Dampak Buruk Anak Terlalu Sibuk Ekskul & Les Bimbel (Cara Penanganannya)

Anak harus diajari disiplin sejak kecil, tapi bukan berarti anak diberikan jadwal kegiatan yang terlalu padat.

Jika anak terlalu disibukan dengan banyak kegiatan bimbel setiap harinya, ini tidak baik untuk kesehatan mentalnya.

Anak Lelah Belajar
Photo credit: Adobe.com / By dglimages

Yang namanya anak-anak juga perlu diberikan aktivitas fisik dan bermain. Boleh-boleh saja anak ikut les bimbel tapi dibatasi.

Selain itu, jika anak terlalu disibukkan dengan kegiatan di luar rumah (seperti bimbel dan eskul) dampaknya anak kekurangan waktu untuk berinteraksi dengan orang-orang di rumah, ini tidak baik bagi perkembangannya.

Memiliki kegiatan eskul maupun bimbel memang banyak manfaatnya seperti menambah wawasan dan pengalaman anak, mengasah minat serta bakat anak, juga lingkup pertemanan anak semakin luas.

Tapi tetap saja kedekatan dengan sesama anggota keluarga itu nomor satu, jangan sampai anak terlalu sibuk berada di luar rumah sehingga tidak dekat dengan keluarganya sendiri.

Anak Kewalahan

Terlalu banyak ikut eskul dan bimbel menyebabkan anak kewalahan untuk mengatur waktunya. Ini tidak baik bagi perkembangan si anak karena menanggung beban terlalu berat.

Orangtua harus tahu bahwa anak juga butuh bermain, masa anak-anak merupakan masa bermain, sehingga jangan bebani anak dengan hal-hal yang terlalu berat.

Jangan memaksa anak untuk melakukan terlalu banyak kegiatan setelah pulang sekolah, anak butuh istirahat, menjalani kegiatan terlalu padat (diluar batas kemampuan anak) berdampak pada gangguan perkembangan alami anak.


Kelelahan dan Stres

Penelitian menemukan bahwa anak-anak usia SD yang memiliki kegiatan ekskul dan kegiatan tambahan di luar sekolah yang terlalu padat, rentan mengalami kelelahan kronis, sulit fokus serta kekurangan waktu berkualitas bersama keluarga.

Anak terlalu banyak bimbel dikhawatirkan akan terganggu kesehatan mentalnya karena terlalu dipacu untuk belajar, anak rentan terkena stres dan kelelahan kronis.

Psikolog Tara de Thouars, BA, Psi mengatakan bahwa kegiatan bimbel yang terlalu padat justru merugikan anak itu sendiri, dimana anak merasa tidak nyaman. Kondisi semakin buruk dengan paksaan dari orangtua padahal anak membenci bimbel yang dijalaninya.

Penting Diketahui

Sulit bagi anak untuk bisa bertahan dari jadwal padat bimbel dan eskul. Jadwal yang padat tersebut menyebabkan anak sangat kelelahan, dampaknya belajar anak menjadi tidak optimal.

Rasa stres tersebut juga bisa menyebabkan anak trauma untuk belajar.

Sehingga terlalu banyak ikut bimbel justru menyebabkan anak membenci kegiatan balajar.

Boleh-boleh saja mendaftarkan anak ke beberapa kegiatan bimbel, tapi pastikan untuk mengetahui kondisi anak.

Perhatikan perasaan anak, apakah dirinya mampu menjalani beberapa kegiatan bimbel sekaligus.

Jadwal eksul maupun bimbel anak harus realistis, jika terlalu banyak (padat) menyebabkan anak merasa jenuh, truma, serta kelelahan secara fisik maupun mental.

Ekspetasi orangtua yang terlalu tinggi dan tidak realistis dapat membahayakan si anak.

Masalah besar dapat timbul akibat orangtua mengawasi seluruh aktivitas anak secara berlebihan, serta membebani anak dengan tuntutan terlalu tinggi.

Tuntutan harus selalu sukses dalam bidang akademis dan non-akademis mengakibatkan anak merasa tertekan, ini dapat membahayakan perkembangan dan kebahagiaan anak.

Jangan memperlakukan anak bagaikan robot.

Prestasi memang hal yang sangat membanggakan, tapi yang lebih penting dari itu adalah kesehatan fisik dan mental anak, serta kebahagiaan anak.

Anak seharusnya menikmati kegiatan yang dijalaninya. Jika anak tidak menikmatinya, lebih baik menghentikan kegiatan tersebut, atau menggantinya dengan kegiatan yang benar-benar disukai anak.

“Belajar tanpa menyukainya hanya mengotori memori dan tak akan berbekas di dalamnya”- Leonardo Da Vinci

Hindari memberikan anak terlalu banyak kegiatan sepulang sekolah karena dapat menyebabkan masalah pada kehidupan anak.

Jika ingin mendaftarkan les tertentu untuk anak, maka ketahui dulu minat anak.

Sebagai orangtua ikuti saja kemauan dan minat anak, sehingga anak menjalani kegiatannya tanpa ada rasa terpaksa dan tertekan.

Sebelum anak ikut les ataupun eksul, orang tua perlu melihat dulu kemampuan atau bakat anak. Jika anak tidak ada bakat di bidang tersebut maka jangan dipaksa.

Saat anak menolak untuk ikut les seringkali orang tua memarahinya. Ini tanpa disadari membentuk karakter anak menjadi seorang pemarah.

Anak tidak mau ikut les maka jangan memarahinya, bujuk anak baik-baik. Jika anak tetap tidak mau untuk ikut les, kemungkinan anak merasa kurang percaya diri.

Maka cari cara untuk memotivasinya dan menumbuhkan rasa percaya dirinya.


Tulisan Terkait: