17 Cara Mengatasi Anak Tantrum dengan Tepat (Penyebab dan Tanda-Tandanya)

Tantrum biasanya terjadi pada anak rentang usia 1-4 tahun. Tantrum merupakan kondisi anak meluapkan emosinya secara ekstrem seperti menangis atau teriak sekencang-kencangnya, berguling-guling di lantai, bahkan memukul dan melempar barang yang ada di sekitarnya.

Prilaku tantrum anak beresiko menganggu orang-orang disekitar yang membuat orangtuanya malu. Sebenarnya prilaku tantrum merupakan bagian dari proses perkembangan anak, sehingga orangtua tidak perlu terlalu panik, hanya saja perlu penanganan yang tepat sehingga meminimalisir dampak buruknya. 

Anak Tantrum
Anak Tantrum. Photo credit: shutterstock.com|Kamelia Ilieva

Berikut beberapa tips mengatasi tantrum pada anak:


1. Pertama-tama Orangtua Harus Memahami Pemicu Tantrum Anak
Munculnya prilaku tantrum biasanya karena terbatasnya kemampuan bahasa anak, dimana akibat anak kesulitan untuk mengekspresikan perasaannya menyebabkan timbulnya prilaku tantrum seperti berteriak, menangis, menjerit, berguling-guling, menendang-nendangkan kakinya dll. Prilaku tantrum bisa semakin parah jika anak juga memiliki masalah autisme.

Tantrum pada anak tidak boleh diabaikan, tapi juga harus disikapi dengan bijak karena dapat mempengaruhi perkembangannya di masa depan. Tantrum dipicu oleh terbatasnya kemampuan anak untuk mengekspresikan perasaannya, alhasil anak meluapkan emosinya dengan tindakan agresif. Anak butuh waktu untuk belajar mengekspresikan dan mengelola perasaannya.

Kedekatan dan hubungan batin yang kuat antara orangtua dan anak sangatlah penting untuk meminimalisir tantrum anak. Hal-hal lain yang menjadi penyebab anak tantrum:
  1. Anak merasa kewalahan oleh sesuatu.
  2. Jenuh atau rasa bosan.
  3. Merasa lapar.
  4. Merasa gerah atau kepanasan.
  5. Anak merasa tidak didengar.
  6. Merasa haus.
  7. Anak membutuhkan perhatian.
  8. Faktor lingkungan, yaitu anak tantrum saat berada di kondisi lingkungan tertentu. Orangtua perlu peka terhadap gerik-gerik dan keadaan anak, perhatikan hal-hal yang bisa memicu tantrum anak di suatu lingkungan. Misalnya anak bisa menjadi tantrum saat suasana terlalu berisik, berada di ruangan sempit, keberadaan anak lain yang menganggu dll.
  9. Anak biasanya secara mendadak menjadi tantrum saat berada di supermarket karena menginginkan sesuatu. Sehingga usahakan persingkat ativitas di supermarket untuk meminimalisir tantrum anak.
  10. Perasaan takut bisa memicu anak menjadi tantrum, misalnya takut pada hewan atau hal lainnya. Orangtua perlu membantu anak untuk belajar mengendalikan rasa takutnya.
  11. Anak bisa beresiko mengalami tantrum jika sering mengalami pertengkaran dengan orang lain atau saudaranya sendiri. Sehingga penting bagi orangtua untuk menciptakan suasana harmonis di dalam rumah, jangan biarkan anak saling berkata kasar. Ejekan dan perkataan kasar dapat memicu pertengkaran di dalam rumah, orangtua perlu memberikan contoh langsung perkataan yang baik dan lembut di dalam rumah.
  12. Anak bisa menjadi tantrum karena orangtua mengucapkan kata-kata tertentu, ingat-ingat apakah ada perkataan dari ayah atau bunda yang membuat anak jadi tantrum. Juga termasuk kesalahan fatal yaitu melarang anak dengan cara menakut-nakutinya atau bahkan mengancamnya, jika keseringan ini bisa membuat anak tantrum.
  13. Kondisi fisik anak bisa sangat mempengaruhi suasana hatinya. Anak bisa menjadi tantrum karena rasa lapar yang sulit diungkapkan, atau karena hal lainnya. Orangtua harus proaktif, secara rutin tanyakan kepada anak “Kamu lapar?” “Mengantuk?” dan semacamnya.

Anak juga bisa menjadi tantrum saat mengalami perubahan aktivitas dari yang biasanya dia lakukan. Misalnya anak yang biasanya bermain di siang hari, tapi pada hari itu anak justru ikut bersama Anda ke suatu tempat, hal-hal seperti ini bisa memicu tantrum anak, perubahan rutinitas bisa menimbulkan rasa tidak nyaman pada anak. Anak berharap bermain dengan temannya seperti biasa, tapi kini dia harus berada di tempat yang tidak dikenalnya dan berhadapan dengan banyak orang asing.


2. Sikapi dengan Tenang
Berusaha tetap tenang saat menghadapi tantrum anak, jangan merespon secara kasar karena bakal memperparah tantrumnya, yaitu anak bakal semakin mengamuk. Saat tantrum, anak sedang mengeluarkan energinya yang berlebih, lama-kelamaan anak bakal capek sendiri dan berhenti dari tantrumnya.

Adapun jika orangtua ikut-ikutan teriak saat anak tantrum, hal ini justru akan ‘memprovokasi anak’ untuk semakin mengamuk. Ketenangan sangat penting disini, orangtua jangan sampai terpancing dan kehilangan kontrol diri.

3. Memeluk Anak
Memeluk anak sebenarnya harus sering-sering dilakukan setiap hari, hal ini akan menjadikan anak merasa disayangi oleh orangtuanya. Perasaan merasa disayang ini sangat penting bagi anak untuk suasana hatinya yang positif, sehingga dapat meminimalisir tantrum anak.

Anak suka mengamuk biasanya karena selama ini merasa kurang disayang oleh orangtuanya, pelukan menjadikan anak merasa aman, nyaman dan tahu bahwa orangtuanya peduli. Dengan begitu biasakan untuk memeluk si Kecil, jadikan ini ritual wajib setiap hari.

4. Jangan Selalu Turuti Semua Keinginan Anak
Para ahli menjelaskan bahwa masalah tantrum pada anak bisa terjadi karena kesalahan dari orangtua itu sendiri, misalnya orangtua menyerah terlalu cepat terhadap tuntutan anak. Mengabulkan semua tuntutan/permintaan anak adalah sebuah kesalahan.

Tidak semua tuntutan anak perlu dipenuhi sekalipun si Anak ngambek. Hal itu karena dikhawatirkan perilaku tantrum dijadikan senjata oleh anak untuk memaksa orangtuanya, akibatnya anak terus-terusan suka tantrum, menangis atau mengamuk, ini sangat buruk untuk perkembangannya.

Jangan sampai anak menjadikan tantrum sebagai senjata dan jalan pintas untuk mendapatkan apa yang ia mau. Orangtua perlu bijak dalam memenuhi permintaan anak, permintaan anak yang aneh-aneh atau berlebihan seharusnya jangan dituruti.


5. Jauhkan Anak dari Tayangan Kekerasan
Jika anak suka tantrum dengan cara mengamuk, membanting barang bahkan memukul, maka ini biasanya akibat anak mencontoh bentuk-bentuk kekerasan yang ada di lingkungannya. Sehingga peran orangtua sangat penting untuk menjaga anak dari melihat segala hal yang mengandung unsur kekerasan, baik itu dari TV maupun lingkungan tempatnya berada.

Selain itu juga, hindari sebisa mungkin mendisiplinkan anak dengan cara kasar seperti meneriaki dan memukul karena anak bakal meniru nantinya.

6. Mengalihkan Perhatian Anak
Gunakan trik untuk mengatasi anak tantrum, misalnya dengan mengalihkan perhatian anak, boleh-boleh saja dilakukan jika caranya tepat. Hal itu karena yang namanya anak kecil biasanya sangat mudah melupakan sesuatu dan tertarik pada hal baru. Alihkan perhatian anak dengan hal-hal yang disukainya seperti mainan, camilan, memperlihatkan sesuatu yang menarik dll.

Saat anak tantrum di tempat umum biasanya membuat orangtua kerepotan dan malu karena ulahnya. Orangtua perlu mempersiapkan segala yang diperlukan sebelumnya, misalnya saat berbelanja hendaknya membawa mainan anak atau barang yang disukainya sehingga membuat anak sibuk sendiri.

Selain itu biasanya anak tantrum karena lapar, anak sering meluapkan emosinya saat lapar atau kelelahan, orangtua perlu memastikan anak dalam keadaan kenyang saat pergi ke luar rumah. Bawahlah beberapa camilan hingga mainan favorit anak, hal-hal ini tampak sepele tapi ternyata sangat berguna.

7. Orangtua dan Anak Perlu Saling Memahami
Misalnya saat orangtua pergi bersama anak ke mall, berikan anak pemahaman bahwa tujuan pergi ke mall adalah untuk membeli makanan, bukan es krim atau mainan. Biasakan untuk memberikan anak pemahaman, termasuk saat mengajak anak pergi ke tempat yang baru didatangi, kemungkinan anak merasa tidak nyaman dan gampang bosan, apalagi jika ia berada di tempat yang tidak membuatnya leluasa bergerak, anak biasanya ingin pulang.

Untuk mencegah anak tantrum di tempat umum maka komunikasikan dengan anak. Misalnya saat anak merasa tidak nyaman di pasar, maka berikan anak pemahaman bahwa dirinya tidak akan terjebak disana dalam waktu lama, bilanglah ke anak “Setelah ini kita cari baju buat kamu, lalu pulang.”


8. Pastikan anak cukup istirahat, kurang istirahat membuat anak gampang sekali tantrum. Orangtua perlu proaktif untuk mengetahui kondisi anak, tanyakan pada anak: “Kamu capek nggak? Anda juga bisa mengenali anak lelah atau tidak dengan mengamati keaktifan anak. Saat anak cenderung diam, ini tanda bahwa anak butuh istirahat. Pastikan kebutuhan istirahat anak terpenuhi dengan baik.

9. Saat anak tantrum Anda jangan panik, panik hanya membuat Anda tidak bisa berpikir jernih untuk menghadapi perilaku anak. Untuk membantu meredakan emosi diri, tarik napas dalam-dalam secara perlahan lalu hembuskan, lakukan beberapa kali, biasanya emosi Anda akan mereda.

10. Hadapi tantrum anak dengan tenang, perlu diketahui bahwa orang tua adalah panutan anak dalam menghadapi kemarahan, sehingga tahan diri dari tindakan meninggikan suara kepada anak, ajaklah anak bicara dengan nada yang rendah dan pelan-pelan. Biasakan merespon anak dengan tenang, karena ketenangan orangtua lama-kelamaan akan ‘menular’ kepada anak.

11. Kunci dalam mengatasi anak tantrum adalah tetap tenang, jika Ayah dan Bunda panik maka keputusan yang diambil dalam menghadapi tantrum anak biasanya kurang bijaksana. 

12. Saat anak tantrum jauhkan barang-barang berbahaya darinya, seperti benda-benda keras dan terbuat dari kaca agar tidak membahayakan si Kecil dan orang di sekitarnya.

13. Terapkan strategi pemberian reward sebagai cara untuk mengatasi anak tantrum. Saat anak sukses untuk bersikap tenang atau tidak tantrum maka berikan reward berupa pujian maupun hadiah. Cara ini efektif untuk mengurangi frekuensi tantrum anak.

14. Berikan anak ruang untuk berekspresi dan berbicara dalam kehidupan sehari-hari karena sangat bermanfat untuk perkembangan emosi dan psikisnya. Termasuk berikan anak ruang kesempatan untuk meluapkan emosinya, misalnya saat anak menangis atau bersedih maka jangan dihentikan paksa, biarkan anak menikmati untuk menyalurkan perasaannya secara sehat dan leluasa.


15. Kesalahan banyak orangtua adalah bersikap kaku seperti menghentikan tangisan anak secara paksa, ini membuat anak terhambat dalam menyalurkan perasaannya sehingga berdampak buruk terhadap psikisnya. Kondisi psikis yang tidak baik menyebabkan anak gampang tantrum. Anak harus punya kesempatan untuk mengenali perasannya sendiri.

16. Orangtua juga harus menunjukan rasa empati kepada anak dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak yang menjadi tantrum biasanya karena kesalahan orangtunya sendiri yang cuek dan kurang peduli terhadap perasaan anak.

17. Sejak usia dini mulailah mengajarkan anak untuk membedakan hal-hal baik dan buruk. Jika anak telah paham mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan, maka akan sangat membantu. Hal ini efektif untuk menurunkan frekuensi tantrum anak.

Penutup
Walaupun menangani prilaku tantrum anak sangat melelahkan dan menghabiskan banyak energi, tapi sebenarnya tantrum merupakan bagian dari proses tumbuh-kembang anak. Anak yang tantrum sedang berjuang dan mengungkapkan rasa frustrasi dirinya, ini juga akan membantu anak untuk belajar mengenali dan mengelola perasaannya, anak belajar mengendalikan diri dan mengatasi emosi negatif.

Seiring berjalannya waktu, anak bakal menyadari bahwa tantrum bukanlah cara tepat untuk menarik perhatian orangtua, anak akan belajar dari waktu ke waktu, khususnya belajar untuk mengungkapkan keinginannya melalui kata-kata. Tantrum mereda dengan sendirinya seiring berkembangnya kemampuan anak dalam mengekspresikan perasaan dan pengendalian diri. Dengan komunikasi yang sehat dan teknik parenting yang baik sehingga membentuk karakter anak ke arah positif.




Tulisan Terkait: