannya Adalah Sesuatu yang Salah
Akibat sering dipaksa berhenti menangis, anak akan merasa bahwa emosi yang ia rasakan adalah sesuatu yang salah, dampaknya juga anak menjadi suka memendam perasaannya.

8. Anak merasa dirinya disepelekan, hal ini akan memupuk perasaan kecewa dan kebencian di dalam hatinya.

9. Menyuruh anak berhenti menangis sama saja dengan meminta anak untuk mengubur emosi yang dirasakannya.

10. Menyuruh anak berhenti menangis sama saja dengan memberitahu anak bahwa dirinya tidak boleh mengungkapkan apa yang dirasakannya.

11. Menyuruh anak berhenti menangis seakan-akan memberitahu anak bahwa masalah dan perasaannya tidak penting. Kesalahan orangtua yang seperti ini dapat membahayakan kejiwaan dan kesehatan mental anak.

12. Meningkatkan resiko anak terkena depresi, khususnya saat masa dewasanya kelak.

Penutup

Banyak orang mengira bahwa ekspresi kegembiraan seperti tertawa adalah contoh dari emosi baik. Adapun sedih dan menangis dianggap sebagai emosi yang buruk. Akibatnya banyak orangtua yang buru-buru menghentikan tangisan anak, karena pola pikirnya menganggap menangis adalah sesuatu yang sangat buruk.


Sayangnya, saat orangtua melarang anak menangis, itu sama saja dengan membuat anak berhenti untuk mengungkapkan perasannya. Bahkan larangan tersebut akan membawa pesan tersendiri kepada anak yaitu perasaan sedih dan menangis adalah sesuatu yang salah alias tidak boleh sampai dirasakan. Padahal, penelitian menunjukan bahwa menahan ekspresi perasaan, rasa sedih dan tangisan dapat menghambat perkembangan emosional anak.

Orangtua juga harus tahu bahwa anak-anak adalah makhluk yang polos dan belum bisa memiliki kematangan pemahaman seperti halnya orang dewasa. Di dunia anak-anak, kehilangan mainan kesayangan adalah musibah besar dan tragis. Sekalipun kita tidak melihatnya sebagai masalah besar, tapi kita harus menunjukkan kepada anak bahwa kita peduli dengan kesedihan dan rasa kehilangannya.

Menangis memberikan banyak manfaat untuk kesehatan tubuh dan mental. Saat menangis, tubuh akan mengeluarkan hormon stres dan zat sisa lewat cairan air mata, faktor ini yang menyebabkan seseorang merasa lebih lega dan rasa stresnya mereda setelah menangis. Selain itu, air mata yang keluar dapat membersihkan kotoran (seperti debu dan serpihan) menuju keluar dari dalam tubuh sehingga tubuh terhindar dari infeksi.

Beberapa tips bagi orangtua saat menghadapi anak yang sedang menangis:
  1. Biarkan anak menangis dengan leluasa, berikan rasa nyaman untuknya dan jangan ditatapi dengan risih.
  2. Tetap berada di dekat anak agar ia tahu bahwa tidak apa-apa untuk menangis, berikan kesan bahwa Anda bersimpati dan selalu ada untuknya.
  3. Bantu anak untuk bisa memahami apa yang dirasakannya, jelaskan bahwa apa yang dirasakannya itu tidak salah dan hal yang wajar.
  4. Setelah beberapa saat anak menangis hingga akhirnya mereda, bicarakan tentang bagaimana perasaannya sekarang. Lalu bantu anak untuk mengatasi penyebab atau pemicu ia menangis.




Tulisan Terkait: