Manfaat dan Besarnya Pengaruh Teman Terhadap Karakter Anak


Setelah anak memasuki usia sekolah, ia akan mulai sering bergaul dan memiliki teman-teman. Anak mulai meningkatkan kemampuan interaksi dan sosialnya, dimana membangun hubungan pertemanan akan menghasilkan berbagai manfaat untuk anak.

Jika anak sudah terbiasa untuk menjalin pertemanan, hal ini membantu meningkatkan kepercayaan dirinya, serta kemandirian anak juga mulai tebentuk. Dengan menjalani pertemanan membuat anak tahu tentang lingkungannya, anak juga sadar dirinya disenangi dan diterima oleh beberapa orang. Hal seperti ini berguna untuk rasa percaya dirinya, dimana anak bisa melihat dirinya sendiri sebagai pribadi yang menyenangkan dan diakui orang-orang.

Anak-Anak Bermain
Anak-Anak Bermain. Photo credit: marathonkids.org

Pertemanan sangat penting untuk membentuk harga diri dan kepercayaan diri anak. Adapun anak-anak yang tidak memiliki teman, atau memiliki masalah dalam kemampuan pertemanan/sosialisasi maka akan beresiko lebih tinggi mengalami depresi di kemudian hari. Dengan memiliki beberapa teman, juga membuat anak lebih terhindar dari terkena bullying.

Selama berinteraksi dengan teman-temannya, anak secara perlahan akan belajar caranya bersosialisasi yang baik, mengetahui hal-hal apa saja yang boleh dikatakan dan tidak, belajar berempati pada orang lain, belajar menempatkan diri dan menahan diri, hingga belajar menghadapi bermacam-macam kepibradian orang lain.

Pertemanan membuat anak-anak berkesempatan untuk melatih keterampilan dalam memecahkan masalah. Juga memberikan kesempatan pada anak untuk berlatih dan belajar menyelesaikan perselisihan antar individu. Dengan berjalannya waktu, kemampuan bernegosiasi anak meningkat, anak juga mengetahui caranya berkompromi, hingga mencari strategi dalam memecahkan masalah.

Penelitian menunjukan bahwa anak-anak yang memiliki persahabatan berkualitas tinggi akan lebih cakap kemampuannya dalam menyusun rencana dan pemecahan masalah.

Kemampuan berempati anak juga meningkat, empati adalah kemampuan merasakan dan memahami keadaan yang dialami orang lain. Kemampuan empati yang baik sangat penting karena membantu anak untuk memiliki kepekaan sosial dan pandai menempatkan diri, sehingga ia akan cenderung lebih mudah (mampu) dalam bersosialisasi serta diterima oleh lingkungan atau teman-teman sebayanya.

Besarnya Pengaruh Teman Terhadap Karakter Anak

Banyak yang mengatakan anak meniru orangtuanya, dan merupakan cerminan dari orangtuanya. Hal ini memang benar tapi ada hal yang perlu diketahui, teman-teman sepermainan anak juga memberikan pengaruh sangat besar terhadap kepribadian anak Anda.

Dimana seseorang itu cenderung untuk meniru teman-temannya, sehingga agar anak Anda punya kepribadian yang positif maka pastikan ia berada di lingkungan yang kondusif. Perlu diteliti atau diperhatikan kualitas dari teman-teman anak Anda.

Teman memiliki porsi besar dalam mempengaruhi kehidupan sosial anak. Anak akan belajar segala hal dari teman-temannya, sehingga teman adalah hal yang esensial dalam masa tumbuh kembang anak. Menginjak usia SD, anak-anak biasanya sudah memilih teman berdasarkan kesamaan hobi atau minat, misalnya berteman karena sama-sama suka bermain sepak bola, atau karena kesamaan lainnya.

Saat anak berusia remaja akan lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, pada masa inilah teman sebaya berpengaruh sangat besar terhadap karakter dan perilaku seorang anak. Pertemanan pada masa remaja memiliki fungsi untuk memberikan dukungan moral, emosional hingga sosial.

Saat memasuki usia remaja inilah, anak sudah memiliki keterampilan sosial, dapat mengontrol diri, sudah terlatih untuk tidak egois, mampu menahan diri, dan tidak lagi asal-asalan meluapkan kemarahannya di tempat umum.

Biasanya anak usia remaja sangat butuh teman sebaya untuk curhat atau bercerita tentang masalahnya, seperti masalahnya disekolah atau lingkungan bermainnya. Anak mungkin memiliki teman-teman yang umurnya lebih tua maupun lebih muda, tapi teman sebaya yang paling memberikan pengaruh terhadap perkembangan karakternya.

Selain itu saat bergaul dengan teman sebaya-lah anak lebih mengembangkan keterampilan sosialnya, belajar mengintropeksi diri dan mendapatkan pengalaman bekerja sama. Dimana seseorang itu akan lebih klop atau cocok dengan orang-orang seumurannya.

Teman sebaya berpengaruh dominan terhadap perilaku remaja. Bahkan seperti yang kita lihat di kehidupan nyata, kebanyakan anak remaja lebih mendengarkan perkataan teman sebayanya ketimbang orangtuanya, dari sinilah muncul kenakalan remaja dan prilaku menyimpang karena para remaja bertindak tanpa bimbingan dari orang dewasa.

Masa remaja merupakan masa kritis untuk menemukan jati diri, dan teman sebaya lah yang menjadi pendukung dalam menemukan jati diri dan pembentukan karakter dari seorang remaja. Saat anak memasuki usia remaja, maka Anda akan melihat anak semakin memperkuat hubungan dengan teman-teman sebayanya secara drastis, disaat bersamaan anak mulai mengurangi kedekatan dengan orangtuanya.

Tidak mungkin melarang anak remaja bergaul dengan teman-temannya, sehingga yang perlu Anda dilakukan adalah memperhatikan teman-teman anak Anda. Orangtua jangan cuek dengan siapa anak remajanya bergaul, pembiaran yang dilakukan orangtua bisa berakibat fatal, yang akhirnya orangtua sendirilah yang akan menyesal.

Orangtua harus memiliki ikatan batin dengan anak remajanya, dimana seharusnya bonding dilakukan sejak anak masih kecil. Tapi setidaknya, orangtua harus memiliki aktivitas rutin berinteraksi dengan anak remajanya. Penyebab umum anak remaja terjatuh ke dalam pergaulan buruk karena tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya, kalau kondisinya sudah begini maka anak akan lebih dekat dengan teman-temannya daripada orangtuanya sendiri.

Seharusnya orangtua menjadi role model untuk anak. Orangtua harus menampilkan karakter positif dan norma yang baik pada anak. Anak-anak sejak kecil dominan meniru orangtuanya, gunakan kesempatan ini untuk mencontohkan teladan yang bagus pada anak. Dimana jika anak sudah memasuki usia remaja akan lebih dominan meniru teman-temannya.

Jika Anda ingin anak jujur maka jangan pernah berbohong kepadanya sejak kecil, sebagian anak suka berbohong karena meniru orangtuanya yang juga suka berbohong, ada juga anak yang suka marah-marah dan teriak karena di rumah orangtuanya juga suka marah-marah.

Menunjukan kasih sayang pada anak sangatlah penting, dengan mencurahkan perhatian dan kasih sayang pada anak sejak kecil, maka saat ia remaja akan menghormati dan menyayangi orangtuanya serta mau mendengarkan nasehat.

Jika anak merasa orangtuanya memahami dirinya, anak nantinya tergerak melakukan hal yang sama. Jadi, jika anak suka menolak nasehat maka jangan salahkan anak, salahkan diri Anda sendiri karena selama ini kurang dalam bonding, kasih sayang dan perhatian ke anak. Ingatlah, anak remaja itu mudah sekali dipengaruhi oleh teman-teman di lingkungannya.

Orangtua juga perlu mengajarkan anak sejak dini tentang cara membangun pergaulan, ajak si kecil berdiskusi tentang apa itu emosi, sehingga ia sejak kecil dapat belajar tentang memahami perasaan dan pikiran orang lain. Penelitian menunjukkan, saat orangtua sering berdiskusi dengan anak tentang emosi dan perasaan, anak umumnya dapat mencerna dengan sangat baik dan semakin mampu menangkap atau membayangkan cara pandang orang lain, sehingga anak nantinya sangat pandai dalam memperlakukan teman-temannya serta pandai dalam memposisikan diri.

Kedekatan orangtua dan anak sejak dini sangatlah penting, harus ada kegiatan interaksi atau mengobrol setiap hari. Peluang anak untuk mudah diterima teman sebayanya sangat dipengaruhi oleh kondisi alamiah dan karakter anak tersebut, dimana karakter dan kondisi alamiah anak juga sangat dipengaruhi dari interaksi sosialnya saat balita dan pola asuh di rumah. Jika anak punya hubungan harmonis dengan orangtua dan saudara kandung di rumah biasanya akan punya rasa percaya diri yang sangat baik.

Kondisi alamiah anak menjadi penyebab anak mudah diterima atau tidak oleh teman-teman sebayanya. Kondisi alamilah anak berupa karakter atau sifat anak yang bisa bermacam-macam seperti kalem, berisik (cerewet), pemalu, riang, mudah tersenyum, agresif dll.

Penelitian menunjukkan bahwa umumnya penolakan yang dialami anak oleh teman-teman sebayanya dipengaruhi oleh karakter atau perilaku anak itu sendiri. Anak yang kurang menunjukkan perilaku pro-sosial (seperti sangat pemalu) sering tertolak oleh teman-teman sebayanya, demikian juga anak dengan prilaku agresif akan dibenci dan ditolak oleh lingkungannya. Penolakan seperti ini menyebabkan efek negatif pada anak, bahkan anak trauma untuk berada dalam lingkungan sosial di kemudian hari.

Sejak anak memasuki usia sekolah biasanya akan mulai banyak berinteraksi dengan teman sebayanya. Dalam interaksinya dengan teman sebaya, anak akan belajar arti berbagi, bertenggang rasa, bekerja sama dan menyelesaikan masalah. Ini sangat bagus untuk mengasah keterampilan sosialnya, orangtua seharusnya mengajarkan hal-hal penting tersebut (cara berbagi, bertengang rasa, seni bekerja sama, dll) sehingga mempermudah anak untuk mendapatkan teman dan disenangi teman-temannya.

Dengan memiliki pengalaman bergaul bersama teman-temannya, anak dapat lebih terhindar dari sifat egois. Bermain bersama teman seusianya membuat anak belajar lebih banyak tentang orang lain dan diri mereka sendiri, anak secara perlahan akan membuang sifat buruk seperti egois.

Berinteraksi dengan teman-teman sebaya juga dapat melatih keterampilan bahasa pragmatik anak (seperti melakukan kontak mata, menafsirkan ekspresi wajah dll) dan pemahaman mendengarkan. Para ahli menjelaskan bahwa pertemanan dapat meningkatkan kapasitas kebahagiaan, kepercayaan diri dan kesejahteraan. Anak akan meniru perilaku positif dan berlatih keterampilan komunikasi dari interaksi bersama teman-temannya.

Semakin besar usia anak hingga memasuki masa remaja maka semakin berkembang fisik dan psikologisnya, bahkan jika anak sudah melalui usia pubertas akan mulai melirik lawan jenis. Orangtua sebagai role model pertama bagi anak, sehingga harus dapat menjadi benteng pertama agar anak terhindar dari pergaulan yang buruk.

Harus ada sinergi pengasuhan berupa kerja sama dan kesamaan visi pola didik yang diberikan oleh ayah maupun ibu, sehingga mampu menjadi orangtua yang utuh bagi anak. Kedua orangtua harus dapat memahami psikologi anak, bersikap bijak dan dapat menjadi sahabat anak. Sehingga membuat anak sadar bahwa ayah dan ibunya adalah tempat terbaik baginya untuk bercerita, berbagi, curhat hingga meminta pendapat. Hal ini sangat penting karena menjadi benteng yang sangat kuat untuk mencegah anak terjerumus ke pergaulan yang buruk.

Orangtua juga harus pro aktif untuk menjaga anak dari konten atau tontonan yang buruk, pastikan juga anak bergaul dengan teman-teman yang positif. Anda tidak perlu mengekang anak, yang harus dilakukan adalah melindungi anak dari paparan buruk. Anak-anak usia balita hingga remaja sangat rentan untuk mencontoh apa yang dilihat dan didengarnya, mereka belum mampu menyaring paparan buruk yang datang, apalagi jika orangtua selama ini tidak pernah memberikan edukasi.




Tulisan Terkait: