Cara Mengembangkan Kreativitas Anak Sejak Dini

Setiap anak pada dasarnya punya jiwa kreatif, tinggal bagaimana orangtuanya merangsang anak untuk berpikir kreatif. Kemampuan kreativitas yang baik sangat dibutuhkan untuk masa depan Anak, orangtua seharusnya mempersiapkan yang terbaik untuk masa depan anak-anaknya.

Pendidikan anak tidak terbatas pada hal-hal formal atau teori di sekolah. Apalagi di era teknologi maju seperti saat ini, kesuksesan anak di sekolah tidak lagi berpatokan pada nilai-nilai akademis semata, akan tetapi kemampuan berpikir kreatif punya pengaruh besar terhadap kesuksesan anak di masa depan.

Dengan begitu, kreativitas merupakan keterampilan penting yang harus diasah dan sudah seharusnya menjadi bagian utama dalam proses pendidikan anak. Kreativitas lebih dari sekedar jago melukis atau menggambar. Kreativitas itu adalah sebuah seni berpikir, kemampun berpikir untuk memecahkan masalah, kemampuan mengolah berbagai informasi atau pengetahuan yang dimiliki untuk menghasilkan sesuatu yang baru.

Anak Kreativitas
Photo credit: istockphoto.com|RichVintage

Kreativitas merupakan salah satu potensi anak yang harus dikembangkan sejak dini. Anak yang sejak kecil dirangsang kreativitasnya, dimasa depan dia akan menjadi orang yang menonjol dalam keterampilan pemecahan masalah, bisa berpikir out of the box, dan hebat dalam mengeksplorasi atau menemukan hal-hal baru (inovatif).

Dengan mengasah kreativitas anak sejak dini membuatnya punya pondasi berpikir yang lebih baik, lebih mampu untuk berpikir kritis, produktif, punya daya pikir lebih baik dalam memecahkan masalah, dan lebih mampu untuk berinovasi. Adapun jika kreativitas anak tidak diasah menyebabkan kelancaran/keterampilan berpikirnya berkembang lambat.

Selain itu penelitian menemukan bahwa dengan memiliki jiwa kreatif berdampak positif pada kesehatan mental seseorang. Menstimulasi kreativitas anak seperti dengan mengajaknya berpikir, berimajinasi hingga mendorong kemampuan anak untuk mencari kemungkinan solusi dari suatu masalah.

Pada dasarnya masing-masing anak punya potensi untuk memiliki kreativitas tinggi, hanya saja jika orangtua abai dan tidak mengasahnya menyebabkan tumpulnya keterampilan kreativitas anak seiring bertambahnya umur si Anak. Merangsang kreativitas anak sebenarnya sudah bisa dilakukan sejak dia lahir, yaitu dengan melakukan interaksi sederhana yang intens antara orangtua dan bayi.

Pada anak usia 1 tahun, biasanya anak sering tertarik untuk menggenggam, menghentak dan meremas benda. Cobalah meminta si kecil untuk meniru suara (misalnya suara binatang). Lakukan juga permainan interaktif seperti “cilukba“.

Pada anak usia 2-3 tahun, anak biasanya sangat suka mencorat-coret. Coretannya tentu saja tidak teratur, acak dan tidak terkendali. Coretan-coretannya lebih merupakan aktivitas fisik yang dihasilkan dari gerakan bahu dibanding siku atau pergelangan tangan. Berikut hal-hal yang dapat merangsang kreativitasnya:
  1. Orangtua mengajarkan si kecil tentang pengulangan pola. Buat suara ‘brum brum' untuk meniru suara mobil. 
  2. Sebutkan dan deskripsikan benda yang ada di dekat si kecil atau yang ada di buku gambar, lalu dorong si kecil untuk melakukan hal seperti itu juga, yaitu mendorong si kecil berpendapat tentang apa yang dilihatnya.
  3. Membacakan cerita pada si kecil sembari mengubah suara sesuai karakter, kondisikan gestur (bahasa tubuh) untuk menampilkan emosi dan perasaan.
  4. Jika si kecil terlihat nakal, maka tahan kemarahan Bunda. Misalnya si kecil mengambil lembaran-lembaran tisue sambil merobeknya dan mendekatkannya ke kipas angin sehingga potongan-potongan tisue bertebaran kemana-mana, mungkin saja si kecil sedang berimajinasi tentang hujan salju. Walaupun lantai jadi berantakan tahanlah emosi Bunda, karena dikhawatirkan mengomeli si kecil membuatnya jadi takut berimajinasi, alhasil secara tidak langsung mematikan kreativitasnya.
  5. Ajak anak eksplorasi seni visual, misalnya menggambar di pasir, melukis dengan jari, membentuk cetakan tanah liat dan semacamnya. Pastikan benda-benda yang digunakan tidak berbahaya, dan dampingi anak saat melakukan aktivitasnya.

Pada anak usia 4 tahun, biasanya anak senang mengekspresikan ide, dan suka mengekspresikan diri menggunakan media krayon, cat, tanah liat dll. Aktivitas yang dapat merangsang kreativitasnya:
Ajak bermain si kecil untuk membuat pola saat berlari, melompat, mengangkat tangan dll.
Ajak si kecil untuk menggambar sebuah benda atau obyek, lalu minta si kecil menjelaskannya.
Bermain menjadi hewan dan menirukan suaranya. Contohnya minta si kecil untuk menjadi macan, lalu ayam. Permainan ini dapat mengembangkan imajinasi anak sekaligus memfasilitasi permainan peran.

Pada anak usia 5 tahun. Si kecil mungkin akan mengajukan lebih banyak pertanyaan tentang bagaimana segala sesuatu bekerja. Dorong si kecil untuk menceritakan lebih banyak tentang obyek atau mainan favoritnya, biarkan anak bercerita dengan senangnya dan jangan dipotong. Aktivitas ini dapat mengembangkan ekspresi, kemampuan berbahasanya dan kreativitas berpikirnya.

Ajak si kecil melihat karya seni orang lain, lalu dorong anak untuk membentuk opininya sendiri tentang apa yang dia lihat tersebut.

Pada anak usia 6 tahun. Dia mulai bisa bercerita tentang perasaannya, teman-temannya dan lingkungan sekitar. Bunda akan mendapati bahwa anak menjadi lebih kritis, dan menyuarakan pendapat jika Ia senang atau tidak senang pada sesuatu hal.

Baik itu pada usia 1-6 tahun, anak harus sering-sering diajak mengobrol karena dapat merangsang daya pikirnya dan kretivitasnya. Orangtua jangan mengabaikan anak saat anak bertanya tentang sesuatu, dan sering-seringlah meminta pendapat anak sehingga anak terpacu untuk berpikir dan berkreativitas.

Saat bersantai bersama anak, coba ajukan pertanyaan-pertanyaan seperti ini:
  1. Apa yang kamu rasakan saat ayah/ibu memelukmu? 
  2. Suara apa yang paling kamu suka? 
  3. Apa yang sering kamu khayalkan? 
  4. Apa yang membuat kamu senang? 
  5. Apa yang pertama kamu cari saat bangun tidur? 
  6. Jika hewan bisa bicara, apa yang ingin kamu tanyakan pada mereka?
  7. dan pertanyaan-pertanyaan semacamnya.

Mengasah Kreativitas Anak Usia Sekolah & Remaja

Usia 15 tahun ke bawah merupakan masa-masa dimana kreativitas anak sedang berkembang pesat, jangan abaikan masa penting ini.

Berikan Gizi Terbaik untuk Anak. Kreativitas anak sangat tergantung pada pertumbuhan dan perkembangan otaknya. Perkembangan otak bahkan sudah berjalan pesat saat anak lahir, jadi jangan sampai terlambat untuk memperhatikan gizi anak.

Saat si kecil masih di dalam kandungan, sel otaknya tumbuh sekitar 250.000 per menit yang setelah lahir akan terbentuk hingga 100 milyar sel saraf. Dimana antara satu sel saraf dengan lainnya dihubungkan oleh sesuatu yang disebut SINAPS. Setelah bayi lahir maka proses pembentukan sinaps berjalan pesat, bahkan pada puncaknya bisa terbentuk hingga 2 juta sinaps per detik.

Jika dua sel saraf yang telah terhubung melalui sinaps mendapatkan rangsangan maka dua sel saraf yang terhubung itu aktif. Jika rangsangan tersebut terjadi berulang-ulang membuat ikatan antar sel saraf semakin kuat. Untuk menguatkan ikatan antar sel saraf harus ada stimulasi sensori-motorik. Jika dua sel saraf yang terhubung tidak mendapatkan rangsangan menyebabkan sinaps-sinaps tersebut akan mati.

Orangtua harus merangsang kecerdasan anak sejak dini, baik itu dalam hal aktivitas maupun asupan gizi. Hal ini sangat krusial karena banyaknya jumlah sel saraf atau sinaps yang aktif sangat mempengerahui kemampuan daya pikir, literasi, kreativitas, perilaku, hingga mempengaruhi kualitas kesehatan.

Pada anak usia 0-2 tahun pastikan untuk mendapatkan asupan ASI secara rutin. Penuhi kebutuhan gizi seimbang anak karena sangat bermanfaat untuk perkembangan daya pikir dan kreativitasnya. Sejak bayi hingga remaja, orangtua harus bekerja esktra keras untuk memberikan asupan terbaik untuk anak.

Usahakan membuat anak suka pada buah-buahan dan sayuran. Berikan anak lauk pauk bervariasi seperti ayam, ikan, daging sapi, cumi-cumi dll. Dan kurangi konsumsi makanan tidak sehat seperti gorengan, junk food, ciki dan semacamnya.

Jangan Terlalu Mengekang Anak. Anak-anak dibekali dengan rasa ingin tahu sangat tinggi, sehingga masa-masa itu menjadi momen si Anak untuk melakukan eksplorasi terhadap banyak hal di sekitarnya. Agar kreativitas anak tumbuh maka jangan sampai berlebihan mengatur anak.

Jadilah orangtua yang bijak, yaitu mengajarkan disiplin pada anak tapi tetap memberikan ruang eksplorasi untuk anak, sehingga anak bisa mengekspresikan diri secara leluasa (tanpa hambatan) yang jadinya anak terpacu untuk berpikir dan berkreativitas.

Adapun jika anak terlalu dikekang, sering dikritik bahkan dimarahi, menyebabkan anak takut untuk berinisiatif dan berkreativitas. Mengekang anak juga berdampak buruk bagi perkembangan mentalnya, dimana anak merasa tidak punya kebebasan, tidak bahagia dan rentan stres.

Memberikan ruang eksplorasi bukan berarti memberikan kebebasan tanpa batas, orangtua tetap perlu memantau aktivitas anak tapi jangan terlalu banyak mengatur. Orangtua baru ikut campur saat diperlukan, misalnya untuk memberitahu mana yang baik dan tidak, mana yang bahaya dan yang tidak.

Terlalu mengekang anak juga bisa berdampak pada masa depannya. Penelitian mengungkapkan bahwa anak yang terlalu dikekang beresiko tinggi tidak bahagia ketika dewasa. Mengekang anak bagaikan ‘robot’ dan tidak menyediakan space untuknya bereksplorasi menyebabkan anak tidak bahagia dan tidak puas pada hidupnya. Anak juga tidak punya kemampuan mengambil keputusan yang baik karena selama ini terlalu bergantung pada orang tua.

Mengawasi anak tetap perlu tapi biarkan anak mengembangkan diri dan kreativitasnya, serta memberikan pengajaran bagaimana si Anak bisa bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Biasakan Mengapresiasi Anak. Memberikan reward ataupun pujian dapat meningkatkan motivasi anak secara dratis, yang nantinya memicu anak untuk berpikir, berkarya dan berkreativitas. Sebaliknya, hindari suka menyalahkan atau meremehkan hasil pekerjaan anak, karena pastinya membuat anak down ke titik terbawah. 

Orangtua harus berpikir dua kali sebelum mengatakan “kamu salah” pada anak, karena dikhawatirkan akan mematikan daya pikir dan kretivitas anak. Sebagai contoh, tidak semua anak punya imajinasi yang sama. Saat anak menggambar rumah tapi atapnya berbentuk seperti lingkaran, maka orangtua perlu menahan diri dari menyalahkan anak karena bisa membuat anak down dan merasa dirinya bodoh.

Lebih baik tanyakan”Rumah kamu bentuknya seperti apa ya? segitiga atau bulat?”, biarkan anak menjelaskan mengapa ia menggambar seperti itu, dengarkan penjelasan anak dan jangan memotong.

Sekalipun hasil karya atau pekerjaan anak kurang bagus, orangtua harus tetap memberikan apresiasi untuk anak, sehingga anak tetap terus semangat untuk mengembangkan pemikiran dan kreativitasnya. Setiap apresiasi yang diberikan akan memunculkan semangat baru dalam diri anak.

Sebisa mungkin tidak membentak anak apalagi memukul.  Lise Gliot melakukan sebuah penelitian, dia melihat rangkaian indah yang terbentuk saat anak disusui disertai sentuhan lembut. Adapun saat anak terkejut atau mendengar suara keras maka rangkaian indah tersebut berubah menjadi gelembung lalu pecah berantakan dan menyebabkan perubahan warna.

Lise Gilot menjelaskan bahwa suara keras, teriakan atau membentak anak bisa berdampak buruk pada perkembangan otak anak. Saat berlangsungnya sebuah bentakan terlihat 1 milyar sel otak anak mengalami kerusakan. Betapa parahnya kerusakan sel otak anak jika anak sering diteriaki atau dibentak.

Membentak anak (termasuk menakuti anak) dapat menyebabkan efek destruktif terhadap sel-sel otak anak, yang itu berarti penurunan kemampuan daya pikir, kecerdasan maupun kreativitas anak. Maka sebaliknya, mencurahkan kasih sayang dan perhatian cukup untuk anak dapat meningkatkan kecerdasan dan kreativitas anak.

Sering-sering meminta pendapat anak. Libatkan anak dalam membuat keputusan, ini akan membuat anak merasa dihargai dan keberadannya diakui. Tanyakan pendapat anak, biarkan anak berbicara mengeluarkan pendapat dan ide-ide. Suasana keluarga seperti ini sangat kondusif untuk memacu kemampuan berpikir anak dan kreativitasnya.

Contohnya saat ingin liburan, sehari sebelumnya tanyakan ke anak ingin liburan kemana. Berikan kesempatan anak berbicara dan hargai jawaban anak. Misalnya anak ingin liburan ke Dufan, maka tanyakan alasan mengapa dia ingin liburan ke Dufan, kalau bisa tanyakan juga apa kelebihan Dufan. Buat anak mengeluarkan pendapatnya sehingga memacu daya pikirnya.

Rutin Mengobrol dengan Anak. Orangtua harus rutin mengobrol bersama anak, karena banyak anak yang tidak bisa bergaul karena jarang mengobrol dengan orangtuanya. Mengobrol dengan anak sangatlah besar manfaatnya, anak bisa lebih percaya diri dan juga berani menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Ini karena anak sudah terbiasa diajak mengobrol oleh orang tuanya, di rumah terbiasa diberi ‘ruang’ untuk bicara sehingga dia tidak lagi canggung ketika berbicara di depan banyak orang.

Jika anak sudah tidak canggung lagi untuk mengeluarkan pendapat atau idenya, maka ini sangat bagus untuk perkembangan kreativitas-nya. Rumah harus dihiasi obrolan-obrolan berkualitas, sulap rumah menjadi tempat menyenangkan bagi anak-anak. Dari rumah membentuk karakter mereka, sering mengobrol dan menanamkan nilai-nilai positif akan membentuk pola pikirnya, anak-anak tumbuh percaya diri dan optimis menghadapi dunianya.

Pertanyaan Kreatif. Saat mengobrol berikan anak pertanyaan kreatif yang membuatnya berpikir atau berimajinasi. Misalnya anak Anda berumur 6 tahun, berikan pertanyaan kepadanya “Apa yang terjadi kalau kran air tidak ditutup?”. Pokoknya berikan anak pertanyaan yang membuat anak akan membayangkan. Sekalipun jawaban anak kurang tepat, tapi pertanyaan itu sudah membuatnya berusaha berpikir.

Berikan anak pengalaman baru, yaitu mengajaknya ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi seperti kebun binatang, museum, pasar tradisional, sawah, kebun, peternakan, taman rekreasi dsb. Anak akan mendapatkan hal baru yang belum diketahuinya sehingga memperkaya pengetahuan dan pengalamannya, yang akan diramu sebagai modal untuk kreativitasnya.

Beri kesempatan anak mengeksplorasi berbagai tempat, anak akan melihat berbagai tempat yang menarik perhatiannya. Pengalaman baru juga bisa didapatkan saat di rumah, misalnya melakukan kegiatan dekorasi kamar dan berkreasi, atau kegiatan semacamnya.

Jangan membebani anak dengan terlalu banyak les. Aktif memang hal yang bagus tapi bukan berarti waktu anak seharian hanya digunakan untuk les dan les, karena dikhawatirkan membuat anak terlalu kelelahan dan jenuh, yang dampaknya kreativitas anak tidak berkembang.

Selain itu, anak juga membutuhkan kegiatan yang bervariasi, dan anak juga butuh melakukan hal-hal yang disenangi (seperti bermain), sehingga anak tumbuh dengan normal, baik dan seimbang, serta kreativitasnya berkembang. Kegiatan lain yang bisa dilakukan anak yaitu mengajaknya beres-beres rumah. Misalnya merapikan benda-benda berceceran di lantai, merapikan mainan, menyapu lantai, mengelap meja dll.

Tambah kosa kata anak. Sejak kecil seharusnya anak sering diajak mengobrol, sehingga anak menguasai banyak kosa kata dan bisa merangkai kalimat dengan baik. Dengan memiliki perbendaharaan kosa kata yang lumayan banyak, hal ini membantu anak untuk tumbuh percaya diri dan lebih kreatif dalam mengeluarkan ide-idenya.

Selain itu jangan suka menyalahkan anak. Dimana seringkali orang tua memandang negatif inisiatif anak, dampaknya mematikan inisiatif dan kreativitas anak. Demikian juga seringkali orangtua tidak menghargai pendapat maupun hasil pekerjaan anak, padahal anak butuh sekali apresiasi agar dia terus bersemangat untuk bereksplorasi dan berkreativitas.

Jika orangtua terlalu sering menyalahkan anak, menyebabkan anak menjadi malas untuk mengembangkan ide-ide kreatif yang dimilikinya.


Tulisan Terkait: