10 Cara Ampuh Memperkuat Ikatan Emosional Orangtua dan Anak

Kondisi hubungan orangtua dan anak sejak masa kecil akan sangat mempengaruhi proses tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak di masa mendatang. Jadi peran orangtua sangat vital terhadap perkembangan tingkat kecerdasan anak, karakter hingga bentuk prilaku anak.

Orangtua dan Anak

Orangtua harus benar-benar memperhatikan serta menjaga hubungan yang sehat dengan anak-anaknya. Dimana umumnya anak-anak yang terlibat dalam kenakalan remaja bahkan aksi kriminalitas memiliki hubungan yang buruk dengan orangtua mereka, dengan kata lain si Anak tidak dekat dengan orangtuanya.

Banyak orangtua yang cuek dengan proses tumbuh kembang anak-anaknya, sehingga jangan heran jika banyak generasi muda yang berprilaku buruk hingga melakukan tindak kriminalitas. Anak adalah tanggung jawab besar orangtua, sudah seharusnya orangtua selalu memutar otak mencari cara untuk menjaga dan mengarahkan anak ke hal-hal yang positif atau baik, sangat aneh jika orangtua tidak menyadari tentang pentingnya hal ini.


Menjadi orangtua itu membahagiakan sekaligus melelahkan karena memiliki tanggung jawab yang sangat besar. Baiknya hubungan dan pola asuh orangtua akan sangat membantu anak untuk memiliki karakter dan prilaku yang positif. Orangtua menjadi benteng pertama untuk mendidik dan menumbuhkan kepribadian positif dalam diri anak.

Jika orangtua cuek terhadap kondisi dan tumbuh kembang anak, dampaknya anak bisa mengembangkan banyak sifat negatif seperti: pemalas, suka berbohong, kurang peduli, tidak sabaran, tidak disiplin, tidak percaya diri, mental tempe (mudah berputus asa), tidak bisa tegas, suka berprasangka buruk, tidak bisa menghargai orang lain dll.

Jangan sampai anak mengembangkan sifat-sifat negatif seperti itu di dalam dirinya. Tugas orangtua adalah mengembangkan kepribadian positif di dalam diri anak seperti: rajin, amanah (bisa dipercaya), peduli, sabar, disiplin, optimis, percaya diri, pantang menyerah, tegas, berpikiran positif, sopan santun dll.

Hal tersebut hanya bisa dilakukan jika orangtua memiliki kedekatan dengan anaknya, sehingga sangat penting membangun ikatan emosional antara orangtua dan anak sejak dini. Orangtua yang penuh kasih akan menjadikan anak yang penuh kasih juga, baiknya hubungan orangtua-anak nantinya akan sangat menentukan bagaimana masa depan si Anak.

Mengasuh anak adalah pekerjaan penuh waktu yang harus melibatkan rasa kasih sayang dan membangun kehangatan, dimana juga membangun rasa aman untuk anak sudah dimulai sejak ia lahir ke dunia. Seorang bayi akan sering menangis, makan, tidur, buang air kecil maupun air besar. Respon yang orangtua berikan seperti menggendong, memberi makan, memandikan bayi, mengganti pakaian, popok dll nantinya akan membangun ikatan batin bayi dengan orangtuanya.

Semakin sering orangtua memberikan pengasuhan dan rasa cinta untuk si Bayi, maka semakin kuat hubungan emosional yang terbentuk. Saat anak beranjak balita, orangtua mulai memiliki tugas penting untuk membentuk perilaku si Kecil dengan membimbing, mengasuhnya dan mengarahkannya.


Orangtua memberikan proses sosialisasi secara halus saat anak beranjak usia dua tahun, dan mempersiapkan si Kecil untuk dapat menyesuaikan diri dengan kelompok sosial atau lingkungannya.

Semakin besar anak hingga memasuki usia pra-sekolah, maka orangtua harus lebih sigap dan kreatif dalam mengasuh anak. Bentuk pengasuhan yang dijalankan orangtua terhadap anak usia prasekolah nantinya sangat mempengaruhi perkembangan karakternya. 

Orangtua harus benar-benar memperhatikan bentuk pola asuhnya, jangan sampai menjalankan pola asuh secara asal-asalan. Para ahli menjelaskan bahwa terbentuknya sifat dan kepribadian anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh orangtua sejak anak berusia pra-sekolah, seperti:
  1. Orangtua yang punya karakter berwibawa dan bijak, biasanya akan memiliki anak dengan karaker percaya diri, bahagia, punya kemampuan fokus sangat baik dan motivasi tinggi.
  2. Orangtua yang otoriter biasanya akan menyebabkan anak tumbuh dengan tidak bahagia, punya sifat perfeksionis, tidak percaya diri, dan bahkan cenderung penakut.
  3. Orangtua yang permisif, menyebabkan anak kurang memiliki keterampilan sosial, kurang rasa tanggung jawab dan berdaya juang rendah.
  4. Orangtua yang lalai, biasanya akan menyebabkan anak memiliki banyak masalah perilaku.

Saat anak memasuki usia SD, fokusnya akan bergeser dari orangtua ke teman sebayanya, tapi secara umum hubungan orangtua dan anak biasanya masih dekat seperti biasanya, dimana anak usia SD biasanya masih mau untuk mendengarkan nasehat orangtuanya. Ini berbeda dengan anak usia remaja (SMP-SMA) yang sudah mulai berani menolak perkataan dan nasehat orangtuanya.


Anak usia SD sudah memiliki kemampuan untuk melakukan komunikasi dua arah, dimana anak sudah mahir untuk menjelaskan keinginannya pada orangtuanya, mengungkapkan rasa suka atau tidak suka, dll. Orangtua harus berhati-hati, memberikan respon yang keliru serta interaksi yang buruk dapat merusak hubungan dan menghilangkan perasaan cinta anak pada orangtuanya

Memang hal itu tidak secara langsung, tapi jika orangtua terlalu sering melakukan kesalahan dalam berinteraksi dengan anak (dimana orangtua sering melukai hati anak) maka biasanya saat anak berusia remaja akan menjaga jarak dari orangtuanya, dimana anak lebih dekat dengan teman-temannya ketimbang orangtuanya.

1. Bangun Interaksi yang Hangat 

Jika ingin dekat dengan anak, maka orangtua harus memperhatikan bentuk interaksinya terhadap anak. Hadirkan kehangatan di dalam rumah, dan manfaatkan setiap interaksi sebagai kesempatan untuk terhubung dengan anak. Hargai keberadaan dan setiap ucapan anak Anda, jadilah orangtua yang hangat untuk anak-anaknya, dengan begitu anak akan memandang orangtuanya sebagai sahabat terbaiknya.

Jika anak sudah merasa dekat dengan orangtuanya secara emosinal (batin), maka biasanya anak mau untuk terbuka, bercerita bahkan curhat pada orangtuanya, selain itu anak cenderung menerima nasehat dari orangtuanya. Dengan kedekatan batin orangtua-anak yang terjaga, maka anak bisa lebih terjaga dari bahaya pergaulan bebas dan tidak mudah terhasut oleh teman-teman yang buruk di luar.


2. Saling Menghargai

Lakukan interaksi atau obrolan yang saling menghargai antara orangtua dan anak. Seorang anak jika diperlakukan dengan lembut maka ia menjadi nyaman untuk dekat dengan orangtuanya. Adapun jika Anda bersikap kasar pada anak Anda, maka anak akan menjauh dan mungkin membenci Anda.

Anda harus bisa membedakan antara sikap tegas dan kasar. Orangtua yang bersikap tegas akan tetap menegur kesalahan-kesalahan anak dan meluruskannya, tapi dengan sikap yang tetap menghargai dan menyayangi anak. Sebagian orangtua marah membabi-buta terhadap kesalahan anak, akibatnya anak merasa tidak disayang dan tidak dihargai keberadaannya, yang membuat anak semakin menjauh dari orangtuanya.

Setiap orang tidak ingin diperlakukan kasar, tentu Anda akan menghindari orang-orang yang punya sifat tempramen, kasar dan semacamnya. Hal seperti ini juga dirasakan oleh anak Anda, ia akan menjauh jika diperlakukan buruk. Sebaliknya, jika Anda bersikap lembut, sayang dan menghargai anak, maka anak merasa bahagia saat berada di sisi Anda. Jadi, perhatikan tindakan Anda sebagai orangtua.

3. Rasa Empati

Jadilah orangtua yang punya rasa empati tinggi terhadap anak, ini akan membuat anak merasa dihargai dan disayangi. Jadi saat anak punya masalah, maka jangan remehkan masalah yang sedang dialami anak, serta hindari komentar negatif dan menyudutkan. Orangtua justru harus menunjukan perasaan empati, memberikan dukungan, menyemangati anak, dan meyakinkan anak bahwa ia mampu mengatasi masalahnya.

Dengan begitu anak akan menyadari bahwa orangtuanya perhatian dan sayang pada dirinya, anak juga merasa keberadaannya diinginkan dan dihargai orangtuanya. Hal seperti ini akan membangun perasaan di dalam hati anak untuk dekat pada orangtuanya.

Akan tetapi yang disayangkan, sebagian orangtua cuek terhadap masalah anak, bahkan meremehkannya.

“Ah, cuma masalah kecil seperti itu saja”. Perkataan orangtua yang seperti ini membuat anak merasa tidak dihargai, diremehkan, dianggap tidak penting, bahkan anak akan merasa tidak disayangi, akibatnya anak akan mulai menjauh dan menjaga jarak dari orangtuanya.


4. Kehangatan dan Pendekatan yang Baik

Saat anak bermasalah, cobalah untuk mencari solusi daripada menghukum dan memarahi anak. Amarah orangtua dapat menurunkan semangat anak dan bahkan anak akan kehilangan kepercayaan pada orangtuanya. 

Jika anak melakukan sebuah masalah maka hindari sebisa mungkin kemarahan yang membabi buta, lebih baik gunakan energi Anda untuk mencari solusi guna mengatasi permasalahan dan agar kesalahan anak tidak terulang.

Ajarkan anak tentang konsekuensi dari setiap tindakannya tanpa perlu memarahi bahkan memukul,  hal ini lebih efektif membuat anak berpikir untuk menyadari dan memperbaiki kesalahannya. Adapun jika orangtua suka sekali marah, ini membuat hubungan orangtua dan anak menjadi renggang.

Intinya lakukan pendekatan yang baik pada setiap kejadian atau masalah yang dialami anak. Jika anak merasa diperlakukan secara adil, maka akan tumbuh rasa hormat dalam diri anak terhadap orangtuanya, terbentuknya hubungan sehat orangtua dan anak, dimana anak cenderung mengikuti aturan orangtua secara sukarela (hati yang lapang).

Sebagai contoh, jika anak Anda yang masih berusia 12 tahun tidak sengaja menjatuhkan vas bunga hingga pecah, maka Anda harus sadari bahwa anak Anda tidak sengaja dan tidak ada keinginan untuk melakukan itu, sehingga hal yang sangat tidak adil jika anak dimarahi habis-habisan karena kejadian itu.

Jadi jika Anda ingin dekat dengan anak, perhatikan respon atau sikap Anda terhadap anak, lakukan interaksi yang sehat dalam rutinitas sehari-hari. Adapun jika anak tidak diperlakukan adil, maka ia tidak akan mau dekat dengan orangtuanya.


5. Jadilah Orangtua yang Supportif

Dukung anak secara positif setiap hari, bisa dengan kata-kata yang positif atau gerakan fisik seperti tepukan maupun pelukan. Para ahli menjelaskan bahwa anak-anak yang percaya diri, bahagia dan punya kehidupan sosial yang baik, umumnya memiliki orangtua yang supportif.

Peran aktif orangtua dalam men-support anak dapat berpengaruh positif terhadap perkembangan fisik dan mental anak. Seharusnya sejak dini orangtua memiliki kebiasaan memeluk anak, misalnya saat anak bangun di pagi hari. Berikan pelukan dan kontak mata sehingga membuat anak merasa dekat dengan orangtuanya.

Jika anak sudah lebih besar mungkin kurang menyukai sentuhan fisik, maka orangtua perlu berpikir mengembangkan cara men-support anak remajanya. Sebuah cara untuk mensupport anak remaja, yaitu menanamkan dalam jiwa anak remaja bahwa dirinya itu berharga, sehingga tingkatkan rasa percaya diri anak remaja Anda.

Rasa harga diri atau percaya diri adalah hal yang sangat dibutuhkan seorang remaja untuk bisa bergaul di luar atau lingkungannya berada. Bentuk dukungan terbesar orangtua untuk anak remajanya yaitu menumbuhkan rasa percaya dirinya.

Rasa percaya diri sangat penting untuk dimiliki remaja, hal ini akan memengaruhi caranya bertindak di depan umum, cara berperilaku, serta agar mampu berpikir positif (optimis). Dengan rasa percaya diri yang baik, seorang remaja akan lebih mampu untuk menghadapi kehidupan, tantangan, ketidakpastian dan kekecewaan.

Peran orangtua yang paling vital dalam membangun kepercayaan diri seorang remaja, dukungan orangtua sangat membantu dalam membentuk kepribadiannya. Remaja bisa dikatakan “hampir” dewasa, oleh karena itu hormati dan hargai ia layaknya orang dewasa pada umumnya. Jika ada masalah yang ia rasakan, anggap itu sebagai hal yang penting. Bukan malah meledek atau mengatakan bahwa hal itu tidak perlu dibesar-besarkan. 

Orangtua perlu memberikan pujian ketika anak remajanya melakukan hal yang baik, hal ini dapat meningkatkan rasa percaya dirinya serta mendorongnya untuk melakukan hal yang lebih baik lagi. 

Masa remaja adalah masa labil, maka orangtua harus mengajari anak remajanya bahwa ia harus lebih fokus pada kelebihan dan kekuatannya, serta jangan suka membandingkan diri dengan orang lain. Beritahu anak bahwa setiap orang punya kekuatannya masing-masing, dan tidak selalu dalam hal yang sama.

Ingatlah, hal-hal kecil yang Anda katakan atau lakukan dalam kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan kepercayaan diri remaja, sehingga orangtua jangan malas untuk mengatakan hal-hal positif ke anak.


6. Tertawa Bersama

Sangat aneh jika seorang anak sering tertawa bahagia bersama teman-temannya, tapi tidak pernah tertawa bersama orangtuanya. Oleh karena itu jangan menjadi orangtua yang selalu serius, buatlah beberapa momen yang lebih ringan,  berbahagia dan tertawa bersama untuk membangun kenangan-kenangan indah.

Jika anak tertawa bersama dengan orangtuanya, itu menandakan anak punya hubungan emosional yang dekat dengan orangtuanya. Jadi seharusnya setiap orangtua itu mampu bersikap flexible, dimana adakalanya serius dan adakalanya bercanda. Adapun sikap kaku justru membuat anak menjauh dan merasa tidak nyaman saat bersama orangtuanya.

7. Interaksi Empat Mata

Ini sangat penting, aktivitas interaksi empat mata secara berulang-ulang menandakan hubungan orangtua dan anak cukup dekat. Orangtua harus meluangkan waktu untuk berinteraksi dengan anak tentang kebutuhan dan saling bercerita pengalaman sehari-hari, hal ini membuat anak merasa diperhatikan dan disayangi orangtuanya.

Saat mengobrol pastikan untuk melakukan kontak mata, sehingga sebuah kesalahan jika orangtua mengobrol atau menjawab pertanyaan anak sambil menggunakan dan menatap layar smartphone. 

Anak adalah peniru ulung, sehingga jangan salahkan anak jika orangtua berbicara tapi anak sibuk dengan gadgetnya sendiri. Kedekatan orangtua dan anak dapat diraih dengan seringnya melakukan kontak mata saat mengobrol.


8. Jangan Terlalu Sering Kerja Lembur

Sering kerja lembur membuat orangtua tidak memiliki waktu cukup untuk anak, padahal agar orangtua dan anak bisa dekat haruslah ada momen-momen kebersamaan. Hal seperti ini tidak akan bisa dicapai jika orangtua terlalu sering kerja lembur.

Usahakan untuk pulang kerja di sore hari, sehingga masih tersisa waktu yang cukup banyak untuk membangun kedekatan dan momen kebersamaan yang nantinya terus berbekas di hati anak. Selain itu nikmati momen saat bersama anak, singkirkan sebisa mungkin gadget dan lakukan aktivitas seru bersama.

9. Beraktivitas Bersama

Jangan karena kesibukan bekerja sehingga Anda tidak lagi memiliki waktu dan energi untuk beraktivitas bersama anak. Aktivitas bersama antara orangtua dan anak nantinya memberikan segudang manfaat, cukup lakukan aktivitas-aktivitas sederhana sehingga memperkuat ikatan orang tua dan anak.

Setiap orangtua pasti ingin punya hubungan emosional yang kuat dengan anak-anaknya, oleh karena itu pastikan Anda memiliki waktu dan energi yang cukup untuk beraktivitas bersama anak. Lakukan aktivitas sederhana, misalnya membuat kue bersama dengan anak perempuan Anda, nantinya akan ada hal-hal seru seperti saat membuat adonan, mencetak kue, obrolan tentang bahan-bahan makanan dll.

Atau orangtua bisa juga melakukan olahraga bersama anak-anaknya, misalnya bermain sepak bola, basket atau olahraga lainnya. Lalu ada juga kegiatan berkebun, sangat bagus mengajarkan anak berkebun, anak akan belajar untuk bertanggung jawab dalam merawat tanamannya, kotor sedikit tentu bukan masalah.

Piknik bersama di taman juga merupakan ide yang sangat bagus, lakukan ini saat hari libur, bawa bekal dari rumah lalu pergi ke taman terdekat, disana akan muncul momen-momen kebahagiaan seperti saat ngobrol atau bergurau yang bisa mempererat ikatan emosional antara orang tua dan anak. Jadi melakukan aktivitas bersama anak tidak perlu yang mahal-mahal, yang penting adalah mencari aktivitas seru dan dilakukan rutin.

Ini seharusnya dilakukan sejak anak masih kecil, rutinitas kebersamaan dengan si Kecil haruslah berkelanjutan karena sangat besar manfaatnya, seperti melakukan sarapan bersama, mengobrol, bercengkrama, makan malam bersama, membacakan cerita di malam hari, menyikat gigi bersama, melakukan tugas rumah bersama, dll.

Saat Anda merasa anak lebih pendiam dari biasanya atau terlihat memiliki masalah maka bicarakan dengannya, jangan cuek. Awalnya anak mungkin tidak ingin membicarakan apa yang mengganggu jiwanya, tapi lama kelamaan anak akan mulai belajar untuk mendiskusikan perasaan mereka. Hal seperti ini akan sangat membantu Anda saat anak memasuki usia remaja. Juga bagikan kisah dan pengalaman hidup Anda terhadap anak, tantangan di masa lalu dan perjuangan yang pernah Anda lakukan dulu.

Ingatlah, mengasuh anak adalah pekerjaan yang paling berharga, sehingga Anda perlu juga menjaga diri sendiri agar dapat mengasuh anak secara optimal. Untuk membesarkan anak yang sehat, maka Anda juga harus energik dan sehat. Berfokuslah pada kesehatan fisik dan mental Anda sendiri. Orangtua yang bahagia akan membesarkan anak-anak yang bahagia. Anda dapat dengan mudah menciptakan lingkungan positif di rumah jika Anda merasa bahagia.


10. Hindari Hal yang Dapat Merusak Hubungan

Anda harus menghindari hal-hal yang dapat merusak hubungan dengan anak, seperti:
  1. Tidak mendengarkan ketika anak sedang berbicara.
  2. Suka membanding-bandingkan anak dengan temannya. Hal ini dapat merusak ikatan batin antara orangtua dan anak.
  3. Terlalu sibuk dengan handphone sendiri dan kurang memperhatikan anak.
  4. Orangtua meluapkan emosi atau kemarahan secara tidak terkendali. Anak akan selalu mengingat pengalaman pahit yang dirasakannya.
  5. Mempermalukan anak di depan umum.
  6. Terlalu sering mengkritik anak.
  7. Melecehkan anak secara fisik seperti memukul, maupun melecehkan secara verbal seperti meneriaki anak. Penganiayaan fisik maupun verbal nantinya dapat membuat anak kelak memiliki kepribadian yang kasar, sehingga saat dewasa ia akan memperlakukan orangtua dan anak-anaknya dengan buruk, sehingga menciptakan lingkaran kejahatan.
  8. Tidak menghargai dan mengapresiasi anak, misalnya orangtua tidak memberikan pujian saat anaknya melakukan hal yang baik. Ingatlah, orangtua wajib menafkahi anak secara fisik, emosional, sosial dan spiritual. Jika tidak dipenuhi, akibatnya anak mulai tidak menghormati orangtuanya.
  9. Komunikasi yang buruk. Ini akan membuat anak tumbuh dengan perasaan frustasi serta merasa tidak dipedulikan.
  10. Orangtua over protektif. Hal ini membuat anak merasa kebebasannya direnggut oleh orangtuanya, sehingga anak selalu tidak nyaman saat berada di dekat orangtuanya.
  11. Meremehkan atau tidak mau mendengarkan pendapat dan perkataan anak. 

Mengasuh anak itu bukanlah tugas yang ringan, perlu memutar otak mencari cara pengasuhan yang cocok dan terbaik untuk anak. Walau begitu, Anda perlu menikmati proses pengasuhan anak, harapkanlah hasil yang manis dari usaha mengasuh anak yang Anda lakukan.

Sebagai motivasi, berikut manfaat dari sehatnya hubungan orangtua dan anak:
  1. Anak sejak kecil tumbuh dengan perasaan yang aman dan nyaman.
  2. Anak tumbuh dengan lebih percaya diri dan optimis.
  3. Perkembangan mental, linguistik dan emosional anak yang optimal.
  4. Anak memiliki kesempatan yang lebih baik untuk mengembangkan hubungan bahagia dengan orang lain dalam hidup mereka.
  5. Anak lebih mampu untuk mengatur emosi di bawah tekanan dan situasi yang sulit.
  6. Anak memiliki keterampilan sosial dan akademik yang lebih baik.
  7. Anak tumbuh dengan perkembangan sosial, emosional, kognitif, dan motivasi yang sehat.
  8. Anak punya kemampuan lebih baik dalam pemecahan masalah (problem solving).




Tulisan Terkait: