Lakukan Ini untuk Menenangkan Anak Menangis dan Tantrum!


Anak yang menangis hingga tantrum sering membuat orangtua panik dan kewalahan untuk menenangkan, perlu cara yang benar dalam menanganinya. Biasanya anak-anak mulai tantrum atau suka mengamuk saat memasuki usia 3 tahun, ini merupakan usia dimana anak rentan tantrum yang sulit dikendalikan.

Tantrum menjadi masalah serius karena kondisi anak yang kesulitan atau tidak mampu mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata. Untuk menangani anak tantrum, maka orangtua jangan terpancing emosi. Oleh karena hal ini pertama yang perlu dilakukan adalah menenangkan diri sendiri dahulu, jangan panik saat menghadapi anak tantrum yang menangis dan mengamuk.

Anak Menangis

Orangtua harus berusaha tenang, sikap tenang orang tua dapat berpindah pada anak dan akan menenangkannya. Adapun jika orangtua panik maka dapat memperparah keadaan anak. Dimana kondisi panik akan membuat orangtua rentan emosi, yang nantinya memicu orangtua melakukan tindakan kasar kepada anak, akibatnya anak menjadi tambah mengamuk.

Menenangkan anak juga bisa dilakukan dengan menggendong atau mendekap anak. Hal ini akan membuat anak merasa aman dan disayangi. Bisa juga membawa anak ke tempat lain, misalnya ruangan lain atau ruangan terbuka yang lebih tenang. Tindakan ini diharapkan dapat membuat mood (suasana hati) anak berubah menjadi lebih baik.

Tindakan lain yang bisa dilakukan adalah mengalihkan perhatian anak, misalnya dengan memberikan mainan, makanan, mengajak anak melihat sesuatu yang menarik dan lainnya. Sebisa mungkin orangtua jangan memarahi anak yang sedang tantrum atau mengamuk, sehingga sebisa mungkin jangan terpancing.

Selain membuat anak bisa semakin mengamuk, memarahi anak juga dikhawatirkan dapat membuat anak ketakutan, trauma dan berdampak buruk terhadap tumbuh kembang anak.

Anda perlu sering-sering mengajak anak bicara, sangatlah penting kedekatan batin antara orangtua dan anak, sehingga orangtua dapat mengetahui apa saja hal-hal yang membuatnya anak menangis dan tantrum. Hal ini nantinya berguna untuk memahami anak dengan lebih baik.

Sering-sering mengajak anak diskusi atau mengobrol sesuai dengan usia mereka, mengenal anak dengan lebih dekat sehingga Anda dapat memperbaiki cara penanganan anak saat bermasalah. Orangtua harus rutin mengobrol dengan anak setiap hari, sehingga akan terbentuk perasaan saling memahami dan cinta antara orangtua dan anak.

Menangis merupakan salah satu cara anak berkomunikasi, dimana anak sedang mengharapkan perhatian dari orangtuanya, sekalipun anak tampak cuek seolah-olah tidak butuh perhatian. Dengan begitu juga, sebuah kesalahan jika memarahi anak saat ia sedang menangis, lambat laun seiring bertambahnya usia anak, ia akan bisa belajar mengelola emosi dan cara berkomunikasinya.

Menangis bagi anak bisa menjadi ungkapan rasa marah, frustrasi, bingung, cemas, takut atau bahkan bahagia. Oleh karena itu, menangis menjadi salah satu cara anak belajar mengenal dan megelola emosinya.

Saat anak menangis, tidak perlu memintanya berhenti menangis. Anda mungkin berpikir bahwa cara membuat anak menghentikan tangisannya adalah dengan mengatakan “Jangan menangis”. 

Sebenarnya cara itu kurang tepat, hal itu karena saat Anda mengatakan “Jangan menangis”, itu membuat anak berpikir bahwa orangtuanya tidak mengerti perasaannya, jadi akibatnya anak malah bisa semakin keras menangisnya.

Seharusnya yang dilakukan orangtua adalah berempati terhadap anak, sehingga anak berpikir bahwa orangtuanya peduli terhadap perasaannya. Dengan begitu, memaksa anak berhenti menangis sama saja seperti mengatakan kepada anak bahwa emosi atau apa yang dirasakannya tidak penting. Jangan sampai anak merasa bahwa orangtuanya mengabaikan atau tidak peduli terhadap perasaannya.

Jangan terpancing emosi saat melihat anak menangis sehingga membentak anak atau bahkan menyakiti fisik anak. Orangtua perlu mengetahui bahwa saat anak menangis bahkan tantrum, ia sebenarnya sedang meluapkan perasaannya, biarkan ia meluapkan perasannya hingga puas, jangan dihentikan secara paksa.

Saat anak menangis, anak belajar meregulasi emosi yang tepat dan mengenal perasannya, anak nantinya akan belajar mengatasi emosi yang serupa dengan cara lebih positif di masa depan.

Hindari memberikan label buruk terhadap anak, misalnya mengatakan cengeng kepada anak. Daripada mengatakan yang tidak-tidak, lebih baik mencari tahu alasan di balik tangisan anak karena anak menangis dan tantrum biasanya ada yang mendasarinya. Coba mencari tahu apa keinginan anak dan bersabar dalam menenangkan anak, hindari bereaksi berlebihan.

Ajarkan anak cara meluapkan emosi secara sehat dengan aktif melakukan aktivitas seperti olahraga atau aktivitas yang melibatkan fisik. Hal ini membuat energi dan emosi anak tersalurkan ke hal-hal yang positif, sehingga dapat mengurangi munculnya tantrum anak. Terus cari tahu aktivitas apa yang disukai anak untuk menyalurkan emosinya secara sehat. 




Tulisan Terkait: