14 Cara Membentuk Karakter Anak Remaja

Mengasuh dan mengarahkan anak remaja menjadi tantangan tersendiri bagi para orangtua. Kesalahan dalam mendidik dan mengasuh bisa menyebabkan anak memiliki kepribadian yang buruk.

Sangat penting bagi Ayah dan Bunda untuk paham tentang pentingnya mendidik karakter anak, agar anak mengembangkan kepribadian yang positif.

Anak Remaja
Photo credit: stock.adobe.com|Monkey Business

Cara Membentuk Karakter Anak Remaja


1. Hindari Memanjakan Secara Berlebihan

Cara membentuk kepribadian anak remaja yaitu hindari memanjakannya secara berlebihan. Memanjakan anak boleh, tetapi harus ada batasnya. 

Anak yang sejak kecil dimanjakan secara berlebihan biasanya akan mengembangkan sifat yang buruk seperti cengeng, jiwanya lemah, kemauannya harus selalu dituruti, keras kepala, suka menuntut, mudah frustasi, mudah emosi, tidak mau berusaha, tidak punya daya juang dll.

Sifat-sifat yang buruk itu akan menjadi masalah besar saat anak dihadapkan pada kehidupan sosial di luar. Jangan sampai anak sejak kecil terlena karena sering dimanjakan. Bentuk kasih sayang orangtua adalah tidak memanjakan anak dengan berlebihan.


2. Tanamkan Rasa Percaya Diri

Masa remaja merupakan masa peralihan menuju kedewasaan, serta juga merupakan masa mencari jati diri. Sehingga tidak jarang tingkah laku remaja sering memusingkan, yang awalnya periang lalu menjadi pemalu dan tertutup.

Cara membentuk karakter remaja yaitu dengan meningkatkan rasa percaya dirinya. Rasa percaya diri sangatlah penting bagi setiap remaja agar dia bisa survive di lingkungan sosialnya di luar. 

Dukungan orangtua sangat dibutuhkan oleh anak remaja, berikan anak dukungan dengan cara yang positif. Hanya saja yang disayangkan, banyak orangtua yang malas dan kurang peduli untuk memberikan dukungan dan menyemangati anak. Padahal hal ini sangat dibutuhkan anak serta besar pengaruhnya terhadap mental dan rasa percaya diri anak.

Seharusnya anak sejak kecil sudah sering mendapatkan dukungan, sehingga anak akan merasa dibelakangnya ada orang-orang yang selalu mendukung dan menyanyanginya.

Hal ini penting untuk menjadikan anak tumbuh dengan perasaan nyaman, bahagia dan menjadi orang yang percaya diri. Saat remaja, dia bakal lebih kuat dalam menghadapi permasalahan sosial, kecemasan dan depresi.

Biasakan untuk memberikan pujian saat anak melakukan hal-hal yang bagus, sehingga anak merasa bangga pada dirinya. Ini bagus agar anak tumbuh dengan kuat dan percaya diri. Selain itu, hindari kebiasaan suka mengomeli anak.

3. Tanamkan Kemandirian

Cara membentuk karakter anak remaja yaitu menanamkan rasa kemandirian. Kemandirian adalah hal sangat penting, mengenalkan anak dengan sifat mandiri seharusnya dilakukan sejak dini, misalnya membiasakan bangun pagi lalu mandi dan menyikat gigi. Anak melakukannya tanpa perlu disuruh-suruh lagi.

Cobalah untuk memberikan anak tanggung jawab yang mampu ditanganinya. Misalnya jika anak sudah agak besar, biasanya sudah mampu mencuci piring, berikan anak tugas mencuci piring setiap sore sehingga menanamkan rasa tanggung jawab dalam dirinya.

Selain itu dalam hal mental, cobalah berikan anak kesempatan untuk membuat keputusan. Memberikan anak ruang berbicara dan berpendapat sangat penting untuk membangun mentalnya. Berikan anak kepercayaan, kesempatan dan apresiasi.


4. Tanamkan Kejujuran Sejak Dini

Cara membentuk kepribadian remaja yang baik yaitu memberikan anak kesadaran tentang pentingnya kejujuran. Saat anak memasuki masa remaja, biasanya lingkup pergaulannya semakin luas, sehingga kejujuran remaja adalah hal yang sangat diharapkan orangtua.

Para orangtua sangat ingin anak remajanya jujur, sehingga orangtua bisa mengetahui dengan akurat bagaimana bentuk pergaulan anak remajanya di luar. Keterbukaan antara anak dan orangtua menjadi kunci.

Seharusnya membentuk kejujuran dimulai sejak anak masih kecil. Ini merupakan masa emas untuk menanamkan dan mengajarkan anak nilai kejujuran.

Orangtua juga harus menjadi panutan dalam kejujuran, misalnya biasakan untuk menepati janji dan hindari tindakan berbohong. Kalau sampai anak mengetahui orangtuanya berbohong (bahkan jika itu berbohong tentang hal sepele), anak akan tetap memandang bahwa berbohong adalah sesuatu yang boleh.

Orangtua juga harus menghargai kejujuran anak. Tidak jarang orangtua marah saat anak jujur telah melakukan hal buruk, ini kesalahan fatal dari orangtua. Seharusnya orangtua menghargai kejujuran anak, berikan anak pujian karena telah jujur, lalu barulah meluruskan kesalahan anak.

5. Ajarkan Remaja Jangan Terlalu Fokus pada Penampilan

Masalah dan momok untuk setiap remaja adalah penampilan, banyak remaja yang khawatir dengan penampilan. Tidak jarang remaja mengalami masalah depresi dan kecemasan karena masalah penampilan.

Remaja mungkin tergila-gila ingin seperti aktor atau aktris, dan ingin lebih baik dari teman-temannya dalam hal penampilan. Ketidakmampuan untuk mencapai itu bisa menyebabkan remaja mengalami down, tidak percaya diri dan tidak bahagia saat melewati masa remajanya.

Disinilah peran penting orangtua, bilang ke anak remaja bahwasanya penampilan bukanlah segala-galanya. Buatlah remaja untuk lebih fokus menjaga kesehatan, kebersihan diri, kerapihan dan attitude.

Bilang ke Si Remaja bahwa orang-orang akan menghormatinya jika dia punya attitude yang bagus. Bilang juga ke si Remaja untuk tidak memusingkan tentang penampilan, yang penting pandai merawat dan menjaga kebersihan diri, juga rajin olahraga.

Selain itu ingatkan remaja untuk berfokus pada apa yang menjadi kekuatannya, minta si Remaja untuk fokus mengasah kekuatan atau kelebihannya, dan tidak perlu cemas membandingkan diri dengan orang lain.

Hal ini penting agar anak melewati masa remajanya dengan perasaan bahagia dan percaya diri.


6. Hargai Keberadaan Remaja

Masa remaja merupakan masa peralihan menuju kedewasaan, sehingga keberadaan remaja perlu dihargai sebagaimana orang dewasa lazimnya. Perbaiki sapaan kepada remaja menjadi lebih menghargai, jangan samakan dia seperti anak usia 8 tahun.

Sudah seharusnya orangtua berperan dalam meningkatkan mental anak remajanya, sehingga hargai setiap perkataan dan pendapat remaja, ini akan memperkuat mental dan kepercayaan diri si Remaja.

Remaja sangat rentan dengan masalah kecemasan, jika remaja memiliki problem maka jangan diremehkan. Ketakutan dan kecemasan yang dialami seseorang di masa kecil dan masa remaja bakal berpengaruh besar terhadap kejiwaan saat masa dewasanya.

Anak yang memasuki masa remaja sangat membutuhkan pengakuan akan keberadaan dirinya serta sangat ingin dihargai dan dihormati.

7. Mengajarkan Remaja Tentang Aturan dan Sopan Santun

Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa remaja merupakan masa peralihan menuju kedewasaan, sehingga sangat penting mengajarkan remaja tentang adab, sopan santun serta mengenalkannya pada aturan dan norma.

Cara membentuk karakter anak remaja yaitu edukasi dia tentang kesopanan, aturan dan norma masyarakat. Remaja bukan lagi anak kecil yang sering ditoleransi perilaku buruknya, remaja harus segera diajarkan caranya berinteraksi yang sehat dan benar di lingkungan sosial.

Perilaku buruk dan kenakalan remaja sering terjadi di masyarakat, hal ini akibat dari keteledoran para orangtua dalam mendidik dan mengarahkan anak remajanya.


8. Orangtua Harus Menjadi Teladan Positif

Cara membentuk karakter remaja maka orangtua sendiri harus memberikan contoh yang baik. Gerak-gerik orangtua sangat diperhatikan oleh anak-anaknya. Percuma orangtua memberikan 1000 nasehat emas, jika ternyata tidak memberikan teladan yang baik.

9. Sediakan Quality Time

Karakter buruk dan kenakalan remaja seringkali terjadi akibat orangtua kurang quality time bersama anak. Anak tidak hanya membutuhkan materi seperti makan, minum, pakaian dll, anak juga membutuhkan kehadiran ayah dan bundanya.

Pastikan Ayah dan Bunda memiliki waktu berkualitas bersama anak-anak. Kurangnya quality time menyebabkan dada anak terasa kering, yaitu anak merasa kurang perhatian dan kasih sayang sehingga sangat rentan terjatuh ke pergaulan buruk dan kenakalan remaja.

10. Edukasi Remaja Tentang Bahaya Pergaulan Bebas dan Narkoba

Cara membentuk kepribadian anak remaja yaitu pastikan orangtua memberikan edukasi yang mencukupi. Saat memasuki masa remaja, anak bakal menemukan berbagai hal baru di dunia pergaulannya.

Sangat penting memberitahu dan mengedukasi remaja tentang berbagai bentuk pergaulan di luar, hal ini karena masa remaja merupakan masa krisis dalam mencari jati diri.

Oleh karena itu, orangtua perlu berperan aktif (dan jangan malas) untuk mengobrol mengenai pergaulan remaja. Seperti bahaya rokok, minuman keras, narkoba, pendidikan seks dan hal-hal sebagainya.

Tidak perlu banyak mengekang remaja dengan melarang ini dan itu, karena ujungnya pasti perdebatan antara anak remaja dan orangtua, yang penting adalah tanamkan pola pikir yang benar pada remaja.

Jangan sampai remaja tidak memperoleh edukasi dari orangtuanya, sehingga akibatnya remaja menerima informasi yang salah dari luar seperti:
  1. Memandang narkoba dan miras itu keren.
  2. Anak rajin belajar itu kutu buku dan culun.
  3. Tawuran adalah sebuah kebanggaan.
  4. Corat-coret dinding dan fasilitas umum adalah hal lumrah.
  5. Dan berbagai pemahaman sesat lainnya.


11. Ajarkan Remaja Beberapa Kemampuan Dasar

Saat memasuki remaja, tentu anak sudah semakin besar, maka sudah seharusnya untuk menguasai banyak keterampilan. Orangtua harus memastikan anak remajanya menguasai kemampuan dasar dalam hidup.
 
Yang pertama, remaja harus bisa membuat makanannya sendiri, minimal tahu caranya menggoreng telur, membuat mie instan dan memasak nasi.

Yang kedua, remaja sudah harus bisa mengatur keuangan. Misalnya dia mendapatkan uang jajan per bulan, maka jangan sampai uang jajan sudah habis di pertengahan bulan.

Yang ketiga, remaja sudah harus bisa bersih-bersih di rumah seperti menyapu, mengepel, cuci piring dan lainnya.

Yang keempat, remaja sudah harus bisa bertanggung jawab terhadap barang pribadi, jangan sampai remaja masih terlalu bergantung pada pihak lain untuk merawat barangnya sendiri, termasuk remaja sudah harus belajar untuk membiasakan diri mencuci baju sendiri. Hal ini penting, karena mungkin beberapa tahun lagi si Remaja bakal kuliah dan nge-kost sendiri.

Yang kelima, remaja sudah perlu diajarkan caranya memakai transportasi umum dan membawa kendaraan. Remaja sudah harus berani memakai alat transportasi dengan sendirian, pastikan mengedukasi remaja tentang perlindungan diri di transportasi umum.

Ajarkan juga remaja untuk membawa motor ataupun mobil, tapi jika masih di bawah usia 18 tahun maka hanya sekedar belajar dan tidak boleh membawa kendaraan di jalan raya besar.

12. Orangtua Jadi Pendengar Baik untuk Remaja

Remaja menemukan banyak pergolakan dalam dirinya, sehingga remaja seringkali ingin curhat tentang banyak hal. Dengan begitu, orangtua harus mampu untuk menjadi wadah curhat Si Remaja, dengarkan dengan baik berbagai kegalauannya atau hal-hal yang diucapkannya.

Jangan memberikan respon negatif karena bisa bikin Si Remaja tidak mau curhat lagi. Jika orangtua tidak bisa menjadi pendengar yang baik, ini sangat berbahaya karena Si Remaja bakal mencari orang-orang di luar sebagai tempat mencurahkan isi hatinya.

Jika Si Remaja mendapatkan teman yang buruk, sangat besar kemungkinannya untuk terjatuh ke dalam kenakalan remaja bahkan aksi kriminalitas.

13. Orangtua Menjadi Teman Remaja

Problematika dalam mengasuh anak remaja biasanya adalah remaja semakin menjauh dari orangtuanya, hal ini terjadi biasanya karena adanya perbedaan sudut pandang.

Untuk mengatasi hal ini, sangat penting bagi orangtua untuk bisa memahami psikologi remaja. Cobalah menyelami dunia remaja, jadilah teman dekat untuknya. Hal ini menjadikan orangtua dapat lebih gampang untuk dekat dengan anak remajanya.

14. Hargai Keputusan Remaja dan Minatnya

Hindari suka menyalah-nyalahkan keputusan anak. Selain itu jika anak memiliki minat dan hobi terhadap suatu hal, maka orangtua perlu mendukungnya. Orangtua jangan sampai memaksakan kehendak, dan mengabaikan harapan dan keinginan anak.

Lebih parah lagi jika memaksa anak terhadap hal yang tidak disukainya, hal ini akan menyebabkan anak melewati masa remajanya dengan perasaan tidak bahagia dan kepribadiannya merasa tertekan. Selain itu hubungan orangtua dan anak remajanya menjadi renggang.




Baca Juga: