Bagaimana Cara Orangtua Menjaga Emosi Saat Mendisiplinkan Anak ?

Terkadang orangtua lepas kendali sehingga dengan mudahnya membentak anak, bahkan lebih parah lagi memukul anak. Melakukan tindakan agresif pada anak adalah hal yang sangat tidak dibenarkan, apalagi jika kesalahan yang diperbuat anak merupakan kesalahan yang sepele, maka sudah seharusnya cara yang ditempuh adalah membicarakan baik-baik.

Menangani kesalahan atau prilaku buruk anak yaitu dengan berbicara dari hati ke hati, ini adalah cara yang paling efektif, sehingga sebisa mungkin hindari cara-cara agresif dalam mendidik anak. Perlu dketahui, para ahli menjelaskan bahwa memarahi atau bahkan sampai memukul anak dapat menyebabkan gangguan kesehatan mental pada anak, termasuk melunturkan sifat empati di dalam diri anak.

Ayah dan Anak
Orangtua dan anak. Photo credit: istockphoto.com|GeorgeRudy

Penelitian juga menunjukan bahwa anak-anak yang sering dibentak oleh orangtua berisiko besar mengalami gangguan perilaku dan rasa percaya diri yang rendah di kemudian hari. Sehingga orangtua sudah seharusnya menjaga tindakan dan emosinya terhadap anak.

Saat orangtua merasa emosi terhadap anak, cobalah mengingat-ingat dan visualisasikan kembali si anak saat dulu masih bayi dan balita, bayangkan betapa menggemaskannya ia saat masih bayi dulu, dengan melakukan sugesti ini dapat meredakan emosi orangtua.


Sebisa mungkin orangtua tidak terpancing emosi. Hal yang wajar memang jika orangtua merasa kesal dengan prilaku buruk anak, tapi jangan terus-terusan dipikirkan karena rasa kesal tersebut nantinya bisa berkembang menjadi kemarahan yang meledak-ledak. Para ahli menjelaskan bahwa saat orangtua mulai merasa emosi hendaknya segera mengambil waktu untuk beristirahat.

Kemarahan atau emosi biasanya hanya berlangsung beberapa saat saja, biasanya setelah itu Anda mulai lelah (karena perasaan emosi) dan kemudian jiwa mulai terasa lebih tenang dan pikiran lebih jernih. Dengan begitu biasakan saat merasakan emosi segera duduk atau rebahan sementara.

Selain itu, dengan selalu tenang menghadapi setiap perilaku anak, orangtua akan dapat lebih mudah dalam memahami anak. Orangtua sebaiknya menenangkan diri dulu sebelum berkata apapun terhadap anak. 

Penting selalu diingat, yang namanya anak-anak tentu masih wajar kalau melakukan kesalahan, hal ini karena usia anak-anak memang sedang dalam masa belajar batasan perilaku, dimana anak masih kesulitan dalam membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak boleh.

Sebelum marah, orangtua harus berpikir terlebih dahulu “Apakah benar-benar harus marah?”, coba tanyakan hal itu ke diri sendiri. Hal itu karena seringkali orangtua marah ke anak karena kesalahan sepele yang diperbuat anak.

Oleh karena itu, orangtua perlu terlebih dahulu menetapkan batasan-batasan perilaku mana yang harus ditindak tegas, mana yang masih bisa ditolerir dan mana yang masih bisa dibicarakan pelan-pelan. Tidak semua kenakalan anak direspon dengan cara keras seperti memarahi, menghukum, lebih parah lagi memukul.


Kalaupun anak berulah, maka hal pertama yang perlu dilakukan orangtua adalah menenangkan diri, hindari luapan emosi dengan membuat diri serileks mungkin, misalnya dengan cara menarik napas dalam-dalam secara perlahan, lalu hembuskan, ulangi sebanyak 2-3 kali. Lalu bisa juga untuk sementara waktu pergi menjauh dulu dari anak, misalnya ke kamar atau teras rumah. Setelah lebih tenang barulah mengajak anak bicara.

Orangtua juga perlu mengendalikan cara bicara. Para ahli menjelaskan bahwa semakin tenang seseorang berbicara, maka semakin mudah untuknya menenangkan perasaan dan menahan emosi. Demikian sebaliknya, suka mengucapkan kata-kata kasar dan makian menyebabkan seseorang kesulitan untuk mengatur emosi, dampaknya amarah menjadi tak terkontrol dan mudah terpancing emosi.

Cobalah biasakan mengucapkan perkataan dengan lembut, berbicara dengan sehangat mungkin. Semakin sering dilatih dan dibiasakan maka sangat membantu Anda dalam menguasai diri.

Biasanya kondisi orangtua yang sedang bad mood, banyak pikiran atau bahkan stres, menjadi penyebab orangtua kesulitan mengontrol emosi terhadap anak, sehingga orangtua perlu melakukan ‘terapi’ pada diri sendiri untuk memperbaiki suasana hati.

Misalnya dengan melakukan aktivitas yang menyenangkan dan membuat rileks, lakukan hal yang disukai seperti bersepeda, berkebun, jalan-jalan, dll. Nantinya ini bisa membuat tubuh menghasilkan hormon dopamin (hormon yang memunculkan perasaan bahagia) sehingga tubuh dan pikiran bisa lebih rileks.

Selain itu untuk menghindari stres maka jangan suka terjebak pada kejadian yang telah lalu, apalagi jika kejadian itu membuat Anda sedih dan galau. Lebih baik Anda fokus untuk menjalani aktivitas saat ini.


Juga terapkan pola hidup sehat seperti tidur yang cukup, hindari begadang, konsumsi asupan sehat, tidak merokok, tidak mengonsumsi minuman beralkohol, dan berolahraga secara rutin. Anda tidak perlu berolahraga berat, cukup melakukan olahraga sederhana seperti jalan santai atau bersepeda maka dapat memunculkan perasaan bahagia.

Jika orangtua memiliki perasaan bahagia, ini sangat membantu untuk menghilangkan sifat tempramental. Selain itu saat orangtua merasa bahagia, maka perasaan bahagia tersebut dapat menular ke anak.

Saat orangtua sedang kesal pada anak, coba sementara waktu jaga jarak dengan anak, misalnya pergi ke dapur untuk memasak, ke kamar tidur untuk istirahat sejenak, atau ke teras rumah untuk menghirup udara segar. Hindari sebisa mungkin adu mulut dengan anak, karena hanya membuat situasi semakin buruk.

Anak yang berprilaku buruk bikin orang tua jengkel, tapi cobalah mengendalikan emosi dengan tersenyum. Tersenyum ampuh untuk membuat jiwa lebih tenang. Lalu bisa juga menarik napas dalam-dalam. Cobalah memahami anak, orangtua perlu mengetahui bahwa sifat agresif merupakan bagian yang normal dari perkembangan anak, ini bisanya terjadi karena keterampilan berkomunikasinya belum sempurna sehingga menggunakan tindakan fisik untuk mengungkapkan perasaannya. 

Saat anak berprilaku buruk memang menjengkelkan, tapi coba pikirkan bahwa mereka sedang dalam proses belajar. Sehingga dapat diketahui bahwa kemampuannya dalam melakukan sesuatu tentu berbeda dengan para orang dewasa yang sudah banyak pengalaman.

Orangtua perlu mencari cara efektif mengajari anak disiplin tanpa perlu emosi, disiplin adalah suatu proses pengajaran, bukan hukuman dan tidak bisa terbentuk secara instan, sehingga kunci dalam mengajari disiplin adalah sabar dan konsistensi. Yang perlu orangtua lakukan adalah mengenalkan konsekuensi pada anak, buatlah anak menyadari bahwa pada setiap tindakannya akan ada akibatnya.


Buat konsekuensi menggunakan pendekatan sesuai dengan usia dan kesukannya. Misalnya mengatakan pada anak “Kalau kamu memukul dan menendang lagi, kamu tidak boleh main mobil-mobilan bersama kakak". Biasakan untuk melakukan hal ini, sehingga anak sejak dini dapat memahami bahwa dalam setiap tindakannya ada konsekuensi.

Pemahaman konsekuensi pada anak juga secara tidak langsung mengajarkan anak untuk memahami apa yang baik dan tidak baik.

Selalu ingat bahwa orangtua mudah emosi bisa berdampak buruk pada karakter anak. Menegur ketika anak melakukan sesuatu yang keliru memang hal yang bagus, tapi selalu mengedepankan emosi sebagai cara menegur justru apa yang orangtua inginkan tidak akan tersampaikan pada anak. Kemarahan yang sering dilampiaskan pada anak akan berdampak pada perkembangan dan karakter anak nantinya.

Diantaranya anak yang sering dimarahi akan tumbuh menjadi pribadi yang rendah diri, minder, kurang percaya diri, menjadi pribadi yang menutup diri, bahkan menjadi pribadi yang pemberontak, kurang rasa empati, dan temperamental.

Orangtua yang punya sifat emosional bisa menurun pada anak, sehingga anak nantinya juga menjadi pribadi yang tempramental, emosional atau kasar dalam berkata maupun berbuat. Adapun jika orangtua bisa mengontrol diri untuk tidak mudah emosi, hal itu pada gilirannya membuat anak lebih merasa bahagia, yang nantinya berdampak positif pada setiap hal kehidupannya, termasuk prestasinya di sekolah yang menjadi lebih baik.




Tulisan Terkait: