14 Tanda Anak Mengalami Gangguan Pendengaran dan Penanganannya


Gangguan pendengaran bisa menghambat proses tumbuh kembang anak, khsusnya dapat mengganggu proses komunikasi. Saat anak dinyatakan mengalami gangguan pendengaran bukan berarti ia mengalami tuli. Gangguan ini berbeda dengan tuli, jadi jangan disamakan.

Gangguan proses mendengar (Auditory Processing Disorder) menyebabkan anak sering keliru dalam menerima informasi, khususnya saat di tempat yang ramai. Nantinya gangguan ini mulai sangat terasa saat memasuki usia sekolah, dimana anak kemungkinan mengalami kesulitan untuk mendengar (menangkap) penjelasan lisan dari guru.

Anak-Anak Bermain
Anak-Anak Bermain. Photo credit: istockphoto.com|U.Ozel.Images

Beberapa gejala atau tanda anak mengalami gangguan pendengaran:

1. Anak kesulitan menemukan sumber suara. Anak dengan gangguan proses pendengaran biasanya akan kesulitan menemukan sumber suara, misalnya ia akan kebingungan menemukan dari arah mana orang yang memanggilnya. Cobalah melakukan tes sederhana: tutup mata anak dengan kain, lalu coba panggil namanya. Perhatikan bagaimana respon anak, apakah anak mampu mengarah ke sumber suara.

2. Anak kesulitan memahami pembicaraan, terutama jika disekeliling terdapat beberapa orang yang saling mengobrol, atau terdapat banyak suara latar sehingga anak kesulitan untuk menangkap perkataan. Hal seperti ini bisa terjadi karena kemampuan anak dalam membedakan suara tidak berkembang (atau berkembang lambat), akibatnya anak tidak dapat membedakan antara bunyi frekuensi, durasi dan intensitas yang berbeda.

Anak yang mengalami gangguan proses mendengar akan tampak kesulitan dalam membedakan suara dari kebisingan latar belakang. Anak kemungkinan juga kesulitan memahami saat seseorang berbicara dengan cepat. Latih anak untuk membedakan suara, caranya Anda berbicara disertai latar belakang suara TV bervolume rendah. Minta anak untuk fokus pada suara Anda saja.

3. Anak lemah dalam pelafalan dan membaca, bahkan saat beryanyi anak mungkin mengubah lirik dan nada (atau lirik dan nadanya kurang tepat), anak dengan gangguan ini sering salah dalam melafalkan suatu kata. Hal itu karena saat seseorang belajar membaca, mengeja maupun bernyanyi sangat bergantung pada kemampuan mendengar, seperti mengidentifikasi dan menggabungkan suku kata, mengikutsertakan makna pada bunyi, hingga mengingat urutan bunyi dan kata-kata. Selain itu, anak juga kemungkinan hanya memiliki kosakata yang lebih sedikit (dibandingkan anak-anak seusianya).

4. Anak kesulitan membedakan kata yang terdengar serupa. Misalnya, anak kesulitan dalam mengidentifikasi atau membedakan ucapan antara “katak” dan “kotak”.

5. Anak mudah terganggu dengan suara bising, dimana anak mengalami kesulitan untuk mendengarkan ucapan di tempat yang bising, karena tidak mampu membedakan antara suara utama dengan suara latar.

6. Anak cenderung melihat wajah ketika diajak bicara. Anak yang mengalami gangguan pendengaran cenderung selalu melihat wajah dan gerak bibir lawan bicaranya. 

7. Terlambat bicara. Terlambat bicara bisa menjadi gejala anak mengalami gangguan pendengaran, walau tidak selalu. Orangtua perlu memperhatikan rentang umur anak dan tahapan bicaranya. 

8. Anak tidak dapat mengikuti urutan bunyi, kesulitan mengikuti instruksi verbal, ataupun kesulitan dalam mengulangi bunyi dan ucapan.

9. Pelafalan bicara anak tidak jelas.

10. Anak tidak bisa mengikuti instruksi.

11. Anak sering berkata “Hah?” atau “Apa?” ketika diajak berbicara.

12. Anak berbicara dengan suara yang lebih keras dari biasanya.

13. Anak suka memutar alat elektronik (TV, gadget dll) dengan volume suara yang tinggi.

14. Anak terkadang mengeluh bahwa ia hanya bisa mendengar di salah satu telinga saja.

Gangguan Pendengaran pada Bayi
Gangguan pendengaran bisa terjadi sejak lahir akibat kelainan bawaan, dan bisa juga terjadi dalam proses pertumbuhan anak. Meski pendengaran anak baik saat lahir, orangtua tetap perlu waspada karena ada potensi gangguan pendengaran saat masa proses tumbuh kembang anak. Berikut gejala gangguan pendengaran pada bayi:

Usia di bawah 15 bulan
  1. Tidak terkejut saat mendengar suara dengan volume tinggi
  2. Saat dipanggil dengan suara yang familiar, bayi tidak menoleh atau tersenyum (tidak merespon).
  3. Saat rewel tidak terlihat lebih tenang walaupun ada suara penuh kasih sayang dari orangtua atau orang terdekatnya.
  4. Tidak tertarik dengan mainan yang mengeluarkan bunyi.
  5. Tidak berceloteh ”ma-ma”, ”da-da”, ”ta-ta” atau semacamnya.
  6. Tidak mengeluarkan berbagai macam intonasi suara untuk mengekspresikan rasa bahagia, bosan, marah atau sedih.
  7. Tidak menunjukkan respons ketika namanya dipanggil.
  8. Tidak mencoba mengulangi kata-kata yang diucapkan oleh orang dewasa di dekatnya.
  9. Tidak mampu mengucapkan berbagai macam suara dengan berbagai suku kata.

Usia diatas 15 bulan
  1. Tidak tertarik mendengarkan cerita atau nyanyian.
  2. Tidak mampu mengucapkan kata sehari-hari yang sederhana, seperti mama, papa, makan, pipis dan sebagainya.
  3. Tidak menjawab jika dipanggil.
  4. Belum bisa berbicara membentuk satu atau dua kata.
  5. Tidak mampu menunjuk anggota tubuh sendiri saat orangtua memintanya.
  6. Saat menonton televisi, maunya dengan volume keras.
  7. Saat ditanya, seringkali jawabannya tidak nyambung.
  8. Tidak sering berbicara.
  9. Artikulasi bicara tidak jelas.
  10. Terkadang mengeluhkan nyeri di telinga atau merasa bahwa telinganya penuh.

Beberapa upaya yang bisa dilakukan orangtua dalam menekan efek dari gangguan ini, yaitu:
  1. Lakukan latihan mendengar pada anak seperti pengenalan suara, mencari sumber suara, dan melatih anak untuk berkonsentrasi pada satu titik suara di sekitar kebisingan.
  2. Orangtua harus menghindari berbicara telalu cepat dan panjang, hal ini penting agar anak dapat menangkap setiap ucapan orangtua.
  3. Buka mulut dengan baik saat berbicara, sehingga artikulasi menjadi jelas.
  4. Usahakan untuk membuat kondisi rumah dengan setenang mungkin, maksudnya yaitu meminimalkan suara-suara gangguan seperti dari TV, radio, gadget, sound system dll.

Penutup: Pendengaran yang normal adalah hal yang sangat esensial dalam perkembangan anak. Kemampuan mendengar berpengaruh besar terhadap perkembangan kemampuan berbicara, proses stimulasi kemampuan berpikir, hingga kelancaran dalam komunikasi sehari-hari. Seorang anak yang mengalami gangguan pendengaran maka perkembangannya akan terhambat, jika orang tua sejak awal memahami gejala gangguan pendengaran pada anak, maka berbagai upaya bisa dilakukan sejak dini sehingga kondisi anak dapat membaik secara cepat. Gangguan pendengaran pada anak bisa bersifat sementara atau permanen, namun yang terpenting adalah mendeteksinya sejak awal agar bisa ditangani sedini mungkin, sehingga tumbuh-kembang anak tetap bisa berjalan optimal.




Tulisan Terkait: