21 Tips Cerdas Mengelola Keuangan Keluarga

Hadirnya aplikasi toko online memang sangat memudahkan aktivitas shopping, saking mudahnya justru banyak orang yang membeli barang-barang tidak dibutuhkan.

Zaman sekarang harus pintar-pintar mengatur keuangan. Mengatur dengan bijak keuangan keluarga adalah KEHARUSAN. Salah dalam manajemen keuangan resikonya sangat fatal.

Uang
Photo credit: Istockphoto.com - CatLane

Tentunya manajemen keuangan dengan mempertimbangkan kebutuhan para anggota keluarga. Berikut berbagai tips mengelola keuangan rumah tangga:

1. Jadikan Menabung Sebagai Budaya Keluarga

Kebisaan menabung di keluarga perlu digalakan. Dengan punya kebiasaan menabung, sangat efektif untuk menekan berbagai pengeluaran yang tidak perlu.

Orang yang punya kebiasaan menabung dapat dengan mudah menghindari sifat boros. Budaya menabung sangat membantu untuk menciptakan finansial keluarga yang sehat.

Usahakan untuk disiplin menabung, maksudnya konsisten atau rutin menabung. Ingat... menabung adalah kebiasaan yang dimiliki orang-orang sukses. Semua miliarder punya kebiasaan yang sama, yaitu terbiasa menabung sejak muda.

2. Dana Darurat

Jika belum memungkinkan untuk menabung secara rutin, setidaknya menyediakan dana darurat. Karena tidak ada yang tau kondisi di masa mendatang, maka dana darurat adalah hal yang harus disiapkan.

Usahakan menyisihkan sebagian pemasukan untuk dimasukan ke dalam dana darurat. Dana ini merupakan tabungan khusus yang hanya boleh dikeluarkan saat kondisi darurat. Kalau bisa, dana darurat ini disimpan di rekening khusus yang terpisah dari rekening utama.

Memiliki dana darurat sangat penting, agar saat Anda mengalami keterpurukan atau kesulitan ekonomi, Anda dapat segera bangkit.

Rumus dana darurat, yaitu jumlahkan kebutuhan dasar bulanan + cicilan bulanan, lalu dikalikan enam. Kenapa enam? Karena biasanya waktu 6 bulan itu sudah mencukupi untuk bisa bangkit kembali mendapatkan pekerjaan baru setelah sebelumnya dipecat.

Dan secara psikologis, karena sudah ada jaminan kecukupan finansial 6 bulan kedepan, maka membuat orang lebih tenang untuk merencanakan kebangkitan ekonominya.

3. Catat Kemana Saja Uang Keluar

Dengan mencatat berbagai jenis pengeluaran, maka Anda bisa me-rewiew kembali tentang pengeluaran yang sudah dilakukan.

Mencatat mempermudah Anda untuk menganalisa kemana saja uang keluar selama ini, Anda bisa tahu jenis pengeluaran yang berlebihan (boros) sehingga perlu dilakukan penghematan.

Jenis pengeluaran seperti biaya listrik, air, makan di rumah, makan di luar, pendidikan anak, membeli snack, transportasi, berwisata, belanja tertentu, dll.

4. Pikirkan Prioritas Kebutuhan

Misalnya salah satu prioritas terpenting yaitu dana pendidikan anak. Hindari terlalu sering jalan-jalan atau makan-makan di restoran mahal karena pemborosan. Budget untuk pendidikan anak adalah prioritas, agar anak mendapatkan akses pendidikan berkualitas.

Usahakan berhemat dengan cara mengutamakan makan di rumah dan tidak terlalu sering berwisata, sehingga Anda punya kecukupan dana untuk pos-pos penting.

5. Jangan Telat Bayar Cicilan

Telat membayar cicilan atau hutang menyebabkan kerugian besar berupa denda, biaya tambahan seperti ini seharusnya jangan sampai terjadi. Segeralah membayar kewajiban tersebut sebelum uang Anda habis.

Selain itu, menunda-nunda membayar cicilan bisa menyebabkan lupa, akhirnya terkena denda yang tidak perlu.

6. Hindari Hutang

Hutang adalah hal yang harus dihindari, kecuali hutang yang bersifat darurat seperti untuk kebutuhan konsumsi harian.

Selain itu, kebiasaan menghutang (seperti menggunakan credit card) akan menyebabkan gaya hidup konsumtif, yang hal ini tentu membuat keuangan keluarga menjadi tidak sehat.

Hindari pembelian barang dengan cara berhutang, baik itu dengan kartu kredit maupun meminjam ke bank. Saat berhutang ke bank tentunya terkena biaya bunga yang sangat besar.

7. Rampingkan Budget Liburan

Ada banyak tempat wisata atau liburan lokal yang bagus-bagus, jadi tidak perlu liburan sampai ke luar negeri (misalnya Singapore) karena tentu sangat memboroskan.

Ada banyak lokasi liburan menyenangkan di Indonesia, bahkan sekedar berjalan-jalan di mall dan taman kota juga menyenangkan. Disarankan membawa persediaan bekal dari rumah untuk menekan biaya pengeluaran saat liburan

Tapi jika memang ingin liburan di lokasi yang jauh sehingga memerlukan transportasi umum seperti pesawat, kereta dan bus, maka sering-seringlah untuk mengakses agen travel online untuk menemukan promo tiket murah, pesan jauh-jauh hari untuk mendapatkan harga lebih murah.

Selain itu tiket murah biasanya berkisar pada keberangkatan pagi dan malam hari (pagi hari sekali dan tengah malam). Jika melakukan keberangkatan malam hari, pastikan membawa perlengkapan yang diperlukan untuk si kecil (seperti jaket tebal, dll).

8. Budaya Menghemat

Biasakan untuk menghemat biaya kebutuhan sehari-hari, diantarnya yaitu dalam belanja baju atau kebutuhan lainnya.

Belikan anak-anak baju dengan jumlah yang sewajarnya, dan harganya juga masih tergolong worth it. Dan pada sebagian baju anak yang dibeli, belilah baju satu size lebih besar dari ukuran badan anak, tujuannya supaya baju tersebut bisa dipakai lebih lama.

Jika ada baju yang sudah tidak digunakan jangan dibuang, lebih baik dijadikan pel sehingga dapat berhemat.

Berpikirlah untuk membuat rencana penghematan di berbagai sektor, tapi jangan terlalu ketat. Anda akan mendapati bahwa banyak uang yang tersisa di akhir bulan, yang akhirnya bisa untuk ditabung atau digunakan untuk hal-hal penting.

9. Mengetahui Kemana Saja Alokasi Dana

Sudah seharusnya Anda hafal betul pengeluaran pasti yang dikeluarkan tiap bulananya. Sesuaikan budget yang dimiliki dengan kebutuhan utama, sehingga Anda bisa lebih realistis dalam membelanjakan uang (terhindar dari pengeluaran tidak perlu yang menyebabkan kebutuhan utama tidak terpenuhi).

Catat setiap rupiah yang dikeluarkan, agar Anda tahu pos mana saja yang berperan besar menghabiskan uang Anda, maka insting Anda secara otomatis akan mencari solusi untuk menekan pengeluaran pos tersebut.

Alokasi dana biasanya untuk:
  • Belanja sembako, termasuk lauk pauk.
  • Perlengkapan alat mandi.
  • Perlengkapan alat makan.
  • Perlengkapan lainnya.
  • Bayar tagihan listrik, indihome, air PAM, dsb.
  • Bayar kreditan motor bulanan, dsb.
  • Uang bensin.
  • Makan atau minum di luar.
  • Dana liburan atau berwisata.
  • Untuk tabungan dan investasi.
  • Kirim uang ke orang tua. 

Pada masa konsumerisme ini, memberikan tantangan tersendiri untuk bisa memanajemen keuangan keluaga dengan baik. Perilaku konsumtif menjadi musuh besar karena bisa mengacaukan manajemen keuangan. Khususnya bagi para milenial yang baru berumah tangga.

Jangan beli gadget (smartphone, laptop) yang tidak sesuai kemampuan finansial, walaupun membayarnya dalam bentuk kredit/cicilan. Apalagi jika smartphone atau laptop yang ingin dibeli tersebut tidak terlalu dibutuhkan.

Renungkan berulang kali sebelum Anda membeli barang mahal, barangkali tidak terlalu dibutuhkan.  Lalu, jika ada waktu usahakan mencuci pakaian dan mencuci kendaraan sendiri sehingga lebih hemat.

Patokan alokasi dana:
  • 50% untuk biaya hidup pokok (presentase minimal).
  • 10% untuk tabungan dana darurat.
  • 5% - 10% untuk gaya hidup.
  • 5% - 10% untuk kegiatan sosial seperti zakat atau sumbangan.
  • ?% untuk kebutuhan lainnya.
  • Sisanya untuk ditabung atau diinvestasikan.

Besarnya cicilan bulanan hendaknya tidak lebih dari 15% atau 20% dari gaji bulanan yang diterima.

10. Semua Anggota Keluarga Ikut Berperan

Salah satu kunci sukses manajemen keuangan keluarga berjalan baik, kunci ini terletak pada keterlibatan semua anggota keluarga, termasuk anak-anak yang perlu diberi pengertian.

Katakan pada bahwa pendapatan keluarga sewaktu-waktu bisa saja menurun sehingga gunakan uang dengan bijak. Jelaskan dengan kalimat-kalimat yang mudah dimengerti anak.

Komunikasi harus berjalan dengan baik, sehingga masing-masing anggota keluarga mengatakan secara terbuka apa saja kebutuhan yang dibutuhkan, mengkomunikasikan kondisi keuangan keluarga yang dengan begitu membantu pengeluaran secara bijak.

TIPS LAINNYA

11. Segera setelah menerima gaji, langusng disisihkan untuk ditabung. Jangan lupa menyediakan rekening terpisah agar uang tabungan tidak tercampur dengan uang kebutuhan sehari-hari.

12. Cari cara untuk meminimal-kan kegiatan belanja yang cenderung konsumtif, batasi nongkrong di kafe dan tempat ‘mahal’ lainnya.

13. Sejatinya diskon dapat dimanfaatkan untuk membantu penghematan, yang penting Anda pandai memilah-milih mana yang KEBUTUHAN dan mana yang sekedar KEINGINAN.

14. Jangan mudah tergoda dengan jargon “beli 2 gratis 1”. Perhatikan apakah produk tersebut dibutuhkan atau tidak? apakah sangat penting atau tidak?

15. Kurangi kebiasaan jajan di luar. Apalagi jajanan diluar tidak terjamin kebersihannya, utamakan lebih sering makan di rumah sehingga lebih hemat.

16. Memenuhi kebutuhan sekunder seperti makan di restoran, komestik bermerk, pergi ke salon, dll harus realistis (yaitu berdasarkan gaji atau perdapatan). Jangan mendahulukan kebutuhan sekunder dan tersier daripada kebutuhan PRIMER.

17. Skema mengelola pengeluaran, yaitu dahulukan pengeluaran primer lalu sekunder, dan yang terakhir tersier. Jika uang sudah habis di pengeluaran primer, maka jangan pernah berpikir untuk belanja kebutuhan tersier.

18. Catat semua hutang, iuran dan cicilan bulanan dalam sebuah lembaran. Saat gaji bulan ini turun, maka pengeluaran pertama yaitu membayar hutang, iuran dan cicilan tersebut. Menerapkan ini efektif mencegah Anda dari denda keterlambatan.

19. Agar lebih mudah, pasang pengingat untuk membayar tagihan, karena biasanya ada banyak tagihan bulanan seperti iuran RT, air PAM, indihome, cicilan kendaraan, dll.

20. Pegang teguh prinsip: “JANGAN SAMPAI besar pasak daripada tiang”.

21. Terbiasa untuk MENABUNG dan BERHEMAT merupakan cara paling manjur agar manajemen keuangan keluarga berjalan sehat. Walaupun pendapatan atau gaji Anda naik 2 kali lipat, bukan berarti kebiasaan menabung dan berhemat ditinggalkan.

TERAKHIR DAN PENTING

Sebuah prinsip dalam mengatur keuangan yaitu Anda sebenarnya boleh-boleh saja bersenang-senang, tapi JANGAN LUPAKAN kondisi sulit yang bisa saja terjadi, seperti:
  • Dipecat dari pekerjaan.
  • Usaha bangkrut.
  • Sakit sementara.
  • Sakit permanen (misalnya: mengalami kecacatan).

Nah, Anda boleh saja bersenang-senang dengan uang Anda, tapi jangan lupakan bahwa kondisi sulit bisa saja menimpa Anda. Itu makna pengaturan keuangan, yaitu mengantisipasi adanya hal buruk yang menimpa di masa mendatang.

Berapa banyak atlit profesional yang jatuh miskin? Berapa banyak artis terkenal yang jatuh miskin? Sebesar apapun penghasilan seseorang, tapi jika tidak dikelola dengan baik bisa membuatnya jatuh ke titik terbawah.


Tulisan Terkait: