Cara Mengoptimalkan Perkembangan Motorik Kasar & Halus Anak

Terdapat perbedaan kondisi antara anak-anak yang tumbuh di generasi dulu dengan anak-anak yang tumbuh di zaman digital seperti saat ini. Perkembangan teknologi yang begitu pesat bisa menimbulkan beberapa permasalahan, salah satunya anak sejak kecil terpapar teknologi secara berlebihan. Misalnya sebuah masalah yang cukup serius yaitu anak sejak kecil sudah sibuk memainkan smartphone, sehingga menjadikannya jarang bergerak dan berlari. Padahal sejak kecil seharusnya anak aktif untuk bergerak kesana-kemari agar tumbuh kembangnya optimal.

Anak Bermain
Photo credit: -

Dengan begitu di zaman teknologi saat ini, orangtua perlu memberi perhatian khusus pada perkembangan motorik anak. Kunci agar motorik anak dapat berkembang dengan baik, yaitu dengan mendorong anak rajin menggerakan tubuhnya. Sehingga, orangtua harus memaklumi jika anak-anak itu suka sekali berlari, melompat, memanjat dll, yang penting adalah Anda selalu memantau dan memastikan keamanan si Kecil.

Perkembangan motorik adalah proses perkembangan gerak pada anak, yang didasari oleh kematangan fisik dan saraf pada anak. Memperhatikan dan menstimulasi perkembangan motorik anak sangat penting dalam proses tumbuh kembangnya dan kemampuan gerak anak, pada dasarnya perkembangan motorik sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak. 

Suatu gerakan sesederhana apapun, hal itu merupakan hasil pola interaksi yang kompleks dari sistem bagian-bagian tubuh yang dikontrol oleh otak. Kemampuan motorik terbagi dua, yaitu motorik kasar dan motorik halus.


Motorik kasar merupakan gerakan yang meliputi keseimbangan dan koordinasi antar anggota tubuh, yang biasanya melibatkan otot besar seperti merangkak, berjalan, melompat, berlari dll. Adapun motorik halus lebih melibatkan otot kecil, misalnya koordinasi mata-tangan seperti menyusun puzzle, memasukkan balok sesuai bentuknya ke wadah, menggambar, mencorat-coret, menulis dll.

Biasanya yang berkembang pertama kali adalah kemampuan motorik kasar, seperti saat anak Anda masih bayi, maka motorik kasarnya akan berkembang pesat dimana si Kecil akan belajar untuk membalikkan badan, lalu belajar duduk, merangkak hingga akhirnya mulai bisa berjalan. Setelah itu barulah kemampuan berbicara si Kecil mulai berkembang pesat.

Biasanya motorik kasar berkembang secara alami sesuai dengan kematangan fisik anak. Adapun motorik halus dapat lebih berkembang jika diberikan bantuan stimulasi secara rutin. Misalnya, seorang anak biasanya dapat lebih cepat berbicara jika sering diajak mengobrol oleh orangtuanya.

Cara efektif untuk menstimulasi motorik anak yaitu dengan melakukan permainan. Bayi perlu diberikan stimulasi motorik kasar, sebagai contoh agar bayi aktif merangkak maka cara menstimulasinya yaitu dengan menaruh mainan kesukaannya jauh dari jangkauannya sehingga si Kecil akan bergerak untuk mengambilnya.

Si Kecil membutuhkan koordinasi, kematangan dan keseimbangan antar anggota tubuh dengan menggunakan otot-otot besar, orangtua harus aktif melatih motorik kasar sesuai tahapan usianya yang dimulai dari belajar tengkurap, duduk, merangkak dan berjalan. Hingga akhirnya ia bisa berlari, melompat dan menendang bola. 

Perkembangan motorik kasar sangat dipengaruhi oleh perkembangan fisiknya, kematangan sistem sarafnya, hingga kemampuan kakinya untuk cukup kuat menopang tubuhnya. Pada usia 1-3 bulan sesekali cobalah membalikkan badan bayi untuk membuatnya tengkurap, guna melatih kekuatan otot lehernya. Bayi akan belajar mengangkat kepala dan dada bertumpu pada kedua tangannya. Gerakan seperti ini akan menstimulasi atau melatih otot-otot bagian leher si Kecil.


Melatih Merangkak. Setelah memasuki usia sekitar 6 bulan, bayi akan mulai mencoba berguling-guling dan merangkak untuk berpindah tempat. Untuk menstimulasinya, perlihatkan mainan kesukaannya sehingga si Kecil tertarik dan menghampirinya sambil merangkak. 

Melatih Duduk. Tahapan melatih duduk biasanya sudah bisa dimulai di sekitar usia 4-7 bulan, tepatnya saat si Kecil sudah bisa berguling-guling dan mampu menahan kepala dengan kuat. Saat si Kecil berusia 8 bulan bisanya sudah bisa duduk sendiri tanpa bantuan orang tua. 

Melatih Berdiri dan Berjalan. Si Kecil dapat mulai berdiri saat kakinya sudah cukup kuat menopang tubuhnya. Pada usia 8 bulan biasanya akan mulai belajar berdiri dengan berpegangan pada benda di sekitar. Anda perlu melatih si Kecil terbisa berdiri dan melangkah dengan memegang kedua tangannya. Selain itu ajarkan si Kecil untuk menekuk lutut sehingga ia dapat duduk kembali setelah berdiri atau berjalan. Biasanya setelah memasuki usia 9-12 bulan, waktu untuk mulai belajar melangkah pertama kalinya, hingga akhirnya bisa berjalan sendiri (tanpa bantuan).

Meskipun si Kecil melalui fase demi fase perkembangan motorik secara bertahap, stimulasi dan pendampingan yang dilakukan orangtua dapat menambah rasa percaya dirinya dan si Kecil juga akan merasakan kasih sayang dan perhatian dari orangtuanya.

Pada tiga tahun awal kehidupannya, anak mengalami perkembangan motorik kasar secara signifikan, dimana dalam rentang usia ini pula perkembangannya dapat menjadi acuan untuk mengetahui apakah tumbuh kembangnya normal. Pada usia 1 tahun biasanya anak sudah bisa berjalan secara mendiri, tapi ada juga yang masih butuh bantuan atau berpegangan pada benda di sekitarnya. Hal seperti ini normal, jadi jangan terburu-buru memaksakan anak harus bisa berjalan mandiri pada usia ini. Keterampilan motorik kasarnya masih sebatas belajar berjalan, yang setelah itu baru mulai belajar menaiki tangga dengan berpegangan, menuruni tangga dengan berpegangan, berjalan mundur, berjalan menyamping, dan mulai bisa berlari.


Anak Usia 2 Tahun. Memasuki usia 2 tahun, biasanya anak sudah bisa berjalan naik tangga tanpa bantuan, anak juga bisa melompat dengan dua kaki ke depan sekitar 10 cm, melompat ke atas sekitar 5 cm, dan mulai dapat menendang bola, dimana untuk menendang bola butuh keseimbangan.

Beberapa stimulasi untuk si Kecil yang perlu dilakukan:
  1. Saat anak baru mulai belajar berjalan, Anda harus rajin-rajin mengajak si Kecil berjalan sambil dipegangi. Dengan rutin melakukannya, Ini akan melatih kekuatan otot kaki si Kecil secara optimal.
  2. Memberikan benda (atau mainan) yang sangat menarik baginya, gunakan benda atau mainan tersebut sebagai umpan agar ia termotivasi untuk bergerak.
  3. Rajin mengajak dan mendampingi si Kecil untuk belajar menaiki dan menuruni tangga sambil dipegang (jaga keamanan si Kecil).
  4. Sering-sering mengajak si Kecil bermain untuk melompat di trampolin, atau setidaknya di kasur.

Saat si Kecil telah berusia 2 tahun, kekuatan kakinya semakin mantap dimana ia bisa melompat-lompat dengan lancar, berjalan mundur, berjinjit, berlari kencang, serta memanjat. Karena perkembangan anak yang begitu pesat, mungkin Anda akan terkaget-kaget saat si Kecil suka memanjat meja, kursi, tempat tidur, pagar yang rendah dan lainnya. Keseimbangan tubuh juga semakin baik sehingga si Kecil dapat berdiri dengan satu kaki.

Bermain melempar bola dan mengayuh sepeda roda tiga. Untuk keterampilan tangan, anak usia 2 tahun biasanya dapat melempar bola kecil sejauh dua atau tiga meter. Bahkan saat anak telah berusia 2 tahun dapat diajarkan untuk mengayuh sepeda roda tiga, lakukan secara rutin sehingga kakinya semakin terlatih dan kuat, bermain sepeda juga berguna untuk melatih koordinasi antara kaki dan tangan anak.

Jadi beberapa hal yang disarankan untuk menstimulasi motorik anak usia 2-3 tahun:
  1. Sering-sering mengajak anak mengayuh sepeda roda tiga.
  2. Mengajak anak ke Playground, disana tersedia fasilitas yang banyak untuk menunjang latihan motorik anak seperti memanjat, berlari dan melompat.
  3. Mengajak anak bermain lempar-tangkap bola.


Untuk menstimulasi motorik halus pada anak usia 2 tahun, hal ini bisa diwujudkan dengan melakukan permainan sederhana, misalnya menyiapkan 2 wadah dengan wadah pertama diisi air dan wadah kedua kosong, ajak si Kecil bermain untuk memindahkan air dari wadah pertama ke wadah kedua. Setelah anak siap untuk mengonsumsi makanan padat, berikan ia makanan yang bisa digenggam dengan jari, sehingga secara otomatis anak akan berlatih untuk menggenggam makanan mereka sendiri. Lakukan hal semacam ini untuk dapat menstimulasi motorik halusnya.

Setelah si Kecil berusia dua tahun, Anda mungkin terkejut dengan penguasaan motoriknya yang semakin mantap, bahkan kemampuan linguistiknya juga jauh berkembang, serta si Kecil mulai terlihat mahir berinteraksi dengan teman-teman sebayanya. 

Hanya saja sebuah kondisi yang perlu Anda ketahui adalah ‘Terrible Two’, dimana Anda akan melihat si Kecil yang lebih emosional. Anak usia 2 tahun biasanya sudah mulai ingin menunjukkan kemandiriannya, hanya saja dengan emosi meletup-letup, keras kepala, bahkan mungkin Anda akan dipusingkan dengan tantrum anak (seperti mengamuk, membanting mainan, menendang-nendangkan kaki ke lantai dll) yang itu terkadang muncul.

Tapi itu bukan berarti anak sedang belajar bandel, karena namanya anak usia 2 tahun belum mengerti konsep bandel. Anak usia 2 tahun hanya sedang berusaha memahami dunia sekelilingnya. Biasanya anak dengan tantrum yang parah, memiliki masalah berupa kesulitan untuk mengungkapkan perasaannya sendiri. Agar tantrum anak tidak semakin parah, maka orangtua harus peka terhadap kondisi anak.

Sering-seringlah mengajaknya bermain aktivitas fisik seperti melempar, meloncat dan berlari. Dari perkembangan fisik atau motoriknya, balita akan semakin jago untuk melompat, memanjat, melempar bola, mencuci dan mengeringkan tangan, hingga menyikat gigi.

Melewati ulang tahun keduanya, anak biasanya terlihat agak kurus karena memang pertumbuhannya sudah mulai lebih lambat dibandingkan sebelumnya, proporsi tubuhnya pun semakin menyerupai orang dewasa. Anda akan kaget melihat anak tidak lagi membutuhkan banyak jumlah jam tidur (dibandingkan sebelumnya) karena ia akan sangat aktif berlari kesana kemari, yang hal itu juga akan membakar kalorinya, melatih koordinasi anggota badan hingga membentuk kekuatan staminanya.

Anak usia 2,5 tahun semakin mahir memegang benda-benda kecil tanpa kesulitan, bisa berdiri di atas satu kaki dengan seimbang, melompat ke arah depan dengan dua kaki secara bersamaan, dapat menyusun balok puzzle, memegang gelas dan membuka lembaran buku.

Semakin berkembang anak, maka Anda perlu memberikan area yang luas dan aman untuk eksplorasinya sekaligus melatih motoriknya, khususnya motorik kasar. Sebisa mungkin berikan waktu sebanyak banyaknya bagi anak untuk bergerak, hanya saja orangtua harus selalu sigap untuk mengawasi.


Anak Usia 3 tahun. Saat anak berusia 3 tahun seharusnya perlu distimulasi kemampuan motorik halusnya, berikan anak keleluasaan untuk memegang berbagai jenis benda sehingga ia akan mengenal berbagai macam tekstur, rasa dan warna. Anak akan menyentuh kain yang memiliki tekstur lembut, pasir dengan bentuk dan tekstur tersendiri dll, stimulasi ini akan membantu si Kecil mengembangkan seluruh inderanya secara optimal.

Pemahaman kognitifnya dapat memengaruhi gaya berbahasa atau bicaranya, ia mulai tahu siapa lawan bicaranya sehingga akan menyesuaikan gaya bicara yang paling nyaman. Anda akan melihat ia akan berbicara lebih sederhana dengan anak yang lebih kecil darinya, dan lebih serius saat berbicara dengan orangtuanya, MENAKJUBKAN!

Selain itu si Kecil memiliki banyak kosakata yang tidak pernah diduga, ia bisa menyebut nama sendiri, saudara dan orangtuanya, memahami kata sifat, hingga mengerti kegunaan suatu barang dan tempat. Si Kecil juga mulai bisa membandingkan dirinya dengan teman seusianya, misalnya ia akan bertanya mengapa anak lain boleh menggunakan gadget sedangkan dirinya tidak. Anda akan mendapatkan banyak sekali pertanyaan menakjubkan dari anak usia 3 tahun.

Setelah memasuki usia 3 tahun, anak semakin tertarik dengan kondisi emosional orang lain, khususnya anak seusianya. Si Kecil mulai bisa memiliki kesadaran terhadap suasana hati orang lain, anak mungkin akan bertanya jika melihat Ayahnya tampak kurang berkenan dengan apa yang dilakukannya, ataupun anak bertanya kenapa temannya menangis. Kecerdasan dan keterampilan motorik anak usia 3 tahun berkembang pesat, orangtua harus sering-sering memberikan pemahaman pada anak dan memberikan jawaban yang dibutuhkan anak.

Anak usia 3 tahun juga semakin tertarik untuk bersosialisasi, ia akan senang bermain ke rumah tetangga yang terdapat anak seusianya, bahkan jangan kaget saat anak Anda mengundang banyak sekali anak seusianya ke rumah. Hal ini karena ia sudah tahu konsep teman, mulai belajar cara berbagi, dan membentuk interaksi.

Anak juga semakin mahir mengungkapkan ekspresi emosi seperti senang, sedih dan marah. Selain itu dari aktivitas fisiknya, ia sudah mahir memanjat, berlari, bersepeda (roda tiga), hingga naik-turun tangga. Anak juga dapat dengan mudah melakukan gerakan sulit seperti berdiri di atas satu kaki. 

Anak biasanya sudah dapat mengenali nama-nama warna, mengingat kisah cerita, memahami konsep waktu (pagi, siang, malam), berhitung, mengikuti perintah sederhana, mengenali benda dan fungsinya, hingga mengerti konsep sama dan berbeda. Anak juga biasanya suka menggambar, ia akan mencoba menggambar bentuk wajah meskipun sekedar lingkaran disertai titik-titik dan coretan di dalam lingkarannya.

Anak usia 3 tahun semakin aktif tapi usahakan agar anak tetap tidur siang, karena banyak sekali manfaat dari tidur siang, sekalipun tidur siang sejenak (15-30 menit). Selain itu Anda sudah bisa menstimulasi kreativitasnya, si Kecil sudah mulai menunjukkan kemampuannya dengan menggambar bentuk lingkaran dan bentuk artistik lainnya. Jika anak gemar mencorat-coret, menggambar atau membuat kertas-kertas berantakan hendaknya dimaklumi, biarkan anak larut dalam proyek seni dan kreativitasnya.

Ingatlah untuk memuji hasil karyanya karena sangat penting untuk menumbuhkan rasa percaya diri dan kemampuan ekspresifnya. Ini akan membuat imajinasi dan kreativitasnya berkembang sangat cepat, sediakan area atau ketersediaan fasilitas yang cukup guna menstimulasi motorik halusnya.


Anak Usia 4 Tahun. Motorik kasar anak usia 4 tahun dapat dilatih dengan bermain perosotan, sepeda roda tiga, jungkat-jungkit dan semacamnya. Orangtua perlu mengajak anak bermain olahraga sederhana seperti melempar bola, menendang bola, lompat di trampolin, bermain air dan aktivitas fisik lainnya. Sangat penting anak bermain di luar ruangan untuk mengoptimalkan proses tumbuh kembangnya.

Semakin berkembang anak maka semakin besar ruang eksplorasi yang dibutuhkannya. Menginjak usia 4 atau 5 tahun, anak sudah bisa diajak kegiatan fisik yang lebih menantang misalnya bermain bola atau olahraga dengan peraturan sederhana. Kegiatan ini selain untuk menstimulasi motoriknya, juga untuk mengajarkan anak bahwa saat bermain bersama orang lain ada aturan yang perlu ia pahami.

Walau kemampuan motoriknya semakin berkembang tapi tetap dibutuhkan pengawasan untuk memastikan area bermain yang aman. Menjelang usia 5 tahun, anak perlu diberikan kesempatan untuk bermain dan beraktivitas secara leluasa, termasuk membiarkan anak melakukan banyak hal secara mandiri seperti menggunakan pakaian, makan sendiri dll.

Sebisa Mungkin Jauhkan Gadget. Anak usia 12 tahun ke bawah sebaiknya tidak diberikan gadget, apalagi jika anak masih berusia 5 tahun kebawah. Para ahli menjelaskan bahwa anak usia 0-2 tahun tidak boleh terpapar oleh teknologi sama sekali, seperti paparan layar TV maupun gadget/smartphone. Adapun anak usia sekolah dasar harus dibatasi dari paparan layar TV maupun gadget sekitar 2 jam saja perhari.

Paparan gadget dapat mengganggu pertumbuhan otak anak. Pada usia 0-2 tahun, otak anak tumbuh dengan sangat pesat, paparan negatif dari gadget (smartphone, ipad, laptop, TV dll) menyebabkan keterlambatan koginitif, resiko tantrum, meningkatkan prilaku impulsif, hingga di masa depan anak beresiko tinggi mengalami gangguan proses belajar.

Selain itu tumbuh kembang anak menjadi lambat dan tingginya resiko obesitas. Banyak ditemukan pada anak-anak usia SD dan SMP yang sejak kecil terpapar gadget secara berlebihan, mengalami masalah kecanduan gadget atau video game, gangguan tidur kronis, gangguan fungsi motorik tubuh, kelainan mental, gangguan kecemasan, autisme, kelainan bipolar, atensi lemah, psikosis hingga depresi.

Konten video atau tayangan di gadget maupun televisi bergerak dengan sangat cepat, hal ini menyebabkan attention span yang pendek pada si Kecil (usia 5 tahun kebawah), yang akibatnya membuat si Kecil kesulitan untuk bisa fokus pada satu hal, menurunnya kemampuan konsentrasi dan memori, serta si Kecil kesulitan dalam memusatkan perhatian.

Bahkan pada bulan Mei 2011, WHO menyatakan gadget dalam kategori Risiko 2B (penyebab kemungkinan kanker) karena radiasi emisi yang dikeluarkan oleh perangkat tersebut. Para ahli menjelaskan bahwa anak-anak lebih sensitif terhadap radiasi dibanding orang dewasa, hal ini dapat sangat membahayakan karena otak anak dan sistem imun mereka masih dalam masa perkembangan. 

Dengan begitu, sudah seharusnya para orangtua berusaha membatasi penggunaan gadget pada anak-anaknya, termasuk anak-anak yang berusia 14 tahun kebawah. Karena selain dapat menghambat perkembangan fungsi motorik tubuh, paparan gadget juga menyebabkan masalah kognitif, kesehatan dan gangguan mental.


Jika Anak Sudah Agak Besar

Setelah anak berusia 5 tahun ketas, maka akan ada banyak hal yang bisa dilakukannya, orangtua tetap harus aktif melakukan stimulasi. Ini sangat penting, sebab jika anak tidak dapat melakukan tugas sederhana seperti mengancing baju, menggunting kertas, berlari dengan benar dll, hal ini dapat mempengaruhi rasa percaya dirinya.

Beberapa aktivitas untuk menstimulasi motorik anak (khususnya motorik halus):
  1. Menggambar, mewarnai dan melukis. Aktivitas ini tidak hanya menstimulasi motorik halusnya, tapi juga kreativitas dan imajinasinya.
  2. Bermain puzzle. Aktivitas mengambil dan menaruh potongan puzzle ke tempatnya akan mengembangkan kemampuan genggaman si Kecil, serta meningkatkan keterampilan dan kordinasi tangan-mata.
  3. Bermain menyusun balok dan lego. Aktivitas menyusun, menyambungkan atau membangun balok/lego dapat melatih motorik anak dan daya kreativitasnya. Bermain lego adalah cara efektif mengembangkan kemampuan motorik halus anak.
  4. Bermain gelang karet.
  5. Menggunting kertas. Aktivitas ini juga meningkatkan koordinasi dan konsentrasi mata-tangan. 
  6. Bermain gelang karet, misalnya dengan meminta si Kecil untuk mengalungkan karet gelang ke kaleng (atau benda berbentuk silinder), sembari juga mengajak si Kecil menghitung karet.
  7. Bermain dengan lilin, tanah liat atau mainan berbentuk adonan lainnya. Biarkan anak membentuk bagian-bagian adonan dengan jari-jarinya dan berkreasi untuk membentuk sesuatu.
  8. Bermain dengan kertas, seperti melipat kertas menjadi bentuk tertentu, memotong kertas atau lainnya.
  9. Walaupun berantakan, biarkan saja jika anak ingin makan sendiri dengan sendoknya, ini bermanfaat untuk merangsang motorik halusnya dimana ia akan berlatih caranya menggenggam dan mengarahkan alat makan dengan benar.
  10. Menyusun balok dan puzzle. Mintalah Si Kecil menyusun balok dan puzzle hingga menjadi pola atau bentuk yang ia sukai.

Untuk memperoleh keterampilan motorik halus wajib melatih kekuatan, koordinasi dan kemampuan untuk menggerakkan otot-otot di jari tangan dan kakinya. Kemampuan motorik halus dapat mulai distimulasi secara intensif setelah si Kecil berusia 1-2 tahun.

Beberapa kemampuan motorik halus yang sangat berperan dalam kemandirian si Kecil seperti kemampuan menyikat gigi, mencuci tangan, memegang sendok (makan sendiri), membuka pintu, melukis atau menulis, menggerakkan jari kaki, membuka dan memasang kancing baju. Dengan memiliki kemampuan sederhana seperti itu dapat meningkatkan rasa percaya diri si kecil.


Anak Usia SD. Walau terlihat sudah besar dan lebih mandiri, perkembangan motorik anak usia sekolah dasar (SD) tetap perlu dioptimalkan. Pada anak usia 7-8 Tahun, ia akan memperlihatkan peningkatan dalam stamina dan kemampuan koordinasi tubuh. Beberapa kemampuan yang akan dipelajari dan dikuasainya yaitu:
  1. Koordinasi mata dan tangan yang semakin baik, sehingga dapat dengan lancar mengikat tali sepatu, mengancingkan baju sendiri dan semacamnya.
  2. Melempar dan menangkap bola, dengan satu atau dua tangan.
  3. Bisa menggunakan sendok dan garpu dengan baik.
  4. Bisa melakukan tugas rumah sederhana seperti menyapu dan membereskan tempat tidur.
  5. Mulai dapat meniru bentuk dan angka dengan baik, sehingga akan terlihat tulisannya yang lebih rapih dan dapat terbaca.

Saat anak berusia 9 tahun (kelas 3 SD), maka ia sudah semakin terbiasa dengan rutinitas sekolah. Para ahli menjelaskan bahwa di usia 9 tahun perkembangan motorik kasar anak sudah hampir berkembang sempurna. Adapun kemampuan motorik halusnya semakin terasah, Anda akan melihat anak punya sikap berhati-hati yang lebih baik. Di akhir kelas 3 SD, biasanya anak sudah dapat menguasai beberapa hal seperti:
  1. Memakai baju dan sepatu sendiri tanpa dibantu.
  2. Keseimbangan yang mulai sempurna, sehingga dapat dengan lancar mengendarai sepeda roda dua (atau sepeda tanpa roda bantu).
  3. Bergerak dan beraktivitas dengan lebih mulus dan awas.
  4. Mulai bisa menggunakan alat perkakas (seperti obeng dll).
  5. Dapat bermain atau melakukan olahraga berkelompok seperti sepakbola, basket dan permainan tradisional.
  6. Menulis dengan lebih rapi, sehingga dapat terbaca dengan mudah.

Setelah anak berusia 10 tahun, secara umum hampir semua anak pada masa ini akan mengalami percepatan pertumbuhan. Pesatnya perkembangan motorik anak usia 10-11 tahun (kelas 4-5 SD) bisa terlihat dari frekuensi aktivitas fisik yang lebih intens serta lebih mahir melakukan berbagai macam gerakan olahraga, selain itu anak mungkin dapat membuat prakarya dengan baik yang menandakan baiknya perkembangan motorik halus anak.

Pada anak usia 12 tahun (kelas 6 SD), perkembangan motoriknya dapat dikatakan sudah sempurna dan menyeluruh. Di usia ini, biasanya akan terlihat anak mulai lebih banyak makan, bicara dan beraktivitas fisik untuk menyalurkan energi dan staminanya yang semakin tinggi.

Anak usia 12 tahun keatas biasanya sudah dapat melakukan tugas yang lebih rumit seperti mencuci piring, melipat baju, membersihkan jendela, hingga memasak hidangan sederhana (seperti mie instan).


Sebagai perhatian untuk para orangtua harus berperan aktif untuk mengoptimalkan perkembangan motorik anak, khususnya mengembangkan keterampilan motorik kasar anak yang biasanya dilakukan dengan aktivitas bermain, dimana bermain adalah cara paling efektif untuk merangsang motorik kasar anak. Jangan sampai anak hanya bermain gadget di dalam rumah seharian, seharusnya terdapat kegiatan bermain di luar ruangan yang akan merangsang motorik anak secara efektif dan optimal. 

Berjalan di sekitar lingkungan rumah ataupun melakukan permainan dengan teman-teman sebaya seperti sepak bola, gobak sodor, petak umpet dan semacamnya akan merangsang motorik kasar anak secara optimal. Selain itu biasakan anak aktif untuk memiliki aktivitas fisik atau olahraga dalam sehari-hari.

Melompat-lompat di trampolin menjadi aktivitas menyenangkan yang dapat mengembangkan keterampilan motorik kasar anak. Jika anak Anda sudah memasuki usia sekolah, maka doronglah ia untuk memiliki hobi (khususnya hobi yang berisi aktivitas fisik). Misalnya jika anak suka sepak bola maka masukan ia ke dalam sekolah klub sepak bola, atau mungkin anak suka dengan keterampilan bela diri seperti taekwondo dan karate, sehingga orangtua harus berusaha menggali apa yang menjadi bakat dan minat anak.

Satu aktivitas lainnya yang sangat bagus dilakukan secara rutin (minimal 1 kali dalam seminggu) yaitu pergi ke taman bermain, sehingga nantinya anak akan bermain di ayunan, meluncur dari perosotan, memanjat dan aktivitas lainnya. Ini sangat bagus untuk mengembangkan keterampilan motoriknya, juga membuat anak bahagia. Selain itu yang perlu Anda ketahui, keterampilan motorik ternyata punya keterkaitan dengan perkembangan keterampilan berbahasa.

Sebagai penutup, Anda harus berhati-hati terhadap paparan teknologi secara berlebihan pada anak. Keterampilan motorik anak bisa memburuk karena teknologi. Lebih mudah bagi anak untuk memegang smartphone daripada bermain membangun blok/puzzle, memotong dan menempel kertas, atau menarik tali untuk pembentukan otot mereka. Jika begini adanya, Anda harus berhati-hati.




Tulisan Terkait: