Anak Bersedih Bisa Jadi Depresi, Ini Cara Penanganannya!


Depresi ditandai dengan perasaan sedih, tidak berdaya ataupun tidak semangat untuk melakukan apapun.

Ilustrasi Anak Depresi
Ilustrasi Anak Depresi | Photo credit: Adobe.com / By Brian Jackson

Selain orang dewasa, anak-anak dan remaja juga bisa terkena depresi.

Seperti halnya orang dewasa, anak-anak juga memiliki perasaan kompleks seperti gembira, marah, sedih, frustasi, rendah diri, khawatir, dll.

Pada dasarnya anak kecil punya suasana hati yang gampang berubah-ubah, yang juga disebut moody-an. Contohnya, sekarang bersedih tapi tidak lama kemudian gembira kembali.

Hanya saja jika anak terlihat sedih atau muram terus-menerus, dikhawatirkan anak mengalami depresi.

Depresi bisa dikatakan kelainan suasana hati, yang berdampak buruk pada kejiwaan maupun fisik.

Berikut tanda-tanda depresi pada anak (sangat penting diketahui orangtua):
  • Terlihat lemas dan tidak bersemangat.
  • Nafsu makan menurun secara drastis (dalam kasus lain, nasfu makan meningkat secara tidak wajar).
  • Mengalami gangguan tidur (sudah tidur di malam hari).
  • Penurunan daya konsentrasi atau fokus. Contohnya: sering tidak menangkap apa yang dikatakan lawan bicaranya.
  • Menjadi lebih tertutup, atau menarik diri dari lingkungan sosial.
  • Terlihat berputus asa (terlihat dari wajah dan gestur tubuhnya).
  • Sensitif atau mudah tersinggung, sulit diajak bercanda.
  • Anak menganggap hidupnya tidak berarti.
  • Kehilangan minat pada kegiatan yang biasanya dilakuannya.

Beberapa anak penderita depresi masih bisa membaur dengan lingkungan sosialnya, tapi kebanyakan anak penderita depresi mengalami perubahan prilaku dan aktivitas secara dratis.

Tidak jarang depresi pada anak penanganannya terlambat dilakukan, karena tidak menyadari tanda-tandanya.


Penanganan Depresi pada Anak

Jika anak terlihat lemas, tidak bersemangat, sering melamun dan tertutup, yang berlangsung terus-menerus (misalnya 2 minggu), maka sudah seharusnya meminta bantuan psikiater atau psikolog anak.

Pada sebagian kasus, anak penderita depresi bisa memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri. Orangtua harus peka dan memperhatikan hal ini.

Anak yang depresi umumnya tidak mau berinteraksi atau bergaul dengan teman-teman sebayanya. Penderita depresi sering merasa cemas, gelisah dan menganggap dirinya tidak berharga.

Sejak anak memiliki gejala berat depresi, hendaknya saat itu juga segera minta bantuan psikolog atau psikiater anak. Perawatan anak penderita depresi berupa:
  • Konseling dan psikoterapi.
  • Terapi perilaku kognitif.
  • Terapi bermain.
  • Terkadang anak diberikan obat-obatan antidepresan (dengan beberapa pertimbangan oleh psikiater dan berdasarkan kondisi anak).

Peran orangtua sangat penting yaitu mendampingi dan memberi dukungan untuk anak, sehingga proses pemulihan berjalan dengan baik.

Pastikan anak mengkonsumsi makanan bergizi, juga bantu anak agar memiliki tidur yang berkualitas, nyenyak dan cukup.

Ajak anak berolahraga dan melakukan hobinya, ini sedikit demi sedikit efektif meningkatkan mood (suasana hati) anak.

Orangtua harus aktif men-support anak

Dukungan sangat penting karena depresi tidak bisa hilang dengan sendirinya. Bantu anak agar semangatnya muncul kembali.

Jangan pernah menyepelekan masalah dan depresi yang dialami anak. Hindari perkataan seperti “alah cuma begitu saja”, “manja banget jadi anak” dan ucapan semacamnya yang bisa ‘menghancurkan’ anak.

Bahkan jika curhatan anak terdengar konyol dan bukan masalah besar menurut Anda, tapi tanggapi dengan sungguh-sugguh karena bisa jadi itu masalah yang sangat berat bagi anak.

Masalah depresi ini harus disikapi dengan serius. Itu karena banyak penderita depresi yang tidak tahan dan akhirnya bunuh diri.

Coba renungkan selama ini berapa banyak hal positif yang Anda katakan pada anak? Atau justru Anda selama ini sering mengatakan pada anak hal-hal negatif dan menyakitkan?

Banyak anak mengalami depresi justru akibat kesalahan orang tua, yang tidak bisa untuk mengerti perasaan anak.

Seringkali orangtua mengucapkan sesuatu yang menyakiti hati anak, yang akhirnya membuat anak rentan terkena depresi. Orangtua yang seharusnya membantu pertumbuhan dan perkembangan anak, justru berperan untuk menghancurkan masa depan anak.

Orangtua perlu intropeksi diri. Perbaiki perilaku dan perkataan saat berkomunikasi dengan anak.

loading...

Ucapkan kalimat positif pada anak

Misalnya: “Ibu/Ayah tahu kamu sedang kesulitan, kalau kamu butuh bantuan, jangan sungkan untuk bilang pada Ibu/Ayah.”

Ucapan yang penuh perhatian dan kasih sayang, diharapkan dapat secara efektif meredakan depresi anak. Dekatilah anak dengan penuh kasih sayang.

Saat anak depresi, orangtua perlu lebih banyak lagi memberikan rasa kasih sayang pada anak. Penderita depresi sangat membutuhkan dukungan emosional, perhatian, dan pelukan kasih sayang.

Penderita depresi sangat ingin dimengerti keadaannya. Oleh karena itu, hindari sikap menghakimi dan menyalahkan karena akan memperparah depresi, khususnya pada anak dan remaja karena daya tahan kejiwaannya masih belum kuat.

Jika penderita depresi curhat, maka dengarkan baik-baik, jangan suka menyalahkannya karena kondisi kejiwaannya sedang tidak stabil.

Hal lain yang perlu diketahui:
  • Masalah kecil bisa menjadi penyebab depresi pada anak dan remaja. Jadi, jangan remehkan problem yang sedang dihadapi anak.
  • Kenalkan pentingnya kesejahteraan mental. Sejak kecil, tanamkan tentang pentingnya kesehatan mental.
  • Seperti halnya anak bisa melaporkan ketidaknyamanan fisik, anak juga seharusnya diajarkan untuk bisa mengungkapkan tentang ketidaknyamanan psikologis yang sedang dialaminya.
  • Kemunculan depresi sering tidak disadari, karena umumnya anak belum bisa menyampaikan perasaannya dengan jelas.
  • Dengan begitu jadilah orangtua yang peka, yang bisa membaca kondisi anak setiap waktu, sehingga jika muncul tanda-tanda depresi pada diri anak, penanganan bisa segera dilakukan.
  • Kondisi depresi yang parah sangat membutuhkan bantuan psikiater atapun psikolog. Anak perlu bantuan tenaga ahli segera, JANGAN PERNAH MENUNDA-NUNDA.
  • Ingat, depresi tidak bisa sembuh dengan sendirinya, perlu perawatan jangka panjang untuk menyembuhkannya.

loading...

Tulisan Terkait: