15 Cara Tepat Mengatasi Kakak-Adik Sering Bertengkar

Tentu harapan semua orangtua ingin agar anak-anaknya bisa rukun dan saling menyayangi, tapi yang namanya anak-anak suka sekali bertengkar karena hal-hal sepele. Alasan kenapa kakak adik bertengkar, salah satunya yaitu karena itu bagian dari tumbuh-kembang mereka. Seiring bertambahnya usia anak, anak memiliki insting untuk melindungi apa yang dimilikinya. Disaat yang bersamaan, anak juga sedang belajar untuk tegas terhadap keinginan dan haknya, sehingga hal inilah yang membuat anak jadi agresif.

Anak Bertengkar
Photo credit: istockphoto.com|Imgorthand

Pertengkaran rentan terjadi pada kakak-adik yang jarak usianya tidak berbeda jauh. Selain itu anak-anak mencontoh apa-apa yang dilihat dan didengarnya, jika anak sering melihat kekerasan maka anak bakal mempraktekan-nya di dalam kehidupan. Kondisi suasana hati anak juga sangat mempengaruhi perilaku anak.

Anak-anak sering bertengkar karena rebutan mainan, rebutan remote TV dan semacamnya. Pertengkaran anak-anak tentu membuat orangtua emosi dan kesal, tapi orangtua hendaknya berusaha menahan diri untuk marah-marah. Sebenarnya hubungan persaudaraan sangatlah penting dan bermanfaat, karena memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar membela diri, mengasah kemampuannya dan sebagai persiapan sebelum bergaul dengan orang lain di luar rumah. Hanya saja, hubungan kakak-adik tidak selalu berjalan mulus, dalam masa-masa tertentu mereka berselisih dan bertengkar.

Berikut beberapa tips mengatasi pertengkaran kakak-adik yang sering terjadi:


1. Orangtua perlu bersikap tenang dan berpikir jernih, lihat situasinya dahulu seperti apa sebelum melakukan tindakan. Saat anak bertengkar tapi masih sebatas adu argumentasi, tidak perlu terburu-buru mengambil tindakan. Tidak semua pertengkaran berakhir dengan aksi saling pukul, dimana adakalanya orangtua memberikan kesempatan pada anak-anak menyelesaikan masalah mereka sendiri.

Orangtua baru mulai mengambil tindakan tegas jika ada salah satu anak yang mulai terlihat agresif, lalu jadilah hakim untuk keduanya. Kesalahan banyak orangtua adalah terburu-buru (dalam keadaan emosi dan sulit berpikir jernih) menangani perselisihan anak, sehingga akhirnya malah memarahi habis-habisan kedua anak yang berselisih.

Hal ini justru semakin memperburuk keadaan, yaitu perselisihan kedua anak tidak terselesaikan, ditambahkan kedua anak kecewa dan sakit hati dengan sikap orangtuanya, akibatnya wibawa orangtua dan kepercayaan anak-anak pada orangtuanya menurun. Tangani perselisihan anak dengan pikiran yang tenang dan jernih, sehingga akan didapatkan solusi yang bagus. Ingat, perselisihan anak adalah hal biasa, bahkan orang dewasa pun berselisih, sehingga orangtua tidak perlu kebakaran jenggot.

2. Cara Memisahkan Anak. Saat kedua anak sudah mulai main fisik dan tidak bisa mengontrol diri, maka ini bisa menjurus ke hal yang berbahaya, orangtua perlu segera memisahkan anak di ruangan yang berbeda, jauhkan tempat berada dari kedua anak tersebut. Biarkan mereka berada di ruangan berbeda hingga akhirnya mulai tenang kembali.

Setelah suasana kembali tenang, jangan fokus mencari tahu kesalahan apa yang dilakukan anak. Justru seharusnya mendorong anak untuk saling memaafkan antara satu sama lain. Dalam menangani anak terapkan metode “win-win solution” yaitu orangtua mencarikan solusi pertengahan yang dapat memuaskan kedua pihak.

Tidak mudah memang menghadapi pertengkaran anak, namun cara orangtua dalam bersikap dan merespon akan berimbas pada perilaku anak di masa depan. Tindakan orangtua akan menjadi contoh dan teladan bagi anak-anak dalam menyelesaikan masalah.


3. Orangtua harus bisa menjadi pendengar yang baik untuk kedua anak. Sebagai orangtua yang bijak, orangtua harus memberikan kesempatan bagi kedua pihak untuk berbicara, jangan hanya mendengar dari satu pihak saja. Jangan terburu-buru memutuskan perkara sebelum mendengar dari kedua pihak.

4. Orangtua jangan sampai memihak, seperti karena faktor usia atau faktor lainnya. Jangan sampai salah satu anak merasakan ketidakadilan, sehingga sangat penting komunikasi yang baik dan rasa saling pengertian sangat dibutuhkan. Tidak selalu kakak harus mengalah pada adiknya, ini akan membuat si Kakak merasa semakin jengkel pada adiknya, dan merasa orangtuanya tidak adil.

5. Jangan Membanding-bandingkan Anak. Kesalahan fatal orangtua yang jarang disadari adalah suka membanding-bandingkan anak. Anak kecil memang sepertinya belum paham apa-apa, tapi perasaannya sudah berfungsi dengan baik. Saat anak dibanding-bandingkan maka bisa menyakiti hatinya dan akan timbul kebencian di dalam hatinya. 

Setiap anak itu unik, bahkan kakak-beradik bisa memiliki karakter yang berbeda. Membandingkan anak dapat menimbulkan rasa cemburu diantara mereka sehingga memicu pertengkaran. Saat orangtua membanding-bandingkan, sama saja dengan mengadu domba anak.

6. Hindari memberi nasihat saat situasi masih panas. Tunggu sampai emosi kakak-adik mereda dan manfaatkan kesempatan lain. Misalnya saat sedang menyuapi si Adik, tanyakan apa yang membuatnya bertengkar dengan kakaknya, lalu jelaskan pelan-pelan bahwa bertengkar itu tidak baik. Demikian juga berikan nasehat yang sama pada si Kakak di lain kesempatan. Nasehati si Kakak tapi hindari memberikan perintah mengalah, si Kakak akan merasa diperlakukan tidak adil jika diperintah untuk selalu mengalah.


7. Kenalkan sistem bergantian, biasanya kakak-adik bertengkar karena berebut sesuatu seperti mainan. Ketika anak-anak paham dengan aturan bergantian, maka ini dapat meminimalisir pertengkaran yang itu-itu lagi. Selain itu dengan belajar bergantian, ini juga mengajarkan anak untuk bisa menghargai pihak lain.

8. Ajarkan masing-masing anak untuk melihat sudut pandang berbeda. Misalnya saat si Adik ingin mainan kakaknya, lalu terjadilah konflik. Cobalah ajak si Kakak memahami perasaan si Adik, kenapa adiknya marah dan memukul. Lalu ajak si Adik memahami perasaan si Kakak, tanya kepada si Adik bagaimana perasaannya kalau ada orang yang merebut mainannya. Orangtua perlu rajin-rajin memberikan pemahaman kepada si Kakak dan si Adik, sehingga kedua pihak bisa saling memahami perasaan masing-masing.

9. Ajarkan anak bagaimana seharusnya cara bersikap yang benar, misalnya mengajarkan anak caranya meminjam barang milik pihak lain, sehingga tidak asal merebut mainan milik pihak lain.

10. Berikan perhatian yang merata pada semua anak. Seringkali pertengkaran terjadi karena salah satu anak merasa iri pada anak lainnya karena lebih diperhatikan.

11. Jika ingin memberikan hadiah, maka pastikan semua anak dapat. Saat Anda ingin memberikan hadiah hanya pada salah satu anak saja, maka lebih baik batalkan dan tidak usah memberikan hadiah sekalian. Jangan sampai anak saling membenci akibat kesalahan orangtuanya sendiri.

12. Budayakan di dalam rumah untuk mengucapkan kata-kata yang baik, jangan biarkan anak berkata kotor atau kasar. Perkataan kasar dapat memicu pertengkaran antara kakak dan adik.


13. Ajarkan dan biasakan anak-anak untuk mengatakan “tolong”, “maaf”, dan “terimakasih”. Itu merupakan kata-kata ajaib yang dapat menjadikan anak untuk saling menghargai, sehingga efektif mencegah terjadinya pertengkaran.

14. Dorong kakak dan adik untuk bekerja sama, misalnya bekerja sama mengerjakan tugas rumah, merapikan kamar, mencuci piring, menyiram tanaman, membersihkan rumah, mencabut rumput atau lainnya. Kerja sama antara kakak dan adik akan membangun bonding (ikatan batin) antara keduanya.

15. Buat aturan sehingga menghindari kakak dan adik bertengkar selanjutnya. Buatlah aturan keluarga, bila perlu tulis dengan jelas sehingga anak-anak melihatnya, lalu lengkapi dengan sanksinya jika dilanggar. Bentuk sanksi bisa seperti membersihkan rumah, mengelap kaca dan semacamnya. Saat anak berhasil menaati peraturan maka berikan apresiasi atau pujian, anak-anak senang dipuji sehingga ia akan semakin semangat untuk melakukan hal-hal yang positif.

Hal Penting yang Perlu Diketahui

Pada dasarnya, pertengkaran antara kakak dan adik dengan usia masih kecil adalah wajar. Hal itu karena kompetensi sosial mereka belum berkembang optimal dan emosinya masih labil, anak-anak belum bisa memahami kompromi dan belum mampu menghargai perasaan orang lain sehingga sangat sulit untuk mengalah, apalagi sifat dasar anak kecil yaitu selalu ingin menang sendiri, tapi seiring berjalannya waktu akan membaik. Sehebat apapun orangtua dalam mendidik anak, orangtua tidak bisa 100% menghindari anaknya dari konflik, hanya saja orangtua tetap perlu memperbaiki pola asuh sehingga lebih baik dan tepat untuk anak.

Konflik yang dialami anak tidaklah selalu buruk, terkadang anak butuh mengalami konflik untuk proses tumbuh kembangnya. Hal ini berbeda dengan orang dewasa, konflik diantara orang dewasa adalah buruk. Psikolog anak menjelaskan bahwa konflik itu kebutuhan, anak-anak yang tidak pernah bertengkar bisa jadi malah tidak normal. Dengan memiliki pengalaman hidup berkonflik di masa kecil, anak-anak jadi memiliki bekal saat menghadapi konflik di kehidupan masa depan.

Dari konflik yang dialaminya, anak-anak bisa belajar bagaimana mereka kelak mengelola konflik di masa mendatang. Ada banyak orang yang berkompetensi hebat di bidang pekerjaannya, tapi gagal karena tidak memiliki daya tahan dalam menghadapi konflik.

Kakak-adik memang sering bertengkar, bahkan ratusan kali lebih sering dibandingkan bertengkar dengan teman sebayanya. Hal itu karena mereka tahu bahwa adik/kakaknya itu akan selalu ada, tidak akan pergi.




Tulisan Terkait: